
Dira melangkah cepat keluar dari kafetaria rumah sakit. Ia baru saja mendapat informasi, dan di minta untuk menangani salah satu pasien yang datang k rumah sakit, karena dokter yang biasanya menangani pasien tersebut sedang menghadiri seminar.
"Dimana pasien itu ?" Tanya Dira pada perawat yang bertugas sebagai asisten dari dokter pembimbingnya.
"Beliau sudah berada di dalam ruangan. Riwayat medis pasien sudah saya letakkan di atas meja." Jawab perawat tersebut.
Dira mengangguk mengerti. Gadis dengan snelly itu lalu mendorong pintu ruangan dokter pembimbingnya, dan mendapati pasien khusus itu sudah menunggunya di dalam ruangan.
"Seorang dokter seharusnya tetap berada di dalam ruangannya, bukan keluyuran di luar." Ketus laki-laki tampan yang sedang duduk di kursi roda di dalam ruangan.
Dira tersenyum. Gadis cantik itu tetap terlihat tenang, ia melangkahkan kakinya menuju meja kerja pembimbingnya lalu duduk di sana.
"Seorang dokter harus memikirkan kesehatannya sendiri lebih dulu, baru bisa menyembuhkan orang lain." Jawab Dira. Ia lalu melirik jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangannya. "Dan sekarang waktunya makan siang." Sambungnya masih dengan senyum manis di bibirnya.
Dira melirik laki-laki paruh baya yang sedang tersenyum di belakang kursi roda. Dahinya berkerut, wajah ini seperti tidak asing, namun, ia tidak ingat siapa.
"Jadi apa sudah bisa kita mulai ?" Tanya Dira setelah mengalihkan tatapannya dari pria paruh baya yang sedang berdiri di belakang pasiennya, dan mulai membaca dengan teliti riwayat penyakit yang sedang di derita oleh laki-laki yang sekarang menatapnya lekat.
"Nama kamu siapa ?" Tanya laki-laki tampan yang sedang duduk di kursi roda di depannya.
Dira mengangkat wajahnya, lalu menatap laki-laki yang juga sedang menatapnya lekat.
"Nadira Agata Prasetyo, orang-orang biasa memanggilku Dira." Jawabnya.
"Aku Arion." Lelaki itu mengulurkan tangannya ke arah Dira. Dan Dira pun menyambut uluran tangan itu dengan ramah.
Laki-laki paru baya yang sedang berdiri di belakang pasien segera membawa dirinya dan duduk di kursi yang ada di samping Arion.
"Kamu putrinya Alfaraz ?" Tanya lelaki paruh baya itu.
Dira terkejut, namun, beberapa saat kemudian ia tersenyum lalu mengangguk mengiyakan pertanyaan dari lelaki paruh baya yang ada di hadapannya.
"Saya Rey, teman Aunty kamu. Gimana kabarnya sekarang ?"
"Alhamdulillah Aunty baik." Jawab Dira.
"Apa Arion anak Om ?" Tanya Dira.
"Iya, saya papa sambungnya." Jawab Rey.
Dira kembali mengangguk mengerti.
"Kita mulai pemeriksaannya ya Om" Izin nya.
__ADS_1
Rey mengangguk, meskipun ad banyak hal yang ingin dia tanyakan pada gadis di depannya ini, ia berusaha untuk menahannya.
Berpuluh-puluh menit waktu berlalu. Arion terlihat begitu antusias menerima setiap rangkaian pemeriksaan di kakinya dari dokter yang baru pertama kali ini memeriksanya.
"Kamu benar-benar masih seorang dokter residen ?" Tanya Arion setelah semua rangkaian pemeriksaan telah selesai di lakukan.
"Iya benar, beberapa bulan lagi akan selesai." Jawab Dira.
"Jadi setelah ini akan kembali ke Indonesia ?" Tanya Arion lagi.
Dira mengangguk.
Gadis itu ikut melangkah menuju mobil untuk mengantarkan pasiennya seperti yang selalu di lakukan oleh dokter pembimbingnya.
"Apa Indonesia lebih menyenangkan dari pada Jerman ?" Tanya Arion.
"Tidak juga, Jerman juga sangat menyenangkan. Tapi di Indonesia ada keluarga dan yah, kamu tahu bagi seorang perantauan, keluarga akan selalu menjadi tempat terbaik untuk pulang." Jawab Dira.
"Kalau begitu sampai ketemu di Indonesia Nadira. Maafkan kata-kataku yang tidak sopan tadi." Ucap Arion tulus.
"Tidak masalah, senang bertemu dengan mu Arion."
Arion tersenyum.
"Aku tidak tahu, karena aku tidak memiliki kuasa untuk menentukan jika seseorang itu masih memiliki waktu dan kesempatan bertemu di hari berikutnya." Jawab Dira
"Mungkin aku akan memintanya pada sang pemilik waktu." Arion tertawa dengan kalimatnya sendiri.
"Itu adalah keputusan yang bijak Arion." Ujar Dira.
Setelah Rey berpamitan, dan berjanji akan bertamu ke rumah orang tuanya di Indonesia, Dira masih berdiri di lobi rumah sakit, hingga mobil yang membawa pasien yang baru saja ia tangani, berlalu dari hadapannya.
"Apa sesuatu yang baik sedang terjadi hari ini ?" Tanya gadis cantik yang baru saja datang menghampirinya.
"Yah sepertinya aku harus bersiap menjadi Nyonya saja dan tidak perlu melanjutkan spesialis merepotkan ini." Jawab Dira lalu tertawa.
"Tampan."
"Iya, aku sampai tidak bisa berpaling dari wajahnya." Ucap Dira terkekeh.
"Kamu mah memang begitu, tapi pasti akan kembali lupa jika seseorang yang ada di Indonesia kembali mengisi pikiranmu."
"Mereka akan menikah beberapa hari lagi." Ujar Dira.
__ADS_1
"Siapa ?"
"Kak arga dan Kak Nira akan menikah Ev." Lirih Dira.
Evelin mengusap lembut punggung Nadira.
"Sepertinya aku akan segera memperpanjang izin tinggal di sini, atau mungkin harus mempersiapkan diri menggoda salah satu pemuda di sini agar menikahi ku, agar tidak perlu pulang dan menyaksikan keluarga kecil yang bahagia." Ucap Dira tertawa, terlebih saat tangan lentik sahabatnya itu mendarat sempurna di kepalanya yang tertutup hijab.
****
Di sebuah apartemen milik Reno, tiga bersahabat sedang berembuk membicarakan masalah yang baru saja menimpa mereka.
Arga dan Nira masih berusaha menenangkan Feri yang sejak semalam terus saja mengamuk karena berita perjodohan antara Nira dan Arga terdengar juga di telinganya.
"Kalian berdua tega banget tahu nggak." Ujar Feri kesal. Pasalnya setelah sekian purnama persiapan pernikahan antara kekasih dan sahabatnya ini, ia baru mengetahuinya saat ini.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Nira memukul kepala kekasihnya dengan keras. Sungguh, sejak semalam lelaki yang sudah lama menjalin kasih dengannya ini begitu sulit di ajak berbicara, dan hanya terus mengamuk tidak jelas.
"Tidak bagaimana. Kalian akan menikah beberapa hari lagi dan aku baru mengetahuinya sekarang. Lalu apa gunanya hubungan kita selama ini Nir." Feri memelas sambil mengusap kepalanya yang terasa panas.
"Makanya dengarin kita dulu." Nira beranjak dari tempat duduknya, lalu berdiri di samping Feri dan meniup-niup bagian kepala yang ia pukul tadi.
Arga berdecak kesal. Tentu saja kesal, sekian tahun ia hanya terus menjadi penonton adegan menggelikan dari dua sahabatnya ini.
Arga mulai menjelaskan secara detail rencana yang sudah ia dan Nira siapkan sejak lama, sambil terus memperingati sahabatnya ini untuk menjaga mulut ember nya agar tidak bocor kemana-mana.
"Kalau Dira menolak apa yang akan kamu lakukan ?" Feri menarik tubuh Nira agar mendekat kepadanya.
Gadis cantik itu tertawa geli dengan sikap kekasihnya.
"Aku ngga akan pernah mengizinkan kekasihku menikah dengan mu." Feri masih menunjuk wajah sahabatnya dengan kesal.
"Aku juga ogah sayang. Aku ngga mau nikah sama dia, aku maunya nikah sama kamu." Ujar Nira.
"Benar yaa ?" Tanya Feri memastikan.
"Tentu saja." Jawab Nira sambil mengedipkan matanya, dan itu berhasil membuat kekasihnya tersenyum.
"Cih, dasar. Pulang sana, bikin mataku sakit saja." Usir Arga pada dua sahabatnya.
"Turunkan gambar adikku yang ada di kamar kamu itu. Awas aja kalau kamu menggunakannya untuk hal yang tidak senonoh." Ancam Nira sebelum berlalu dari apartemen milik Arga.
Feri tertawa, ia ingin menimpali tapi takut sesuatu akan melayang di tubuhnya.
__ADS_1