
Danira dan Nadira sedang duduk di dalam ruang tunggu rumah sakit. Kedua wanita kembar yang sama-sama sedang mengandung itu, sedang menunggu kedatangan adik ipar mereka yang katanya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Apa dia baik-baik saja ?" Tanya Danira pada adik kembarnya.
"Mana aku tahu Kak, aku kan ga ke rumah Ibu." Jawab Dira. Sejujurnya ada rasa khawatir yang sejak tadi mengganggu pikirannya, namun, ia pun tidak boleh berlebihan mengingat kehamilannya yang mulai membesar.
"Aku juga ga pernah pulang ke rumah Ibu, Arion ga ngizinin, tunggu baby nya lahir dulu. Ini aja aku sampe ngeluarin jurus merajuk barulah bisa dapat izin." Adu Nira pada adiknya.
Dira hanya tertawa geli mendengar rengekan kakak kembarnya.
"Tapi aku senang Kak, karena kita benar-benar sudah baik-baik saja. Aku senang kita benar-benar bahagia dengan kehidupan kita masing-masing." Ujarnya sambil menatap lekat wajah yang begitu mirip dengannya.
Danira ikut menatap lekat wajah adik kembarnya, lalu tersenyum hangat.
"Maaf karena dulu sudah menjadi Kakak yang menyebalkan, dan tidak peka dengan kesepian yang kamu rasakan." Ujar Nira tulus.
Dira tersenyum mendengar kalimat yang baru saja meluncur dari kakak kembarnya. Tidak, semua kesepian yang ia rasakan bukan semata-mata karena kesalahan kakak kembarnya, tapi memang dia sendiri yang menciptakan jarak dan menjauh dari semua orang yang begitu menyayanginya.
"Aku yang salah Kak. Aku yang tidak mau mengungkapkan semua yang aku rasakan, padahal aku tahu kalian hanya manusia biasa yang tidak akan bisa mengetahui isi hati seseorang." Ujarnya kemudian.
Nira kembali tersenyum. Ia mulai menceritakan banyak hal yang terjadi di masa lalu, termasuk Arga.
Rasa cinta yang tumbuh di dalam hati manusia bukanlah sebuah kesalahan. Tapi yang salah itu, ketika kita sudah mengetahui jika orang itu tidak bisa membalas rasa yang sama, namun, kita terus memaksa hingga terobsesi ingin memiliki. Cinta dan obsesi adalah dua hal yang berbeda, namun, ada sebagian besar manusia yang sulit membedakan dua hal ini.
Tidak hanya Nira yang memanfaatkan kesempatan itu untuk mengungkapkan apa yang dulu ia rasakan, tetapi Dira juga melakukan hal yang sama. Memiliki Waktu berdua seperti hari ini, sangat jarang terjadi di antara mereka.
Berpuluh-puluh menit sudah berlalu. Danira dan Nadira sama-sama tenggelam dalam pembicaraan kisah masa lalu mereka, hingga dua sosok yang sejak tadi mereka tunggu-tunggu akhirnya menampakkan diri juga.
__ADS_1
Danira samai terkejut melihat wajah pucat adik iparnya yang seperti tidak lagi teraliri darah.
"Kamu kenapa Ra ?" Tanya Danira khawatir.
Senyum manis terlihat di bibir Aira, kala melihat raut khawatir di wajah kakak iparnya.
"Aku ga apa-apa kok Kak, mungkin ga enak badan aja." Jawab Aira.
Dira segera membawa Aira duduk di sampingnya, lalu memeriksa denyut nadi adik iparnya itu.
"Denyut nadi kamu lemah loh Ra. Kamu tidak sedang baik-baik saja." Ujar Dira. "Wajah kamu juga pucat banget." Sambung Dira lagi sambil memeriksa bagian mata Aira.
Abizar segera melihat wajah istrinya, apa karena mereka teru bersama setiap hari sehingga tidak merasakan perubahan di tubuh istrinya.
"Kita ke ruangan dokter ahli agar dapat mengetahui diagnosa. Ini bukan keahlian ku." Ajak Dira.
Tiga bersaudara yang juga berniat keluar dari ruangan itu, seketika terkejut saat Aira sudah tergeletak tak sadarkan diri di atas lantai.
Tanpa banyak bicara, Abizar segera meraih tubuh istrinya itu ke dalam pelukan. Tangannya bergetar, tulang-tulang kakinya seakan tidak lagi tersambung. Dengan segala kekuatan yang ia miliki, Abizar segera mengangkat tubuh Aira, dan melangkah cepat menuju ruangan yang di beri tahu oleh Dira.
"Biarkan dokter memeriksanya." Nira menarik tubuh Abizar agar sedikit menjauh dari ranjang pasien tempat Aira terbaring.
Dokter laki-laki yang bertugas di sana, segera melakukan tindakan medis bersama dua orang perawat.
"Apa yang terjadi dengan adikku Dokter ?" Tanya Dira pada rekannya.
"Dia hanya kelelahan karena terlalu banyak beraktivitas di usia awal kehamilan. Ini baru kemungkinan saja, nanti langsung minta dokter Meisya untuk memeriksanya." Jawab Dokter laki-laki itu.
__ADS_1
"Tolong panggilkan dokter Meisya, katakan saj Dokter Dira membutuhkan bantuannya." Pinta Dira pada salah satu suster yang ada di sana.
Tidak membutuhkan waktu lama, Dokter yang mereka tunggu sudah melangkah masuk ke dalam ruangan di mana Aira berada.
"Pindahkan dia ke ruangan saya, biar lebih nyaman." Perintah Meisya pada para suster yang ada di sana.
Ranjang tempat Aira terbaring, di dorong oleh para suster itu menuju ruangan Meisya.
"Aku tidak bisa memeriksanya tanpa alat-alat ku." Ujar Meisya pada dua wanita kembar yang juga sudah berada di dalam ruangannya. Sama seperti saat ia memeriksa Danira. Sepertinya satu keluarga ini memang tidak di takdirkan untuk menikmati masa-masa ngidam di awal kehamilan, jadi tidak bisa mengetahui jika mereka sedang hamil.
"Di awal-awal kehamilan seperti ini, sangat di sarankan untuk jangan berhubungan intim dulu. Apalagi jika sudah keseringan, akan sangat fatal untuk kesehatan ibu dan bayi nya." Jelas Meisya. "Ini suaminya ya ?" Tanyanya pada laki-laki yang masih terlihat muda sedang duduk di samping ranjang.
Abizar mengangguk membenarkan.
"Sebaiknya mengurangi aktivitas ranjang yang berlebihan ya Pak, kasian istrinya sampai kelelahan seperti itu." Ujar Meisya lagi, kali ini di iringi dengan tawa geli karena melihat dua wanita hamil yang juga berada di ruangan itu langsung menghantam kepala Abizar.
"Dasar nakal !" Kesal Nira.
"Sakit." Kelu Abi karena ada dua tangan yang seperti janjian tiba-tiba menghantam kepalanya.
"Aku laporin Ibu kamu, biar tahu rasa kepala mu itu kena pukul lagi." Omel Nira lagi. Kesal, tentu saja. Terlebih melihat adik iparnya yang masih belum sadarkan diri.
"Jangan khawatir, dia baik-baik saja kok. Hanya butuh sedikit istirahat karena aktivitas yang cukup menguras tenaganya hari ini." Kekeh Meisya lagi saat tangan Nira kembali mendarat di kepala Abizar.
"Di perjalanan kamu masih sempat-sempatnya nidurin dia ?" Tanya Danira kesal.
"Bukan di jalan, tapi di kantor tadi habis makan siang." jawab Abizar tidak kalah kesal, membuat dua wanita kembar yang ada di ruangan itu semakin mengamuk.
__ADS_1
"Sudah Dok, bisa gila aku jika dokter terus saja membongkar kejahatan ku di sini." Ujar Abizar sambil mengusap-usap kepalanya yang terasa panas karena hantaman dua tangan lentik.