Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 26


__ADS_3

"Saat aku keluar dari kamar kamu, usai melakukan aktivitas yang selalu membuatku ingin pulang, aku akan tertidur di sofa di ruang keluarga hingga subuh, dan Nadia tahu akan hal itu." Ucap Zidan.


Farah terkejut mendengar fakta yang baru ia dengar hari ini. Dia berpikir Zidan akan kembali ke kamar Nadia, usai menikmati tubuhnya. Namun kenyataan yang ia dapati hari ini tidak seperti yang ia pikirkan beberapa tahun ini.


Ia kembai menatap wajah tampan yang kini sudah menatapnya sendu. Tanganya yang dulu tidak berani menyentuh Zidan, kini terulur dan mengusap lembut pipi suaminya. Wajah laki-laki yang masih menjadi raja di hatinya ini, di tatapnya dengan begitu lekat.


"Aku merasa bersalah padamu dan juga Nadia, benar kata Ayah pernikahan poligami itu sangat sulit di lalui. Namun aku begitu menginginkan kamu" Ucap Zidan memelas. "Maaf karena ego yang ingin memiliki mu, harus membuatmu terluka selama bertahun-tahun. Maafkan aku Ra." Sambungnya.


Hati Farah menghangat mendengar kalimat yang tidak pernah ia dengar selama sekian tahun pernikahan mereka. Kata maaf untuk yang kedua kalinya kembali terdengar hari ini.


"Aku tahu sebanyak apapun kata maaf yang akan aku ucapkan hari ini, tidak akan mampu mengobati luka yang sudah aku torehkan di hati kamu selama bertahun-tahun pernikahan kita. Namun, jika aku memintamu untuk tetap tinggal, apa kamu masih bersedia melakukannya ?" Tanya Zidan.


Farah membiarkan tangan yang tadinya mengusap lembut pipi Zidan, kini sudah masuk ke dalam genggaman laki-laki itu. Juga kecupan lembut beberapa kali terasa di punggung tangannya.


"Aku hanya takut kembali di abaikan olehmu. Apalagi hari ini aku begitu mengecewakan kalian. Ibu, Ayah dan kamu. Aku begitu egois memilih berpisah tanpa memberitahu jika ada satu nyawa yang berhak kamu tahu keberadaannya." Ujar Farah. Ia sudah menunduk dalam, menyesali keegoisannya beberapa hari ini. Memilih mengabaikan semuanya, termasuk janin yang tidak bisa di selamatkan hari ini.


"Aku janji Ra, aku akan memberikan semua yang seharusnya aku berikan selama empat tahun ini. Tetap bersamaku, temani aku hingga nanti." Mohon Zidan.


Tatapan Farah kembali menatap wajah Zidan dengan begitu lekat. Mencari kebohongan dari manik yang membuat ia jatuh cinta, namun sama sekali tidak ada keraguan dan kebohongan di sana. Netra yang kini menatapnya penuh permohonan, memang benar-benar ingin menahannya pergi.


"Apa Mas masih mencintaiku ?" Tanya Farah.


"Cinta ini masih utuh untukmu Farah, sejak dulu tidak ada yang berubah." Ujar Zidan yakin. Karena memang itulah yang ia rasakan selama ini. Hanya saja ada banyak hal yang harus ia jaga dalam pernikahan mereka, hingga akhirnya memilih jalan yang mungkin salah di mata Farah.


"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki pernikahan kita yang selama ini tidak berjalan dengan semestinya. Aku akan memperbaiki semuanya, dan akan aku pastikan, akan memberikan cinta sebanyak yang kamu inginkan." Ucap Zidan.


Farah menarik nafasnya, lalu mengangguk pelan.


"Lagi pula Kak Rehan sudah mencabut gugatan cerai yang aku ajukan." Ucapnya.


Zidan tersenyum, lalu segera membawa tubuh Farah kedalam dekapan hangatnya. Mengecup puncak kepala itu berulang kali. Melakukan semua yang ingin sekali ia lakukan selama empat tahun ini.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Ra, sangat mencintaimu." Ucapnya masih terus menghujani puncak kepala Farah dengan ciuman.


Hati Farah menghangat, kalimat yang ia nantikan selama empat tahun ini, akhirnya terdengar juga dari mulut Zidan. Berulang kali ia mengucapkan kata syukur pada sang kuasa untuk kesempatan yang di berikan hari ini.


Selama ini ia berpikir, Zidan tidak lagi mencintainya. Selama empat tahun ini ia berpikir, Hany dialah yang masih menyimpan nama Zidan dengan rapi di dalam hati. Namun, kenyataan yang ia dapati hari ini, membuat Farah berulang kali mengucapkan terimakasih pada Allah, dari lubuk hatinya yang terdalam.


Semoga dan semoga, luka dan air mata yang ia rasakan selama empat tahun ini akan berganti menjadi bahagia, setelah memutuskan untuk memberi kesempatan pada Zidan.


Pelukan Zidan masih mengerat di tubuh Farah, gumaman kata maaf masih terus terdengar dari bibirnya. Farah masih merasakan ciuman di puncak kepalanya yang tertutup hijab.


Kruuukkk...


Hingga suara cacing yang meminta untuk di beri makan merusak momen bahagia Farah. Wajah pucatnya kini bersemu menahan malu.


Zidan mengurai pelukannya, lalu menatap hangat wajah yang selam empat tahun ini tidak bis ia tatap sedekat ini.


"Maafkan aku, karena terlalu banyak bercerita aku melupakan waktu makan malam mu." Ucap nya sembari mengusap lembut pipi dengan semburat merah yang terlihat samar.


"Rumah kita terlalu jauh dari sini, aku hanya akan mencari baju di dekat rumah sakit, lalu membeli makan malam untuk kita. Ngga apa-apa kan kalau aku tinggal sebentar ?" Tanya Zidan.


Farah menganggu, lalu membiarkan sang suami berlalu dari dalam kamar tempat ia di rawat.


****


Setelah kepergian Zidan, pintu ruangan kembali terbuka perlahan. Farah yang sudah berbaring di atas bangsal kembali menoleh ke arah pintu. Sebuh senyum terpatri di bibirnya, saat Zia dengan wajah teduh menenangkan masuk ke dalam ruang rawat yang ia tempati.


"Gimana perasaan kamu sekarang ?" Tanya Zia. Wanita yang sudah memiliki tiga orang anak namun masih terlihat sangat cantik dengan balutan hijab, sudah duduk di samping ranjang.


Farah berusaha bangun, namun sang kakak ipar menahannya.


"Sudah jauh lebih baik Kak, Alhamdulillah." Ucapnya.

__ADS_1


Zia mengucapkan kata yang sama, bersyukur karena adik iparnya terlihat baik-baik saja.


"Kakak ikut merasa bersalah dengan keadaan yang menimpa kamu hari ini. Seharusnya kamu mendapat banyak support dan dukungan dalam kondisi hamil mudah, tapi keluarga Kakak terlalu sibuk dengan Nadia dan mengabaikan kamu." Ucap Zia penuh sesal.


Wajah yang terlihat pucat pasi itu tersenyum teduh, lalu menggeleng. Diraihnya tangan sang kakak ipar, lalu di genggamnya dengan erat.


"Terimakasih karena selama ini Kak Zia begitu perduli padaku. Kejadian hari ini tidak hanya kesalahan kalian, tapi aku juga ikut andil Kak. Aku terlalu sibuk memikirkan untuk berpisah dari Zidan, dan mengabaikan janin yang berada di dalam kandunganku. Aku mengabaikan semuanya, dan hanya berfokus pada perpisahan, tanpa menghiraukan ada makhluk kecil yang membutuhkan banyak perhatian dariku." Ujar Farah.


"Dokter sudah memperingati tentang kondisi janin yang lemah, dan menganjurkan aku untuk beristirahat, namun dengan egoisnya aku tetap menyibukkan diri di kantor." Sambungnya lagi.


"Sudahlah, yang terpenting saat ini semua sudah baik-baik saja. Dan Kakak harap, kamu masih bis memberi kesempatan untuk Zidan. Dia mencintaimu sejak lama Ra. Kamu ingat saat kita pertama kali bertemu di restoran untuk makan siang ? Saat itu Zidan menceritakan tentang kamu pada Kakak, dia bahkan berencana ingin melamar mu." Jelas Zia.


"Aku akan tetap di sisinya Kak, Mas Zidan memintaku untuk tetap tinggal di sampingnya. Dan aku tidak ingin mengecewakan seseorang yang telah pergi." Ucap Farah.


Zia beranjak dari kursi yang ia duduki, lalu segera membawa tubuh adik iparnya ke dalam dekapan. Mengucapkan kata semoga di dalam hatinya. Semoga hal baik akan selalu datang dalam rumah tangga adiknya.


"Terimakasih masih memberinya kesempatan. Terimakasih masih mau memaafkan segala kesalahannya." Ucap Zia tulus.


****


*Note Author


Terimakasih kakak sekalian yang sudah menyempatkan mampir di cerita receh aku ini. Aku bersyukur banget ada yang menyukai cerita dari amatiran sepertiku. Dan sangat berterimakasih ada yang begitu ikhlas berbagi vote dan hadiah. Nanti di akhir cerita akan aku berikan apa yang sudah aku janjikan. 3 rangking umum akan aku hadiah, setelah novel ini tamat.


Aku mau jelasin tentang Update yang sedikit mengecewakan. Jadi gini, Novel ini ikut lomba, harus dapat persetujuan dulu dari Editor, baru bisa di publish. Harap maklum ya, jika sedikit mengecewakan akhir-akhir ini. Terlebih lagi di tempat tinggal ku, ada perbaikan kabel bawah laut, internet sering eror dan susah masuk aplikasi.


Aku Up sehari satu episode, dan jika ada lebih aku kasih bonus satu episode lagi, sama seperti novel-novelku yang lain.


Sekali lagi, maaf dan mohon di maklumi ya Kakak reader sayang 🙏🥰 Happy reading, semoga kalian selalu di beri kesehatan 😇😇


Sekali lagi terimakasih banyak, peluk cium online dari Kabupaten Kepulauan Siau, Sulawesi Utara 😅🥰😘

__ADS_1


__ADS_2