Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 237 Season 4


__ADS_3

Setelah membersihkan diri di dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurnya, Daniza kembali mengayunkan langkah menuju ruangan yang sudah terlihat seperti habis di terpa angin tornado.


Bantal sofa yang sudah tergeletak d atas lantai, di pungut oleh gadis itu, juga berbagai bungkus makanan ringan sudah berhamburan di atas sofa kesayangannya ia ambil satu per satu dan membawanya menuju tempat sampah.


"Bang Ayi kemana ?" Tanya Daniza sambil mengelilingi ruangan itu dengan netra nya, mencari keberadaan Ayiman.


"Sudah pulang." Jawab Azam. Lelaki itu mengalihkan tatapan dari benda lipat yang ada di atas pangkuannya, lalu menatap Daniza. "Apa ada sesuatu ?" Tanya Azam, dan langsung di jawab oleh Daniza dengan gelengan kepala.


Azam hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia tahu mengenai hubungan rumit adiknya dengan dua sepupu mereka. Namun, sebagai kakak yang bijak, ia tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan itu.


"Bang Ayi orang baik kok, terima aja." Celetuk si pembuat mood hancur dari atas lantai.


Daniza tidak berniat menjawab, karena jika ia menanggapi celotehan Abang keduanya itu, semuanya akan makin panjang.


"Awas aja kalau lupa transfer, aku laporin Papi." Kesal Daniza sambil berkacak pinggang di depan abang jomblonya yang sedang asik berguling kesana-kemari di atas karpet kesayangannya, untuk mengalihkan pembicaraan mengenai Ayiman agar tidak berlanjut.


"Dan kamu, Ayah kamu kemana ? Jangan bilang kamu di tinggal lagi di sini. Aku bukan baby sitter kamu yaa." Tunjuk Daniza pada bocah laki-laki yang sibuk menonton paman tampannya bermain game peperangan.


"Kata Ayah nanti di transfer." Jawab bocah itu santai tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel Alfan.


"Dan kamu, jika masih ada gadis mu yang memaki di kolom komentar media sosial ku, habislah kamu. Aku laporin Mami biar di tabok kepalamu yang ga ada isinya itu." Daniza menarik telinga Alfan hingga membuat laki-laki tampan dan pengangguran itu berteriak kesal.


"Tuh kan aku knock." Keluh Alfan. Tatapan tajam segera ia layangkan kepada Daniza, namun, nyalinya seketika menciut saat melihat mata horor mirip dengan mata menakutkan yang selalu mereka hindari di rumah. "Itu resiko kamu karena punya Abang tampan seperti aku ini. Harusnya kamu tuh bersyukur Niz, kan kamu ikutan terkenal." Sambung Alfan di sertai jeritan karena telinganya kembali di tarik oleh Daniza.


"Ayolah Bang cari istri biar kalian punya seseorang yang bisa kalian gangguin setiap hari." Keluh Daniza sambil membawa tubuhnya duduk di samping Azam yang begitu serius dengan benda lipat di atas pangkuannya.


Azam hanya tersenyum hangat, lalu mengusap kepala adik kecilnya yang tertutup hijab.


"Berhenti membuat karpet mahal ku rusak." Pukul Daniza di punggung Aidar.


"Ogah." Laki-laki yang terkenal usil dan jail itu terus saja berguling kesana-kemari di atas karpet mahal milik adiknya. "Dek buatin Abang nasi goreng dong." Pintanya kemudian sambil memasang wajah sok polos mengesalkan.


"Ogah !" Jawab Daniza kesal. "Ga akan mempan ya Bang." Sambungnya lagi saat Aidar semakin menampakkan wajah memelas yang terlihat begitu menyebalkan.

__ADS_1


"Apa yang akan mereka lakukan di dalam mobil ya ? Saling tonjok atau gimana ?" Aidar kembali bergumam sambil terkekeh geli.


"Aidar." Tegur Azam.


Aidar menatap adiknya yang sudah duduk di samping sang Abang, lalu kembai tertawa geli.


"Heran apa sih yang di lihat Bang Ayi dan Mas Daren dari kamu." Tawanya kembali pecah saat mengingat Daren memaksa Ayiman pergi dari apartemen beberapa saat yang lalu.


Azam sudah mengalihkan tatapannya dari layar laptop, lalu menatap Aidar dengan tajam agar adik nya itu berhenti membicarakan hal yang selalu saja membuatnya kesal.


Kesal ?


Yah, dia sangat kesal saat mengetahui dua kakak sepupu mereka itu sama-sama jatuh cinta terhadap adik kecilnya. Bukan karena memilih laki-laki, tapi ia ingin Daren dan Ayiman akan menyayangi Daniza sebagai adik mereka, sama seperti yang ia lakukan selama ini.


Aidar pun berhenti membicarakan tentang Ayiman dan Daren, dan kembali fokus dengan animasi yang ada di layar tv tepat di hadapannya.


****


Di dalam mobil yang baru saja berhenti di depan rumah megah yang sudah di huni turun temurun keluarga Prasetyo, Ayiman kembali mengurungkan niatnya keluar dari dalam mobil, saat Daren tiba-tiba mengucapkan kalimat yang sudah kesekian kalinya keluar dari bibir sepupunya ini.


"Kamu pikir hanya kamu yang mencintainya ? Aku juga sangat mencintainya Ayi, tapi aku tidak ingin melewati ikatan darah yang terjalin di antara kita." Ujar Daren.


"Kalau begitu Mas bisa menanyakan perihal ikatan darah seperti apa yang terjalin di antara kita semua. Jika rasa ini terlarang, aku pasti sudah menghentikannya sejak lama. Tidak ada larangan dalam islam, jika memang kami di takdirkan bersama." Jawab Ayiman, lalu keluar dari dalam mobil kakak sepupunya itu.


Daren hanya bisa menarik nafasnya kasar, lalu kembali melajukan mobilnya meninggalkan gerbang rumah mewah yang dulu selalu menjadi tempat mereka menghabiskan masa kanak-kanak karena para orang tua sibuk dengan karir mereka masing-masing.


Beberapa saat melaju di jalanan, Daren berhenti di depan sebuah bangunan yang menjadi tempat istrinya menghabiskan waktu. Daren keluar dari dalam mobil, lalu masuk ke dalam bangunan megah itu.


"Bisakah kalian bersabar sedikit lebih lama sampai urusan cerai selesai ?" Ujar Daren sambil melangkah santai dan duduk di sofa di mana istrinya sedang menyiapkan makanan untuk laki-laki lain.


Lelaki lain yang ada di sana terbahak.


"Jangan bilang kamu cemburu." Ujarnya meledek.

__ADS_1


Daren hanya mendengus. Dengan perlahan, ia mengulurkan satu buah map ke arah wanita cantik yang ada di sana.


"Apa ini ? Harta gono gini ?" Tanya Maya bergurau.


"Istri yang selingkuh ga akan pernah dapat harta gono gini dari suaminya." Jawab Daren kesal.


Maya hanya tertawa lucu dengan tuduhan Daren.


"Itu surat perjanjian." Jawab Daren.


Setelah menyiapkan makanan untuk untuk sang kekasih, Maya meraih map berwarna cokelat yang ada di atas meja sofa lalu mulai membacanya dengan seksama. Tanpa berpikir panjang, wanita itu mengambil pena yang ada di kantong kemeja Daren lalu menandatanganinya.


"Terimakasih untuk lima tahun ini Daren. Aku ngga aku dan tahu jika tida ada kamu." Ucap Maya.


Laki-laki yang sedang mengunyah makanannya pun ikut mengangguk, membenarkan kalimat yang baru saja meluncur dari bibir kekasihnya.


"Terimakasih sudah merawat anak kami." Sambung laki-laki itu.


Daren menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Tidak perlu datang ke persidangan, agar semuanya cepat selesai." Ujarnya.


Maya pun mengangguk patuh. Karena ia pun ingin semuanya cepat selesai.


"Kami akan ke LN jadi kamu ngga usah khawatir. Mengenai Al Fatih, aku percaya kamu akan menyayangi nya seperti anak kandung kamu sendiri." Ujar Maya.


Karena tidak ada lagi yang ingin di bahas, Daren berpamitan pada dua orang itu untuk pulang. Ini hari minggu, dan ia tidak ingin terus menerus menyusahkan Daniza.


"Menikahlah dengan dia Daren."


Daren yang hendak meraih handel pintu, kembali berhenti.


"Apa kamu pikir Daniza mau menerima laki-laki yang gagal dalam pernikahan ? "

__ADS_1


"Kalau begitu, ceritakan semua tentang kita padanya." Ucap Maya memberi saran.


Daren tidak lagi menimpali, laki-laki yang sebentar lagi akan berstatus sebagai duda itu, melanjutkan niatnya dan keluar dari dalam ruangan itu.


__ADS_2