
Jangan memandang remeh orang lain, bahkan jika orang itu terlihat amatiran di matamu. Tanamkan di dalam hati, jika masing-masing manusia sudah Allah ciptakan dengan kelebihan dan kekurangan sesuai porsi yang tepat.
Yang kalian lihat remeh dalam diri seseorang, belum tentu kalian mampu melakukannya dengan baik. Dan jika tidak menyukai apa yang di miliki seseorang, akan lebih baik menjauhinya dari pada melakukan hal yang tidak baik terhadapnya.
Jika tidak bisa memberi dukungan, maka jangan membuatnya terpuruk.
****
Seperti hari-hari biasanya, jika tidak ke perpustakaan bersama Reno, Yana hanya akan menghabiskan waktunya bersama sang Ibu di toko bunga.
Karena kebanyakan orang sering menatap dirinya dan sang ibu dengan tatapan meremehkan, membuat Yana enggan untuk berteman.
Hari terus berganti, tidak ada yang tidak mungkin selama kita masih ingin mengusahakan yang terbaik. Jika masih belum berhasil, lakukan yang lebih baik lagi hingga nanti Allah benar-benar memberikan hasil terbaik dari yang sudah kita usahakan dengan baik.
"Hai."
"Waalaikumsalam." Jawab Yana ketika suara yang tidak asing lagi sudah terdengar memasuki toko bunga ibunya.
Reno terkekeh geli mendengar balasan salam dari pacarnya. Pacar ? Apakah iya ? Lebih tepatnya calon istri. Terserahlah, yang jelas apapun statusnya saat ini, ia bersyukur bahwa itu adalah Yana.
"Bukanya kamu temanin Mama kamu arisan Ren ?" Tanya Yana. Wanita yang sering di panggil Tante Lina oleh Yana itu, tidak lagi melarang seperti dulu. Entah itu benar-benar ataukah ada hal yang lain, Yana tidak terlalu memusingkan, toh yang akan hidup dengannya ke depan adalah Reno.
Reno menggeleng lalu ikut duduk di samping pujaan hatinya yang tidak ingin di ajak berpacaran, tapi mau di ajak nikah.
"Maunya temanin kamu." Ujarnya menggoda.
"Ibu bukan obat nyamuk ya." Celetuk Dinda sontak membuat keduanya tertawa.
Banyak hal yang mereka bicarakan seputar kampus. Reno yang sebentar lagi akan lulus, dan perkembangan kuliah Yana. Semua berjalan sesuai keinginan mereka, dan Yana tidak pernah lupa mensyukuri hal itu.
"Ibu, pinjam Yana sebentar boleh ga ? Mau ajak jalan-jalan." Izin Reno.
Dinda menatap putrinya yang juga sedang terlihat memohon agar di izinkan pergi.
"Hati-hati ya, Ibu percaya pada kalian, tapi tetap saja harus berhati-hati." Ujar Dinda memperingati, dan di jawab antusias oleh dua muda mudi di hadapannya.
Wanita paruh baya itu bisa bernafas lega, putrinya tidak akan sendirian jika dirinya pergi nanti. Ada lelaki sebaik Reno yang Allah kirimkan untuk menjaga putri semata wayangnya.
***
__ADS_1
"Mau kemana ?" Tanya Yana penasaran setelah motor yang mereka tumpangi sudah berhenti di depan sebuah gedung dengan puluhan lantai.
Reno menarik pergelangan tangan Yana masuk ke dalam sebuah bangunan apartemen yang ada di depan mereka.
"Kita mau ke apartemen siapa Ren ?" Tanya Yana lagi ketika Reno sudah membuka pintu salah satu unit yang ada di sana.
"Apartemen kita nanti." Jawab Reno. "Tapi masih nyicil sih." Sambungnya sambil tersenyum.
Yana ikut masuk, lalu menatap lekat wajah Reno yang terlihat sedikit salah tingkah.
"Kita akan menyicilnya bersama nanti, agar setelah nikah kita sudah bisa tinggal di sini." Ujar Yana.
"Ngga perlu Na aku yang akan menyicilnya, aku akan mulai bekerja di sebuah perusahaan setelah lulus nanti, jadi aku memberanikan diri membeli apartemen ini." Ucap Reno.
"Aku juga di terima kerja, kamu kan yang bilang kepintaran aku ga boleh di sia-sia kan. Yah walaupun hanya karyawan paruh waktu."
"Ga usah Na, kamu fokus kuliah aja biar aku yang kerja."
Yana menggeleng
"Aku masih punya Ibu yang harus di bahagiakan Ren, begitu pula denganmu. Kita berdua masih harus membahagiakan dua orang yang sudah bersusah payah membesarkan kita."
"Benarkan mau nikah sama aku ?" Tanya Reno lagi.
"Kalau bukan kamu siapa lagi." Jawab Yana, membuat keduanya terbahak.
***
Di kediaman Prasetyo, teriakan Farah berhasil menahan tangan suaminya yang sudah terangkat di udara.
"Sudah Mas.
"Kamu pikir menikah itu semudah yang ada di dalam bayangan kamu ?" Bentak Zidan lagi.
Alfaraz tertunduk dalam, ia tidak menyangka jika kalimatnya yang ingin menikah selesai kuliah nanti, bisa membuat sang Papa se marah ini.
"Al, bahkan orang-orang yang sudah menikah di usia yang pantas saja, belum tentu mampu bertahan dengan segala ujian dan cobaan dari Allah. Kamu masih sangat mudah, apalagi Nara. Gadis itu bahkan belum belum berusia sembilan belas tahun. Kamu tahu kan syarat menikah untuk seorang wanita itu minimal berusia dua puluh satu tahun." Ujar Farah menjelaskan.
"Al akan tetap menikah Bun. Ini juga akan bisa menghindari kami dari hal-hal yang tidak baik." Jawab Alfaraz kekeuh.
__ADS_1
"Kalau begitu lakukan apa pun yang kamu inginkan, dan Papa juga akan melakukan apa yang Papa inginkan. Menikahlah, tapi jangan mengambil apapun dari keluarga, dan kita akan lihat sampai sejauh mana gadis yang begitu kamu inginkan itu mampu bertahan." Ujar Zidan tegas.
Lelaki paruh baya yang masih di penuhi kekesalan itu segera beranjak dari ruang kerjanya, lalu masuk ke dalam kamar tidur, meninggalkan dua orang berharga yang sudah terdiam tanpa kata di ruangan itu.
"Pikirkanlah Al, jangan hanya mengandalkan hati dalam memutuskan sesuatu yang sebesar ini, logika juga harus kamu gunakan agar tidak menyesal di kemudian hari. Ingat Nak, memulai sesuatu dengan terburu-buru itu akan sangat menyakitkan nanti." Ujar Farah, lalu ia pun melangkah keluar dari ruangan itu menuju kamar tidurnya menyusul sang suami.
"Mas..." Panggil Farah, lalu ikut duduk di sofa tempat suaminya berada.
Zidan masih belum mengalihkan potret mereka yang di ambil Zia saat Farah melahirkan putri bungsunya.
"Aku takut masa depannya akan hancur sayang." Ujar Zidan pada sang istri.
"Jika dia memaksa, lebih baik kita merelakannya Mas. Mungkin dengan apa yang akan terjadi nanti, entah itu hal buruk atau hal baik, barulah Al akan banyak belajar." Ujar Farah.
"Aku hanya merasa jadi orang tua yang gagal, karena tidak bisa membuat putra kita melihat hal yang baik dan tidak untuk hidup nya."
Farah tersenyum,
"Kamu sudah lebih dari baik untuk aku dan anak-anak kita. Namun, Mas putra kita juga manusia, dia berhak memiliki pendapatnya sendiri. Dan kita pun berhak memberitahu jika pendapatnya itu salah, akan tetapi kita tidak memiliki hak untuk menentukan apa yang baik atau tidak dalam hidupnya. Kali ini, lakukan apa yang ingin Mas lakukan, dan biarkan Al melakukan apa yang ingin dia lakukan." Pinta Farah.
"Aku ga bisa Ra. Aku ngga bisa duduk dengan diam menonton kehancuran hidup putraku." Ujar Zidan.
"Lalu apa Mas pikir aku pun mampu ? Enggak Mas, aku lebih tidak mampu lagi. Namun, bagaiman jika yang kita pikir terbaik untuk Al, justru akan menghancurkan hidupnya ? Apa yang akan kita lakukan setelahnya ?"
Zidan terdiam, dia tidak lagi mampu menyela semua kalimat yang meluncur dari bibir istrinya. Biarlah, mungkin membiarkan Alfaraz melakukan kemauannya, putranya itu baru bisa belajar, mana yang baik dan buruk.
****
*Note Author
Terimakasih masih ingin mampir di cerita receh ini.
Chapter Bonus ini memang hanya perkenalan karakter untuk season dua ya. Jadi ikuti terus, menebak-nembak boleh, silahkan 😁 tetapi ceritaku, hanya aku yang tahu 😅
Ini bukan kisah perjodohan !
siapkan tisu lagi untuk season dua, karena mengandung banyak bawang.
Hihi 🤭
__ADS_1
Love banyak-banyak untuk kalian yang masih setia memberi dukungan 🥰❤️