
Alfaraz menarik tubuh Yana agar duduk lebih dekat dengannya.
"Apa sih." Protes Yana. Namun, tangan nakal milik suaminya masih saja melingkar sempurna di pinggangnya.
Di ruangan lain, Gerald sedang menahan tawa karena terus di tatap tajam oleh laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya.
"Kenapa sih Bunda harus jodohin Adel sama si tukang cari perhatian itu, kayak ga ada laki-laki lain aja." Omel Alfaraz yang hanya bisa di dengan oleh Yana dan Adelia.
"Loh kenapa ? Gerald laki-laki baik kok. Pilihan Bunda itu sudah tepat." Yana membantah.
"Kita pulang."
Yana segera menghambur memeluk tubuh Alfaraz, sebelum suaminya ini benar-benar beranjak dan mengajaknya pulang, sementara acara lamaran adik iparnya belum selesai.
"Aku bercanda, kamu yang terbaik dari semuanya." Ujar Yana Menggoda.
Di ruangan yang sama tempat Yana dan Alfaraz berada, Adelia hanya bisa menahan kesal karena sikap alay sepasang suami di hadapannya ini. Apa dua manusia ini tidak mengerti, jika saat dirinya di liputi kegundahan.
"Kenapa bukan Rey ?" Alfaraz masih belum melepaskan tubuh istrinya dari dalam pelukan, namun, tatapannya sudah tertuju pada gadis yang terlihat tenang di hadapannya.
"Kami sudah putus. Rey sudah pergi." Jawab Adelia singkat.
Yana menautkan alisnya saat melihat raut wajah adik iparnya. Tidak ada ekspresi bahagia atau sedih di sana. Wajah yang terkesan datar, namun menyimpan banyak hal sendirian.
"Kamu baik-baik saja Del ?" Tanya Yana. Ia sudah melepaskan diri dari pelukan Alfaraz, lalu berpindah duduk di samping adik iparnya.
"Apa yang terjadi ?" Kali ini Alfaraz yang bertanya setelah beberapa menit pertanyaan istrinya masih belum mendapatkan jawaban.
"Aku baik-baik saja, dan tidak ada yang terjadi." Jawab Adelia masih terlihat tenang.
"Jika mau, kamu bisa menceritakan padaku. Dulu waktu di kampus, aku adalah pendengar yang baik." Ujar Yana berbohong. Sungguh ia tidak memiliki siapapun dulu, selain Reno. Namun, ia mengerti jika sesuatu yang tidak di ungkapan itu akan terasa sangat menyiksa.
"Aku baik-baik aja Mbak. Ga apa-apa, seperti yang Mbak bilang tadi. Gerald adalah laki-laki baik, dan tidak kalah kaya dari Kak Al." Adelia sudah menetap kakak iparnya dengan senyum jail..
"Ayo kita pulang." Ajak Alfaraz.
Yana dan Adelia tertawa bersama saat melihat wajah kesal Alfaraz.
"Malam ini kita nginap di sini, aku mau cobain ranjang kamu." Yana mengedipkan matanya menggoda.
"Tenang aja Mbak, ranjang Kak Al empuk, pasti proses malam ini langsung jadi." Ujar Adelia menimpali.
Alfaraz semakin cemberut karena kejailan istri dan adiknya.
"Jangan kerjain aku terus, sana Papa manggil kamu. Cepat temui calon suami kamu, biar secepatnya ngerasain empuknya ranjang pengantin." Ujar Alfaraz kesal.
__ADS_1
"Aku sudah ngerasain kok.." Adelia segera berlari keluar dari ruangan, sebelum Kakak tampannya mengamuk.
"Dasar..." Kesal Alfaraz.
"Sayang mau cobain ranjang aku sekarang ?" Tanya nya. Ia sudah menatap istrinya sambil tersenyum licik.
"Nanti setelah aku mengucapkan perpisahan kepadanya." Tunjuk Yana pada laki-laki tampan yang terlihat serius mendengar kalimat yang sedang di utarakan oleh Papa mertuanya.
"Al lepaskan aku.." Ucap Yana dengan kalimat setengah berbisik agar tidak mengganggu prosesi lamaran yang ada di ruang tamu.
"Nanti setelah kita selesai mencoba ranjang ku." Jawab Alfaraz sambil membawa tubuh istrinya menuju tangga dan naik ke kamarnya.
"Al acara belum selesai." Ucap Yana memohon agar tubuhnya di turunkan.
"Lamarannya tetap akan berjalan walaupun kita sibuk membuat bayi di sini." Alfaraz mendorong pintu kamarnya lalu kembali menutupnya rapat.
"Sayang ga enak sama Bunda dan Papa, ini di rumah mereka loh." Yana masih berusaha membujuk Alfaraz, tanpa menepis tangan nakal suaminya yang mulai melakukan tugas.
"Bunda dan Papa justru senang, kalau kita cepat-cepat beri mereka bayi." Alfaraz tidak berhenti, ia masih saja melakukan apa yang sudah berjalan.
Yana tidak lagi menjawab hal yang percuma, Dan proses pembuatan bayi yang ke sekian kalinya pun di mulai.
Ga usah minta othor jelasin, nanti ga di kasih izin suami nulis lagi. Kan udah pada nikah tahu lah gimana caranya. Hahah tertawa jahat ala Zyana.
Di ruang tamu kedua keluarga terlihat begitu sumringah, saat Adelia menjawab sesuai apa yang di harapkan oleh seluruh keluarga. Gerald pun sama, ia tersenyum walaupun ia merasa apa yang di lakukan Adelia malam ini terkesan begitu terpaksa.
"Kita percepat saja Mbak." Ucap Farah antusias setelah Regina, Mama dari Gerald merekomendasikan tanggal pernikahan untuk anak-anak mereka.
"Sepertinya Bunda sangat ingin Adel pergi dari rumah ini yaa." Ujar Adelia cemberut, dan itu berhasil membuat ke empat orang paruh baya yang ada di dalam ruangan tertawa.
Gerald hanya tersenyum, sedikit rasa kagum melintas di dalam hatinya. Bagaiman bisa, seorang gadis yang di paksa menerima pinangan dari orang asing, masih sempat menciptakan lelucon di situasi serius seperti ini.
"Sepertinya usul Tante Farah bagus Mam, lebih cepat lebih baik." Ujar Gerald. Ia masih belum melepaskan tatapannya pada wajah datar yang ada di seberang sana. Dan yah, kalimat singkatnya tidak sama sekali mempengaruhi wajah datar dan tenang di hadapannya.
"Menarik." Batinnya.
"Wah, Gerald tidak sabar ingin segera membawa Adel pergi dari sini." Ujar Farah lagi.
"Niat baik ngga boleh di tunda Tan." Jawab Gerald.
Adelia masih diam tak berniat menimpali.
"Kalau begitu kita undur sampai dua Minggu lagi gimana ? Masih ada banyak hal yang harus kita siapkan bukan ?" Tanya Regina pada calon besannya.
"Seminggu aja." Ucap Farah.
__ADS_1
"Bun.." Zidan tersenyum merasa tidak enak.
"Dua Minggu sepertinya lebih baik. Biarkan Adel dan Gerald saling mengenal sambil kita menyiapkan pernikahan mereka." Jawab Zidan.
"Baiklah Pak Zidan, sepertinya sudah deal dua Minggu lagi yaa. Nanti untuk persiapan pernikahan, biar pihak kami yang akan mengurusnya." Lelaki paruh baya yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan, akhirnya bersuara.
"Dua Minggu lagi, siap kan Nak ?" Tanya Zidan pada putrinya.
"Adel ikut rencana saja Pa. Insha Allah siap." Jawab Adelia.
"Baiklah, kalau begitu kami pamit undur diri. Jaga menantuku Ra." Ujar Regina setelah menghabiskan beberapa menit waktu membahas mengenai pernikahan seperti apa yang di inginkan Adelia.
Wanita paruh baya itu melirik gadis cantik berhijab, lalu tersenyum hangat dan di balas senyum manis oleh Adelia.
Setelah mengantar kepergian keluarga Gerald, Adelia duduk kembali di sofa yang tadi ia duduki. Sang Papa memintanya untuk berbicara sebentar, ia tidak tahu tentang apa dan ia hanya menunggu lelaki paruh baya yang kini sedang menatapnya, berbicara.
"Apa Papa dan Bunda memaksamu ? Apa kamu terpaksa menerima ini ?" Tanya Zidan.
Adelia tersenyum, lalu menggelang.
"Semua pasti sudah jalannya Pa. Adel sudah memikirkan semua ini dengan matang, dan tetap saja jawabannya adalah mengiyakan permintaan Papa dan Bunda. Maaf beberapa Minggu yang lalu sempat membuat Papa kecewa." Jawab Adelia.
Zidan menggeleng, lalu mengusap lembut kepala putrinya.
"Papa hanya ingin kamu bahagia. Akan ada dua kemungkinan dari sebuah penantian. Tidak setiap penantian akan berakhir baik, meskipun ada juga yang berakhir bahagia. Papa dan Bunda hanya ingin menghapus kemungkinan yang akan menyakitimu, dengan cara menwarkan sesuatu yang menurut kami sudah jelas bisa memberimu bahagia. Tapi, jika pun kamu masih belum bersedia menerima, Papa dan Bunda tidak akan memaksa." Ujar Zidan.
Adelia tidak menjawab, ia hanya menghambur memeluk tubuh sang Papa lalu terisak di sana.
"Nanti tolong Papa bilangin Gerald, untuk memberikan waktu untuk Adel membiasakan diri ya Pa.." Ucapnya di sela-sela isakkan.
"Gimana sih, katanya lawyer handal kok yang seperti itu aja ga bisa di tangani." Ledek Zidan pada putrinya.
Farah ikut bergabung dan duduk di sofa yang sama dengan suami dan putrinya. Mengusap lembut punggung yang berada dalam dekapan suaminya.
***
*Note Author
Hai kesayangan ku semuanya...
Hari ini aku bahagia banget, keluarga bucin Prasetyo masuk dalam banner rekomendasi 🥺🥺 Semua berkat dukungan kalian, terimakasih banyak yaaa.
Nanti di akhir cerita akan aku kasih hadiah untuk tiga pendukung teratas 🥰
Jika berminat, jangan lupa mampir juga ke keluarga bucin Hermawan Menggenggam Janji biar bisa ikut di promosikan 🥺🥺
__ADS_1