Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 241 Season 4


__ADS_3

Daniza duduk termenung di kursi putar yang ada di dalam ruangannya. Pembicaraan dengan Maya kemarin hari, masih terus teringiang di telinganya.


Benarkah ?


Benarkah Daren mencintainya ?


Daniza menggeleng, menepis harapan yang kembali mengisi hatinya. Daren tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang adik. Daren menyayanginya, sama seperti Azam. Daren memperlakukannya, sama seperti Azam memperlakukan dirinya.


"Permisi Dok." Tegur gadis yang berseragam serba putih dari ambang pintu ruangan Daniza. Namun, gadis yang di panggil dokter oleh salah satu perawat itu masih terdiam, sambil menatap pena yang sedang ia gunakan untuk mengetuk-ngetuk meja kerjanya.


"Permisi Dokter, ada tamu yang ingin bertemu." Ucap perawat itu lagi.


"Ada apa sus ?" Daniza mendongak lalu menatap perawat yang sedang berdiri di ambang pintu ruangannya.


"Ada tamu Dok." Jawab perawat tersebut. "Bukan pasien Dok." Sambung perawat tersebut saat melihat Daniza melihat jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Aunty.." Bocah laki-laki tampan menerobos masuk ke dalam ruangan. "Lama banget Aunty." Sambungnya lagi.


Daniza terkejut melihat anak laki-laki yang baru kemarin menghabiskan waktu bersama di supermarket kini sudah masuk ke dalam ruangannya.


"Ga apa-apa Sus, dia keponakan saya." Ujar Daniza. Perawat tersebut mengangguk lalu berpamitan untuk kembali ke meja kerjanya. Sebelum itu, ia mempersilahkan laki-laki dewasa yang masih berdiri di depan ruangan Daniza untuk masuk ke dalam ruangan dokter yang sudah setahun ini ia bantu.


"Kalau belum di suruh masuk jangan nyelonong aja, itu ga sopan namanya." Omel Daren pada putranya setelah suster yang baru saja mempersilahkan dirinya masuk ke dalam ruangan, kembali menutup pintu ruangan adik sepupunya itu.


"Habisnya lama banget Yah." Jawab Fatih takut-takut.


"Takut juga kamu." Cubit Daniza gemas karena melihat wajah takut Fatih.


"Niz, Mas titip Fatih lagi yaa. Kali ini dua hari, kata Om Riyan kamu bebas tugas selama dua hari ke depan." Ucap Daren dengan wajah memohon.


"Apaan, waktu libur mau aku habiskan bersenang-senang, bukan momong anak." Tolak Daniza.


"Aunty,, Al ga mau sama Oma.. Boleh yaa.." Mohon bocah laki-laki yang kini sudah berdiri di samping kursi kerja Daniza.


"Apaan wajah kamu itu, jelek banget." Ujar Daniza saat melihat wajah polos keponakannya yang selalu saja membuat hatinya luluh. "Dua hari aja yaa, dan ga gratis." Sambungnya lagi. Kali ini ia sudah menatap laki-laki yang juga sedang menatapnya hangat.

__ADS_1


"Baiklah nanti Mas transfer yaa." Daren mengusap kepala Daniza, lalu berpamitan untuk keluar dari dalam ruangan adik kesayangan mereka itu.


"Kali ini bukan uang." Ucap Daniza dan itu berhasil membuat langkah kaki Daren terhenti.


Laki-laki yang hendak melangkah meninggalkan ruangan itu kembali berbalik dan menatap wajah Daniza.


"Aku mau penjelasan banyak hal." Ucap Daniza lagi.


Daren menelan ludah nya yang terasa pekat. Maya sudah menjelaskan pertemuan istrinya itu dengan Daniza kemarin. Beberapa saat kemudian Daren mengangguk mengiyakan permintaan Daniza.


"Ayo kita pulang ke rumah." Daniza mengajak Fatih, dan mengabaikan laki-laki yang baru saja mengangguk mengiyakan permintaannya. "Oh iya Mas Daren, sama bonusnya jangan lupa di kirim di rekening aku yaa." Ujarnya lagi sambil menggenggam tangan Fatih keluar dari dalam ruangan itu.


"Mana bisa kayak gitu. Penjelasan atau uang ?" Tanya Daren ikut melangkah cepat menyusul du orang yang sudah lebih dulu keluar dari dalam ruangan itu.


"Aku butuh dua-duanya, gimana dong." Jawab Daniza santai. "Gini aja, untuk upah satu hari di bayar pake penjelasan, dan satu harinya lagi di bayar pake uang." Sambungnya memberi penawaran.


Daren tertawa keras.


"Dasar matre." Ucapnya.


"Matre apa Yah ?" Tanya Fatih.


Daren tertawa lagi. Adik sepupunya yang terkenal judes ini selalu saja mampu membuat orang di sekitar mereka tertawa geli karena tingkahnya.


"Baiklah, nanti Mas kirim sekalian jajan Fatih yaa." Daren kembali mengusap kepala Daniza yang tertutup hijab. "Sampai ketemu dua hari lagi boy." Sambungnya sambil membungkuk dan mengusap kepala putranya.


"Tiga hari Yah, ah tidak lima hari." Ujar Fatih sambil mengangkat kelima jarinya.


"Bisa-bisa Ayah bangkrut Nak." Kekeh Daren.


Daniza pun ikut tertawa.


"Kalau gitu aku mau jadi baby sitter aja, dan ga usah lanjutin spesialis ku." Ucapnya.


"Mas duluan yaa." Daren meminta izin untuk pergi lebih dulu.

__ADS_1


Daniza mengangguk mengiyakan.


****


Di ujung koridor rumah sakit, Ayiman terdiam sambil memperhatikan interaksi tiga orang yang berada tidak jauh dari tempat ia berdiri. Setelah beberapa saat menetralkan gemuruh di dalam dadanya, ia kembali menguatkan langkahnya dan melangkah menuju orang-orang yang ada di sana.


Bertepatan dengan itu, Daren juga sudah melangkah meninggalkan Daniza dan Fatih, dan saat mendapati Ayiman juga sedang berada di sana langkah kakinya terhenti. Setelah beberapa saat menatap adik sepupunya itu, Daren kembali melanjutkan langkahnya. Ia menepuk bahu Ayiman lalu berpamitan untuk pergi dari sana.


"Paman Ayi ngapain di sini ?" Tanya Fatih.


Ayiman masih melihat punggung Daren yang semakin menjauh dari tempat mereka berada.


"Mau ajak Aunty makan malam lah." Jawabnya saat Daniza dan Fatih sudah berdiri di hadapannya.


Bocah laki-laki yang masih menggenggam jemari Aunty kesayangannya itu langsung menatap tajam laki-laki dewasa yang kini sedang tersenyum.


"Sama Fatih juga." Ayiman langsung membawa Fatih dalam pelukannya, lalu membawa bocah laki-laki yang masih menatapnya tajam itu keluar dari rumah sakit. "Anak-anak ga boleh main di rumah sakit, nanti sakit. Kenapa sih kamu tuh ngekorin Aunty mulu." Ayiman mencubit pipi gembul keponakannya.


"Al kan mau jagain Aunty." Jawab Fatih polos.


"Iya udah." Ucap Ayiman mengalah.


"Bang Ayi dari mana ?" Tanya Daniza menimpali percakapan dua orang yang ada di sampingnya.


"Dari kantor." Jawab Ayiman. "Mana kunci mobilnya." Ia mengulurkan tangannya meminta kunci mobil Daniza.


"Abang ga bawa mobil ?" Tanya Daniza heran, dan hanya di jawab Ayiman dengan gelengan kepalanya.


"Kesini naik apa ?" Tanya Daniza lagi.


"Naik taksi lah Dek." Kekeh Ayiman sambil mengusap kepala Daniza. "Ayo mana kuncinya, keponakan mu ini berat tahu." Sambungnya masih dengan kekehan geli, terlebih saat melihat bocah laki-laki yang sedang cemberut dalam pelukannya.


Daniza ikut tertawa, lalu menyerahkan kunci mobilnya pada Ayiman. Gadis cantik itu membuka pintu mobil dan membiarkan Ayiman membawa keponakan mereka ke dalam mobil.


"Kita makan di restoran dulu yaa, ada yang ingin Abang bicarakan sebentar." Ujar Ayiman.

__ADS_1


Daniza mengangguk menyetujui permintaan Ayiman.


Semua hal rumit yang terus mengikat keluarga, tidak akan pernah selesai jika tidak di bicarakan dengan ba


__ADS_2