Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 132 Sesason 2


__ADS_3

Adelia berdiri di depan cermin besar yang ada di dalam kamarnya. Perang dingin antara dirinya dan sang Papa masih belum reda, padahal waktu sudah seminggu berlalu.


"Jika Rey benar-benar serius denganmu, harusnya dia menikahi mu lebih dulu, dan kalian bisa meniti karir kalian bersama di sana. Bukan nya malah pergi sendiri dan memintamu menunggu."


Kalimat yang membuat ia terdiam seminggu yang lalu kembali terngiang. Apa benar selama ini Rey tidak serius dengannya ?


Adelia kembali membaca setiap pesan teks yang masuk ke alam ponselnya. Beberapa email juga ia baca dengan seksama, dan kalimat penuh permohonan agar dia menunggu tertulis dengan jelas di sana. Ia kembali meletakkan ponsel pintarnya itu di atas meja, tanpa memiliki niat untuk membalas pesan-pesan itu. Biarlah, biar Rey tahu jika dirinya marah.


Hingga akhirnya, satu nomor baru terlihat di layar ponsel. Setelah sebulan, ini pertama kalinya Rey menghubungi nya melalui sambungan telepon.


"Kenapa pesan aku ga kamu balas Del." Suara seseorang yang begitu ia kenali terdengar memelas di ujung sana.


"Aku akan menikah." Ujar Adelia dingin saat nomor berkode luar negeri kini berhasil terhubung dengannya.


Setelah berhari-hari ia mengabaikan setiap pesan dari Rey, laki-laki itu akhirnya menghubunginya melalui panggilan.


"Del jangan seperti ini, hanya bersabar dua tahun lagi apa itu begitu sulit bagimu ?"


Suara memelas bercampur kesal terdengar jelas di telinga Adelia, namun gadis yang sudah rapi dengan pakaian kerja itu sama sekali tidak perduli.


"Aku sudah bersabar bertahun-tahun Rey, aku butuh kepastian. Papa dan Bunda tidak ingin jika aku terus menjalani hubungan yang tidak halal ini."


"Del jangan seperti ini. Kamu tahu aku tidak akan bisa kembali apapun yang terjadi."


"Kalau begitu lanjutkan semua keinginan mu itu. Dan berhenti menggangguku."


Panggilan ia akhiri, dadanya sesak namun, air mata seakan enggan untuk keluar dari tempatnya.


"Brengsek."


Adelia duduk di atas ranjangnya. Menarik nafasnya dalam-dalam, lalu kembali menghembuskanya perlahan. Sejujurnya ini tidak mudah, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan.


Setelah berhasil meredam segala kegundahan hatinya, Adelia melangkah keluar dari dalam kamar menuju ruang makan dimana Papa dan Bundanya sedang menunggu.


Sarapan pagi yang tidak sehangat bisanya. Setelah adubargantasi dengan sang Papa beberapa hari yang lalu, Adelia lebih banyak diam. Sifat usilnya yang selalu mampu meramaikan suasana menghilang entah kemana. Ia makan dengan tenang, hingga sarapan yang ada di atas putingnya tandas.

__ADS_1


"Adel pamit Bun, Pa." Ucap Adelia seraya beranjak dari atas kursi yang ia duduki. Ia melangkah mendekati dua orang paruh baya yang sudah beberapa hari ini selalu menutup mulut mereka rapat-rapat.


"Adel mau menikah. Papa atur saja kapan waktunya." Ujarnya setelah menyalami punggung tangan Papa dan Bundanya.


"Ngga apa-apa, Bunda sudah membatalkannya jika kamu masih ingin menunggu Rey kembali." Jawab Farah. Sedangkan Zidan masih tidak ingin bersuara.


"Tidak, Adel tidak berniat untuk menunggunya. Papa atur saja kapan mereka akan datang, dan kabari Adel."


Tatapan Adelia masih tetap tertuju pada lelaki paruh baya yang masih menutup mulutnya rapat-rapat.


"Adel pamit." Ucapnya lagi setelah tidak mendengar sepatah katapun dari bibir sang Papa. Ia lalu melangkah keluar dari ruang makan menuju pintu depan.


Mobil berwarna merah dengan miliknya, mulai melaju dan meninggalkan pelataran rumah mewah milik orang tuanya. Ponselnya bergetar, namun ia abaikan. Pagi ini ia sudah memutuskan, dan semuanya sudah selesai. Tidak ingin kejadian antara Papa dan sang Kakak dulu terulang kembali. Lagi pula semuanya memang benar, Rey lebih memilih karirnya dari pada hubungan mereka.


****


"Mas." Tegur Farah setelah mobil putrinya terdengar sudah meninggalkan pelataran rumah.


Zidan tersenyum jail


"Ini ngga gratis yaa, malam nanti harus di bayar lunas." Ujarnya.


"Dia lelaki baik, tenang saja. Aku ga akan salah menilai seseorang." Jawab Farah yakin.


Zidan mengangguk.


"Mau kemana ?" Cegahnya saat Farah sudah beranjak dan hendak meninggalkan ruang makan.


"Mau mengabari Mbak Regina." Jawab Farah.


"Lunasi dulu hutangmu, baru lanjutkan rencana mu itu." Ujar Zidan lalu menarik tangan istrinya menuju kamar.


"Gila ya, sudah tua ingat umur Mas ini masih pagi. Dasar." Kesal Farah. Ia melangkah cepat meninggalkan suaminya di ruang makan.


****

__ADS_1


Di sebuah rumah yang tidak kalah mewah, Yana duduk diam di atas meja yang ada di dalam ruang ganti, sedangkan Alfaraz masih memilih baju yang akan ia pakai ke kantor hari ini sambil terus berdecak kesal.


Sudah sebulan berlalu mereka tinggal di rumah ini, dan hampir setiap hari drama mencari baju yang akan ia pakai bekerja akan selalu mengawali pagi mereka.


Lelaki yang semakin hari semakin aneh, selalu saja membuat kepalanya pusing dengan berbagai aturan dan larangan.


"Kalau kamu ngga mau aku pake baju seperti ini, kenapa kamu siapkan ?" Yana menatap suaminya dengan tatapan aneh.


"Yaa aku juga ngga tau sayang. Kemarin-kemarin kamu terlihat biasa-biasa aja pakai baju seperti ini, tapi sekarang aku ngga rela." Jawab Alfaraz. "Apalagi tatapan para karyawan di kantor yang selalu saja tertuju padamu." Sambungnya.


Yana mendengus kesal. Pasalnya ini bukan pertama kalinya mereka menghabiskan banyak waktu di ruang ganti hanya untuk mencari pakaian yang pada akhirnya akan ia kenakan juga.


"Terus sekarang gimana ? Aku yakin bentar lagi Papa akan pecat kamu karena keuangan perusahaan yang amburadul tanpa aku." Ujar Yana gemas bercampur kesal.


Yana turun dari atas meja, lalu melangkah mendekati suaminya yang terlihat kebingungan di depan lemari pakaian.


"Hari ini aku pakai ini dulu, nanti setelah pulang kantor kita mampir ke toko baju dan mengganti semua pakaian kerja ku." Ujar Yana memberi saran. Namun, ia yakin sarannya ini akan kembali di lupakan setelah selesai bekerja, karena mereka hanya akan berakhir kelelahan dengan peluh bercucuran entah itu di dalam ruangan mewah suaminya atau di dalam mobil yang masih terparkir di depan rumah mereka.


Alfaraz terlihat ragu.


"Bagaiman kalau kamu di rumah aja. Tunggu aku pulang." Ucapnya tidak mau kalah dan semakin memberi saran aneh.


Yana menarik nafasnya untuk mengurangi kekesalan yang semakin hari semakin menumpuk.


"Sayang di kantor banyak kerjaan. Laporan keuangan akan berantakan jika bukan aku yang menanganinya." Bujuknya berusaha untuk tetap sabar meladeni keanehan Alfaraz.


"Baiklah, tapi hari ini aja."


Yana mengangguk.


"Jadi yang mana ?" Tanya Yana.


Alfaraz menarik sepasang blouse dan rok selutut dengan ragu dari dalam lemari, lalu menyerahkan dua potong pakaian itu pada istrinya.


"Baiklah, aku pakai ini yakin yaa. Jangan minta di ganti lagi."

__ADS_1


Alfaraz kembali mengangguk.


Setalah berhasil melewati drama ganti baju di pagi haru, Yana menarik tangan suaminya menunju meja makan.


__ADS_2