
Farah duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Ia menatap langit malam yang begitu gelap gulita. Tidak ada satu titik cahaya pun yang terlihat di sana, sama seperti hari-hari lain di bulan Desember ini.
Namun, kali ini perasaanya berbeda. Tidak ada lagi tangisan pilu menyayat hati saat ia menatap keluar jendela kamarnya. Tidak ada lagi air mata yang selalu membasahi pipi, dan membuat matanya membengkak di pagi hari.
Di kamar Alfaraz, tepat di samping kamarnya terdengar cekikikan dari dua orang berharga dalam hidupnya. Senyum di bibirnya kembali tersungging, saat mendengarkan suara menggemaskan putranya dari samping kamar tidur yang ia tempati sendirian lebih dari empat tahun ini. Entah apa yang sedang di lakukan oleh dua laki-laki berbeda usia itu, hingga suara keduanya mampu menembus dinding yang membatasi kamarnya dengan kamar Alfaraz.
Farah kembali memfokuskan pikirannya pada keputusan yang ia ambil hari ini. Matanya terpejam, memohon pada sang khalik, agar keputusannya yang ke dua kalinya ini tidak akan berakhir kecewa seperti empat tahun yang ia jalani.
Berharap semua yang ia putuskan tanpa berpikir panjang, dan hanya mengikuti hatinya yang masih begitu mencinta ini, tidak akan memberinya luka lagi di kemudian hari.
Biarlah orang berkata bodoh tentang dirinya, memberikan kesempatan untuk yang ke dua kalinya pada orang yang kita cintai tidak ada salahnya bukan ?
Zidan masihlah menjadi pemenang atas rasa yang mengendap di dalam dada. Zidan masih lah menjadi satu-satunya laki-lkai yang tersimpan di relung hati terdalamnya.
Kalaupun ia tetap memilih untuk berpisah, apakah ia juga akan biasa bahagia tanpa laki-laki itu ? Sepertinya akan sulit, karena memang cinta yang ia genggam saat ini, masihlah untuk Zidan seutuhnya.
Farah mengalihkan tatapannya dari gelapnya langit malam, ia menoleh pada daun pintu yang terbuka perlahan. Pantas saja tidak ada lagi suara bising yang terdengar dari ruangan sebelah, karena orang yang menciptakan suara berisik itu sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Apa aku boleh masuk ?" Tanya Zidan hati-hati.
Farah tersenyum lalu mengangguk. Ia masih tetap duduk di sofa yang menghadap keluar jendela kaca besar dengan gorden yang ia biarkan terbuka.
Zidan melangkah masuk tanpa menutup kembali pintu kamar Farah seperti biasa yang ia lakukan. Ia memangkas jarak, lalu duduk di sofa yang sama namun dengan jarak beberapa centimeter dari sang istri.
__ADS_1
"Ini adalah kamar utama Ra." ucapnya memulai percakapan. "Kamar ini adalah kamar ku dan Nadia." Ucapnya lagi.
Hati Farah sedikit merasa tidak nyaman mendengar kalimat yang baru saja keluar dari bibir Zidan. Oh ayolah, baru beberapa saat yang lalu ia memohon pada pemilik hati, agar jangan lagi ada luka yang menggores di sana.
"Nadia bersikukuh menempatkan kamu di kamar ini." Ucap Zidan lagi. "Kamar yang ia tempati adalah ruang kerjaku dulu." Sambungnya sambil menarik nafasnya dalam-dalam. Memilih dan memilah kata yang tidak akan menyakiti hati istrinya.
Farah masih diam menyimak, kali ini hatinya kembali menghangat kal mengenang mendiang madunya itu.
"Dia berkata, kamulah yang kelak akan menjadi yang utama dan satu-satunya." Ucap Zidan.
Ia kini sudah memberanikan sang istri yang masih setia menatap keluar jendela kamar tidurnya.
"Sampai hari ini, aku merasa sebanyak apapun kata terimakasih yang terucap dari bibirku, belum mampu membalas kebaikan Mbak Nadia. Hanya saja, bukan kebaikan Mbak Nadia yang aku impikan saat pertama kali menginjakkan kakiku di rumah ini." Ujar Farah.
"Aku bahkan berpikir, Mas membenciku. Aku merasa tidak memiliki harga diri saat kamu masuk ke dalam kamar ini, namun bodohnya aku selalu saja tidak bisa memberanikan diri menolak kehangatan ranjang yang selalu menyisakan perih itu." Ujar Farah. Pikirannya melayang jauh pada malam-malam yang selalu membuat terluka. "Kamu tahu Mad, aku selalu merasa seperti wanita bayaran yang siap memberikan tubuh untuk laki-laki dan menerima bayaran puluhan juta setelah si laki-laki puas menyetubuhi ku." Sambungnya masih belum berani menatap Zidan. Ia hanya bisa melirik wajah yang kini menatapnya sendu.
"Aku yang begitu pengecut Ra, tidak aku munafik. Aku begitu menginginkan kamu, tapi aku berpura-pura seperti orang yang tidak butuh kamu." Ujar Zidan. Ia mengalihkan tatapannya, mengikuti pandangan yang sejak tadi membuat istrinya tidak memandang wajahnya.
"Seperti yang aku minta padamu hari ini, aku ingin memulai semuanya dari awal lagi Ra. Meskipun entah kapan kamu siap memulai kembali, tidaklah masalah bagiku untuk menunggu. Yang terpenting, kamu masih mau memberiku kesempatan untuk memperbaiki keluarga kecil kita, dan mengobati perlahan luka yang sempat aku gores kan di hati kamu." Ujar Zidan
Farah tersenyum, lalu mengangguk. Karen Menag itulah yang membuat ia masih berada di rumah ini sampai hari ini.
Setelah bercerita banyak hal, dengan pembahasan yang masih seputar permohonan Zidan, Farah meminta izin untuk beristirahat lebih dulu. Tubuhnya memang belum benar-benar pulih, jadi beristirahat lebih cepat salah pilihan yang baik.
__ADS_1
Setelah memastikan Farah terlelap di atas ranjang yang selalu ia rindukan, Zidan luar dari kamar itu menuju kamar tidur yang di gunakan Nadia semenjak Farah datang ke rumah ini.
Berulang kali ia memohon maaf di dalam hatinya untuk dua wanita yang sama-sama ia sakiti, hingga akhirnya iapun ikut terlelap di atas ranjang yang selalu di gunakan Nadia untuk beristirahat.
Sepasang suami istri yang harusnya beristirahat di ranjang yang sama, memilih untuk tetap beristirahat di kamar masing-masing.
Zidan mengerti, istrinya masih membutuhkan waktu untuk bisa benar-benar menerima dirinya sebagaimana mestinya. Dan sebagai suami, ia harus memberi itu. Terlebih lagi, dialah yang menciptakan jarak sejak awal pernikahan mereka, jadi dialah yang harus berusaha untuk bisa memaklumi jika Farah belum terbiasa dengan kebersamaan mereka hari ini.
"Ah aku ingin memeluk nya." Ucap Zidan dalam mimpi
*****
Pagi dengan awal yang baru. Pagi buta, Farah sudah mulai berkutat di dapur membantu asisten rumah tangga sebelum putranya terjaga.
Ah mulai hari ini ia kan benar-benar resmi menjadi ibu rumah tangga. Memikirkan hal itu, entah mengapa membuat ia bahagia. Menyiapkan sarapan, baju kerja Zidan lalu mengurus putranya yang begitu menggemaskan seakan menjadi rutinitas baru dan itu membuat Farah semakin bersemangat.
Usai menyiapkan sarapan di atas meja makan, Farah kembali naik ke lantai dua rumah dengan tiga kamar di sana. Ia membuka perlahan pintu kamar sang suami, dan mendapati Zidan sudah rapi dengan baju kerjanya.
"Maaf, aku pikir hari ini Mas belum masuk kerja jadi aku belum menyiapkan pakaian kerja pagi ini." Ucap Farah penuh sesal.
"Hei itu hanya hal yang kecil. Kan masih ada besok." Ucap Zidan sembari melangkah mendekati istrinya. Ia mengecup lembut pipi Farah yang masih saja merona..
"Aku mau bangunin Al, Mas tunggu saja di meja makan." Ucap Farah, lalu berbalik menuju kamar tidur putranya. Ah pagi yang begitu berbeda, perasannya semakin berbunga saja.
__ADS_1