Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 239 Season 4


__ADS_3

"Kok di sini ?" Tanya Nira kaget saat melihat gadis kecilnya melangkah masuk ke dalam kamar di mana ia dan sang suami berada.


"Bukannya Abang-abang kamu ada di sana Nak ?" Tanya Arion menimpali, saat putri kesayangannya hanya merebahkan tubuh di atas ranjang miliknya dan sang istri.


"Niza mau tinggal di apartemen hanya agar terhindar dari mereka bertiga Papi, kok mereka malah ke sana." Jawab Daniza sambil menenggelamkan wajahnya di atas ranjang milik orang tuanya.


Danira seketika tertawa keras mendengar keluhan putrinya.


"Papi Niza mau tinggal di luar negeri dong" Pinta Daniza memohon. Gadis cantik itu sudah beranjak dari baringnya, lalu duduk di atas ranjang.


Danira seketika terdiam mendengar permintaan puti kecilnya.


"Tidak !" Jawab Danira tegas.


"Mami, Niza benar-benar ga kuat." Pinta Daniza lagi.


"Ngga, Mai ga suka ada anak-anak Mami yang ingin lari dari masalah. Nggak, Mami ga akan izinin !" Jawab Danira tegas.


Sungguh, ia tidak ingin putrinya menadi seorang pengecut. Karena menurutnya, sekecil apapun masalah jika kita tidak berniat untuk menyelesaikan dan hanya ingin terus menghindarinya, maka tidak akan pernah selesai.


"Mi, ini sangat rumit." Ucap Daniza dengan mata berkaca. Sungguh ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. "Bagaimana Niza bisa melupakan kalau Mas Daren terus saja muncul di hadapan Niza." Sambungnya lirih.


Danira tidak bisa lagi berkata-kata. Wanita paruh baya itu hanya membawa kakinya melangkah menuju ranjang dimana Niza berada. Ia menatap prihatin gadis kecilnya yang sedang tertunduk dalam.


"Mau peluk ?" Tanya Danira sembari merentangkan tangannya.


Tanpa menunggu waktu lama, Daniza segera masuk ke dalam pelukan Maminya.


"Bang Ayi meminta izin menikah Mi." Ucap Niza masih dalam pelukan sang Mami.


"Bukan meminta izin, tapi Bang Ayi ingin memberimu satu kesempatan lagi dan dia sudah izin ke Mami dan Papi soal ini. Dia tidak ingin memaksa mu, tapi dia ingin kamu tetap mempertimbangkan kelayakannya." Ujar Danira menjelaskan.


Sejak dulu yang ia inginkan, menjaga putrinya adalah Daren. Namun, sepertinya takdir tidak berpihak pada rencananya itu. Terlebih saat keponakannya itu membawa pulang wanita hamil dan meminta izin untuk menikah. Tak sampai di situ kisah rumit antara keluarga, ternyata sang keponakan, Ayiman anak dari Abizar adiknya justru datang dan memberitahu ingin menikahi Niza, akan tetapi, gadis kecilnya ini justru menolak karena bukan lah Ayiman yang putri nya inginkan, tetapi Daren.

__ADS_1


****


Di depan rumah mewah milik Arion, sebuah mobil yang sejak tadi mengikuti Daniza kembali melaju meninggalkan tempat itu. Seorang bocah laki-laki yang sedang duduk di dalam mobil itu menatap wajah Ayahnya heran karena tidak membawa mobil mereka masuk ke dalam pelataran rumah dan malah pergi meninggalkan rumah yang sangat ingin ia kunjungi itu.


"Kok pergi ?" Tanyanya.


Daren melirik putra kecilnya itu sebentar, lalu kembali fokus dengan kemudi yang di tangannya.


"Al kan masih rindu Aunty." Rengek Fatih sontak membuat Daren tertawa geli.


"Kamu ngga kangen Ibu ?" Tanya Daren.


"Kangen, tapi lebih kangen Aunty." Jawab Fatih, dan itu kembali membuat Daren tertawa.


"Gimana kalau Ayah minta Aunty jadi Ibu kamu ?" Tanya Daren sambil berkonsentrasi dengan jalanan yang ada di hadapannya.


"Nggak !" Tolak Fatih tegas.


Daren terbahak melihat tampang masam putranya.


"Kalau Fatih yang minta, pasti Aunty mau." Bujuk Daren namun, kepala kecil putranya segera menggeleng tegas.


Tidak lama berkendara, mobil Daren sudah terparkir rapi di halaman rumah mewah milik kedua orang tuanya. Dua lelaki berbeda usia itu lantas melangkah keluar dari dalam mobi, lalu masuk ke dalam rumah. Masih belum ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka usai membahas tentang Daniza beberapa saat yang lalu.


Daren hanya bisa tersenyum geli saat putra kecilnya seakan sedang mengajaknya berperang dingin.


"Eh, Fatih sudah pulang yaa ? Kok ga ucap salam sih ?" Tegur Dira. Wanita yang masih terlalu muda untuk di panggil Oma itu, mengusap lembut puncak kepala cucu kesayangannya. "Ada apa ? Kok Oma ajak bicara ga jawab sih ?" Tanyanya lagi, karena Fatih masih diam dan tidak berniat menjawab pertanyaannya. Bocah laki-laki yang terlihat tampan dengan wajah blasteran nya itu hanya tertunduk masam.


"Dia lagi ngambek Ma." Kekeh Daren.


"Kenapa ? Apa yang buat cucu tampan Oma ini marah ?" Tanya Dira lagi.


"Tadi dia ngelamar Daniza, tapi di tolak." Ujar Daren sambil tertawa geli.

__ADS_1


"Ga usah ikut-ikutan bersaing Nak. Kasihan Paman Ayi." Ujar Dira ikut tertawa.


Seluruh keluarga sudah mengetahui perihal Ayiman yang meminta waktu untuk meyakinkan Daniza akan kesungguhannya.


"Jadi dia menolak ya Ma ?" Tanya Daren.


"Ga, dia ga nolak soal perjodohan itu. Tapi meminta waktu pada semua orang termasuk pada pihak wanita. Jika Daniza masih belum bersedia, maka rencana pernikahan mereka akan tetap berlanjut." Jawab Dira menjelaskan. "Kalian sudah makan siang ?" Tanya Dira kemudian.


"Belum Ma, Niza ngga mau masakin kita tadi. Ya udah Daren ajak Fatih pulang aja, karena Azam, Aidar dan Alfan hanya memesan makanan cepat saji." Jawab Daren.


"Kalau gitu, kalian makan siang dulu. Papa dan Mama sudah makan siang lebih dulu tadi. Mama pikir kalian akan lama pulangnya." Ujar Dira.


Bocah laki-laki yang masih cemberut di samping ayahnya, bergegas melangkah menuju dapur. Rencananya yang ingin mengajak Aunty nya memakan makanan ringan yang mereka beli bersama tadi gagal karena buru-buru di ajak pulang oleh ayahnya.Melihat Fatih yang masih dendam padanya, Daren segera mengangkat tubuh kecil putranya itu lalu menciumnya berulang kali. Di dalam ruangan yang baru saja mereka tinggalkan, Dira hanya tersenyum melihat tingkah putra dan cucunya itu. Daniza memang selalu menjadi topik utama dalam keluarga.


"Ada-ada saja." Gumam Dira, lalu ikut melangkah menuju ruangan di mana suaminya berada.


****


"Ada apa ?" Tanya Arga saat melihat Dira memasuki kamar mereka dengan senyum di bibir.


Dira menggeleng, lalu ikut duduk di sofa di mana suaminya berada.


"Apa mereka sudah kembali ?" Tanya Arga.


Dira mengangguk mengiyakan. Setelah menjawab pertanyaan Arga, Dira membawa kepalanya bersandar di bahu suaminya.


"Keadaan rumit sepertinya tidak akan pernah pergi dari hidup kita." Gumamnya.


"Tidak ada masalah yang akan selamnya. Kamu ingat nggak bagaimana kita bisa bersama dulu ?" Tanya Arga sambil mengecup kepala Dira.


"Sampai saat ini, hal yang paling aku sesali saat ini adalah memintamu menikah dengan cara yang begitu buruk. Perasaan yang bertahun-tahun tersimpan di dalam hati ku, aku akhiri dengan rencana orang gila itu." Ujar Daren.


Dira hanya tertawa. Tidak bisa di pungkiri, jika dulu ia pernah berpikir cinta Arga tidak sepenuhnya untuknya. Tapi setelah beberapa bulan bersama, ia mulai yakin jika semua orang mencintai dirinya.

__ADS_1


"Aku yakin semuanya akan jalan keluarnya. Mungkin Daren hanya masih menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya." Ujar Arga lagi.


Dira mengangguk paham. Putranya bukan anak kecil lagi. Saat ini, Daren sudah menjadi seorang Ayah, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi.


__ADS_2