Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 24


__ADS_3

"Ra." Panggil Zidan sambil menyentuh punggung tangan istrinya.


Farah yang begitu larut dengan pikirannya sendiri, seketika tersentak. Di tatapnya tangan yang kini menyentuh punggung tangannya, kemudian beralih pada wajah tampan sang pemilik tangan.


Bibirnya masih tertutup rapat, menunggu apa yang ingin di utarakan oleh laki-laki yang juga menatapnya dengan begitu lekat ini.


"Apa yang sedang kamu pikirkan ?" Tanya Zidan.


Farah mengalihkan tatapannya dari wajah yang selalu saja membuat ia berdebar.


"Aku teringat saat pertama kali bertemu Mbak Nadia. Kami baru dua hari saling mengenal, namun dia langsung memintaku menikah dengan suaminya." Jelas Farah. "Aku bingung, jika Mas tidak menginginkan ku, mengapa tidak menolak permintaan Mbak Nadia waktu itu ?" Tanya Farah.


Zidan mengeratkan genggaman di punggung tangan istrinya.


"Aku menolaknya, namun saat pertama kali kembali melihatmu di restoran waktu itu, aku begitu ingin memiliki mu." Ucap Zidan.


Pikirannya kembali menerawang jauh, saat Nadia meminta dirinya untuk menikah lagi dengan seorang gadis.


*Flash back


Makan malam keluarga yang hangat kini menjadi begitu tegang. Suara meninggi yang keluar dari mulut Zidan yang belum pernah terdengar sepanjang usia pernikahan mereka, seketika membuat ruang keluarga itu hening.


Nadia pun sudah menunduk dalam, setelah melemparkan kalimat permintaan yang terasa begitu mustahil untuk di wujudkan.


"Poligami tidak akan semudah itu nak." Ucap Anisa sambil mengusap lembut punggung menantunya.


"Aku ingin menjadi seorang Ibu, Bu." Lirih Nadia dengan isakkan tertahan di bibirnya.


"Kita bisa mengadopsi anak Nad, jangan menempuh jalan yang sulit seperti ini." Bujuk Zidan. Kali ini suaranya sudah kembali lembut, sungguh dia begitu merasa bersalah karena sudah membentak istrinya.


"Zi dia gadis yang baik." Mohon Nadia.


Zidan menggeleng, lalu memeluk tubuh Nadia dengan begitu erat. Wanita yang setia menemaninya selama hampir enam tahun itu, di rengkuhnya dengan sangat erat ke dalam dekapannya.


"Bantu aku mewujudkan impian kita sebelum hari itu tiba." Ucap Nadia, namun Zidan lagi-lagi menggeleng.


"Lakukan keinginannya Zidan." Ucap Angga pada menantunya setelah sejak tadi bungkam.


"Tidak ! Jangan melakukannya." Tegas Dimas. Dia tahu rasanya menjalani pernikahan yang seperti itu, dan dia tidak ingin putranya kembali mengulang kesalahan yang pernah dia lakukan di msa lalu


"Zidan hanya perlu adil." Ucap Angga.


Baginya tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain putri semata wayangnya. Dan memenuhi samua keinginan Nadia sebelum putrinya pergi untuk selamanya adalah prioritas utamanya sekarang. Toh dalam agama tidak ada larangan memiliki lebih dari satu orang istri.


"Dan tidak ada yang benar-benar adil dalam rumah tangga poligami Angga." Ucap Anisa tegas.


"Bu, dia gadis yang baik. Dan aku rasa aku menyayanginya dan kalian pun akan menyayanginya nanti." Bujuk Nadia.

__ADS_1


"Nad...


"Zi kali ini saja, penuhi keinginan aku hm." Mohon Nadia.


"Mintalah apapun, tapi jangan minta hal yang nantinya membuat kamu terluka. Sungguh aku tidak akan sanggup melakukannya." Ucap Zidan tegas.


"Maka jangan buat aku terluka. Cintai aku dan dia juga." Nadia masih saja berusaha membujuk suaminya.


****


Restoran private mewah sudah di reservasi oleh Nadia. Dan kini dokter cantik itu sedang menunggu sang suami untuk datang menjemputnya menuju tempat mereka berjanji untuk bertemu Farah.


Dengan deraian air mata juga bujukan dan permohonan, akhirnya Nadia bisa meyakinkan Zidan dan ke dua orang tua mereka jika gagasannya ini tidak akan melukai siapapun termasuk dirinya sendiri.


Dia bahagia bisa membagi cinta yang seharusnya bukan miliknya ini. Cinta yang memang sejak dulu milik Farah, bukankah wajib dia kembalikan setelah dia sudah begitu beruntung di beri kesempatan untuk merasakannya.


Mobil berwarna silver dengan salah satu merk termahal sudah terparkir di depan rumah sakit. Senyum manis kini terlihat di bibirnya saat melihat wajah tampan milik suaminya sedang menatap hangat ke arahnya sambil melambaikan tangan.


Nadia masuk ke dalam mobil, dan setelah memastikan istrinya sudah mengenakan sabuk pengaman dan duduk dengan nyaman, Zidan kembali melajukan mobil dengan harga fantastis itu menuju tempat yang sudah di beritahu Nadia pagi ini.


***


Seorang yang masih berada di dalam taksi, sedang di landa gugup tingkat kronis. Keringat mulai bercucuran melalui telapak tangannya. Blezer berwarna senada dengan celana panjang berbahan kain sudah dia lepas dari tubuhnya karena dia merasa begitu gerah padahal pendingin udara di dalam mobil sedang menyala.


Sekitar 30 menit waktu yang dia habiskan di dalam taksi ini. Dia sengaja datang lebih cepat dari waktu yang mereka janjikan agar bisa mempersiapkan dirinya terlebih dahulu. Sungguh dia ingin melihat laki-laki itu terlebih dahulu agar setelah bertemu di dalam restoran nanti dia tidak akan terlalu gugup.


Deg...


Farah menekan dadanya, mengurangi detakan jantung yang tidak beraturan di dadanya saat melihat laki-laki yang dulu sempat membuatnya berdebar keluar dari dalam mobil mewah yang tidak jauh dari taksi yang membawanya berhenti.


Sepasang suami istri yang terlihat begitu serasi sudah memasuki restoran yang menjadi tempat pertemuan mereka hari ini.


Sejenak keraguan kembali menyapanya. Kakinya terasa enggan untuk keluar dari dalam taksi yang mengantarnya. Sudah benarkah yang dia lakukan hari ini ? Entahlah sampai hari ini dia hanya terus mengikuti kata hatinya saja.


Farah kembali mengenakan blazer berwarna dongker yang dia lepas tadi lalu memaksakan kakinya keluar dari dalam mobil menuju restoran, setelah membayar taksi juga waktu yang sudah di habiskan untuk menunggunya.


Saat memasuki tempat makan yang sedang ramai oleh pengunjung, Farah melihat sekeliling namun tidak mendapati sepasang suami istri itu di sana.


****


Di dalam sala satu ruangan private, Nadia meorgo ponselnya yang bergetar. Senyum manis terlihat di wajahnya saat dia melihat siapa yang menghubunginya siang ini.


"Minta pelayan restoran yang mengantarmu, bilang saja reservasi atas nama mbak ya." Ucap Nadia di benda pipih yang menempel di telinga dan pipinya.


Zidan berdecak melihat binar bahagia di wajah istrinya. Sungguh sampai hari ini dia masih tidak mengerti dengan wanita yang sudah enam tahun ini menemaninya. Sebaik apapun seorang wanita, pantang baginya untuk berbagi suami dengan wanita lain, namun kini istrinya justru terlihat begitu bahagia saat ingin memperkenalkan dirinya dengan wanita lain.


"Kamu terlihat begitu bahagia rupanya." Sindir Zidan.

__ADS_1


Nadia tersenyum manis ke arah sang suami yang sedang menatap garang padanya.


"Percaya padaku Zi, kita pasti akan bahagia. Aku, kamu dan dia." Ucapnya yakin.


"Sebenarnya siapa sih gadis itu ?" Tanya Zidan.


"Nanti kamu juga akan tahu." Jawab Nadia. "Ah itu mungkin dia sudah sampai." Sambungnya saat mendengar samar-samar percakapan dari depan pintu ruangan yang tertutup rapat.


"Nad..


"Zi ku mohon, jangan mengacaukan hari ini. Kamu tahu begitu sulit aku membujuknya agar menerima tawaran ku ini." Mohon Nadia.


Zidan kembali berdecak kesal.


"Assalamualaikum."


Zidan tidak menoleh, tubuhnya membatu. Suara lembut ini masih begitu lekat di ingatannnya. Tapi bagaimana bisa.


"Waalaikumsalam Ra, ayo sini masuk." Ajak Nadia.


Zidan masih bergeming, kali ini tidak hanya suaranya yang terasa tersendat di tenggorokan, dunianya seakan berhenti berputar saat melihat gadis yang dia gilai dulu, kini duduk di depannya.


"Kenalin Zi, ini gadis yang aku ceritakan pada mu." Ucap Nadia.


"Zi...


"Iya Nad."


"Kenalin ini gadis yang aku ceritakan itu, namanya Farah." Ucap Nadia lagi.


"Nad..." Lirih Zidan menatap lembut ke arah istrinya.


Nadia menatap Zidan penuh permohonan agar tidak mengacaukan hari ini.


"Ra, kenalkan ini Mas Zidan." Ucap Nadia.


Farah yang sejak memasuki ruangan ini hanya bisa menunduk dalam kini mengangkat wajahnya. Zidan menatap wajah cantik itu dengan tatapan sendunya. Bagaimana bisa ? mengapa takdir rasanya se jahat ini padanya ?


"Kami sudah saling kenal mbak." Ucap Farah pelan.


Dia tidak ingin berbohong dan berpura-pura tidak saling mengenal.


"Mas Zidan wakil direktur di perusahaan tempat aku magang dulu waktu masih menjadi mahasiswi tingkat akhir." Sambung Farah.


"Baiklah jika begitu, sepertinya acara untuk saling mengenal tidak perlu di lakukan lagi dan kita langsung membicarakan apa yang menjadi tujuan kita untuk bertemu hari ini usai makan siang." Ujar Nadia.


Farah mengangguk, karena memang dia tidak ingin berlama-lama disini. Tatapan dingin yang Zidan arahkan padanya begitu mengintimidasi. Semoga laki-laki yang kini mulai menikmati makanan di hadapannya menolak permintaan istrinya, agar cerita ini tidak perlu berlanjut lagi.

__ADS_1


__ADS_2