
"Kamu harus cepat sembuh Ra, biar cepat kasih ponakan buat aku." Ucap Gea sambil mengusap lembut punggung tangan Aira. "Dan aku harus pulang. Maaf aku ga bisa lagi nemanin kamu seperti biasanya, takut Kak Abi ngamuk." Pamitnya kemudian.
Aira tersenyum mendengar kalimat sahabatnya, lalu mengangguk mengiyakan.
"Ibu dan Ayah harus pulang juga. Ga apa-apa kan ?" Zyana mengusap lembut kepala menantunya.
" Iya, ngga apa-apa Bu. Aira sudah baik-baik saja kok." Jawab Aira masih dengan senyum manis di bibir pucatnya.
"Nanti besok Ayah akan memindahkan kamu ke rumah sakit keluarga. Di sana fasilitasnya jauh lebih memadai." Ujar Alfaraz.
Aira kembali mengangguk patuh.
Apa kali ini ia beruntung ? Entahlah. Namun, bengitulah yang ia rasakan saat ini. Hadiah terindah dalam hidupnya ada lah laki-laki yang begitu berbaik hati membawanya dalam keluarga yang sangat luar biasa baiknya.
Setelah kepergian seluruh keluarga, Abizar kembali duduk di kursi yang ada di samping ranjang sambil menggenggam erat tangan Aira.
"Kamu istirahat aja dulu, aku sudah merasa jauh lebih baik kok." Ujar Aira saat Abizar menyandarkan kepalanya di atas ranjang tempat Aira berbaring.
"Istirahat di ranjang ini boleh ga ?" Tanya Abizar. Lelaki itu mengangkat wajahnya, lalu menatap wajah cantik yang masih terlihat sangat pucat itu.
"Katanya tadi ga perlu malam pengantin." Aira menatap wajah lesu suaminya dengan tatapan meledek.
"Kamu pikir malam pengantin hanya akan tidur di ranjang yang sama tanpa melakukan apapun ? Apa-apaan malam pengantin seperti itu. Tapi benar Ra, aku ga terlalu berharap malam panas seperti itu. Bisa menggenggam tangan kamu sepuasnya seperti ini, sudah cukup bagiku." Ujar Abizar jujur.
"Ya udah ayo sini." Aira menepuk bagian ranjang yang kosong di sampingnya.
"Sambil peluk juga ga apa-apa kan ?" Tanya Abizar lagi.
Aira tertawa mendengar pertanyaan aneh itu.
"Dasar pembohong, katanya pegang tangan aja sudah cukup, sekarang minta peluk. Habis peluk apa lagi ?" Tanya Aira meledek.
__ADS_1
"Masih banyak lagi, tapi nanti aja. Malam ini pegang tangan dan peluk kamu aja dulu, dua itu aja udah cukup." Sahut Abizar sambil merebahkan tubuhnya di samping tubuh mungil Aira.
Aira tidak menanggapi, bahkan saat Abizar melingkarkan tangan di tubuhnya ia sama sekali tidak menolak. Wajah tampan yang mulai mengisi hati dan otaknya, terbenam di dekat pipinya.
"Aku takut banget tadi." Ucap Abizar pelan tepat di samping pipi Aira.
Aira diam, dia hanya menantikan kalimat selanjutnya yang pasti akan semakin membuat hatinya berdebar tidak karuan.
"Jangan terluka lagi. Jangan buat aku takut seperti siang tadi, yaa." Pinta Abizar.
"Aku justru takut nanti akan terluka karena kamu." Jawab Aira pelan. Dia sadar sesuatu mulai terasa di relung hati terdalamnya. Dan, ia sadar jika rasa yang kini mulai mengganggu, pasti akan menyakitkan jika nanti tidak berbalas dengan baik..
"Aku tidak akan melukaimu." Jawab Abizar yakin.
"Semoga." Ucap Aira singkat.
"Percaya sama aku. Mulai sekarang aku akan lebih berhati-hati, agar kamu tidak lagi terluka seperti hari ini." Ujar Abizar.
"Bukan luka berdarah yang aku maksud." Ucap Aira pelan.
"Ga ga apa-apa, ayo dekatkan lagi wajah kamu di pipi aku." Kekeh Aira mengalihkan suasana. Belum saatnya, begitu pikirnya.
Pernikahan ini begitu mendadak, dan itu pun di lakukan karena sebuah pertanggung jawaban. Untuk itu biarlah ia menantikan waktu yang tepat untuk membicarakan semua ini bersama Abizar.
****
Di perjalanan, Arion dan Danira mengambil rute berbeda dengan keluarga yang lain. Keduanya memilih untuk langsung menuju klinik tempat wanita yang begitu nekat bermain api dengan keluarga mereka, untuk memastikan kecurigaan mereka memang benar adanya
Terlebih gadis yang mereka curigai, adalah bagian dari masa lalu sang Ayah, membuat Danira semakin bersemangat untuk menemukan siapa dalang dari semua ini.
Sore yang indah mulai berubah kelabu. Arion masih melajukan mobilnya menuju tempat tujuan. Ia dan istrinya memang sengaja menggunakan mobil berbeda, agar lebih leluasa untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang sudah berani berada di balik kejadian tragis hari ini.
__ADS_1
Beberapa menit berkendara, kini mobil yang membawa mereka sudah berhenti di depan sebuah klinik dengan penjagaan ketat.
Terlihat Gerald melangkah keluar dari dalam klinik tersebut, dan bertemu dengan keponakannya guna menjelaskan perkembangan kesehatan wanita itu.
Setelah beberapa data berbicara, Gerald berpamitan untuk pulang ke rumah, sedangkan Nira dan Arion melangkah masuk ke dalam klinik tempat wanita penata rias sedang di rawat.
Saat mereka memasuki ruangan, wanita yang memang sudah sadarkan diri dari beberapa menit yang lalu, menoleh dan menatap sepasang suami istri yang sedang melangkah menuju ke arahnya.
Danira menarik satu buah kursi, lalu duduk di samping ranjang kecil tempat wanita itu terbaring. Arion tidak bergabung, akan tetapi lelaki itu tidak menurunkan kewaspadaannya. Sungguh, ia tidak mau mengambil resiko jika sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan hal nekat ini ?" Tanya Danira dengan suara yang di usahakan selembut mungkin.
Wanita itu masih membungkam mulutnya rapat-rapat.
"Jika kamu mau bekerja sama dengan kami, kami akan memastikan keselamatan kamu. Dan tentu saja, kami akan berusaha agar kamu tidak terseret dalam kasus ini." Ujar Danira. "Aku tanya sekali lagi, apa gadis ini ada sangkut pautnya dengan kejadian hari ini ?" Tanya Danira lagi sambil memperlihatkan satu gambar gadis dari ponselnya.
Namun, lagi-lagi wanita itu masih menutup mulutnya rapat-rapat.
"Ini kesempatan kamu untuk bisa menyelamatkan diri. Ayahku bukalah orang yang bisa memberi toleransi terhadap siapapun yang berani mengusik keluarga kami."
Danira masih berusaha untuk mengorek informasi, walaupun hasilnya selalu saja gagal.
"Baiklah, mungkin kamu lebih ingin interogasi dengan kekerasan. Jadi tunggulah, keinginan mu itu pasti akan terwujud. Keluarga kami bukalah keluarga yang bisa berbaik hati terhadap orang-orang yang berniat jahat."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Danira bangkit dari atas kursi lalu melangkah menuju pintu ruangan di mana suaminya berada.
"Selamatkan anakku, aku bersedia bertanggung jawab dan bekerja sama yang penting kalian bisa memastikan anakku baik-baik saja." Ucap wanita itu.
Danira menghentikan langkahnya, lalu kembali membalik tubuhnya dan menatap wanita yang terlihat pasrah di atas ranjang.
"Jadi apa yang perlu aku lakukan ?" Tanya Danira.
__ADS_1
"Ada sebuah ponsel yang aku sembunyikan di bawah ranjang pengantin di rumah kalian. Sepertinya pihak berwajib belum menemukan hal itu. Lihat dan selidiki lah, nyawa anakku sedang dalam bahaya." Jawab wanita itu.
"Baiklah, tetap tutup mulutmu, biar kami yang menangani hal ini." Danira kembali memperingati. Setelah itu, ia bergegas luar dari ruangan itu bersama Arion dan meluncur menuju kediaman Ayah dan Ibunya.