
Sebulan telah berlalu setelah kepergiannya. Tidak ada yang berubah, di bulan yang baru juga di tahun yang baru, keadaannya masih saja sama. Langit masih saja diselimuti awan hitam, juga rintik hujan masih sering turun membasahi tanah kelahirannya.
Sama halnya dengan kehidupannya saat ini, sebulan lamanya ia berlalu dari kehidupan Zidan, namun, hingga saat ini belum ada yang berubah dari hatinya.
Meskipun sudah merasa jauh lebih baik dari sebulan yang lalu, tetap saja logikanya masih terganggu dengan hati yang belum juga bisa di ajak berhenti memikirkan satu nama yang tidak pernah mengunjunginya selama satu bulan ini.
Apakah kini dirinya berharap Zidan datang ? Entahlah, yang jelas saat ini ada perasaan sedih yang menyelimuti hatinya, karena laki-laki itu tidak pernah sekalipun mencari tahu tentang dirinya.
Farah duduk di kursi panjang yang ada di teras rumahnya. Memandangi beberapa pohon bunga yang mulai terlihat tumbuh subur, bahkan di antaranya sudah ada yang terlihat mengeluarkan bunga.
Sudahlah, toh ini juga keputusannya. Bukankah ini yang ia inginkan. Hidup sendiri, namun, tidak lagi terluka bukankah jauh lebih baik ?
Farah beranjak dari kursi panjang, lalu melangkah menuju kamar tidurnya. Mungkin membaca bisa membuatnya lebih baik seperti hari-hari biasanya.
Bermenit-menit waktu terus Farah lewati sembari membalik lembaran-lembaran kertas yang ada di atas mejanya. Buku ini entah sudah yang ke berapa kalinya ia baca, mungkin saja setelah ini ia harus menyediakan stok buku lebih banyak lagi di dalam kamar ini.
Ketuk pintu di sertai salam di depan sana membuat Farah menghentikan fokusnya dari buku dengan ketebalan beberapa centimeter di atas mejanya. Ia menajamkan pendengarannya, memastikan jika ketukan pintu yang terdengar memang berasal dari pintu rumahnya.
Suara wanita yang mengucapkan salam di sertai ketukan pintu, kembali terdengar. Farah beranjak dari tempat duduknya lalu bergegas keluar dari dalam kamar menuju pintu depan.
Sembari membalas salam, Farah membukakan pintu rumahnya.
"Undaaa..." Pekikan Alfaraz membuat Farah terkejut.
"Al.." Lirih Farah.
Bocah lelaki yang begitu ia rindukan segera menghambur dan memeluk kakinya. Farah segera menunduk, mensejajarkan tubuhnya dengan Alfaraz lalu membawa tubuh bocah itu ke dalam dekapannya.
Farah menutup matanya, setetes cairan bening menetes dari pelupuk matanya, kala indera penciumannya menghirup dalam-dalam wangi tubuh putranya.
"Unda lindu.." Ucap Al lagi dengan suara cadelnya.
"Bunda juga sayang." Farah mengurai pelukannya, lalu menatap lekat wajah menggemaskan putranya. Pipi gembul Al di hujaminya dengan banyak ciuman, hingga membuat bocah itu tertawa geli.
__ADS_1
"Maaf Bu, Kak. Ayo silahkan masuk." Ujar Farah mempersilahkan dua wanita yang sejak tadi hanya berdiri sambil memperhatikan dirinya yang terlalu antusias dengan ke datangan Al hari ini.
"Terimakasih Ra." Ucap Zia, lalu menuntun sang Ibu masuk kedalam rumah sederhana namun terlihat indah di pandang mata.
"Al duduk sini sebentar, Bunda mau buat minum buat Eyang dan Aunty." Ucap Farah sembari membawa putranya ke atas sofa sederhana yang ada di ruang tamu.
Lelaki kecil mirip dirinya itu mengangguk patuh. Farah tersenyum, kemudian berlalu dari ruang tamu menuju dapur.
Dua cangkir teh dan cemilan sudah berada di atas nampan. Senyum Farah masih belum pergi dari bibirnya. Bahagia ? Yah, mendapat kunjungan dari Al, membuat Farah jauh lebih bahagia.
"Kamu tinggal sendirian di sini Ra ?" Tanya Zia saat melihat adik iparnya sedang melangkah menuju tempat ia dan Ibunya berada dengan nampan yang berisi dua cangkir teh.
Farah mengangguk, lalu mulai menyajikan dua cangkir teh ke hadapan Zia dan Ibu mertuanya.
"Terimakasih Nak." Ucap Anisa.
Farah tersenyum, lalu kembali mengangguk.
"Sama-sama Bu, maaf hanya ini yang bisa di sajikan." Jawabnya.
Farah ikut tertawa mendengar ledekan dari kakak iparnya.
"Gimana keadaan kamu Ra ?" Tanya Nisa usai menyesap sedikit isi cangkir yang ada didepannya.
"Farah baik Bu, Alhamdulillah. Ibu dan Ayah gimana kabarnya ?"
"Kami baik, bahkan kini Ayah sudah kembali bekerja menggantikan Zidan." Jawab Anisa. "Maaf jika kedatangan kami hari ini mengganggumu Nak, tapi Zidan sakit dan Al terus menanyakan kamu." Ucap Anisa.
Farah masih diam, terkejut saat mendengar Ayah dari anaknya itu sedang tidak baik-baik saja, namun, mulutnya masih bungkam. Menanti kalimat selanjutnya yang akan di utarakan oleh dua wanita di hadapannya.
"Zidan tidak memliki penyakit serius, hanya beberapa kali terpaksa harus di infus karena kekurangan banyak cairan. Jangan khawatir, dia baik-baik saja." Ujar Zia.
Farah diam, ia tidak tahu harus mengatakan apa hari ini. Sejujurnya ia begitu khawatir terhadap laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya itu, namun, keadaan mereka sudah sejauh ini.
__ADS_1
"Ngga apa-apa kan, kami menitipkan Al padamu sampai Zidan sembuh ? Al terus saja menanyakan kalian, jadi aku dan Ibu memilih membawanya padamu." Ujar Zia lagi.
Farah menatap bocah laki-laki yang begitu sibuk dengan sepotong kue yang ada di genggaman, kemudian mengangguk mengiyakan permintaan Zia.
"Ra,.." Panggil Zia.
Farah mengalihkan tatapannya dari Alfaraz, lalu kembali menatap wajah kakak iparnya yang terlihat sedikit tidak enak.
"Apa saat ini tidak ada sesuatu yang penting dan ingin kamu sampaikan pada ku dan Ibu ?" Tanya Zia hati-hati, takut menyinggung wanita yang sudah banyak di beri luka oleh keluarganya ini.
Farah menggeleng, karena memang tidak ada yang penting terjadi selama sebulan ini. Keadaannya masih sama, meskipun luka itu mulai memudar walau tidak benar-benar bersih.
Zia menarik nafas berat, tentu saja Farah akan bungkam. Bahkan dulu masih hidup serumah dengan Zidan dan Nadia pun, wanita ini bisa menutupi kehamilannya.
"Sesuai diagnosa dokter, Zidan sedang mengalami masa-masa sulit seperti wanita di awal-awal kehamilan. Kedatangan ku dan Ibu hari ini, tidak hanya mengabulkan permintaan Al yang ingin bertemu dengan mu, namun, juga ingin memastikan itu." Ucap Zia.
"Aku tidak mengerti Kak, ini maksudnya gimana ?" Tanya Farah.
"Kamu ngga sedang hamil kan Ra ?" Tanya Zia akhirnya.
Farah terkejut mendapati pertanyaan ini. Farah menatap sendu dua wanita yang kini menatapnya lekat.
"Maaf jika pertanyaan ku ini sedikit mengganggu mu, aku tidak bermaksud...
"Tidak apa-apa Kak, tapi aku tidak hamil." Jawab Farah menyela.
"Aku datang kesini sebagai dokter, meskipun itu bukanlah bidang ku. Sebagai seorang Kakak yang menyayangi adiknya, aku ingin memastikan lebih dulu, agar tahu penanganan seperti apa yang akan kami lakukan kedepan nya. Zidan parah Ra, dia bahkan sulit bangun dari ranjangnya. Setiap makanan yang masuk ke dalam perutnya, akan kembali di muntah kan begitu saja." Ucap Zia.
Farah menarik nafasnya dalam-dalam mendengar penjelasan dari Zia.
"Aku akan memeriksakan diri dulu, jika aku hamil akan aku kabari." Lirih Farah.
"Dan Kak, dulu bukan karena aku tidak berniat memberitahu tentang kehamilanku, tapi karena memang tidak ada seorang pun yang menanyakan bagaimana keadaanku. Semua orang hanya fokus dengan keadaan Mbak Nadia, dan mengabaikan ku. Jika hanya ingin tahu aku hamil atau tidak, akan aku kabari secepatnya." Ujar Farah mencoba berbicara setenang mungkin. Meskipun hatinya kembali merasa tidak nyaman.
__ADS_1
Tersinggung, tentu saja. Bahkan seorang Zia yang selalu dia andalkan kebijaksanaannya pun bersikap demikian terhadap dirinya, karena Zidan yang sedang sakit entah karena apa penyebabnya.