
Satu persatu anak tangga mulai di tapaki oleh Aira sambil memeluk erat lengan ibu mertuanya. Hingga beberapa saat kemudian, salah satu penata rias yang baru saja mereka tinggalkan di dalam kamar, menerobos tiga wanita yang sedang mengikuti pengantin dan Ibu mereka dari belakang.
Tidak ada yang curiga terhadap wanita itu. Danira berpikir mungkin ada sesuatu yang terlupakan dari Aira, hingga membuat penata rias itu tergesa-gesa menghampiri adik iparnya.
Hingga beberapa saat kemudian, pegangan Aira di lengan ibu mertuanya mulai melemah.
"Ibu." Lirihnya.
Zyana belum sempat menjawab panggilan dari Aira, karena menantunya sudah lebih dulu tersungkur di atas anak tangga dengan darah yang mulai merembet keluar mengotori kebaya putih yang ia kenakan.
Wanita paruh baya itu baru menyadari ada sesuatu yang buruk sedang terjadi, setelah wanita yang baru saja melukai Aira, kembali melukai dirinya sendiri dengan benda tajam yang sama, yang baru saja ia gunakan untuk melukai menantunya dan ikut tergeletak di atas anak tangga yang sama.
Empat wanita berbeda usia yang ada di sana seketika berteriak histeris. Kejadian mengenaskan itu, begitu cepat terjadi hingga tidak salah satu ari mereka yang menyadarinya.
Mendengar sesuatu yang tidak biasa terjadi di rumah, membuat Alfaraz segera beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah menuju tangga di mana istri dan anak-anaknya berada.
Sama halnya dengan Abizar, lelaki yang baru beberapa menit yang lalu resmi berganti status itu mengikuti kemana ayahnya melangkah.
Hingga beberapa saat kemudian kakinya melemah, ia terduduk di atas lantai saat melihat gadis yang ia nantikan sejak tadi sudah berada dalam pelukan Ayahnya dengan wajah memucat dan darah di mana-mana.
Mereka terlalu lengah, itulah yang sedang disesali Alfaraz sambil membawa tubuh menantunya yang tidak lagi sadarkan diri keluar dari kerumunan para tamu undangan.
Dua menantu laki-lakinya tanpa di minta sigap ikut melangkah keluar dan mempersiapkan mobil menuju rumah sakit terdekat.
" Cepat Nak." Pinta Alfaraz pada salah satu menantunya.
Arga yang memang selalu menjadi sopir dadakan, sigap mengemudikan mobil dan keluar dari pelataran rumah yang sudah di penuhi banyak karangan bunga itu.
__ADS_1
Sedangkan Arion segera melepaskan jas mahal yang melekat di tubuhnya, lalu menggunakan jas tersebut untuk menutupi bagian tubuh Aira yang terus mengeluarkan darah. Kini dua lelaki yang mengenakan kemeja berwarna putih, ikut bersimbah darah yang terus keluar dari bagian tubuh Aira yang terluka.
"Lebih cepat Nak." Pinta Alfaraz lagi pada menantunya.
Arga menambah kecepatan mobil yang sedang ia kendarai, hingga beberapa saat kemudian ia berhenti di depan salah satu rumah sakit kecil yang ada di Jakarta.
"Cari rumah sakit yang lebih baik Nak." Perintah Alfaraz saat mobil yang di kendarai Arga mulai memasuki pelataran rumah sakit yang menurutnya belum memadai itu.
"Kita akan terlambat Yah. Jalanan macet, takutnya Aira semakin banyak kehabisan darah." Jawab Arga sambil membuka pintu mobil.
Arion menyetujui keputusan Arga. Ia lantas segera keluar dan membawa tubuh Aira masuk ke dalam gedung rumah sakit bersama Arga.
Alfaraz menatap dua menantunya yang terlihat melangkah dengan bgitu cepat. Ia merutuki kecerobohannya yang tidak berhati-hati hari ini.
****
Beberapa saat kemudian, lelaki paruh baya yang mereka tinggalkan di dalam mobil, melangkah menuju ke arah mereka lalu ikut duduk di kursi tunggu yang sama.
Tidak ada yang memulai percakapan. Tiga lelaki berbeda usia itu, hanya terus berdoa di dalam hati masing-masing untuk keselamatan gadis malang yang ada di dalam ruangan di depan mereka.
"Aira sedang di tangani Dokter." Ucap Arion tiba-tiba sambil menempelkan benda pipih di telinganya.
"Rumah sakit mana ?" Suara cemas dari istrinya terdengar. Arion pun menjawab dengan tenang nama rumah sakit tempat mereka berada. Setelah panggilan terputus, Arion kembali memasukkan benda pipih miliknya itu ke dalam saku celananya.
Tidak ada yang bertanya, dua lelaki yang juga ada di sana seakan sudah bisa menebak siapa yang baru saja menghubungi Arion.
Beberapa saat menunggu, pintu ruangan yang ada di depan sana terbuka dan menampakkan satu wanita dengan jas putih dengan noda darah di beberapa bagian.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan putri saya ?" Tanya Alfaraz cepat.
"Beruntung lengannya saja yang terluka parah. Dan sedikit luka di bagian bawah ketiak. Jika benda tajam tersebut langsung mengenai bagian bawah ketiaknya itu akan sangat fatal. Beberapa jam lagi dia akan siuman, jangan terlalu khawatir Pak." Jawab Dokter tersebut, kemudian berpamitan pada tiga lelaki yang ada di sana menuju ruangan lain.
Setelah dokter tersebut pergi, Alfaraz dan dua menantunya masuk ke dalam ruangan. Terlihat beberapa suster yang sedang mempersiapkan Aira sudah selesai dengan pekerjaan mereka, lalu meminta izin untuk memindahkan Aira ke ruangan lain.
Bersamaan dengan itu Zyana dan ketiga anaknya melangkah cepat menuju ruangan di mana Aira berada.
"Sayang apa dia baik-baik saja ?" Tanya Zyana pada suaminya.
"Kata dokter begitu. Lukanya yang parah hanya di bagian lengan, dan menurut dokter itu tidak fatal." Jawab Alfaraz sambil menepuk pelan bahu putranya.
Abizar tidak bersuara. Ia tahu ayahnya hanya sedang membuat sedikit kecemasannya berkurang, namun, melihat istrinya yang masih belum sadarkan diri, membuat kegelisahan di dalam hatinya semakin bertambah.
Berpuluh-puluh menit berlalu, orang-orang yang ada di sana sama sekali belum ingin beranjak pergi. Bahkan kini di dalam ruangan sudah bertambah dengan kehadiran Adelia beserta kedua anaknya.
"Kak El belum bisa kemari. Mereka sekeluarga masih membereskan kekacauan di rumah, sedangkan Abang Ken dan Kak Kean sudah berangkat ke kantor polisi untuk penyelidikan lebih lanjut."
Alfaraz mengangguk mendengar pernyataan adiknya. Setelah melihat darah di tubuh Aira, juga wajah pucat Abizar membuat ia tidak lagi memikirkan apapun selain menyelamatkan menantunya.
"Bagaimana dengan wanita itu ?" Tanya Alfaraz pada adiknya.
"Gerald sedang mengurusnya. Dia selamat, dan polisi sedang melakukan penjagaan ketat di klinik tempat wanita itu berada." Jawab Adelia.
Alfaraz mengangguk. Biarlah, ia akan mengurus wanita itu nanti, dan memastikan akan mencari tahu siapa dalang dari semua ini.
Ruangan mewah itu kembali hening. Tidak ada lagi yang membahas perihal kejadian hari ini. Semua orang yang ada di sana tertuju pada gadis yang masih belum sadarkan diri, dengan satu laki-laki yang duduk dengan diam di samping ranjang pasien.
__ADS_1