Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 55


__ADS_3

Di dalam ruangan Zia, Farah membicarakan banyak hal, termasuk mengenai rumah baru yang Zidan tawarkan. Memulai semua dari awal lagi, hanya ada ia dan Zidan juga anak-anak mereka di dalamnya.


Zia menyetujui hal itu, karena tinggal di rumah yang pernah menjadi saksi bisu kepedihan hati Farah, akan sangat mempengaruhi keharmonisan rumah tangga adik iparnya ini. Jadi, akan lebih baik jika memulai semuanya dari awal tanpa bayang-bayang siapapun. Mengukir kisah yang baru di tempat yang baru adalah pilihan yang paling baik untuk saat ini.


"Cari rumah yang kamu inginkan, dan buatlah kenangan baru di sana untuk kamu ceritakan pada anak-anak kalian nanti." Ucap Zia. Ia mengusap lembut perut Fara yang masih terlihat rata.


Zidan memang mencintai Farah, namun, rumah yang mereka tempati saat ini meninggalkan banyak kenangan tentang Nadia, dan itu sangat tidak baik untuk Farah. Selamnya Farah hanya akan menganggap dirinya wanita kedua, jika terus tinggal di rumah yang menyimpan banyak kisah tentang Nadia.


"Ayah sudah menceritakan tentang ini, dan aku menyetujui hal itu." Ujar Zia lagi.


"Semewah apapun hidup, jika tidak mendapat ketenangan maka selamanya kita akan sulit meraih bahagia. Aku harap, setelah ini rumah tangga kalian benar-benar akan menjadi rumah tangga yang kamu impikan selama ini." Ucap Zia. "Buatlah keponakan-keponakan ku bahagia, dengan cara membahagiakan dirimu lebih dulu." Sambungnya.


Farah mengaminkan kalimat Kakak iparnya, karena memang itulah yang ia harapkan selama ini. Hidup bahagia dengan orang-orang yang ia cintai, adalah impiannya.


Banyak hal yang mereka bicarakan, Zia memperingati Farah untuk jangan diam saja jika ada yang mengganggu pikirannya. Zidan memang pendiam, berbanding terbalik dengan sikapnya yang terkesan terbuka dengan keluarga. Jadi, jika ada sesuatu yang mengganjal di hati, Zia menyarankan Farah untuk memberitahu apapun itu, agar Zidan tahu apa yang harus dia lakukan.


"Kalau menurut aku, cinta akan berada di urutan yang ke sekian, yang paling utama adalah kejujuran dan komunikasi yang baik. Komunikasi dan saling terbuka berada di urutan pertama menurutku, dan itu paling penting dalam pernikahan ku" Ujar Zia lagi.


Farah masih diam menyimak, kalimat Zia memang benar. Selama ini, ia jarang berkomunikasi dengan Zidan, bahkan nyaris tidak pernah melakukannya. Selama empat tahun pernikahan, Nadia yang selalu menjadi perantara bagi mereka, untuk itu Farah lebih memilih menyimpan kegundahan hatinya sendirian.


"Kamu tahu Ra, saat Kak Alard menikahi aku dulu, dia masih memiliki rasa pada mantan kekasihnya. Tapi, dia adalah laki-laki yang baik, kurangnya cinta yang ia miliki, tidak lantas membuat Kak Alard bersikap tidak baik terhadapku. Dia memperlakukan aku sebagaimana wanita yang berharga dalam hidupnya. Dan kamu lihat sekarang, aku dan Alard baik-baik saja, aku mencintainya sejak dulu sampai saat ini, itulah yang aku tahu. Mengenai cintanya untukku, biarlah aku titipkan pada Allah, biar Allah yang menjaganya untukku." Ujar Zia lagi.


Farah menatap wajah Zia dengan lekat, kini dia menyadari sesuatu yang salah selama ini. Ia begitu mencintai Zidan, bahkan ia lupa jika pemilik cinta bisa saja mengambil rasa itu kapan saja.

__ADS_1


"Aku mendahului takdir Allah. Selama ini aku selalu bersujud dan hanya terus meminta apa yang aku inginkan di setiap sujud ku, tanpa perduli apa sebenarnya yang sedang Allah rencanakan untuk hidupku." Ucap Farah.


Zia tersenyum mendengar kalimat yang baru saja meluncur dari bibir adik iparnya.


"Sekarang kamu ngerti kan Ra ? Tidak ada tempat yang paling baik untuk memasrahkan segalanya, kecuali pada pemilikNYA. Percayalah, jika kita sudah melakukan semuanya dengan baik, namun, belum juga mendapatkan apa yang kita mau, itu bukan karena Allah tidak ingin mengabulkan permintaan kita, tetapi DIA hanya sedang mempersiapkan yang jauh lebih baik dari apa yang kita inginkan." Ujarnya.


"Aku akan mencobanya Kak." Ucap Farah yakin.


Zia mengangguk.


"Mencoba memperbaiki sesuatu yang sudah retak, memang bukanlah hal yang mudah. Ibaratnya sebuah kaca yang pecah, meskipun kita sudah memperbaiki nya tetap saja bekas pecahan itu masih akan terlihat. Namun, Ra tidak semua mata memandang retakan di kaca itu adalah sesuatu yang mengganggu. Ada sebagian manusia mampu membuat karya seni yang indah di pandang mata, dari sesuatu yang sudah rusak tak terpakai lagi." Ujarnya.


Farah tersenyum untuk yang pertama kalinya setelah pertemuan mereka di Jogja dua hari lalu. Kali ini ia merasa sedikit lega. Zia memanglah wanita yang patut di jadikan panutan dalam hidup.


Jika sesuatu yang sudah rusak itu masih bisa di perbaiki, bukankah akan lebih baik kita memperbaiki dan menggunakannya kembali, dari pada menyimpannya dan akhirnya hanya akan menjadi rongsokan yang tidak berguna.


Tidak ada salahnya untuk belajar membuka diri, toh saat ini keluarga Zidan memang memperlakukan dirinya selayaknya keluarga. Dan saat ini, hanya keluarga inilah yang bisa ia sebut sebagai keluarga.


***


"Undaa.." Teriak Al saat melihat Farah sedang melangkah ke arahnya.


Farah tersenyum, ia membungkuk sembari merentangkan kedua tangan, untuk menyambut Al yang sedang berlari ke arahnya.

__ADS_1


"Sudah merasa lebih baik ?" Zia bertanya pada adiknya yang juga sedang mengayunkan langkah mendekat ke arah Farah dan dirinya.


Zidan mengangguk, kehadiran Farah membuat dirinya merasa jauh lebih baik dari biasanya.


"Aku mual hanya saat menjelang subuh tadi, setelah itu sudah tidak merasakan apapun." Jawabnya.


"Alhamdulillah kalau gitu." Ucap Zia. Sejenak ia menoleh ke arah Farah yang sudah asyik meladeni keponakannya yang semakin aktif, lalu Kemabli menatap adiknya.


"Farah hamil, dan yang kamu alami hampir dua Minggu ini adalah gejala awal kehamilan yang bisa di derita oleh ibu-ibu hamil pada umumnya." Ujar Zia.


Zidan terbelalak, sekaligus merasa senang mendengar berita yang di sampaikan oleh Kakak kesayangannya ini.


Lelaki itu segera menghambur dan memeluk erat tubuh Zia, sembari menggumamkan terimakasih.


"Bukan berterimakasih padaku Zi, tapi padanya. Dia wanita yang sudah berulang kali kita sakiti, tetapi masih mau mengandung keturunan keluarga kita." Usap Zia di punggung adiknya.


Zidan melepaskan pelukannya dari tubuh sang Kakak, lalu mengalihkan tatapannya menuju dua orang yang kembali asik dengan dunia mereka.


Sebuah senyum terlihat di bibirnya yang masih terlihat pucat. Allah memanglah maha baik, bahkan untuk semua sikap buruknya terhadap Farah, ia masih di beri kesempatan untuk memiliki sesuatu yang berharga dari wanitanya itu.


"Belajarlah dari sebelumnya, jangan membuat Farah tertekan. Buatlah dia merasa layaknya wanita yang memang benar-benar kamu cintai Zi. Jangan hanya terus mengatakan kamu mencintainya, namun, sikap yang kamu tunjukkan justru berbanding terbalik dengan apa yang dia dengar dari bibirmu." Ujar Zia memperingati.


Zidan mencubit pipi Zia dengan gemas, yah jurus mengomel kakak kesayangannya ini sudah kembali.

__ADS_1


"Kali ini aku akan benar-benar menjaganya, dan memastikan keponakanmu akan terlahir dengan selamat ke dunia." Ujarnya.


Senyum penuh semangat di bibir pucat Zidan masih terlihat dengan jelas. Bahkan mata yang selalu nampak sayu sebulan ini, kini menatap Zia penuh binar. Apalagi melihat hasil USG yang kini sudah berpindah ke tangannya.


__ADS_2