Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 110 Season 2


__ADS_3

Dinda menatap prihatin pada dua orang yang kini duduk tertunduk di ruang tamu rumahnya. Wanita anggun yang selama sekian tahun menjadi besannya tidak pernah sekalipun berkunjung, kini duduk diam sambil tertunduk dalam di hadapannya.


"Berikan putraku kesempatan Dinda, ini bukan kesalahannya tapi kesalahanku. Jangan menghukumnya, biar aku yang akan menjalani hukumannya." Ujar Lina.


Zyana hanya diam menyimak pembicaraan Ibu dan mantan mama mertuanya. Sesekali ia menatap lelaki yang kini terlihat semakin hancur dengan prihatin.


"Maafkan saya, itu bukanlah hak saya untuk memutuskan, tapi sepenuhnya adalah hak Zyana." Jawab Dinda. Sejujurnya ia pun merasa sedih melihat menantunya yang terlihat hancur seperti ini.


"Kasihanilah putraku Dinda, dia bahkan tidak lagi memiliki apapun saat ini." Lina kembali memohon.


Reno semakin tertunduk dalam menahan malu. Mengemis pada wanita yang telah ia lukai, sungguh ini sangat memalukan baginya. Namun, karena rasa ini masih saja terus menyiksa, di tambah lagi hidupnya yang seakan hilang arah tanpa Zyana membuatnya memberanikan diri datang dan kembali memohon setelah sekian bulan.


"Bagaimana kabar anak dan istrimu Nak Reno ?" Tanya Dinda.


"Rara sudah kembali ke rumah orang tuanya di Lampung, dan anak kami tidak bisa di selamatkan dokter." Jawab Reno masih tertunduk dalam.


"Sayang sekali Mas, kamu menghancurkan dua wanita dalam waktu yang bersamaan. Seharusnya setelah melukai aku, kamu tidak lagi melakukan hal yang sama pada wanita yang telah membuatku terluka." Ujar Yana setelah sekian menit menutup mulutnya rapat-rapat.


"Aku tidak mencintainya Na. Aku tersiksa karena memaksakan perasaan ku padanya." Jawab Reno.


Yana tidak lagi menimpali, ia hanya menggelengkan kepala tidak percaya karena selama bertahun-tahun ia mencintai laki-laki yang ada di hadapannya ini.


Bagaimana bisa memaksakan perasaan, sementara ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Reno begitu menikmati tubuh wanita yang katanya tidak dia cintai itu.


"Apa tidak lagi memiliki kesempatan Nak ?" Tanya Lina dengan nada lembut.


Yana menarik sudut bibirnya. Sekian tahun membina hubungan dengan Reno, ini pertama kalinya wanita yang pernah ia panggil Mama ini menyebutnya Nak dengan nada yang begitu lembut.


"Nak beri Reno satu kesempatan lagi. Mama janji tidak akan mencampuri urusan kalian lagi." Bujuk Lina.


Yana menggeleng tegas.


"Kamu tidak lagi mencintaiku ?" Tanya Reno saat melihat Yana menjawab permintaan sang Ibu dengan gelengan kepala.


"Aku sudah menghapusnya selama tiga bulan ini" Jawab Yana.


"Apa karena anak direktur perusahaan tempatku bekerja ?" Tanya Reno. "Aku tahu Ibu Gina memecat ku karena putranya mencintaimu." Sambungnya.


Dinda terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulu Reno. Ia lantas menatap wajah Yana yang terlihat tenang tanpa terpengaruh dengan kalimat yang di utarakan mantan menantunya.

__ADS_1


"Maksud kamu ?" Tanya Lina.


"Putra direktur perusahaan Reno menyukai Yana sejak lama. Dan setelah kami bercerai, lelaki itu menyatakan perasaanya. Iyakan Na ?"


Yana tersenyum mendengar kalimat Reno yang seakan mengadu pada dua wanita paruh baya yang ada di hadapan mereka untuk mencari pembelaan bahwa di sini bukan hanya Reno yang bersalah, tapi dirinya juga sekian tahun menyimpan hubungan dengan orang lain.


"Benar begitu Nak ?" Tanya Dinda pada putrinya.


"Ya, Gerald mengatakan kalau dia mencintaiku sekian tahun bahkan saat kami masih sama-sama menjadi mahasiswa magang di kantor Yana bekerja." Jawab Yana sambil menatap remeh laki-laki yang tidak ingin membiarkan dirinya hidup dengan tenang.


"Sayang ya Bu, Yana tidak mengetahui hal itu sebum menikah dengan Reno. Ibu bayangkan saja bagaimana beruntungnya menjadi menantu dari keluarga kaya." Sambungnya mencemooh. Ia ingin menegaskan jika dirinya yang di pandang rendah, justru di inginkan oleh wanita sekelas Ibu Regina. Ah, sirna sudah rasa prihatin yang sejak tadi tertuju pada mantan suaminya ini.


"Maaf Tante, Yana tidak lagi memungut sesuatu yang sudah Yana buang, apalagi sesuatu yang Yana buang itu, sudah menjadi bekas orang lain." Ucap Yana lagi dengan nada yang begitu sopan tapi menusuk.


"Kita pulang Ma." Ajak Reno.


Dinda diam, dia tidak tahu harus berbuat apa.


"Maafkan Mama Yana." Lina masih memohon.


"Aku sudah memaafkan segalanya setelah memutuskan berpisah. Sekarang pun tidak ada lagi yang aku ingat tentang luka itu. Lagi pula, sebentar lagi aku akan menikah." Ucap Yana sambil melirik satu pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya.


Bahu Reno semakin merosot mendengar kalimat Yana. Harapannya runtuh, ia bahkan tidak memiliki apapun untuk bersaing dengan lelaki sekelas Gerald.


Yana hanya tersenyum tanpa berniat menjawab pertanyaan yang ia rasa tidak wajib di jawab olehnya.


"Nak.." Dinda menyentuh punggung tangan putrinya, berharap putrinya berhenti membuat dua orang yang ada di hadapan mereka ini semakin hancur.


Satu panggilan video terlihat masuk ke dalam ponselnya, Yana tersenyum melirik nama siapa yang kini tertera di layar ponselnya. Sejak tadi pesan singkat terus masuk, berasal dari lelaki posesifnya itu, namun, belum sempat ia balas karena pembicaraan dengan mantan suaminya yang belum selesai.


"Kami pamit, semoga kamu bahagia." Reno mengepalkan tangannya. Sungguh ia tidak menerima apapun tentang Yana dengan laki-laki manapun termasuk Gerald.


"Ren.."


Lina masih menahan tangan putranya, mencegah agar tidak beranjak dari rumah mantan besannya ini.


"Ma, semuanya sudah berakhir. Ayo kita pulang." Ajak Reno lalu berdiri meninggalkan sang Mama yang masih memohon di beri satu kesempatan.


"Nak..." Dinda kembali menyentuh punggung tangan putrinya.

__ADS_1


"Biarkan saja Bu, Mas Reno benar semua tentang kami sudah berakhir di ketukan palu hakim beberapa bulan yang lalu. Tidak ada lagi kesempatan atau apapun itu." Jelas Yana.


"Bisa Mama meminta apartemen mu Nak ?" Tanya Lina tidak tahu malu.


Yana tersenyum sinis. Ia sudah menduganya, bahwa kedatangan mantan mama mertuanya hari ini tidak lain adalah tentang harta.


"Ambil saja Tante, calon Mama mertuaku bahkan menawarkan satu penthouse untuk hadiah pernikahan." Pamer Yana bohong. Apaan dia bahkan belum pernah bertemu dengan calon Mama mertuanya itu.


Yana kembali melirik layar ponselnya, satu chat masuk di aplikasi tersibuk di dunia masih dari orang yang sama. Ah menggemaskan membuat lelaki itu kesal.


"Terimakasih banyak Yana." Ucap Tante Lian.


"Ambil saja semua Tante, tas dan pakaian yang Yana tinggalan di apartemen kalau Tante mau jual, jual aja." Ujar Yana.


Dinda semakin tidak enak dengan kalimat putrinya yang terus merendahkan wanita yang masih duduk di hadapannya.


"Ayo Ma.." Teriak Reno dari depan rumah.


"Kalau begitu Mama pamit ya Nak." Ucap Lina.


"Tan boleh ga usah bilang Mama, nanti Mama mertuaku yang baru akan salah paham." Ucap Yana.


"Oh iyaa, Mama, eh maksudnya Tante minta maaf sudah lancang."


Yana hanya mengangguk, lalu membiarkan wanita yang selalu menghinanya dulu keluar dari rumah ibunya.


"Zyana..." Tegur Dinda pada putrinya setelah kepergian mantan besannya. "Apa yang kamu dapatkan ? Kepuasan ?" Marah Dinda pada putrinya.


Yana diam tidak berani menjawab. Namun, benar ia puas karena berhasil membalas perlakuan wanita yang selalu ia hormati dulu.


"Jangan seperti ini, Ibu ingin kamu benar-benar menjalani kehidupan yang bahagia. Jangan menyimpan sesuatu yang buruk di dalam hati, itu akan menjadi penyakit yang sulit di sembuhkan." Ujar Dinda memperingati.


"Maafkan Yana Bu. Yan hanya ingin menegaskan, bahwa tidak selamnya sesuatu yang mereka anggap remeh itu tidak berharga. Yan ingin memberitahu mereka, jika yang mereka anggap tidak berharga itu, akan berharga bagi orang lain." Jawab Yana.


"Sini Ibu peluk. Maafkan Ibu selama ini selalu menutup mata tentang masalah rumah tanggamu."


Dinda merentangkan tangannya, lalu membawa putrinya masuk ke dalam dekapan. Buka ia tidak perduli, namun setelah putrinya menikah, ia memilih untuk tidak mencampuri soal apapun itu yang menyangkut Yana.


***

__ADS_1


*Note Author


Tinggalkan jejak, kalau tidak aku kutuk jadi awet muda 😁😘


__ADS_2