Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 52


__ADS_3

"Ra.."


Suara Zidan mengalihkan Farah dari bingkai foto yang kembali membuat dadanya berdenyut nyeri. Tidak ada yang berubah, sejak dulu dirinya hanyalah sebatas wanita kedua laki-laki yang begitu ia cintai, tidak lebih.


Farah menatap laki-laki yang kini melangkah menuju ke arahnya. Wajah pucat Zidan ia tatap dengan begitu lekat, lalu beralih pada tubuh yang sebulan lalu masih terlihat gagah, kini terlihat kurus. Di tambah lagi, cekungan di mata yang menghitam itu, terlihat semakin mengenaskan.


"Kamu pulang ?" Tanya Zidan.


Farah masih diam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena saat ini, ia masih belum memutuskan. Apakah hari ini hanya sekedar datang, ataukah memang pulang dan menetap di sini.


"Aku rindu." Ucap Zidan lagi.


"Lalu kenapa tidak pernah datang ?" Tanya Farah.


Ah ingatkan dirinya untuk memukul mulut bodohnya setelah ini. Apalagi kini melihat Zidan yang terlihat menatapnya penuh binar.


"Aku takut jika aku datang ke Jogja, kamu akan semakin menjauh." Lirih Zidan.


"Ra, ayo kita mulai semuanya dari awal lagi." Ajak Zidan. Lelaki itu sudah duduk bersimpuh di depan Farah. Tangannya hendak meraih tangan Farah, namun, kembali ia urungkan.


"Kita pindah dari sini." Sambung Zidan. "Hanya ada aku, kamu dan Alfaraz."


Farah terkejut, tentu saja. Bagaimana bisa Zidan berpikir untuk pindah, saat ia belum memutuskan apa yang harus ia lakukan di sini.


"Aku...


"Ku mohon, kali ini saja. Tolong tetaplah bersamaku Ra." Ucap Zidan memohon bahkan kalimat Farah belum selesai wanita itu utarakan.


"Mas, ada banyak hal yang sudah terjadi. Tidak semudah itu memulai semuanya. Aku takut akan kembali terluka." Ucap Farah akhirnya.


"Aku tidak ingin kejadian yang bertahun-tahun menggerogoti jiwaku akan terus terulang. Datang dan mengambil hak kamu sesuka hati di tengah malam itu, tidak bisa aku benarkan meskipun kamu berhak melakukannya." Ujar Farah lagi.


Zidan medik nafasnya yang semakin tersa berat. Pening di kepalnya masih begitu terasa. Dadanya perih karena seharian harus dipaksa memuntahkan semua cairan yang tersisa di dalam perutnya.


"Malam itu di luar kendaliku Ra. Aku salah karena tidak berhati-hati dan akhirnya kembali melukaimu." Jelas Zidan.

__ADS_1


"Beri aku waktu untuk memikirkannya." Putus Farah.


"Tapi tetaplah di sini bersama Al, jika kamu tidak nyaman dengan keberadaan ku, untuk sementara aku akan tinggal di rumah Ibu." Pinta Zidan.


Farah mengangguk.


Karena tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan, Farah berpamitan pada laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya itu untuk memandikan Al, dan berisitirahat sebentar.


Zidan mengangguk, sembari meminta maaf karena sejak tadi masih menahan Farah di ruangan ini, padahal wanitanya itu baru saja sampai dari luar kota.


***


Farah membuka pintu kamar putranya dengan perlahan. Terlihat Ibu mertuanya sedang merapikan beberapa barang ke dalam tas kecil yang ada di atas ranjang putranya.


"Ibu mau pulang ?" Tanya Farah.


Anisa tersenyum, kemudian mengangguk mengiyakan pertanyaan dari menantunya.


"Kamu sudah di sini untuk menemani Al, jadi ibu harus pulang untuk menemani kakeknya Al yang terus merengek." Ucap Anisa sembari terkekeh.


"Unda mandi ?" Tanya Al saat Bundanya mulai melepaskan pakaian yang menempel di tubuh mungilnya


"Yah Al harus mandi, bau ini." Jawab Farah lalu mencium tubuh putranya dengan gemas, membuat Al tertawa geli sambil mendorong kepala sang Bunda agr menjauh dari perutnya.


Anisa ikut tersenyum melihat pemandangan menenangkan di hadapannya.


"Jadi gimana pembicaraannya Ra ?" Tanya Anisa.


Farah mengehentikan kegiatannya yang sedang menggelitik perut Al, lalu menatap wajah cantik ibu mertuanya yang mulai menua itu dengan lekat.


"Masih belum jelas Bu. Nanti kami akan membicarakannya lagi." Jawab Farah.


"Ra, mau Ibu kasih saran ?" Tanya Anisa.


Farah mengangguk.

__ADS_1


"Jika memang menurutmu Zidan tidak lagi pantas untuk menjadi imam mu, bisakah kamu membawa Al bersama mu. Bukan karena Ibu tidak mau menjaganya, tapi Al selalu merindukanmu. Zidan bisa kapan saja datang mengunjungi Al di Jogja, jadi itu tidak akan terlalu membuat Al rindu, tapi jika Al di Jakarta Ibu yakin kamu ngga akan datang melihatnya." Ucap Anisa.


"Aku Ibu yang jahat ya Bu." Lirih Farah.


Anisa bangkit dari atas Anjang cucunya lalu melangkah mendekati menantunya yang sedang bersimpuh di depan cucunya.


"Kamu berhak melakukannya, bahkan lebih dari ini pun Ibu masih memakluminya. Karena Ibu tahu, sedalam apa kesakitan yang kami berikan padamu selama ini." Ucap Anisa.


"Maafkan kami. Maafkan Ibu dan Ayah yang seakan menutup mata dengan luka mu selama ini. Maafkan Nadia yang ikut andil membuatmu terluka selama empat tahun lamanya. Maafkan kami semua." Ucap Anisa.


Anisa membawa Farah ke dalam dekapan, lalu mengusap punggung menantunya dengan lembut.


****


Farah sudah berbaring di samping Alfaraz, setelah mengantar kepergian Ibu mertuanya yang di jemput oleh sopir. Anak lelakinya ini masih setia memeluk tubuhnya, sembari mendengarkan dengan seksama cerita yang sedang ia bacakan. Sesekali bibir mungil Al bertanya sesuatu yang bisa ia tangkap dari cerita yang sedang Bundanya bacakan.


Setelah memastikan Al sudah terlelap, Farah perlahan keluar dari ranjang. Namun, saat tubuhnya bergerak, tangan mungil itu semakin mengeratkan genggamannya di piyama Farah.


Karena melihat Al yang tidak ingin di tinggalkan, Farah memutuskan untuk menunda pembicaraannya dengan Zidan yang belum berlanjut sore tadi.


"Maaf ya, seharusnya Bunda membawamu pergi juga dan tidak meninggalkan Al sendirian di sini." Gumam Farah.


Bibirnya berulang kali mengecup puncak kepala putranya dengan sayang. Lalu membawa tubuh Alfaraz kedalam dekapan, dan memeluknya erat.


"Bunda akan ada di sini, bersama Al dan Papa." Gumamnya, bersamaan dengan netra nya yang mulai tertutup perlahan. Yah, ia pun lelah dan membutuhkan waktu untuk beristirahat.


Pindah dari rumah peninggalan Nadia, dan memulai kehidupan yang baru dari awal lagi bukanlah ide yang buruk. Dan Zidan sudah menawarkan hal itu padanya. Tinggal di empat yang hanya miliknya sendiri, dan tidak perlu berbagi tempat dengan orang lain. Katakan dirinya egois dan serakah, namun, inilah seorang Farah.


Empat tahun ia menjalani hidup yang di wajibkan ikhlas dalam berbagi semu hal dengan wanita lain, dan itu sangat tidak menyenangkan.


Tidak ada yang benar-benar ikhlas dalam berbagi cinta. Mungkin saja Nadia hanyalah wanita yang terlalu pintar dalam membawa diri, sehingga tidak pernah nampak terlihat keberatan saat Zidan berhasil membuat dirinya mengandung Alfaraz.


Berbeda dengan dirinya yang terlalu nampak jika tidak menyukai sesuatu, sehingga selalu menciptakan masalah dalam rumah tangga. Kecemburuan yang selalu nampak terlihat, membuat ia tersadar jika dirinya tidak bisa benar-benar ikhlas dalam berbagi. Bahkan saat melihat foto pernikahan Zidan dan Nadia yang masih terpasang di rumah ini, sudah membuat hatinya kembali berdenyut.


Ingin kembali bersama, maka harus memulai semuanya dari awal lagi. Memulai semua dari rumah yang hanya dirinya sebagai ratu di dalamnya.

__ADS_1


__ADS_2