Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 202 Season 3


__ADS_3

Masih area Emak-emak spesial di malam jumat. Bocil harap skip dulu !!!


*****


Sama halnya dengan keadaan di salah satu kamar mewah yang ada di sebuah hotel berbintang. Di dalam kamar yang ada di lantai dua kediaman Prasetyo, terdapat ranjang yang sudah acak-acakan. Sepasang suami istri yang sedang melakukan ritual menjenguk sang calon bayi masih terus bergerak perlahan di atas ranjang yang sudah seperti kapal pecah.


Hawa dingin yang berhembus dari barang elektronik yang menempel di dinding kamar, sama sekali tidak mampu mendinginkan ruangan, sehingga membuat peluh keduanya terus saja bercucuran membasahi tubuh polos mereka yang hanya berbalut selimut putih.


"Jangan lama-lama Ga, nanti anak kamu protes." Ucap Dira dengan suara seraknya. Entah mengapa setiap kali mereka berhubungan badan seperti ini, perut bagian bawah miliknya akan merasa nyeri.


"Bentar lagi." Jawab Arga dengan nafas memburu. Tangannya membantu tubuh Dira agar terus bergerak di atas pangkuannya. Semenjak hamil, Arga selalu melakukan hal ini karena takut akan menyakiti calon buah hatinya.


"Aku lelah Ga." Rengek Dira lagi. Ia bahkan sudah berhenti memacu tubuhnya, dan membiarkan tangan Arga yang membuat tubuhnya bergerak.


Lelaki tampan dengan peluh bercucuran itu tersenyum, ia lalu menghentikan permainan mereka sebentar dan membiarkan istrinya beristirahat.


"Kenapa berhenti ?" Tanya Dira saat tubuhnya sudah berpindah ke atas kasur dan masuk ke dalam pelukan Arga.


Arga tersenyum penuh arti.


"Ga..." Lirih Dira saat Arga kembali menjelajahi bagaian tubuh Dira dengan bibir nakalnya.


Beberapa saat kemudian, Arga kembali memacu tubuhnya dengan hati-hati. Bersamaan dengan itu, suara rintihan dan lenguhan panjang, terdengar hingga memenuhi ruangan kamar yang sudah di tempati Dira sejak kecil itu.


Setelah malam panjang itu berakhir, Arga melepaskan penyatuan mereka lalu membawa tubuh istrinya ke dalam pelukan hangatnya. Selimut yang tidak lagi beraturan, ia tarik kembali untuk menghalau udara dingin yang berhembus dari pendingin ruangan yang ada di dalam kamar itu.


Dira masuk lebih dalam lagi, ke dalam pelukan Arga. Wangi maskulin yang menguar dari tubuh suaminya ia hirup dalam-dalam. Beberapa saat kemudian, helaan nafas teratur sudah terdengar dengan begitu jelas dari bibirnya.


"Maaf." Ucap Arga penuh sesal sambil mengecup puncak kepala Dira berulang kali. Ia merutuki dirinya yang selalu saja tidak bisa menahan diri saat melihat tubuh istrinya yang semakin hari semakin montok. Padahal ia tahu apa yang ia lakukan bisa membahayakan calon buah hatinya.


Setelah memastikan Dira tertidur dengan nyenyak, Arga bangkit dari atas ranjang mewah milik istrinya, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa saat kemudian, ia keluar dari dalam kamar mandi kemudian melangkah menuju ruang ganti dan memakai pakaian yang sudah tersedia di sana.

__ADS_1


Setelah siap dengan pakaiannya, Arga kembali melangkah menuju ranjang di mana istrinya sedang terlelap. Rambut panjang yang sudah acak-acakan, ia usap dengan lembut.


"Aku lapar." Ucap Dira masih dengan mata terpejam.


Arga terkekeh.


Ah istrinya yang menggemaskan memang sudah merubah hobinya. Jika dulu selalu menumpuk buku di mana-mana, kini tidak lagi dan berganti dengan makanan.


"Anak kamu loh yang minta." Suara manja itu kembali terdengar, hingga membuat laki-laki yang selalu saja tergoda dengan apa saja yang ada di tubuh istrinya, kembali melancarkan aksinya.


"Aku masih kotor Ga." Ucap Dira saat bibir Arga kembali menjelajahi apa saja yang ada di bagian tubuhnya. "Ayo bawa aku ke kamar mandi, dan bantu aku membersihkan diri." Pintanya lagi.


Arga patuh, dengan hati-hati ia membawa tubuh polos Dira masuk ke dalam kamar mandi.


"Kok makin berat sih ?" Tanya Arga.


"Iyalah kan kamu peluk nambah satu." Jawab Dira acuh.


"Pelan-pelan." Ucap Arga saat Dira hendak berpindah menuju shower untuk membilas tubuhnya.


Tidak lama, karena hari sudah malam. Dira segera mengenakkan bathrobe yang ada di tangan Arga, lalu melangkah keluar dari dalam kamar dengan sangat hati-hati.


Arga merapikan ranjang yang sudah seperti terkena hantaman tornado. Badcover dan selimut yang ada di atas ranjang itu ia lepaskan, dan menggantinya dengan yang baru.


Beberapa saat kemudian, istri kesayangannya keluar dari dalam ruang ganti dengan terusan rumahan lengkap dengan hijab.


Keduanya lalu turun untuk mengisi energi yang baru saja terkuras habis di atas ranjang panas mereka.


****


"Tampan banget sih." Ucap Dira sambil duduk manis di salah satu kursi makan sambil memperhatikan Arga yang tengah menyiapkan makanan untuknya.

__ADS_1


"Kamu baru tahu kalau suami kamu ini tampan ?" Ucap Arga dengan wajah penuh percaya diri.


"Aku tahu kok. Apalagi kalau suapin aku, pasti lebih tampan lagi." Goda Dira.


Arga menarik kursi di samping Dira, lalu duduk di sana. Suapan demi suapan mulai masuk ke dalam mulut Dira. Arga begitu sabar menyuapi istrinya yang semakin hari semakin bertingkah manja itu.


"Kalian makan malam lagi ?"


Suara wanita paruh baya tiba-tiba terdengar. Arga dan Dira sama-sama menoleh pada wanita yang sedang melangkah masuk ke dalam ruang makan.


"Ayah minta di bikinin teh." Ucap Zyana lagi.


"Ada apa, kok tumben Ayah belum tidur ?" Tanya Dira heran.


"Lagi ngobrol sama Arion lewat telepon." Jawab Zyana lalu melangkah keluar dari ruang makan bersama dua cangkir teh lengkap dengan cemilan menuju ruang keluarga.


Merasa ada sesuatu yang terjadi dalam keluarganya, Dira menyudahi makan malamnya.


"Kamu benaran sudah kenyang ?" Tanya Arga.


Dira mengangguk mengiyakan, lalu mengajak suaminya itu menuju ruang keluarga di mana Ayah dan Ibu nya berada.


"Ga usah di cuci, nanti biar Bibi aja." Seoang wanita paruh baya memasuki ruangan di mana Arga dan Dira berada.


"Ga apa-apa Bi, seharusnya Bibi istirahat, biar besok aja kerjanya." Ujar Dira.


"Nda apa-apa Neng, Bibi juga belum mengantuk." Dira mengangguk mengerti, lalu keluar dari ruangan itu bersama Arga.


Dira dan Arga ikut duduk di sofa yang ada di ruang keluarga, sambil memperhatikan lelaki paruh baya yang terlihat begitu serius membahas entah apa dengan seseorang di ponselnya. Hingga beberapa saat kemudian, pembicaraan di ponsel itu berakhir.


Dira bertanya apa yang sedang terjadi dalam keluarga mereka. Dan Alfaraz pun mulai menjelaskan perihal apa yang baru saja ia bicarakan dengan menantunya melalu telepon.

__ADS_1


__ADS_2