Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 116 Season 2


__ADS_3

Alfaraz masih menatap wanita yang terlihat duduk dengan tenang di hadapannya. Setelah berbicara banyak hal tentang kejadian di masa lalu, kini keduanya meminta waktu untuk berbicara berdua di ruang keluarga. Tidak, bukan dirinya yang meminta, tetapi Yana. Entah apa yang ingin di bicarakan oleh wanita yang kini mengisi seluruh hatinya, ia pun tak tahu dan masih menunggu dengan sabar.


"Apa masih ingin melanjutkan pernikahan ?" Tanya Zyana.


Wajahnya masih terlihat tenang. Namun, percayalah hatinya cemas jika Alfaraz akan menghentikan semuanya sampai di sini.


"Tentu saja." Jawab Alfaraz tanpa berpikir panjang.


Yana terkejut, sejujurnya ia sudah menyiapkan diri jika Alfaraz akan membatalkan rencana mereka.


"Tapi yang membuatmu terluka saat itu, adalah ayah ku Al. Yah, meskipun aku tidak pernah mengenal sosok itu, tetap saja darah yang mengalir di tubuhku adalah darahnya."


"Aku sudah bilang bukan ? Aku adalah orang yang konsisten dengan keputusan yang aku buat." Jawab Alfaraz. "Bahkan Nara yang ikut andil memuluskan rencana balas dendam ibunya pun, aku masih berusaha untuk menahannya tetap di sampingku. Apalagi kamu yang tidak ada hubungannya dengan tragedi itu. Aku tidak perduli Yana." Sambungnya menjelaskan.


"Tapi bagaimana bisa..." Suara Yana terhenti saat melihat Alfaraz menggelengkan kepalanya. Sungguh ia tidak habis pikir dengan laki-laki yang kini duduk di hadapannya.


"Aku sudah memutuskan untuk bersama kamu. Dan orang yang berniat mencelakaiku dan Bunda dulu, tidak ada hubungannya dengan mu, hanya itu yang ku tahu. Sudah jangan membahasnya lagi. Jangan ragu dengan apapun itu, aku tetap seperti ini, dan kita tetap akan menikah." Putus Alfaraz.


"Kamu yakin Al, aku ngga apa-apa kok, seandainya kamu ingin membatalkan rencana kita." Ucap Yana pelan seakan pasrah.


"Jangan ngaco, enak aja. Kenapa kamu masih mengharapakan si Gerald itu." Alfaraz sudah menatap tajam wajah cantik Yana.


Yana tertawa mendengar kalimat kesal dari bibir Alfaraz.


"Iya aku sedih, nanti ngga akan ada yang ngirim bunga lagi buat aku." Jawabnya dengan wajah sedih.


"Aku mau minta Papa untuk menikahkan kita malam ini juga." Alfaraz segera beranjak dari sofa tempat ia duduk.


"Bilang lah, aku yakin Bunda akan memukul kepalamu." Ledek Yana. "Jangan dekat-dekat, nanti kemasukan setan." Dorongnya pada tubuh Alfaraz yang kini sudah mendekatinya.


"Nikah sekarang aja yuk, mumpung kamu masih pakai kebaya dan masih sangat cantik." Bujuk Alfaraz sambil terus mendekati Yana.


"Anak Bunda nakal nih, mau pegang yang belum halal." Teriak Yana, lalu bangkit dari atas sofa dan melangkah meninggalkan lelaki yang kini mematung salah tingkah di ruang keluarga. Yana segera melangkah cepat menuju ruang tamu tempat di mana semua keluarga sedang berkumpul.

__ADS_1


"Makanya ayo kita nikah sekarang." Ucap Alfaraz lagi, sambil ikut melangkah mengikuti Yana dari belakang, tapi wanita yang ia paksa untuk menikah malam ini, sama sekali tidak menggubris keinginan nya.


"Pa Al mau nikah sekarang aja." Ucapnya sambil membawa tubuhnya duduk di samping sang Papa.


"Kamu itu." Farah memukul putranya. "Kamu pikir nikah itu seenak jidat kamu, terus langsung jadi."


"Loh kenapa, Yana kan mau."


"Siapa bilang.. enggak tuh." Jawab Yana.


Adelia tertawa meledek.


"Kita masih haru meminta kantor urusan agama mengenai wali nikah Yana. Jadi ngga boleh malam ini." Ucap Zidan. Jika saja Yana masih memiliki Ayah, pasti dia akan meminta menikahkan putranya malam ini juga.


"Kamu lagi, dasar." Kesal Farah sambil memukul lengan suaminya yang ikut-ikutan gila dengan Alfaraz. "Aku tuh mu bikin acara, sekalian ngundang Gina biar di tahu aku yang menang." Sambungnya.


Yana terkejut mendengar kalimat calon ibu mertuanya, sedangkan Dinda hanya tersenyum canggung, namun, di dalam hati ia merasa lega sekaligus bahagia.


Dinda mengangguk patuh.


"Terimakasih banyak." Ucapnya.


"Kami yang harusnya berterimakasih. Ah jadi ngga sabar pengen bawa pulang Yana." Jawab Farah sambil melirik calon menantunya.


"Al juga ngga sabar." Sambung Alfaraz ikut menatap Yana.


Semua orang tertawa, hanya Yana yang terlihat salah tingkah dengan pipi yang memerah malu karena tidak bisa membalas keusilan calon suaminya.


"Ya udah Dinda, kami pamit pulang dulu. Besok aku akan datang berkunjung, mau belajar merangkai bunga sama kamu." Ucap Farah.


"Al ikut yaa.."


"Ngga boleh, calon pengantin ngga boleh dekat-dekat dulu nanti takut tergoda."

__ADS_1


Adelia tertawa geli melihat wajah jelek Alfaraz.


"Jangan cemberut Kak, sumpah jelek banget aku mau muntah." Ucap Adelia.


Suasana bahagia masih menyelimuti dua keluarga yang kembali di pertemukan setelah sekian puluh tahun itu. Yana dan Dinda mengantarkan tamu mereka hingga ke depan rumah di mana mobil mereka sedang terparkir. Setelah dua mobil mewah sudah berlalu dari pelataran rumah, Dina kembali mengajak putrinya masuk ke dalam rumah.


***


Di sebuah apartemen yang menyimpan banyak kenangan tentang Yana, Reno berdiri di dalam kamar sambil menatap nyalang pada wanita yang kini terdiam di atas tempat tidur.


"Jangan berani Mama menyentuh barang-barang Yana, biarkan semuanya tetap berada di tempatnya." Ujarnya memperingati. Ia melangkah menuju ranjang di mana sang mama berada, lantas mengambil kembali beberapa buat tas yang sedang di atur oleh wanita paruh baya itu ke dalam kardus.


"Yana mengizinkan Mama untuk menjual semua ini." Jawab Lina.


"Mama tidak hanya kehilangan hati nurani di hadapan Yana, tapi juga rasa malu Mama. Yana sengaja mengatakan hal itu, biar Mama sadar apa yang sudah Mama lakukan terhadapnya selama menjadi istri Reno. Ya Allah Ma, Reno mohon berhentilah. Hidup Reno sudah rusak setelah kepergian Yana, jangan di tambah lagi dengan mempermalukan diri Mama di depannya." Ujar Reno memohon.


Lina terdiam, ia menatap putranya yang kini menangis tersedu sambil duduk di atas ranjang yang sama dengannya.


"Mama pulang." Pamit Lina lalu beranjak dari ranjang tempat ia dan putranya duduk, lalu keluar dari dalam kamar yang masih di penuhi barang-barang milik mantan menantunya itu.


"Ma, bantu Reno untuk menjemput Rara ya."


Lina menghentikan langkahnya, lalu menatap putranya.


"Benar kata Yana, seharusnya setelah melukainya, Reno tidak lagi melukai wanita yang membuatnya terluka." Ujar Reno lagi.


"Rara sudah pergi, entah kemana mereka membawanya, Mama pun tidak tahu. Tetaplah berjuang untuk membawa Yana kembali, Mama tidak ingin yang lain."


"Ma...


Wanita paruh baya itu tidak lagi mengindahkan, ia melangkah keluar dari dalam kamar menuju pintu depan apartemen.


Tidak, dia tidak menginginkan wanita manapun, selain Yana.

__ADS_1


__ADS_2