
Malam yang begitu istimewa, begitulah yang ada di dalam pikiran Zidan saat ini. Ia menatap punggung Farah dari pintu pembatas dapur dan ruang makan. Istrinya itu begitu sibuk dengan wajan dan spatula yang ada di tangannya, dan tidak menyadari jika Zidan terus memperhatikan dari pintu dapur.
"Masak apa ?" Tanya Zidan saat sudah berdiri di belakang punggung Farah.
Farah yang hanya fokus dengan masakannya, tidak menyadari jika sang suami sebenarnya sudah sejak tadi memperhatikan dirinya.
"Astagfirullah Mas, kamu ngagetin aku." Ujarnya kesal.
Zidan hanya tersenyum, lalu menarik satu kursi yang tersedia di sana. Namun sebelum itu, ia mencuri satu kecupan di pipi Farah, dan membuat pipi putih tanpa polesan itu merona.
"Ngga masak Mas, aku lihat ada banyak lauk yang sudah siap saji di kulkas, jadi ini tinggal dipanasin aja." Jawab Farah. Zidan mengangguk mengerti, dia sudah tahu siapa yang menyiapkan lauk itu.
"Kamu lihat Al dulu Mas, aku mau siapin makan malam dulu." Ujar Farah.
Zidan mengangguk lalu keluar dari dapur menuju kamar putranya. Terlihat Al memang sudah terjaga dari lelap, namun putranya itu terlihat masih begitu menikmati ranjang empuk miliknya.
"Sini sama Papa, kita makan malam." Ajak Zidan sembari mengulurkan tangannya ke arah sang putra. Bocah laki-laki yang berusia tiga tahun itu segera bangkit dari ranjangnya, lalu masuk ke dalam pelukan sang Papa.
"Unda ?
"Bunda lagi nyiapin makan malam." Ucap Zidan.
"Ama ?
Sejeank Zidan terdiam, ia menatap sendu wajah mungil yang begitu mirip dengan Farah.
__ADS_1
"Mama sudah di Syurga sayang." jawabnya sembari menunjukkan senyum agar sedih ketika kembali teringat tentang Nadia, tidak di lihat oleh putranya.
Alfaraz tidak lagi bertanya, sepertinya bocah laki-laki itu mengerti, jika Mamanya memang tidak lagi bersama mereka.
Melihat dua laki-lkai berbeda usia namun memliki tempat yang sama di hatinya, Farah bergegas menghampiri. Mengulurkan tangannya pada Alfaraz, dan di sambut dengan antusias oleh bocah menggemaskan itu.
"Al duduk sini, Bunda mau ambil makanan Al dulu." Ucap Farah sembari mendudukkan putranya di kursi yang di sediakan khusus untuk Alfaraz.
Suapan demi suapan, di sertai celotehan menggemaskan dari bibir Al, membuat Farah tidak henti-hentinya tersenyum. Ia menanggapi dengan antusias setiap pertanyaan yang terlontar dari bibir mungil putra nya.
Sama halnya dengan Zidan, laki-laki tampan itu terus menerus tersenyum melihat pemandangan yang begitu takut ia impikan selama ini. Pemandangan yang membuat dadanya membuncah. Farah dan putra mereka, dua orang yang begitu ia cintai namun ia lukai.
Usai makan malam yang begitu hangat, keluarga kecil itu berpindah ke ruang keluarga. Memberikan ruang pada asisten rumah tangga untuk membersihkan meja makan yang baru saja mereka gunakan.
*****
"Harusnya kita berterimakasih pada keluarga mereka, karena sudah berbaik hati menerima Nadia." Ucap Yuna.
Tatapan penuh kecewa yang tadi tertuju pada Nina, kini sudah beralih pada Rita. Gadis yang berniat di gunakan oleh kakaknya untuk merubah keluarga kecil menantunya ini di tatapnya tajam.
"Tahu apa kamu tentang kehidupan Nadia hingga begitu berani menyimpulkan jika Nadia terluka selama ini ?" Kesal Yuna.
Angga hanya bisa mengelus pundak sang istri, memberikan sedikit ketengan agar tidak terbawa dengan emosi.
"Jangan buat putriku tersiksa di sana karena ke egoisan kalian." Tekan Yuna lagi. Ia menatap Nina yang terlihat biasa saja dengan kecewa.
__ADS_1
"Dan kamu, jika memang berniat ingin merusak rumah tangga orang lain, jangan membawa-bawa nama putriku sebagai alasan." Tegas Yuna pada gadis yang masih berkerabat jauh dengan mereka ini.
Gadis itu semakin tertunduk dalam. Yah, memang tidak bisa dia pungkiri, melihat wajah tampan Zidan tadi membuat hatinya berdesir. Bahkan dalam benaknya ia rela menjadi wanita yang ke sekian dalam hidup laki-laki itu, jika Zidan bersedia melakukannya.
"Nina, aku tahu kamu kecewa dengan semua ini. Kami pun sama kecewanya saat Nadia meminta Zidan menikahi wanita lain. Tapi lihatlah sisi baiknya, Nadia pergi dengan hati yang bahagia. Ia mendapatkan cinta yang banyak dari keluarga Dimas, bahkan anak yang di lahir kan Farah pun begitu menyayangi nya." Ujar Angga memberi pengertian.
Ia benar-benar menyaksikan, jika putrinya menerima cinta yang begitu banyak selama ini. Bahkan Nadia hanya mengeluhkan sikap Zidan yang tidak adil terhadap istri keduanya. Angga benar-benar berhutang banyak terimakasih pada keluarga itu, karena masih memberikan kesempatan pada putrinya untuk merasakan bagaimana rasanya memiliki kelurga kecil yang bahagia, sebelum batas akhir isinya datang.
Di ruang keluarga, Indra yang baru mengetahui apa yang di lakukan istrinya hari ini, ikut menatap istrinya dengan kecewa. Entah kemana perginya Nina yang dulu begitu menyayangi Anisa. Wanita yang ia nikahi puluhan tahun ini, benar-benar semakin keterlaluan saat Zidan memutuskan menyetujui permintaan Nadia untuk menikahi Farah.
"Sudahlah, biarkan Zidan bahagia bersama Farah. Biarkan Farah meneruskan tanggung jawab Nadia dengan tenang Kak, itu akan semakin mempermudah perjalanan Nadia. Ia akan tenang karena sudah meninggalkan laki-laki yang ia cintai pada orang yang tepat." Ucap Yuna memelas.
"Maafkan aku." Ucap Nina. "Aku hanya terlalu kecewa dengan Anisa dan Nadia karena begitu mencintai dua laki-laki yang tidak setia." Sambungnya.
"Baik buruknya Dimas dan Zidan, hanya Nadia dan Kak Anisa yang tahu Kak. Kita tidak menyaksikan kehidupan mereka dari dekat, jadi kita pun tidak bisa mengambil kesimpulan jika mereka menderita selama ini. Aku lihat Kak Anisa bahagia bersama Kak Dimas, begitupun dengan Nadia." Ujar Yuna.
"Kak Anisa memilih kembali dengan Kak Dimas, karena dia tahu, aku mencintai Kak Angga." Ujar Yuna menegaskan, jika selama ini yang membuat sang Kakak kecewa, justru memberikan bahagia untuknya.
"Aku jujur sama Kak Nisa, kalau aku mencintai Kak Angga. Untuk itu Kak Nisa terus menolak saat Kak Angga menawarkan diri menjadi imam juga Ayah sambung untuk Zia." Ujar Yuna lagi.
Nina menatap sendu adiknya, yah benar kata Yuna, tidak seharusnya ia bersikap seperti ini pada sahabatnya sendiri yang sudah memberikan kebahagiaan untuk adiknya.
Jika di pikir-pikir kurang apa Angga hingga Anisa terus menolaknya duku, namun setelah mendengar kalimat yang terlontar dari adiknya hari ini, ia menyadari jika Anisa mementingkan kebahagiaan Yuna. Ia memilih menolak Angga, agar cinta adiknya terbalas.
"Temui dan minta maaf pada Kak Anisa, jangan hanya karena pemikiran yang tidak logis itu membuat persahabatan kalian yang sudah puluhan tahun lamanya terjalin menjadi renggang." Ujar Yuna.
__ADS_1
Takdir setiap manusia sudah tertulis rapi di Lauh Mahfuz, dan tidak ad satu manusia pun yang bisa merubah itu. Takdir dengan siapa kita hidup dan menghabiskan waktu hingga nanti, takdir maut yang bersiap datang menjemput, juga takdir berupa rezeki, sudah di tentukan olehNya. Dan tidak ada satu manusia pun yang bisa merubahnya. Manusia hanya di tugaskan untuk menjalani, bukan menentukan.