
Mobil yang di kendarai Zidan sudah terparkir rapi di depan perusahaan nya. Hari ini ada banyak jadwal yang harus ia selesaikan, untuk memulai proyek yang baru saja ia tanda tangani dua malam lalu.
Masalah yang menimpanya hari ini dengan Farah, tidak akan ia izinkan mengganggu konsentrasinya dan berujung pada keterpurukan. Bukan itu yang di inginkan Farah, dan bagaimana ia akan berjuang meyakinkan Farah jika dirinya saja terpuruk dengan keadaan.
Semua harus di selesaikan, tidak hanya masalah rumah tangganya tapi juga masalah perusahaan yang di jadikan tempat bergantung oleh ratusan karyawan.
Zidan melangkah masuk menuju ruangannya, dan sekretarisnya sudah menunggu dengan setumpuk dokumen yang harus ia periksa dengan teliti.
****
Pagi mulai beranjak berganti siang, mentari yang nampak malu-malu pagi ini, kini sudah beranjak naik walau tidak terik. Bulan di penghujung tahun, tidak lagi heran jika awan gelap paling banyak menutupi langit yang bisanya biru.
Sepasang suami istri yang masih saja romantis,padahal sudah memiliki tiga anak remaja, kini mulai melaju dengan mobil menuju perusahaan tempat adik mereka berada.
Zia dan Alard memutuskan untuk makan siang bersama Zidan, sekaligus menyampaikan sesuatu yang di laporkan orang suruhan Alard hari ini.
Perusahaan Alard memang tidak terlalu jauh dari perusahaan milik Ayah mertuanya, sehingga tidak membutuhkan waktu berjam-jam untuk bisa sampai ke tempat Zidan berada.
Kini mobil berwarna hitam itu sudah terparkir di depan kantor Zidan, wanita yang selalu terlihat anggun walau tidak mengenakkan baju branded itu, turun dari mobil suaminya. Begitupun Alard, lelaki itu segera membawa jemari sang istri untuk di genggam nya erat, agar melindungi sang istri dari tatapan memuja, dari para karyawan adik iparnya.
Di ruangannya Zidan bersiap menyambut dua orang yang baru saja di informasikan oleh bagian resepsionis. Dua orang yang tidak pernah lelah mengingatkan berbagai hal padanya.
Sampai di dalam ruangan Zidan, sepasang suami istri itu memilih untuk duduk di sofa, sedangkan Zidan beranjak dari kursi kerjanya dan menuju sofa di mana Zia dan Alard berada.
Zidan segera mengambil benda pipih yang di letakkan oleh kakak iparnya di atas meja, lalu melihat dengan seksama semua yang terjadi di restoran malam itu.
Dugaannya memang benar, lelaki paruh baya yang memberinya kabar baik tentang tender itu, memang memiliki niat yang tidak baik terhadap dirinya.
__ADS_1
Zidan mengepalkan tangannya karena emosi yang begitu memuncak saat melihat layar tab yang kini di perlihatkan Alard padanya. Tidak hanya lelaki tua itu, tapi juga Rita. Wanita yang sebulan lalu datang mengusik ketenangan hidupnya.
"Aku segera mencari tahu siapa orang yang bertemu dengan mu di restoran malam itu." Ucap Alard. "Sepertinya tender yang orang tua itu katakan, adalah miliknya, namun, entah alasan apa hingga membuat lelaki itu menyerahkannya padamu." Sambung Alard menjelaskan.
"Jangan di kembalikan, aku akan membantumu menyelesaikan proyek itu. Aku yakin saat ini orang itu sedang mencari cara agar mendapatkan kembali tender itu. Dan aku sudah memeriksanya, proyek itu aman kok." Jelas Alard.
Zia yang juga berada di sana, sangat menyayangkan semua ini terjadi pada adiknya. Hati Farah yang belum benar-benar pulih karena sikap abai mereka selama ini, kembali terluka oleh kesalahpahaman.
"Seharusnya kamu bilang Zi, aku yakin Farah akan mengerti jika kamu memberitahu sebelum menidurinya malam itu." Ucap Alard.
"Iya aku juga heran sama anak ini. Jika kamu memberitahu lebih dulu, pasti Farah tidak akan membiarkan kamu tersiksa karena obat laknat itu." Ujar Zia menimpali.
"Semua sudah terjadi Kak, aku sudah kembali melukainya. Itulah kenyataan saat ini." Ucap Zidan.
Sepasang suami istri itu hanya bisa menarik nafas yang tersa berat. Benar kata Zidan, semuanya telah terjadi dan Farah telah pergi.
Dua kakak beradik itu sontak menoleh, menatap tidak percaya pada laki-laki yang kini sedang tersenyum di depan mereka.
"Dari mana Kakak tahu Farah sedang berada di Jogja ?" Tanya Zidan.
"Kemarin aku meminta seorang teman di maskapai penerbangan untuk memeriksa, dan nama Farah termasuk salah satu penumpang yang berangkat menuju Jogja." Jawab Alard.
"Aku jadi makin cinta sama kamu." Ucap Zia sembari menghambur memeluk tubuh suaminya.
Zidan mendengus, namun senyum di bibirnya terlihat dengan jelas. Dulu yang paling membuatnya bahagia adalah, menyaksikan kebahagiaan wanita di hadapannya ini.
"Beruntungnya jika takdir aku dan Farah seperti kalian." Ucap Zidan.
__ADS_1
Zia melepaskan pelukannya dari tubuh Alard, lalu menatap adiknya dengan begitu lekat.
"Semua sudah di atur dengan baik oleh Allah Zi. Di dunia ini tidak ada yang terjadi tanpa tujuan. Mungkin saat ini, Allah hanya ingin menguji sedalam apa cinta kamu untuknya. Allah ingin melihat, sampai sejauh mana usahamu untuk memperjuangkan Farah." Ujar Zia.
"Sejak awal aku sudah salah Kak. Sejak awal aku memaksakan semuanya. Memaksakan diriku untuk menikah dengan Nadia, padahal nama Farah masih tersimpan rapi di dalam hatiku. Selama hampir sepuluh tahun aku menyakiti Nadia dengan menyimpan nama Farah di hatiku. Dan berakhir dengan di lingkupi rasa bersalah yang berkepanjangan, karena wanita yang paling aku inginkan di rumah adalah Farah. " Ucap Zidan sambil tertunduk dalam.
"Kita hanya manusia biasa, wajar jika mengambil keputusan yang salah. Namun, lihatlah sisi baiknya, bukankah Nadia sering mengucapkan terimakasih tidak hanya padamu tapi juga terhadap Farah. Mungkin bagimu, kamu menyakitinya dengan menyimpan nama Farah, tapi bagi Nadia kamu sudah melakukan yang terbaik sebelum akhir usianya. Kamu dan Farah memberikan apa yang ia inginkan sebelum pergi, dan menurut Nadia itu sudah cukup untuknya." Ujar Zia menyela.
"Yang tidak kamu pikirkan selama ini, kamu justru menyakiti wanita yang kamu cintai karena rasa bersalah mu yang tidak beralasan itu. Nadia ikhlas kamu membagi cintamu dengan Farah, namun, kamu justru mengabaikan Farah dan membuat wanita baik itu terluka bertahun-tahun lamanya." Sambung Zia.
Alard menggenggam tangan istrinya, ia berbeda pendapat dengan Zia. Meskipun semuanya memang benar adanya, namun, saat ini setelah semua yang sudah terjadi, menyesal bukanlah pilihan yang bijak. Zidan tidak membutuhkan penghakiman, tapi dukungan dari keluarganya.
"Jika kamu pikir semuanya masih layak untuk kamu perjuangkan, maka lakukanlah Zi. Tidak ada yang tidak mungkin selama kita masih ingin terus mengusahakannya. Menyesal telah melakukan kesalahan, perlu di lakukan agar kita bisa belajar dan tidak melakukan kesalahan yang sama kemudian hari, tapi bukan berarti semuanya berhenti. Perjalanan masih panjang, waktu dan kesempatan masih sangat banyak, jadi jangan menyerah untuk memperjuangkan sesuatu yang berharga." Ucap Alard.
Zidan mengangguk mengerti, meskipun kecil harapannya Farah akan kembali memaafkan kesalahannya, setelah sekian banyak maaf yang telah terucap dan ia kembali melakukan kesalahan, tapi tidak ada sedikitpun terbesit di benak nya untuk berhenti dan membiarkan wanita yang ia cintai itu berlalu begitu saja dari hidupnya.
Farahdila Putri, hanya gadis itu yang ia inginkan. Sejak dulu hingga kini, nama Farah masih tersimpan rapi di hatinya, dan belum ada yang bisa benar-benar menghapusnya, walaupun wanita itu sebaik Nadia.
***
Note Author*
Ku mohon jangan bilang sedikit, ini udah tiga Bab 😭😭
Maaf ya jika belum sesuai ekspektasi teman-teman semuanya. Sungguh imajinasi ku masih sebatas ini, maklum masih Author kacang goreng 🤭😂
Terimakasih yaa untuk yang sudah mampir dan memberi dukungan.
__ADS_1
Love kalian semua 🥰❤️