
Pagi yang mendung. Nira menoleh ke arah luar kafe, menikmati lalu lalang kenderaan yang melintasi bangunan seder
"Sepertinya tugas aku sudah selsai." Ucap Feri tiba-tiba, saat lelaki itu sudah duduk di sala satu kursi yang ada di depan Nira.
Gadis berhijab itu menoleh, lalu tersenyum manis pada sahabatnya.
"Yah, semua sudah selesai dan sekarang waktunya aku yang akan memenuhi janjiku." Jawab Nira.
"Hei, aku ikhlas membantumu. Dan kamu tidak perlu memikirkan kesepakatan kita. Aku hanya bercanda Nir." Ujar Feri.
"Bawa aku pergi dari sini Fer, Jakarta terasa begitu sesak untuk aku bernafas." Lirih Nira.
Feri tidak lagi berkata-kata, ia hanya menatap prihatin wajah cantik yang terlihat sembab di hadapannya. Terjebak cinta yang rumit, memang sungguh sangat tidak enak rasanya, karena dia sudah pernah merasakan hal itu dulu.
"Minta orang tua kamu untuk datang melamar ku, lalu bawa aku pergi jauh dari sini." Pinta Nira memohon.
Kamu tahu aku ga punya keluarga Nir. Aku anak buangan dalam keluarga, dan nanti kamu akan menderita hidup bersamaku."
"Aku punya banyak uang, jangan khawatir." Nira terkekeh. "Jika hanya satu orang anak, sepertinya aku masih sanggup membiayai nya." Sambungnya masih dengan tawa geli.
"Aku ga suka hanya satu, maunya dua atau tiga. Gimana dong ?" Senyum hangat terlihat begitu menawan di wajah blasteran Feri.
"Aku serius aku mau nikah sama kamu." Kalimat singkat padat dan jelas itu membuat Feri terdiam, kemudian lelaki yang tidak kalah tampan dari Arga itu tertawa.
"Bercandanya ga lucu." Ujar Feri.
"Aku ngga bercanda. Sepertinya aku lebih membutuhkan rasa nyaman dari pada cinta. Dan aku menemukan nyaman itu saat bersama mu. Beri aku kesempatan untuk berusaha mencintai kamu setelah kita nikah nanti."
Feri terkejut mendengar kalimat yang terdengar begitu meyakinkan dari bibir Nira.
"Kamu yakin ?" Tanyanya. Dadanya berdebar saat Nira menatapnya dengan begitu lekat.
Nira mengangguk yakin.
"Tapi kehidupan ku ga sebaik Arga."
"Kita bisa mengusahakan itu bersama-sama nanti." Jawab Nira.
"Keluarga ku tidak seharmonis keluargamu."
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita buat sebuah kelurga kecil yang harmonis dan bahagia."
"Kamu yakin ?"
Nira mengangguk yakin.
"Ini tidak akan mudah, hidupku tidak tentu arah. Aku tidak punya tujuan."
"Cukup jadikan aku tujuanmu, maka aku siap menentukan arah kemana kita akan membawa kisah ini." Jawab Nira yakin.
Feri menghembuskan nafasnya. Sejujurnya ia sangat bahagia, dan ingin mengucapkan bahwa dia sangat mencintai wanita di depannya ini, dengan suara yang sangat lantang.
"Aku mencintaimu Nira, dan kamu sudah tahu akan hal itu sejak lama. Maukah kamu menikah dengan ku ?"
"Mintalah izin pada Ayahku, jika beliau memberi izin itu, maka tidak ada alasan bagiku untuk mengatakan tidak pada lamaran aneh mu hari ini." Nira tertawa.
Tawa yang benar-benar keluar dari dalam hatinya. Begitulah saat bersama Feri, dia bisa menampakkan sisi rapuhn juga sisi bahagia yang sesungguhnya.
"Malam nanti aku akan datang dan melamar mu langsung pada Ayah mu." Ujar Feri.
Nira mengangguk.
Di sebuah apartemen di tengah kota Jakarta, Dira sedang berkutat dengan peralatan memasak. Gadis cantik yang sudah rapi dengan terusan panjang lengkap dengan hijab itu, terlihat begitu serius mengaduk makanan yang ada di dalam wajan, hingga tidak menyadari jika laki-laki yang kini berstatus sebagai suaminya sudah duduk di sebuah kursi sambil memperhatikan dirinya.
"Cantik banget sih kalau lagi masak." Ujar Arga memuji.
Seperti biasa gadis pendiam itu tidak menanggapi godaan suaminya. Hanya seutas senyum yang terlihat begitu manis, terukir di wajah cantiknya.
"Masak apa ?" Tanya Arga sambil melangkah mendekati Dira. Ah, ingin sekali ia mencontoh adegan mesra di film-film. Namun, ia masih begitu canggung melakukan kontak fisik dengan Dira.
"Aku lagi masak nasi goreng. Aku ga tahu kalau sarapan kamu sukanya apa, ya udah aku masak kesukaan aku aja." Jawab Dira.
"Sepertinya mulai sekarang nasi goreng akan menjadi makanan kesukaan aku juga." Ujar Arga.
Lelaki itu segera mengambil dua buah piring dari kabinet saat istrinya sudah mematikan kompor.
"Terimakasih." Ucap Dira. Ia meraih satu buah piring yang tangan Arga.
"Baunya enak." Ujar Arga saat satu buah piring yang berisi nasi goreng dengan asap yang mengepul sudah berpindah ke tangannya.
__ADS_1
"Cobain." Dira mengulurkan sendok yang sudah terisi sedikit nasi goreng ke arah suaminya. "Gimana ?" Tanyabya kemudian.
"Enak banget." Arga mengecup pipi Dira, kemudian lelaki itu segera membalik tubuhnya menuju meja makan.
Dira yang masih terkejut dengan tindakan Arga yang begitu tiba-tiba, spontan menyentuh pipinya yang baru saja di kecup mesra oleh suaminya itu. Beberapa menit kemudian, jantungnya yang menggila mulai kembali normal. Gadis berjilbab itu ikut melangkah lalu duduk dengan diam di kursi makan.
Dira belum memulai sarapannya, ia hanya menyaksikan laki-laki yang begitu lahap menyantap sarapan yang ia siapkan pagi ini.
Bahagia ? Tentu saja. Bagaimana tidak bahagia, jika salah satu keinginannya setelah menikah terwujud secepat ini. Melihat suami yang dia cintai menikmati makanan buatannya dengan begitu lahap, adalah salah satu impiannya setelah menikah.
"Enak banget sih.." Puji Arga lagi. Lelaki itu kembali menikmati setiap sendok nasi goreng spesial yang di buatkan sang istri untuknya.
Pagi yang indah menurutnya. Walaupun tidak ada adegan panas di atas ranjang setelah empat hari pernikahan, Arga masih saja bahagia menikmati setiap momen yang ia lewatkan bersama Dira.
"Siapa sih yang ngajarin kamu sampai se jago ini ? Ini sudah selevel Mama loh."
"Sahabatku di apartemen ibunya seorang koki dan aku belajar memasak dari beliau." Jelas Dira. Gadis itu lantas mulai memakan sarapannya dengan perlahan.
Pujian dari bibir suaminya masih terus terdengar, padahal ini baru nasi goreng. Masih ada banyak masakan lain yang sudah ia pelajari dari ibunya Evelyn, dan nanti dia akan menghidangkan itu untuk suaminya.
Setelah keduanya selesai menyantap sarapan, Dira membawa piring bekas mereka menuju wastafel dan mencucinya.
"Aku bantuin." Arga mengambil piring yang sudah di cuci bersih dari tangan Dira, lalu menyimpan piring itu di dalam kabinet. "Kamu kependekan." Usapnya di kepala sang istri.
"Kak.." Panggil Dira.
"Ada apa ?" Tanya Arga. Lelaki itu masih berdiri di dekat wastafel, sambil menatap istrinya yang kini tertunduk dalam.
"Maaf belum bisa jadi istri sepenuhnya. Sejujurnya ini terllau mendadak untukku, dan aku belum mempersiapkan diriku sampai sejauh itu."
Arga tersenyum, ia mengerti kemana arah pembicaraan Dira.
"Mungkin pacaran setelah menikah jauh lebih baik. Jadi kalau cium pipi begini ga akan dapat dosa." Jawabnya lalu mengecup pipi merona istrinya.
"Terimakasih sudah mau mengerti. dan besok aku berangkat." Izin Dira.
"Kita, kita yang berangkat." Tegas Arga. "Malam nanti kita pulang ke rumah Ayah, karena kita harus mengatur barang-barang yang akan di bawa besok." Sambungnya.
Dira mengangguk, lalu mengikuti langkah Arga keluar dari dalam dapur menuju ruang TV.
__ADS_1