
Pagi yang indah sudah beranjak pergi semakin menjauh. Terbukti dengan mulai terlihatnya cahaya kekuningan yang menerobos masuk ke dalam kamar di mana Aira berada. Gadis dengan rambut panjang yang di ikat asal-asalan itu nampak terlihat cantik walau tanpa polesan makeup di wajahnya.
Tidak hanya Aira yang berada di dalam kamar itu. Abizar beserta satu orang perawat yang di datangan langsung dari rumah sakit, sedang membersihkan luka dan bersiap mengganti perban di lengan istrinya.
Aira hanya terdiam sambil memperhatikan suaminya yang sedang membersihkan luka di lengannya bersama seorang suster yang sudah bersedia datang dan merawat dirinya di rumah.
"Sakit ?" Tanya Abizar.
Aira menggeleng sambil menatap laki-laki yang sama sekali belum memalingkan wajah dari luka yang ada di lengannya.
"Bilang kalau sakit." Ucap lelaki itu lagi sambil terus melilitkan kain kasa yang baru di lengan Aira, membuat gadis itu tidak tahan untuk tidak tertawa.
"Kenapa ?" Tanya Abizar sambil menyerahkan pekerjaannya pada suster yang lebih mahir.
"Nggak kok." Jawab Aira masih dengan senyum di bibirnya.
"Saya pamit kembali ke rumah sakit Mas, Mbak. Besok saya balik lagi." Pamit suster tersebut setelah selesai melakukan tugasnya.
Aira mengangguk, lalu mengucapkan terima kasih pada perawat tersebut.
"Aku mau mandi dulu. Kamu ga apa-apa kan di sini sendirian ?" Tanya Abizar.
Aira kembali mengangguk mengiyakan. Namun, sebelum itu ia meminta untuk di antar kan ke balkon. Sebelumnya Abizar menolak, akan tetapi melihat wajah penuh permohonan Aira, ia tidak sampai hati untuk menolak permintaan istrinya itu.
"Katanya mau mandi ? Kok malah ikut duduk di sini ?" Tanya Aira heran.
"Aku masih bersih dan wangi kok, mandinya nanti aja. Kalau kamu ga percaya boleh kok kamu cium." Jawab Abizar.
Aira semakin menatap wajah tampan laki-laki yang sudah duduk di sampingnya dengan kening mengkerut.
"Kamu tuh aneh." Ucapnya.
Abizar menoleh, tatapan mereka bertemu sebelum akhirnya Aira memalingkan wajahnya lebih dulu.
"Abi.." Panggilnya sambil menatap mentari yang mulai tenggelam di ujung sana.
__ADS_1
Abizar diam, ia tidak menyahut akan tetapi ia tetap menunggu apa yang ingin di bicarakan oleh gadis yang baru beberapa hari lalu resmi menjadi istrinya itu.
"Apa yang terjadi padaku tiga hari yang lalu ?" Tanya Aira.
"Itu tidak penting Ra, yang penting saat ini kamu aman di rumah. Lagi pula Ayah sedang berusaha menyelesaikan semuanya." Jawab Abizar.
Aira menarik nafasnya dalam-dalam, lalu kembali menghembuskanya perlahan.
"Apa aku benar-benar bagian dari keluarga mu ?" Tanyanya sambil menatap wajah Abizar sendu.
"Kok gitu sih ngomongnya ?" Tanya Abizar. Lelaki itu beranjak dari tempat duduknya, lalu berdiri di samping gadis yang terus saja menatapnya. Tanpa berkata, ia meraih tubuh mungil itu masuk ke dalam dekapannya.
"Kamu bagian penting dalam hidupku." Ucapnya pelan.
Aira tidak menanggapi, meskipun hatinya menghangat saat mendengar kalimat singkat itu, tetap saja sesuatu yang mengganjal masih saja terasa.
"Aku juga ingin ikut menanggung masalah yang sedang menimpa keluarga ini Abi." Ucap Aira.
"Kamu masih sakit Ra, aku..
"Baiklah, tapi di kamar aja sambil peluk gimana ?" Tawar Abizar.
"Ngga ada hubungannya, ayo duduk dan cerita." Tegas Aira dengan mata melotot tajam membuat laki-laki yang sedang berdiri di sampingnya tertawa geli.
Tanpa menghiraukan tatapan protes dari gadis kesayangannya, Abizar segera mengangkat tubuh mungil istrinya itu dengan hati-hati, lalu membawanya masuk ke dalam kamar.
"Abizar...." Protes Aira dengan mata yang semakin melotot tajam, dan pipi yang bersemu karena perlakuan Abizar terhadapnya.
Setelah memastikan Aira berbaring dengan nyaman di atas ranjang, Abizar pun ikut naik dan masuk ke dalam selimut yang sama.
"Jangan aneh-aneh yaa !" Aira menatap penuh curiga.
Abizar semaki tertawa lebar melihat reaksi ketakutan di wajah istrinya.
"Kalau aku mau aneh-aneh memangnya kenapa ? Kamu halal kok." Ujar Abizar dengan senyum jail sambil mengusap bibir Aira dengan ibu jarinya.
__ADS_1
"Aku masih sakit yaa."Jawab Aira dengan pipi yang semakin memerah juga dada yang terus berdebar tidak karuan.
"Baiklah aku kalah." Abizar melepaskan tangannya dari bibir tanpa polesan namun, begitu menggoda itu.
Aira tersenyum penuh kemenangan, ia lalu membawa kepalanya dan bersandar di bahu Abizar. Bahu yang pertama kali ia gunakan untuk bersandar, dan benar-benar nyaman.
"Tiga hari lalu setelah memastikan kamu terlelap dengan nyaman, aku masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Kamu tahulah, sejak hari pernikahan kita, aku tidak sempat mengganti pakaian karena begitu ketakutan terjadi sesuatu dengan mu."
Abizar menghentikan kalimatnya sebentar dan menarik nafasnya dalam-dalam untuk mengurangi gemuruh di dalam dada. Bayangan Aira penuh darah, membuatnya semakin ketakutan.
"Setelah aku keluar dari dalam kamar mandi, aku melihat ranjang yang kamu tempati sudah penuh dengan darah. Aku ketakutan, dan langsung menghubungi Ayah dan Ibu."
Aira masih mendengarkan penjelasan Abizar dengan seksama.
"Bukan menyesal, tapi entahlah. Aku merasa bersalah karena sudah membawamu masuk dalam keluarga ku yang rumit ini." Ujar Abizar lagi membuat gadis yang sedang bersandar di bahunya seketika mengangkat kepala.
"Apa kamu merasa menyesal karena sudah menikahi ku ?" Tanya Aira pelan.
"Jangan ambil kesimpulan sendiri. Aku hanya akan merasa menyesal jika keputusan yang aku paksakan beberapa minggu yang lalu membuatmu terluka Aira. Dan yang lebih membuat ku kesal, aku tidak menemukan siapapun di ruang perawatan yang kamu tempati." Jelas Abizar.
Aira menatap wajah samping Abizar sebentar lalu kembali membawa kepalanya kembali bersandar di bahu nyaman milik suaminya itu.
"Kan ada kamu. Bukannya kamu yang janji bakal jagain aku dan ga akan membiarkan siapapun menyakiti ku setelah menikah." Ucap Aira berusaha untuk tidak lagi membahas sesuatu yang membuat Abizar tidak nyaman. "Aku percaya, aku akan baik-baik saja selama bersama mu. Ingat, aku tidak hanya numpang makan dan minum, tapi juga numpang perlindungan dari mu." Sambungnya lalu tertawa.
Abizar ikut tersenyum.
"Itu semua memang sudah menjadi tugasku nona." Ujarnya sambil mengecup puncak kepala Aira berulang kali.
"Mandi sana, bentar lagi magrib. Ngga enak jika Kak Nira datang dan menuduh kita sedang aneh-aneh di waktu shalat seperti ini."
"Selesai shalat bisa yaa ?" Tanya Abizar.
"Aku masih sakit, sudah sana.
"Cieee yang mau ngajakin nganu.." Suara jail di ambang pintu yang tiba-tiba terbuka membuat Abizar mendengus kesal, dan membuat laki-laki tampan itu segera turun dari ranjang dan melangkah mauk kedalam kamar mandi tanpa pamit.
__ADS_1