Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 51


__ADS_3

Zia terkejut dengan kalimat Farah yang terdengar dingin.


"Ra maksud aku bukan seperti itu. Maaf jika sudah menyinggung mu. Sungguh aku minta maaf." Ucap Zia tulus. Ia sadar sudah kembali melukai hati yang sudah berulang kali di lukai oleh kelurganya.


Farah menggeleng, yang patut di salahkan dalam hal ini memang dirinya sendiri. Ia tidak lagi ingin menyalahkan siapapun, dan membuat luka hatinya yang mulai terobati kembali menganga.


Dialah yang mengambil keputusan, dan masuk dalam kubangan luka maka, dirinyalah sendiri pun yang harus berusaha untuk mengobati.


"Aku sadar Kak, Bu. Yang aku alami saat ini, memang yang seharusnya wanita kedua rasakan. Seharusnya aku menunggu Mbak Nadia pergi dulu, lalu masuk ke dalam hidup Mas Zidan agar tidak selalu berteman sepi dan rasa cemburu." Ujarnya.


Zia menatap Farah penuh rasa bersalah. Ia telah membuka kembali lembaran luka yang mungkin sudah hilang selama satu bulan ini.


"Aku akan kabari secepatnya." Ucap Farah, ia kembali tersenyum. Menepis sedikit rasa tidak nyaman yang kembali mencuat.


"Ra, maafkan kami yang sudah dzalim terhadap mu. Maaf selama ini kami mengabaikan wanita yang sudah ikhlas memberikan keturunan pada keluarga kami." Ucap Anisa dengan air mata yang meluncur membasahi pipi dan hijabnya.


"Zidan mencintaimu, sangat mencintaimu sejak lama. Bukankah kamu yang bilang, jika cinta akan mampu menahan semuanya. Bukankah kamu yang bilang cinta akan mampu memberi kekuatan dan menghapus luka." Ujar Anisa lagi.


Bahunya terlihat bergetar menahan tangis agar tidak pecah di dalam ruangan ini. Melihat putranya yang sudah berhari-hari terkulai lemas di atas tempat tidur sembari menggumamkan maaf untuk Farah, membuatnya sedih. Belum lagi cucu laku-lakinya yang selalu merengek meminta Bundanya untuk menemani tidur ketika malam menjelang.


"Sudah beberapa hari ini Al selalu merengek minta di temani tidur. Papanya tidak bisa melakukan, dan Al tidak ingin jika ibu yang menemaninya. Untuk itu, Ibu memberanikan diri untuk datang menemui mu hari ini. Membuang rasa malu karena harus datang kembali meminta belas kasihmu, padahal kami sudah memberimu begitu banyak luka."


"Bu.." Farah mulai terisak, ia tidak ingin lagi mengalami situasi seperti ini. Namun, sepertinya takdir masih begitu ingin bermain-main dengan hidupnya. Apakah sesulit ini mencintai dan hidup dengan seseorang ? Entahlah, bahkan setelah Nadia pergi pun semuanya masih begitu menyesakkan.


"Aku akan pulang dan memeriksakan diri di sana." Putus Farah.

__ADS_1


Anisa mendekati tubuh menantunya, lalu memeluk tubuh itu erat-erat. Mengucap kan kata maaf berulang kali, karena sikap mereka selama ini. Meskipun semua itu tidak akan mampu mengobati luka Farah.


***


Farah menatap keluar jendela pesawat, melihat penampakan awan yang terlihat kelabu. Burung besi yang sedang di tumpangi ketiga wanita berbeda usia itu, sudah berada di atas ketinggian.


Alfaraz sudah terlelap dalam pelukan hangat sang Bunda. Farah berulang kali mencium puncak kepal putranya, merasa kasihan karena harus memilih untuk pulang hari ini juga ke Jakarta.


Farah menarik nafasnya dalam-dalam, sungguh ia masih belum memiliki banyak keberanian untuk kembali menyambangi rumah itu. Rumah yang menjadi saksi bisu, bagaimana ia meneteskan air mata selama empat tahun lamanya.


Belum lagi, selama satu bulan ini, ia masih belum juga mendapat jawaban langkah apa yang harus ia ambil kedepannya. Jadi, sampai saat ini Farah masih belum tahu apa yang harus ia lakukan.


Dasar wanita ! Jika hati sudah sedikit merasa lebih baik, maka logika akan kembali di abaikan. Ah terserahlah, ia pun bingung dengan dirinya sendiri yang tidak pernah bisa belajar dari kejadian kemarin, dan selalu mengikuti kata hatinya untuk melangkah.


***


Bocah laki-laki itu menoleh, lalu kembali membenamkan wajahnya di cerucuk leher Bundanya.


"Al ngga mau, tadi aku dan Ibu juga sudah memintanya untuk di peluk." Ucap Zia pada sang suami.


"Al sangat merindukan Bundanya." Ujar Alard. "Barang-barang Zia mana ?" Tanyanya kemudian.


"Barang-barang Zia masih ad di rumah Zidan, jadi tidak perlu membawa barang-barang yang ada di Jogja." Jawab Zia cepat. Lalu segera menyeret suaminya yang tingkat kekepoannya melebihi ibu-ibu itu menuju mobil.


***

__ADS_1


Mobil yang di kendarai Alard mulai melaju di jalanan Jakarta. Farah masih memeluk erat tubuh Alfaraz, sembari menimpali pertanyaan-peryanyaan yang terus meluncur dari bibir mungil putranya itu.


Anisa yang sedang duduk di samping Farah, sesekali ikut menjawab pertanyaan Al dengan sabar, karena otak kecil cucunya itu seakan tidak pernah kosong dengan berbagai pertanyaan.


Berbeda dengan Zia, wanita itu masih begitu sungkan menimpali. Ia sadar sudah kembali membuat Farah tidak nyaman, ingin sekali berbicara dengan Farah sama seperti buasa ketika mereka bersama, namun, ia bingung harus memulai dari mana.


Alard memperhatikan istrinya yang bertingkah tidak seperti biasanya. Zia adalah orang yang paling dekat dengan Farah selama empat tahun Farah berada mereka, namun kini keduanya seakan memiliki jarak. Meskipun tidak nampak jelas, namun, Alard mampu melihat hal itu. Biarlah, ia akan menanyakan hal ini pada istrinya jika sudah kembali ke rumah.


"Sama Eyang ya Nak." Bujuk Anisa pada cucunya, saat mobil Alard sudah berhenti di halaman rumah Zidan.


Namun, Alfaraz kembali menggeleng dan semakin mengeratkan kedua tangan mungilnya di leher Farah.


"Tidak apa-apa Bu." Ucap Farah, lalu membawa Al turun dari dalam mobil.


Tidak mudah, namun, ia tetap menguatkan langkahnya menuju rumah yang sudah lebih dari satu bulan ini tidak ia datangi. Mengikuti langkah kaki Ibu mertuanya masuk ke dalam rumah. Berbeda dengan Zia dan Alard, sepasang suami istri itu sudah berpamitan untuk pulang, karena tiga anak mereka sudah menunggu untuk makan malam di rumah.


Farah melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan memilih duduk di ruang tamu, sedangkan Ibu mertuanya sudah melangkah menuju kamar di mana Zidan sedang beristirahat.


Alfaraz sudah duduk diam di atas sofa ruang kelurga, sembari menonton kartun kesukaannya. Farah menatap satu pigura besar yang terpajang di atas TV berukuran besar dengan tatapan nanar.


Apa yang sedang dia harapkan ? berharap setelah ia memutuskan kembali semua yang ada di sini akan menjadi miliknya sendiri ? Oh ayolah, sadari posisimu ! Begitulah logikanya mencemooh hati yang kembali di remas.


Di ujung tangga, Zidan menatap Farah dengan tatapan penuh kerinduan. Lalu ia mengalihkan tatapannya, pada objek yang sedang menjadi fokus Farah.


"Maaf." Gumam Zidan saat melihat foto pernikahannya dengan Nadia masih berada di sana, dan Farah sedang menatap pigura itu.

__ADS_1


__ADS_2