
Siang yang indah di tengah kota Jakarta. Daniza terus menatap bocah laki-laki yang terus berlarian kesana-kemari di tegah taman kota yang di penuhi wahana permainan anak. Namun, bukanlah Fatih yang sedang berada di otak Daniza saat ini. Gadis itu terus memikirkan kalimat Daren pagi ini, sebelum laki-laki itu keluar dari dalam mobilnya.
"Hei, aku panggil-panggil kok ga nyaut sih." Aidar mengusap lembut kepala Daniza. Laki-laki yang memilih berkarir di dunia berita itu duduk di samping adiknya.
"Kak Tia ga ikut ?" Tanya Daniza.
"Ada kok. Tadi izin ke toilet sekalian beli minum. Ada apa ? Tumben banget minta aku ke sini ?" Tanya Aidar.
"Mas Daren lamar aku Bang." Ucap Daniza pelan.
"Kapan ?" Tanya Aidar.
"Semalam. Dia dan Bang Azam datang ke apartemen aku." Jawab Daniza.
Aidar diam. Laki-laki tampan itu menatap bocah laki-laki yang sedang asik menikmati permainan di tengah taman..
"Lalu bagaimana dengan mu ?" Tanyanya.
"Aku juga bingung. Menurut Bang Ai baiknya gimana ?" Daniza balik bertanya.
"Kalau kamu juga mencintainya, ya udah ga apa-apa. Soal cerita orang di luar sana, bodoh amat. Toh kita tidak meminta makan dan minum dengan mereka. Yang terpenting kan, kita tidak melanggar syariat Nya." Jawab Aidar.
Daniza terdiam. Itulah yang ia takutkan. Ia takut tidak mampu menerima banyak cerita buruk di luar sana, tentang pernikahan mereka nanti. Karena biar bagaimana pun, ia dan Daren sudah hidup seperti saudara kandung selama puluhan tahun lamanya. Daren sudah seperti Azam baginya.
"Kami semua takut kamu terluka dengan omongan orang Mix, termasuk Mas Daren. Dia yang paling takut jika kamu terluka. Tapi, sepertinya kamu akan jauh lebih terluka jika menolak lamaran itu." Aidar menoleh, menatap wajah adiknya yang terlihat sendu. Sedangkan Daniza tertunduk. Itulah yang membuatnya dilema saat ini. Menolak dan menerima, akan ada konsekuensinya masing-masing.
__ADS_1
Benar kata Aidar, jika ia menolak maka ia akan terluka dengan rasa cintanya sendiri. Dan jika ia menerima, maka ia harus siap menerima berbagai banyak macam cerita yang tidak enak di luar sana. Sanksi sosial, begitulah yang di ucapkan oleh Daren padannya sehingga membuat laki-laki itu menahan diri sekian tahun lamanya.
"Hai Niz." Sapa gadis yang tidak lain adalah sahabat Aidar di tempat kerja.
"Hai juga Kak." Daniza balik menyapa.
"Ciee yang bentar lagi jadi istri." Goda gadis yang bernama Tiara itu.
Daniza hanya tersenyum menanggapi godaan dari sahabat Aidar.
Dua bersaudara itu membicarakan banyak hal mengenai lamaran yang sudah tersebar di seluruh keluarga besar mereka. Sepertinya kali ini Daren benar-benar akan menanggung segala konsekuensi yang di takutkan oleh mereka selama ini.
Daren menahan diri bukan tanpa alasan. Salah satunya karena laki-laki itu tidak ingin membuat Daniza menerima banyak cerita buruk karena perasaan mereka yang masih di anggap tabu bagi kebanyakan orang di luar sana.
"Aku hanya bisa bantu mendoakan yang terbaik buat kamu." Ujar Aidar.
Ia tahu, sahabatnya ini selalu saja membuat Daniza kesal. Tapi hari ini, Aidar benar-benar menjadi seorang kakak yang baik untuk Daniza.
****
Di halaman rumah mewah kediaman keluarga Prasetyo, mobil milik Samudra sudah terparkir dengan rapi. Dua orang yang baru saja berhasil membuat taruhan itu, sama-sama keluar dari dalam mobil mewah itu dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Benar saja, saat memasuki ruang tamu mewah di rumah orang tuanya, Ayura langsung di suguhkan pemandangan yang semakin membuatnya khawatir. Laki-laki yang sering ia panggil dengan sebutan Om, sudah melambaikan tangan ke arahnya. Di dalam ruangan, tidak hanya ada lami-laki paruh baya itu, tetapi Ayah dan Ibunya juga berada di sana.
Empat orang yang tidak lagi muda, terus bercengkrama dengan hangatnya. Dan itu semakin membuat Ayura ketakutan.
__ADS_1
Berbeda dengan Samudra, laki-laki yang begitu percaya diri akan memenangkan taruhan itu, semakin tersenyum lebar. Terlebih saat Ayah dari Ayura mempersilahkan dirinya masuk ke dalam rumah.
Meskipun ketakutan terus menyelimuti hatinya, Ayura tetap melangkah menuju empat orang paruh baya yang sedang duduk di atas sofa di dalam ruang tamu, lalu Mai menyalami satu per satu punggung tangan empat orang itu, takzim.
"Cantik banget sih." Ucap Meisya. Wanita yang masih berprofesi sebagai dokter kandungan senior di rumah sakit milik keluarga Hermawan itu mengusap lembut puncak kepala Ayura yang tertutup hijab.
"Terimakasih Tante." Jawab Ayura sopan. Dadanya berdebar tidak karuan saat melihat senyum penuh Kemenhan di bibir Samudra. Ia lantas membawa tubuhnya, lalu duduk di samping sang ibu.
Samudra melakukan hal yang sama. Lelaki yang banyak menghabiskan waktunya di luar negeri itu, tidak pernah melupakan tata krama yang di ajarkan di panti asuhan tempat ia di besarkan sebelum bertemu dengan dua malaikat tak bersayap yang membuatnya menjadi orang yang sehebat ini.
"Samudra juga tampan." Ujar Aira.
"Mirip aku kan ?" Gio menimpali.
Aira hanya tersenyum. Dulu, saat ia sering menghabiskan waktu sepulang kuliah bersama Gea, laki-laki yang kini akan menjadi besannya ini, terus saja menghindar. Hingga saat menjelang hari pernikahannya bersama Aidar, ia baru tahu jika Gio memiliki perasaan lebih terhadap dirinya.
"Ga usah ge'er deh." Ucap Abizar kesal.
Meisya tertawa geli. Ia tahu kisah cinta segitiga di masa lalu suaminya ini. Ia dan Gio di pertemukan dalam kondisi yang sama, yaitu di tinggal nikah pas lagi sayang-sayangnya. Beruntung, Allah memiliki rencana yang jauh lebih baik untuk hidup mereka berdua. Hingga saat ini, mereka bukan hanya sebatas sepasang suami istri, tetapi juga sebagai sahabat yang selalu saling berbagi cerita.
"Jadi gini Abi, karena Ayura sudah di sini aku ingin mengutarakan niat kedatangan ku siang ini. Aku mau melamar Ayura untuk putra ku, Samudra." Ucap Gio.
Bahu Ayura merosot. Terlebih melihat binar bahagia di mata Ayahnya, ia sudah bisa menebak jawaban seperti apa yang akan di lontarkan eh laki-laki yang menjadi cinta pertamanya ini.
"Tentu saja aku setuju Gio. Gimana kalau pertunangan mereka akan kita laksanakan tepat di hari pernikahan Ayiman, sekitar tiga Minggu lagi." Jawab Abizar.
__ADS_1
"Mas..." Aira menyentuh punggung tangan suaminya dengan hati-hati. Saat Abizar menatapnya, ia segera menggeleng. Mereka sebagai orang tua, memang memiliki hak menentukan yang terbaik untuk anak-anak mereka, akan tetapi anak-anak pun punya hak yang sama untuk menentukan yang terbaik bagi kehidupan mereka.
"Maafkan Ayah." Ucap Abizar pada istrinya. "Gimana Ayu ? Kamu mau kan ?" Tanya Abizar.