
Percuma berbuat baik di dunia seperti ini itu kalimat yang salah. Tidak ada yang percuma, yah,, memang di dunia ini semakin berkurang jumlah orang-orang yang baik. Untuk itu ada yang mengatakan, jika kita sulit menemukan orang baik, maka jadilah salah satu orang yang baik itu.
Hari terus berganti hari, Kehamilan Farah pun semakin mendekati HPL yang di tentukan oleh dokter. Kediaman mewah milik keluarga Prasetyo tidak pernah luput dari keramaian. Semenjak kejadian mengenaskan itu, Zia selalu membawa ketiga anaknya untuk berkunjung ke rumah mewah itu, dan membantu memulihkan kesehatan Alfaraz keponakannya.
Bocah laki-laki yang kini sudah berusia empat tahun, memang sudah terlihat baik-baik saja, namun, masih saja dingin tak tersentuh. Meskipun sesekali menimpali saat Eliana bercerita riang, akan tetapi tidak lagi seperti dulu.
"Imutnya ya Aunty." Ujar Eliana.
Gadis remaja itu sedang membantu Farah melipat pakaian bayi serba merah muda, lalu memasukkannya kedalam koper kecil.
Alfaraz sedang di temani Kean dan Kenan, yang juga berada di dalam kamar yang sama. Sesekali Farah melirik putranya yang sedang bermain game mobile di smartphone sama seperti kedua kakak sepupunya.
"Aunty jadi akan di kasih nama siapa ?" Tanya Eliana.
"Kepo banget El, lelah tuh mulut Aunty kamu ajak ngomong mulu dari tadi." Omel Kean dari ujung sana.
"Ih sewot baget. Dasar jones." Ujar Eliana kesal, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
"Apaan Jones ?" Tanya Farah.
"Jomblo ngenes alias ga laku." Ledek Eliana.
Farah tertawa mendengar kalimat meledek yang keluar dari bibir keponakannya ini.
"Ada-ada aja kamu El." Ucapnya.
"Jadi namanya siapa Aunty ?" Usap El di perut buncit Farah.
"Kata Om Zidan rahasia." Jawab Farah.
Tawa kembali terdengar dari mulutnya ketika melihat wajah cemberut keponakannya.
"Kata Om adik bayinya cewek ya Aunty." Tanya Kean.
"Hm, sesuai pemeriksan gitu. Namun, kembali lagi, kekuasaan Allah tidak ada yang tahu." Jawabnya.
"Terus kenapa beli bajunya warna merah muda semua ?"
"Tanya Ibu kamu. Dia yang beli ini, dan kasi gratis ke aunty." Jawab Farah. Wanita itu membawa tangan keponakannya, lalu menempelkan di bagian perut yang terasa bergerak.
"Wah gerak." Ujar Eliana takjub.
__ADS_1
Mendengar teriakan kakak sepupunya, Alfaraz mengalihkan fokusnya dari layar ponsel, lalu menatap sang Bunda dengan mata polosnya.
Farah tersenyum mendapati Alfaraz tengah menatapnya.
"Al mau rasain gerak adik bayinya juga ?" Tanya Farah.
Senyumnya kembali mengembang saat kepala putranya itu mengangguk.
"Sini." Ajak Farah.
Bocah menggemaskan itu, bergegas bangkit dari atas karpet tempat ia dan dua kakak sepupunya duduk, lalu melangkah menuju Bundanya.
Alfaraz menempelkan pipinya di perut Bundanya, menikmati gerakan-gerakan kecil yang begitu terasa di kulitnya.
"Adik baru ya Unda ?" Tanyanya.
Farah mengangguk antusias, ini pertama kalinya Alfaraz bertanya tentang sesuatu setelah sekian bulan. Biasanya putranya ini tidak akan bersuara sebelum di ajak, itupun sangat jarang.
"Nanti Al harus sayang adik barunya ya." Ucap Farah sambil mengusap kepal putranya dengan sayang.
"Iya Unda."
Senyum Farah masih setia tercetak di bibir tipisnya. Semua akan baik-baik saja saat waktunya tiba. Al memang hanya memerlukan sedikit waktu untuk melupakan hari mengenaskan itu, lalu semuanya akan kembali normal seperti biasanya.
Melihat Zidan masuk ke dalam kamar, Kean dan Kenan pun ikut pamit keluar untuk menemui kedua orang tua mereka.
"Assalamualaikum Al." Ucap Zidan.
Ia mendekati bocah laki-laki yang masih setia membenamkan wajah di perut buncit istrinya.
"Waalaikumsalam Papa." Balas Farah.
Ia meraih tangan suaminya, lalu mencium punggung tangan itu takzim, kemudian meminta Al melakukan hal yang sama. Bocah laki-laki itu pun menuruti perkataan Farah.
"Apa yang terjadi ?" Tanya Zidan ketika melihat Al kembali membenamkan pipi gembul itu ke perut buncit istrinya.
"Mau merasakan pergerakan adiknya."Jawab Farah.
Zidan tersenyum mendengar jawaban Farah. Ia ikut duduk di atas karpet di samping istrinya lalu ikut melakukan seperti apa yang sedang di lakukan oleh putranya.
Farah terkekeh melihat dua lelaki yang mulai kembali bersaing, setelah sekian bulan bungkam.
__ADS_1
***
Farah menatap takjub dua lelakinya yang sudah tampan. setelah membersihkan diri. Ah sayang sekali dirinya masih belum langsing dan cantik.
"Ayo kita turun makan malam." Ajak Zidan. "Ayo sini." Ujarnya lagi sembari merentangkan tangannya agar bocah tampan di hadapannya segera beranjak masuk ke dalam pelukan.
"Unda." Ucap Alfaraz.
"Bunda harus bawa adik baru, kalau Al mau peluk Bunda nanti adik barunya sakit." Bujuk Farah.
Bocah lelaki itu mengangguk patuh, lalu menatap ayahnya sejenak kemudian masuk ke dalam pelukan.
Zidan terbahak, berulang kali ia menciumi puncak kepala putranya, lalu mendekap erat tubuh mungil Alfaraz.
"Ayo sayang." Ajaknya lagi. Kali ini ia meraih tangan Farah, lalu menggenggam jemari istrinya dengan begitu erat dan membawanya keluar dari kamar mereka.
"Aku mencintai kalian." Ujarnya lagi.
"Kami juga." Jawab Farah dengan wajah penuh binar bahagia.
***
Suasana kediaman Prasetyo begitu hangat. Zia dan Alard beserta ketiga anak mereka sering ikut makan malam bersama di rumah Ayah dan Ibunya ini.
Senyum bahagia masih tercetak jelas di wajah tua Anisa. Setelah beberapa saat melihat mendung di keluarga kecil putra bungsunya, kini kembali berbinar kala cucu kesayangannya sudah sedikit membaik.
Bocah yang selama hampir tiga bulan tinggal dirumahnya hanya diam, kini mulai kembali menunjukkan celotehan ruangannya. Terlebih ada ketiga cucunya yang sudah remaja, semakin menambah ramai rumah mewah yang bisanya sepi, karena hanya di isi oleh dirinya dan sang suami serta beberapa pelayan.
"Ayah senang semuanya sudah baik-baik saja Nak." Ujar Dimas pada putra bungsunya. Zidan menoleh, melihat istrinya yang begitu antusias menyuapi sambil menjawab beberapa pertanyaan yang terlontar dari bibir mungil putranya.
"Semua akan baik-baik saja Ayah, hanya saja memang memerlukan waktu. Terlebih Al masih sangat kecil, kejadian itu pasti sangat sulit terhapus dari ingatannya." Jawab Zidan.
Semoga setelah ini hanya akan ada kebahagiaan dalam keluarga kecilnya, begitu pikir Zidan. Ia tidak ingin meminta banyak, memiliki Al dan Farah dalam hidup sudah lebih dari cukup baginya. Bahkan kini Allah kembali memberinya kebahagiaan, menanti kehadiran anggota baru di dalam kelurga kecilnya yang di perkirakan dekat-dekat ini.
"Ra, kapan kamu ke Rumah Sakit ?" Tanya Zia.
"Nanti aja kalau udah ada tanda, biar ga nunggu lama di sana. Lagi pula bayinya sehat, letak bayinya juga sesuai jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan." Jawab Farah.
"Walaupun begitu Nak, kita tetap harus waspada biar aman." Ucap Anisa.
Farah mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Semua perlengkapan udah siap Bu, tadi El bantuin Farah. Kalau udah terasa, kita bisa langsung pergi." Jawab Farah sembari tersenyum manis pada keponakannya yang begitu lahap menikmati makan malamnya.
Anisa mengangguk, semuanya sudah baik-baik saja. Dan dia pun yakin, Allah akan selalu menjaga orang-orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya.