
"Maafkan aku." Ujar Alfaraz saat mereka sudah di dalam kamar. Ia membalik tubuhnya, lalu menatap istrinya yang baru saja menutup pintu kamar itu rapat-rapat.
Yana masih diam, ia tidak menanggapi dua kata yang baru saja meluncur dari bibir Alfaraz. ia melanjutkan langkah kakinya menuju ranjang dan duduk di sana.
"Maaf jika membuatmu terluka." Ucap Alfaraz lagi.
Yana masih diam, ia naik ke atas ranjang dan berbaring di sana.
"Sini aku mau peluk." Ucapnya sambil menepuk sisi ranjang yang kosong di sampingnya.
Alfaraz terkejut, namun, ia tetap mengikuti kemauan istrinya naik ke atas ranjang, lalu membawa tubuh Yana ke dalam pelukannya. Ciuman berulang terus ia hujam kan di puncak kepala istrinya itu.
"Aku tidak marah Al. Aku ngerti kok, sebagai manusia aku juga kasihan dengan keadaannya saat ini. Tapi Al, benar kata Papa, kamu tetap harus memprioritaskan aku dan bayi ini lebih dulu dari pada apapun."
"Tentu saja.. Tidak ada yang lebih penting dari kalian berdua. Kamu dan anak kita adalah hal yang paling berharga dalam hidup aku saat ini."
Yana semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Alfaraz.
"Aku takut terluka lagi Al." Gumamnya.
Alfaraz ikut mengeratkan pelukannya..
"Ku mohon jangan ngomong seperti itu, aku ngga sejauh itu kok. Maafkan aku jika sudah membuat perasaan mu tidak nyaman." Ucapnya lagi.
"Aku benar-benar takut kehilangan kamu Al, karena jika kita pisah akan ada yang tertinggal di antara kita, yaitu bayi ini. Berbeda setelah berpisah dari Reno dulu. Aku cepat melupakan luka ku, karena memang tidak ada yang tertinggal di antara kami setelah ketukan palu hakim."
"Sudah jangan membahas ini lagi. Aku ga mau terjadi sesuatu padamu. Aku janji ga akan mencampuri apapun lagi terkait wanita itu. Percaya padaku, tidak akan ada lagi selain kamu dan anak kita." Alfaraz kembali mengecup kepala Yana berulang kali.
"Benar ya.." Yana menjauhkan wajahnya, ia menatap wajah tampan Alfaraz, menanti jawaban dari suaminya itu.
"Tentu saja."
Kecupan kembali mendarat di bibir tipis Yana.
"Awas aja, ga akan aku kasih izin kamu jenguk anak mu." Ancam Yana, lalu kembali membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
Alfaraz terbahak mendengar ancaman menakutkan dari istrinya.
"Masih lama ya keluarnya ?" Alfaraz mengusap lembut perut Yana yang masih terlihat datar.
__ADS_1
"Tentu saja, ini belum dua bulan berlalu." Jawab Yana.
"Sepertinya dia minta di jenguk lagi."
"Dia bosan, hari ini sudah dua kali kamu jengukin."
"Satu kali ya, semalam itu lain lagi." Alfaraz protes.
"Lupa pagi buta kamu minta lagi. Kapan sih kamu puas, hampir setiap hari loh Al. Kalau Bunda tahu, habis kamu."
"Tapi kamu suka juga kan kalau aku jengukin anak kita, buktinya kamu ga ngaduin aku sama Bunda." Ledek Alfaraz.
Yana mengangguk, dan sontak membuat Alfaraz tertawa.
Dan akhirnya siang itu di dalam kamar pengantin lama tidak hanya di isi dengan perdebatan mengenai menjenguk bayi yang masih berada di dalam kandungan ibunya, tapi si bapak kembali mengunjungi anaknya.
Jalan pintas menyelesaikan masalah bagi suami istri adalah ranjang yang empuk. Area berbahaya, jomblo harap minggir !!!
****
Selimut putih yang menutupi tubuh polos Yana kembali di tarik Alfaraz hingga menutupi bahu mulus istrinya. Kecupan berulang kali ia daratakan di seluruh wajah cantik istrinya itu, sembari menggumamkan kata maaf.
Tidak, bukan karena Nara masih ada di dalam hatinya. Ia hanya prihatin dengan wanita yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya itu.
Tidak hanya Yana yang takut, ia pun sangat takut jika wanita yang kini terlelap di atas ranjangnya, tidak akan lagi terlelap di sini. Ia sangat takut tidak akan mendapati sikap jail istrinya ini kemudian hari.
"Maafkan aku." Ucapnya lagi sebelum turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi wajib. Ah salahnya sendiri selalu rindu dengan bayinya, akhirnya ia harus mandi lagi.
***
Di sebuah hotel di kota Lampung, Rara akhirnya memberikan waktu untuk Reno berbicara. Sudah hampir sebulan Reno berada di sini. Ia benar-benar membuktikan sebelum mendapatkan kesempatan berbicara, dia tidak akan pulang ke Jakarta.
"Kamu mau jadikan hotel ini rumah kamu ? Ini sudah sebulan berlalu Mas, pulanglah." Ujar Rara pada pria yang masih bergeming di hadapannya.
"Aku tidak akan pulang tanpa kamu." Jawab Reno.
"Aku ngga bisa. Aku sudah terlanjur membohongi kedua orang tuaku, dan akhirnya aku terluka dengan kebodohan ku sendiri." Jawab Rara.
"Kali ini aku akan memintamu dengan cara yang baik kepada Abu dan Umi." Mohon Reno.
__ADS_1
Rara kembali menggeleng.
"Aku sudah mengecewakan mereka Mas. Kamu tahu bagaimana sedihnya Abi saat aku terbaring di atas ranjang rumah sakit, tapi kamu hanya terus memperjuangkan cintamu untuk Mbak Yana ? Dia sangat kecewa Mas, aku bahkan tidak sanggup menatap mata tuanya." Ujar Rara lirih.
Reno terdiam, dadanya bergemuruh mendengar suara bergetar yang keluar dari bibir mantan istrinya. Suara yang selalu ia abaikan saat memohon dan mengemis kasih sayangnya, kini begitu mengganggu hatinya.
"Aku sudah melukai banyak orang Ra, termasuk kamu. Untuk itu aku ingin menebusnya." Ucap nya pelan.
"Mas, kamu tidak mencintai ku. Hanya aku yang tergila-gila padamu, dan kini aku sadar cinta yang aku paksakan itu justru menyakiti diriku sendiri. Kembalilah, berjuanglah lagi untuk Mbak Yana. Dia yang menemanimu sejak awal, namun dengan tidak tahu malunya aku masuk tanpa permisi dulu padanya."
Reno menggelang.
"Yana sudah bahagia dengan kehidupan barunya. Dan aku pun ingin bahagia. Bisakah kamu memberiku satu kesempatan lagi ?" Tanya Reno.
Rara menarik nafasnya yang terasa berat. Talak memang belum terucap dari bibir Reno, tapi pernikahan mereka memang sudah tidak berbentuk lagi setelah Yana mengetahui semuanya.
"Aku tidak tahu Mas. Aku berjanji, setelah pisah darimu aku akan menyerahkan seluruh hidupku untuk Abi dan Umi. Jika kamu memang menginginkan aku, datang dan temui Abi. Tapi yang jelas ini tidak mudah, Abi sudah terlanjur kecewa, tidak hanya dengan ku tapi juga padamu." Ujar Rara.
Reno tersenyum.
"Tunggulah sebentar, aku akan berjuang untuk mu." Ucapnya.
Rara masih diam, tapi sejujurnya hatinya begitu bahagia mendengar kalimat yang terdengar penuh semangat dari bibir mantan suaminya ini.
"Bisakah aku menemui Abi malam ini ?" Tanya Reno.
"Sebaiknya jangan malam ini, pulang dan temui Mama kamu terlebih dahulu. Minta pendapat beliau soal ini, aku tidak ingin yang terjadi terhadap Mbak Yana akan kembali terulang padaku."
"Mama tidak akan bisa mengaturku lagi. Aku akan menemui Abi dan Umi dulu, baru setelah itu aku pulang dan menemui Mama." Ujar Reno.
"Terserah padamu, yang jelas segalanya tidak semudah dulu. Apapun jawaban Abi, aku akan mengikutinya. Sudah cukup aku membohongi mereka hampir dua tahun." Ujar Rara.
"Do'akan aku. Setelah ini kita berdua akan memulai semuanya dari awal."
Rara hanya mengangguk, meskipun ia tidak terlalu berharap. Karena ia sudah menebak akan seperti apa hasilnya. Entahlah, iantidak lagi ingin memaksakan apapun dan pada akhirnya membuat dirinya terluka, biarlah Allah yang menentukan segalanya.
*****
*Note Author
__ADS_1
Nih aku kasih pengantar tidur, biar nyenyak dan ga di gigit nyamuk.
Tiga Bab yaa, keriting jariku. Awas aja ga ninggalin jejak, aku kutuk jadi bucin 😤