Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 76 Chapter Bonus


__ADS_3

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Bayi mungil yang begitu menggemaskan, kini sudah beranjak remaja. Sedangkan bocah laki-laki tampan yang begitu mirip dengan Farah, kini sudah menjelma menjadi pemuda tampan.


Setiap pagi akan di awali dengan sarapan bersama di ruang makan mewah kediaman Prasetyo. Zidan tidak lagi membeli rumah yang baru untuk di tempati keluarga kecilnya, ia dan Farah bersepakat untuk tinggal dan menetap di rumah peninggalan orang tua Zidan.


Setelah kepergian Dimas dan Anisa yang sudah lebih menghadap pemilik kehidupan beberapa tahun yang lalu, Zidan tidak lagi memiliki keinginan untuk meninggalkan rumah yang memiliki sejuta kenangan ini. Sesekali Zia dan Alard akan datang dan menginap di rumah besar peninggalan orang tua mereka.


"Hati-hati Mas." Ujar Farah. Wanita yang kini menghabiskan waktunya sebagai seorang istri dan Ibu, kembali merapikan jas yang melekat di tubuh suaminya.


Zidan mengangguk, lalu mengecup pipi istrinya kemudian masuk kedalam mobil.


Lambaian tangan Farah terus mengiringi kepergian mobil milik lelaki yang ia cintai, hingga hilang di pintu gerbang rumah.


"Cepat Dek." Ujar Al. Pemuda itu kembali melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Iya bentar." Adelia keluar dari kamarnya menuju ruangan di mana kakaknya berada.


"Abis kamu di marahin Bunda." Ucap Al sembari melirik wanita cantik yang kata orang-orang begitu mirip dengannya, sedang melangkah cepat menuju tempat ia dan Adelia berada.


"Hapus." Ucap Farah tegas sembari menyodorkan kotak tisu pada putrinya.


Gadis berjilbab putih dengan seragam putih abu-abu itu cemberut, namun, tetap patuh meraih satu lembar tisu dan mengusap lembut bibirnya yang kemerahan.


Alfaraz tertawa geli melihat tingkah adiknya yang terlihat kesal karena lagi-lagi tidak berhasil memakai perona bibir pagi ini.


"Makanya kecil-kecil jangan centil." Ujar Al lalu melangkah lebih dulu usai mencium punggung tangan Bundanya.


Adelia pun melakukan hal yang sama, meskipun kesal gadis itu tetap meraih tangan sang Bunda lalu menciumnya takzim.


Kalimat agar mereka berhati-hati, mengiringi kepergian kakak beradik menuju tempat mereka menuntut ilmu.


***


"Ah sial, semua ini gara-gara kamu. Mau ke sekolah kayak mau ke kondangan aja." Kesal Alfaraz karena pagi ini mobil yang ia kendarai terjebak macet.

__ADS_1


"Loh kok aku, kakak aja yang bawa mobilnya ga becus." Ucap Adelia tidak ingin di salahkan.


"Kalau Nara ngambek, tanggung jawab kamu." Ancam Al pada adiknya.


"Cih gadis itu lagi. Buka mata Kakak, gadis itu ga baik. Ga kapok apa, Papa dan Bunda kan udah memperingati untuk jangan lagi berhubungan dengannya." Ujar Adelia memperingati.


Alfaraz tidak lagi menimpali, ia terlalu malas memperdebatkan masalah hubungannya dengan Nara. Tidak ada satu orang pun dalam keluarga mau menerima gadis itu, hanya karena umur Nara yang masih terlalu mudah. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah terlanjur mencintai gadis kesayangannya itu.


"Ayo cepat keluar sana, aku terlambat. Ngomel mulu kayak ibu-ibu" Perintah Al pada Adelia, saat mobilnya sudah terparkir di depan gerbang sekolah adiknya itu.


"Iya sabar dong, kapan sih aku bisa bawa mobil sendiri. Biar ga kesal setiap hari." Omel gadis itu sembari melepaskan sabuk pengaman yang ada di tubuhnya.


***


Di pelataran sebuah apartemen, gadis yang bernama Nara terus menggerutu kesal. Sejak tadi ia menunggu, namun Alfaraz belum juga tiba. Selalu saja seperti ini setiap hari, lelaki itu akan mengantar Adelia lebih dulu, barulah datang menjemput dirinya.


Setelah beberapa saat, akhirnya klakson mobil di depan apartemen berbunyi. Meskipun mobil mewah milik kekasihnya sudah terlihat memasuki pelataran apartemen tempat ia dan ibunya tinggal saat ini, tetap saja kekesalan di dalam hati Nara masih belum pergi juga.


Dengan kasar gadis yang juga mengenakan seragam SMA dengan rok selutut itu, membuka pintu mobil lalu duduk di kursi penumpang di samping kemudi. Tangannya terlipat di dada, lalu menatap tajam wajah tampan yang sedang menatapnya penuh permohonan.


Alfaraz hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari meminta maaf.


"Pasti anterin si Adel dulu, kapan sih aku jadi prioritas kamu ?" Nara masih terus menggerutu kesal.


"Yah mau bagaimana lagi, aku dan Adel kan serumah. Udahlah hal kecil ga usah di buat ribut." Usap Alfaraz di puncak kepala Nara. Gadis itu akhirnya diam, meskipun bibirnya masih terlihat cemberut, tapi omelannya sudah berhenti.


Alfaraz kembali melajukan mobilnya menuju sekolah yang sama tempat adiknya berada. Yah, Nara dan Adel memang satu sekolah, bahkan satu kelas. Kedekatan Alfaraz dan Rana pun berawal dari sekolah itu, saat Al pertama kali mengantar adiknya.


"Kak Al, kapan sih kakak ngajak aku main ke rumah lagi ?" Tanya Nara.


"Nanti ya, kan kamu tahu Bunda dan Papa belum mengizinkan aku untuk pacaran." Jawab Alfaraz.


"Kamu tuh udah besar Kak, masa iya semuanya harus di atur oleh mereka sih."

__ADS_1


"Yah kan mereka orang tua aku sayang, wajar kalau mereka bersikap seperti itu."


Nara mendengus mendengar jawaban dari Alfaraz yang selalu saja membela orang tuanya.


"Kak Al, saat aku lulus nanti, mau kan nikahi aku." Ucap Nara tanpa beban.


Berbeda dengan Alfaraz, pemuda itu terkejut mendengar kalimat yang ia rasa belum pantas di bicarakan olehnya dan Nara.


"Kita masih sangat mudah, perjalanan masih sangat panjang Nar." Ujarnya


"Aku hanya ingin di rumah aja, jadi istri dan Ibu yang baik, kan sebentar lagi kamu lulus kuliah Kak dan udah bisa kerja."


"Kita bicarakan nanti ya, sekolah dulu yang benar." Ucap Al. Lelaki itu mengusap lembut kepala Nara, sementara mobil yang ia kendarai sudah berhenti di depan gerbang sekolah tempat Nara dan Adelia bersekolah.


"Nikah mudah itu baik kok Kak, nanti kita masih punya banyak waktu untuk merencanakan banyak hal bersama." Ucap Nara lagi.


"Iya nanti aku pikirkan."


Nara mengangguk, lalu bergegas turun dari mobil Alfaraz lalu masuk ke dalam sekolah.


***


"Hai adik ipar." Sapa Nara sembari melambaikan tangannya.


Adelia tahu siapa yang sedang di panggil adik ipar oleh gadis yang masih seumuran dengannya ini, namun, ia bersikap acuh seperti biasanya.


"Kamu tuh harus belajar baik-baikin aku Del, setelah lulus nanti aku dan kakak kamu akan menikah." Ucap Nara lagi.


Adelia menatap jengah, namun, ia terlalu malas untuk berdebat. Biarlah Nara dengan segala khayalannya.


"Kenapa ?" Tanya Nara. Gadis itu duduk di atas meja Adelia dengan begitu angkuhnya.


"Minggir ga." Bentak Adel kesal.

__ADS_1


"Slow baby, harusnya kita itu belajar jadi teman dekat mulai sekarang." Ucap Nara lagi.


Adelia memilih untuk tidak menanggapi khayalan Nara, dan memilih keluar dari dalam kelasnya menuju taman.


__ADS_2