Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 72


__ADS_3

Hari yang begitu mengerikan bagi Farah. Melihat putra kecilnya tergeletak penuh darah hari ini, membuat dunianya seakan runtuh. Al adalah salah satu hadiah dari Allah yang begitu berharga dalam hidupnya, sungguh hanya membayangkan putranya ini pergi, sudah membuat jalan nafasnya seakan terhambat.


Kamar paviliun di rumah sakit milik keluarga Hermawan, sudah terdapat orang-orang terdekat Zidan. Bahkan Mama dan Papa mertua dari Zia yang baru tiba dari luar negeri hari ini, segera datang menjenguk cucu dari besan mereka. Asisten rumah tangga Farah yang di temukan terikat di dalam kamar mandi pun ikut datang melihat majikannya. Beruntung wanita paruh baya itu tidak terluka.


Farah masih mendekap tubuh putranya dengan begitu erat di atas ranjang pasien. Bocah yang biasanya tidak pernah kehabisan topik untuk di ceritakan dengannya, kini menutup rapat mulutnya.


Tidak ada lagi pertanyaan-peryanyaan menggemaskan yang selalu terdengar di telinga nya. Alfaraz sudah baik-baik saja, namun, bocah laki-laki itu sama sekali belum mengeluarkan suara yang berlebihan seperti biasanya.


Zidan, Alard dan kedua Ayah mereka sedang membahas perihal penyelidikan yang sudah di hentikan oleh pihak kepolisian. Tidak ada tuntutan mengenai jasad yang di temukan di kediaman Zidan hari ini. Alard sudah mengurus semuanya, bahkan ponsel milik laki-laki yang tewas itu, sudah berada di tangannya untuk menyelidiki siapa dalang di balik tragedi yang nyaris membuat Farah dan keponakannya kehilangan nyawa hari ini.


"Bagaimana dengan wanita itu ?" Tanya Alard pada istrinya.


"Dia baik-baik saja, bayi nya juga sehat. Sebentar lagi dia siuman." Jawab Zia.


"Kamu kenal dia dari mana Zi ?" Tanya Alard lagi, kali ini tertuju pada adik iparnya.


"Aku sering membeli bunga padanya di perempatan lampu merah."


"Lelaki yang tewas di rumah mu hari ini, adalah mantan suaminya. Mereka sudah berpisah tetapi belum resmi, aku takut mereka berkomplot Zi." Ujar Alard.


Zia segera menggeleng


"Jika wanita itu bagian dari komplotan suaminya, di tidak akan tega se brutal itu hingga menghabisi nyawa suaminya sendiri." Ucap Zia menyela. "Bagaimana dengan isi percakapan di ponsel laki-laki itu ?" Tanya Zia.


"Nomornya sudah tidak terdaftar." Jawab Alard.


"Jika aku temukan, tidak akan ku beri ampun, siapa pun itu." Geram Zidan.

__ADS_1


"Serahkan semua padaku Zi, aku akan mengurusnya. Sebaik apapun seseorang menyembunyikan kebusukan, cepat atau lambat pasti akan tercium juga. Yang paling penting saat ini, istri dan putramu membutuhkan perhatian lebih. Tidak hanya putramu yang ketakutan, Farah pun sama takutnya." Ujar Alard.


"Bagaimana dengan pekerja yang lain ?" Tanya Zidan pada kakak iparnya.


"Mereka tidak mengetahui, itu berarti laki-laki itu bekerja sendirian. Namun, aku tidak akan melepaskan mereka semua dengan mudah. Detektif swasta yang aku sewa, sudah siap untuk memantau apa saja kegiatan dari pekerja yang ada di rumahmu hari ini." Jawab Alard.


Banyak hal yang mereka bahas, Alard meminta Zidan untuk tidak memikirkan perkara ini, dan fokus pada kesembuhan putranya. Anak sekecil itu menyaksikan sebuah kekerasan, pasti akan mengganggu psikis. Tidak hanya tubuh kecilnya yang terluka, tetapi bathin nya juga.


Hari semakin malam, seluruh keluarga sudah berpamitan untuk pulang. Asisten rumah tangga yang juga ikut menjadi korban hari ini, di bawa pulang oleh Dimas dan untuk sementara waktu akan tinggal di rumah mereka.


***


Pintu kamar paviliun tempat Alfaraz di rawat, kembali tertutup dengan rapat. Zidan melangkah menuju ranjang tempat putra nya yang sedang terlelap dalam pelukan Farah. Ia ikut merebahkan tubuhnya di samping tubuh mungil Alfaraz, lalu ikut memeluk tubuh putra kecilnya yang hampir saja tidak bisa lagi ia lihat malam ini.


"Kamu juga istirahat Ra." Ucapnya lembut. Ia mengusap kepala istrinya itu dengan hati-hati.


"Kamu juga istirahat Mas, besok ke kantor." Ucap Farah.


"Aku tidak akan ke kantor sebelum kalian berdua benar-benar sudah baik-baik saja. Ayah yang akan menghandel langsung, aku cukup bekerja dari sini." Ucapnya.


Farah mengangguk.


"Tidurlah, aku akan ada disini bersama kalian berdua." Ujar Zidan lagi.


"Bagaimana dengan Dinda Mas ?" Tanya Farah.


"Wanita itu baik-baik saja, bayinya juga lahir dengan selamat dan sehat." Jawab Zidan. "Udah ga usah mikir macam-macam dulu, istirahatlah." Pintanya lagi.

__ADS_1


"Aku harus berterimakasih padanya, jika Dinda tidak datang ke rumah siang tadi, mungkin saja tidak hanya Al yang terluka, tapi juga calon anak kita Mas. Lelaki itu gila, dia bahkan menyobek pakaianku tadi." Ucap Farah.


Zidan mengepalkan tangannya hingga jarinya memutih. Bagaimana tidak, membayangkan ada laki-laki gila yang berani menyentuh istrinya membuat ia geram. Sayang wanita penjual bunga itu sudah menghabisi nyawanya, jika tidak makan dialah yang akan membunuh laki-laki sialan itu.


"Kak Alard akan membereskan semuanya, kamu fokus pada kesehatan mu dan Al. Kita bertiga tidak perlu memikirkan itu." Ujarnya.


Zia mengangguk, lalu memaksa matanya agar segera terlelap. Zian membawa dua tubuh yang hampir saja tidak bisa lagi ia peluk, ke dalam dekapan erat. Mencium kepala Al dan Farah bergantian.


Malam yang panjang, hanya ia lewati dengan melihat di orang berharga dalam hidupnya yang begitu tenang dalam tidur. Mengusap pipi Farah, lalu berpindah di pipi Alfaraz.


***


Dingin malamnya kota Bandung, membuat wanita yang beberapa bulan ini seperti orang gila, semakin menggila. Bagaimana tidak, semu rencana yang sudah ia susun baik-baik hancur berantakan, bahkan kini lelaki yang ia minta untuk menghabisi wanita arogan itu sudah tidak bernyawa.


Rita duduk di depan sebuah kotak dengan api menyala, lalu meletakkan ponsel yang ia gunakan untuk bertransaksi dengan laki-laki bodoh itu kedalam api. Menghapus bukti, adalah satu-satunya jalan saat ini.


Setelah memastikan benda dengan harga jutaan itu, sudah terlalap api, barulah ia beranjak dari sana dan masuk ke dalam rumahnya.


Tatapan penuh kekecewaan dari manik kedau orang tuanya, semakin membuat kebencian di hati Rita untuk Farah menggunung. Tidak banyak yang ia minta, namun, wanita arogan itu bahkan tidak mau melakukannya dan ingin bahagia dengan memiki Zidan seorang diri.


"Sial, sial." Pukul Rita di perutnya yang semakin membesar.


Video yang ia gunakan untuk mengancam laki-laki tua Bangka yang tidak lain adalah ayah biologis dari anak yang ada di dalam kandungannya, justru ikut menghancurkan karirnya di rumah sakit.


Di nikahi, lalu di tinggalkan. Begitulah nasibnya saat ini, laki-laki tua bangka itu menikahinya, namun kembali menghina dan meninggalkannya demi keluarga.


Miris sekali hidupnya saat ini, Papa dan Mamanya seakan menganggap dirinya tidak ada. Tante Nina yang juga menjadi awal dari kehancurannya pun, sekarang ikut menjauh dari hidupnya.

__ADS_1


Rita merebahkan tubuhnya di atas ranjang, setetes air mata keluar dari sudut matanya. Entah pada siapa ingin ia salahkan semua ini, melihat semua orang terlihat menjauh membuatnya muak.


"Kita harus hidup Nak, bantu Mama untuk membalas semua rasa sakit ini." Gumamnya pelan.


__ADS_2