Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 231 Season 3


__ADS_3

Hari yang di tunggu telah tiba. Dira dan Agra sudah berada di rumah sakit, di temani Evelyn dan juga Ferri. Sedangkan kedua orang tua Rey sudah berangkat ke Bandara untuk menunggu kedatangan tamu mereka dari Indonesia.


"Aku jadi rindu Ayah dan Ibu." Lirih Dira saat tubuhnya sudah di dorong masuk ke dalam ruang operasi.


"Ibu dan Mama sedang dalam perjalanan kemari. Kamu harus kuat biar bisa ketemu mereka, ya.." Pinta Arga dan di angguki oleh Dira.


Dira sudah siap, Arga masih berada di dalam ruangan itu untuk menemani istrinya berjuang.


Setelah seluruh proses persiapan telah selesai, lelaki itu tidak bercerita panjang lebar, dan hanya diam di samping Dira dengan jantung yang terus berdetak kencang.


Para team medis mulai melakukan tugas mereka masing-masing. Suara samar para team medis yang saling berinteraksi terus terdengar di ruangan itu. Hingga tidak lama kemudian, suara tangis bayi berhasil memenuhi seluruh ruangan.


Arga menatap wajah istrinya dengan mata yang berkaca. Tatapannya lalu tertuju pada bayi mungil yang sedang di bersihkan oleh petugas.


"Mau memeluknya sebentar ?" Tanya suster yang sedang menggendong bayinya.


Arga menatap istrinya sebentar, dan langsung mendapat anggukan kepala dari wanita terbaiknya itu. Tidak lama kemudian, bayi mungil yang begitu menggemaskan sudah berpindah tangan. Arga mendekatkan bibirnya di telinga si bayi, dan mulai melantunkan adzan dengan suara yang begitu pelan di telinga putranya.


Setelah tugas awalnya selesai, ia kembali menyerahkan bayi mungil itu kepada perawat. Karena bayinya lahir prematur, maka untuk sementara waktu akan membutuhkan inkubator.


Arga kembali mendekati Dira. Proses masih sedang berlangsung. Senyum di bibir Dira masih belum pergi, terlebih melihat wajah khawatir suaminya.


Arga melirik ke arah dokter yang sudah berubah. Bukan lagi dokter yang mengani persalinan tadi.


"Apa semuanya baik-baik saja Dok ?" Tanya Arga pada dokter lain yang berada di ruangan itu.


"Jangan khawatir Pak, semua berjalan lancar seperti yang kita rencanakan." Jawab Dokter itu.


Arga masih setia menemani Dira hingga proses operasi tersebut selesai. Pengangkatan rahim yang awalnya tidak di setujui Dira, telah berhasil di lakukan. Arga yang memutuskan, jika penyakit yang tiba-tiba masuk ke dalam tubuh istrinya itu harus di angkat hingga bersih, namun, di samping pengangkatan akan ada yang harus di relakan, dan Arga tidak keberatan dengan hal itu. Baginya hanya memiliki satu anak bukan masalah, yang terpenting Dira akan selalu bersamanya.


Semua proses operasi sukses dan berjalan dengan lancar sesuai prediksi Dira. Wanita yang masih tetap sadarkan diri itu, di bawa menuju ruangan yang sudah di siapkan khusus. Bahkan inkubator tepat bayi mungilnya berada, tidak di bawa ke ruangan yang biasnya, tetapi di bawa keruangan khusus di mana Dira akan menjalani perawatan.


Saat keluar dari ruang operasi, senyum di bibir Dira seketika mengembang saat mendapati empat orang wanita yang ia tinggalkan di tanah air, sudah berdiri di depan ruangan.


"Bagaimana Operasinya Nak ?" Tanya Rara pada putranya.


"Alhamdulilah semuanya lancar. Tuh cucu Mama sudah lahir, tampan pula." Jawab Arga masih sambil menggenggam tangan Dira.


"Alhamdulillah. Lalu bagaimana dengan Dira ?" Tanya Rara lagi. Wanita paruh baya itu sudah beralih menatap wajah menantunya yang terus tersenyum.

__ADS_1


"Dira juga baik Ma." Jawab Dira pelan


"Ibu ikut senang, selamat ya Nak." Usap Zyana di puncak kepala putrinya.


Berbeda dengan Rara dan Zyana yang langsung menanyakan kabar Dira, dua wanita yang juga sedang mengandung terus saja mengusap-usap kaca di mana keponakan mereka berada.


Aira menatap takjub bayi tampan itu, sambil memegang perutnya yang mulai terlihat membuncit.


"Aku benar-benar bakalan jadi pengangguran Kak." Gumamnya.


Danira menghentikan aktivitasnya yang sedang mengajak keponakannya berbicara, dan membiarkan para suster itu untuk membawa keponakan mungilnya menuju ruang perawatan.


"Pengangguran ? Maksud kamu ?" Tanya Nira tidak mengerti.


"Mana bisa aku ninggalin bayi menggemaskan seperti itu di rumah." Jawab Aira.


Danira tertawa mendengar kalimat mengenaskan dari adik iparnya.


"Udah terima aja, yang penting pengangguran banyak duit. Tenang aja, kamu bakal dapat gaji berapapun kamu mau, cukup lakukan saja dengan baik apa yang sudah aku ajarkan." Ujar Nira. Wanita mesum itu segera menarik lengan adik iparnya, lalu melangkah menuju ruangan di mana ponakan dan adiknya di bawa.


"Jadi istri soleha ?" Tanya Aira.


Aira dengan polosnya mengangguk paham, dan itu kembali membuat Nira tertawa geli.


Keduanya terus mengikuti kemana inkubator di dorong.. Hingga beberapa saat kemudian, mereka tiba di dalam ruangan yang begitu mewah. Ranjang yang tersedia di sana, terlihat bukanlah ranjang untuk pasien.


"Sekaya apa sih Mama mertuaku ini, mau aku rampas hartanya sampai habis." Gumam Nira membuat Aira seketika menoleh.


"Jangan jadi menantu yang durhaka Kak. Kaka ga tahu, keranda mayat terbang, jasad hanyut di sungai dan masih banyak lagi azab untuk anak yang durhaka terhadap orang tua." Ujar Aira menasehati.


"Lalu soundtrack nya ku menangis." Nira tertawa.


"Nah itu tahu." Aira menimpali.


Setelah pembahasan tentang keranda terbang, keduanya melangkah menuju ranjang di mana Dira sedang berada.


"Selamat sudah resmi menjadi seorang Ibu." Ucap Nira setelah tubuhnya sudah duduk di sisi ranjang di mana Dira sedang berbaring. Aira pun mengatakan selamat atas kelahiran anggota baru keluarga, sambil membawa tubuhnya duduk di kursi yang ada di samping ranjang,


Dira mengangguk, kemudian mengucapkan terimakasih pada kakak kembar dan adik iparnya.

__ADS_1


Tiga wanita yang nampak selalu akur itu, mulai bercerita banyak hal. Tidak, Dira hanya menyimak pembicaraan sambil tersenyum. Sedangkan Aira hanya bisa memasang ekspresi berbeda di wajahnya, ketika Nira terus saja membahas misinya yang ingin mengajak adik iparnya untuk menjadi istri yang solehot biar gaji dari suami lancar.


Tidak ada yang lebih membahagiakan hati, selain di kelilingi oleh orang-orang yang di cintai dan juga mencintai kita. Senyum manis Nira yang dulu selalu ia abaikan, kini menjadi salah satu obat yang mampu membuat bibirnya ikut tertarik.


Lengkap rasanya, memiliki kakak perempuan yang terlampau agresif, dan juga adik perempuan yang memiliki tingkat kepolosan yang luar biasa, membuat kepribadiannya yang pendiam dan hambar menjadi lebih berwarna.


"Hai..." Suara lembut dari belakang Aira mampu menghentikan pembahasan absurd Danira. Ketiga wanita yang ada di sana, kompak menoleh ke asal suara.


Dira tersenyum saat melihat sahabatnya yang beberapa saat lalu tidak terlihat, kini menampakkan diri di hadapan mereka.


Danira ikut tersenyum, terlebih melihat sosok laki-laki yang baru memasuki ruangan.


"Hai Elin." Danira menyapa tanpa sungkan.


Evelyn tersenyum saat mendengar nama yang disebut Danira. Selama ini, Ferri lah orang yang pertma memanggilnya dengan nama itu.


Danira beranjak dari atas ranjang di mana adiknya sedang terbaring, lalu melangkah menuju laki-laki yang juga sedang melangkah ke arah mereka.


Evelyn tersenyum saat melihat kakak kembar dari sahabatnya ini mengabaikan keberadaannya, dan hanya menghambur memeluk calon suaminya.


"Ah aku akan jadi orang yang di tinggalkan menjelang hari pernikahan." Keluh Ferri sambil menepuk punggung sahabatnya.


"Aku sengaja, biar kamu ngerasain gimana jadi aku." Jawab Nira masih terus membenamkan tubuhnya dalam pelukan Ferri. "Selamat untuk pernikahan kalian." Sambungnya tulus.


Ferri terdiam, beberapa saat kemudian pelukan mereka terurai. Lelaki yang tadinya terlihat kaku karena pertemuan mereka, tiba-tiba membungkukkan badan dan menyapa keponakannya yang masih berada di dalam kandungan.


"Hai jagoan, jangan jadi jahat seperti Mami kamu yaa. Jadi lah lelaki hebat seperti Papi kamu." Ujar Ferri dan langsung mendapat tabokan dari Danira.


"Enak aja jagoan, ini princess tahu." Ujar Nira tidak terima. "Aku mau jodohin dia sama bayi tampan yang ada di sana." Nira menunjuk inkubator di mana keponakannya berada.


"Apaan rencana jahat mu itu, kayak ga ada anak laki-laki lain aja." Ujar Ferri tidak terima.


"Anak-anak aku, terserah aku lah.."


"Ngga mau peluk aku ?" Suara Evelyn menghentikan perdebatan dua sahabat itu.


Danira tersenyum, dan menyambut uluran tangan wanita yang berhasil memberinya kesempatan untuk menikah bersama laki-laki sehebat Arion. Mengapa ia berpikir seperti itu ? Karena menurutnya, jika bukan kehadiran Elin, belum tentu ia dan Arion akan bersama hari ini.


"Selamat untuk pernikahan kalian." Ucap Nira.

__ADS_1


"Belum nikah, dan mungkin ngga akan nikah." Kekeh Evelyn membuat Danira ikut tertawa.


__ADS_2