Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 126 Season 2


__ADS_3

"Harusnya apa-apa itu di bicarakan dengan ku dulu." Ujar Alfaraz kecewa.


Yana mengerinyit, ia tidak mengerti apa maksud kalimat Alfaraz.


"Maksud kamu ?" Tanyanya.


"Hal sebesar ini harusnya kamu bicarakan sama aku dulu. Aku akan mendukung apapun yang menurut mu baik, tapi tetap harus bicarakan lebih dulu." Ujar Alfaraz masih menatap istrinya dengan raut wajah kecewa.


"Nanti kita bicarakan lagi, ayo turun Ibu sudah menunggu di lobi." Ajaknya.


"Al...


Yana menahan tangan Alfaraz.


"Nanti kita bicarakan lagi, Ibu sudah menunggu." Kali ini kalimatnya sudah jauh lebih lembut, meskipun tatapannya masih terlihat kecewa.


Yana menarik nafasnya, lalu mengangguk. Biarlah, ia akan menjelaskan kesalahan pahaman ini nanti.


Keduanya lantas melangkah keluar dari dalam kamar, dan turun menuju lobi hotel di mana Ibu Dinda sedang menunggu.


Hening mengambil alih, Yana merutuki dirinya sendiri yang tidak lebih dulu menjelaskan tentang alat kontrasepsi yang masih terpasang di lengannya.


Di alam lift pun terasa begitu sunyi. Sikap jail Yana yang biasanya mampu membuat Alfaraz mengomel kesal, kini tidak lagi ada. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Wajah menggemaskan Alfaraz yang biasanya ia lihat, kini berganti wajah serius menakutkan.


"Al...


Ting...


Bunyi dentingan lift kembali menahan kalimat Yana yang ingin sekali keluar dari mulutnya. Ia melihat tangannya yang di raih dan di genggam erat oleh suaminya. Hatinya kembali merasa tenang, setidaknya Alfaraz masih tetap bersikap sebaik ini padanya.


"Aku bilang apa, ibu sudah menunggu." Ujar Alfaraz.


Yana tidak menanggapi, ia ikut keluar dari dalam lift sambil memasang wajah bahagianya. Yah dia memang benar-benar bahagia hari ini terlebih melihat senyum hangat dengan binar bahagia sang Ibu di ujung sana.


Alfaraz masih belum melepaskan tangan Yana, ia melangkah sambil menggenggam tangan istrinya itu menuju Ibu mertuanya sedang menunggu.


"Ibu sudah menunggu lama ya." Ujar Alfaraz saat keduanya sudah berada di samping Ibu Dinda.


"Enggak kok. Seharusnya ngga perlu anterin Ibu, kan ada banyak taksi." Jawab Dinda.


"Ngga apa-apa Bu, Al juga rindu." Godanya.


"Nanti Yana cemburu loh." Jawab Ibu Dinda sambil terkekeh.


Yana cemberut, jika sedang bersama ibunya seperti ini, pasti dirinya yang akan di kerjai habis-habisan.


"Bunda dan Papa kok ngga keliatan ?" Tanya Yana saat melihat sekeliling lobi dan tidak mendapati dua orang paruh baya itu di sana.

__ADS_1


"Bunda dan Papa sudah pulang lebih dulu. Adelia ada keperluan mendesak di kantornya." Jawab Alfaraz.


Yana mengangguk mengerti.


"Ayo." Ajak Alfaraz masih sambil menggenggam tangan istrinya, lalu melangkah menuju mobil.


Mobil mewah milik Alfaraz mulai melaju di jalanan yang lumayan padat. Lelaki itu masih berkonsentrasi dengan kemudi, tapi hatinya masih di penuhi banyak pertanyaan mengapa Yana memasang alat kontrasepsi tanpa sepengetahuannya.


"Ibu sudah sarapan ?" Tanya Yana.


"Sudah tadi sama Bunda dan Papa mertua kamu."


"Kamu lapar ?" Tanya Alfaraz.


Yana mengangguk.


"Kalian cari makan aja, Ibu akan naik taksi ke rumah." Ujar Dinda.


"Ngga apa-apa Bu, Yana masih kuat kok." Ucap Yana.


"Ini tidak akan lama, sebentar lagi sampai." Ujar Alfaraz.


***


Setelah memastikan ibu mertuanya sudah masuk ke dalam rumah, Alfaraz kembali melajukan mobilnya menuju restoran untuk mengajak Yana sarapan.


Alfaraz terkejut, ia mencari tempat yang bisa ia gunakan untuk memarkirkan mobilnya.


"Kok bisa ? Kamu ngga pengen punya anak ?" Tanya Alfaraz setelah mobilnya berhenti di sisi jalan dekat taman kota.


"Mana ada wanita yang tidak ingin menjadi seorang ibu. Hanya saja keadaan harus seperti itu dulu. Aku dan Reno ngga seberuntung kamu. Kami sama-sama di besarkan oleh seorang ibu tunggal dan ini keputusan kami bersama saat itu." Jelas Yana.


"Lalu mengapa kalian menikah jika masih belum siap menjadi orang tua ?" Tanya Alfaraz.


"Bukan tidak siap Al. Tapi kami hanya mendahulukan sesuatu yang menurut kami penting, yaitu kebahagiaan dua wanita hebat yang sudah membesar kami. Sebenarnya aku sudah berencana untuk melepasnya, saat rumah impian kami selesai. Tapi semua tidak berjalan sesuai rencana ku, Reno sudah memiliki anak dari istrinya yang lain."


"Hei maafkan aku." Ucap Alfaraz cepat. Ia tahu sesuatu yang menyakitkan di masa lalu, akan lebih baik untuk di simpan rapat-rapat. Namun, hari ini ia membuat Yana mengeluarkan apa yang selama ini sedang berusaha di lupakan oleh istrinya ini.


"Ngga apa-apa. Aku sudah jauh lebih baik hari ini. Maaf aku pun tidak tahu jika hubungan kita akan sampai ke tahap ini dalam waktu singkat. Kita bisa berkonsultasi ke dokter kok, jangan terlalu khawatir." Jawab Yana.


"Sungguh maafkan aku." Ucap Alfaraz lagi. Ia sangat merasa bersalah karena sudah kecewa dengan sesuatu yang belum ia tahu kejelasannya.


"Ngga apa-apa, ayo jalan aku lapar. Mau punya banyak anak kan, berarti harus siap memberiku makan yang banyak juga. Membuat anak butuh tenaga loh." Ujar Yana sambil tersenyum jail.


"Mulai lagi wajah mengesalkan itu." Ujar Alfaraz.


Senyum hangat kembali terlihat di bibir tipisnya, terlebih saat senyum manis yang kini menjadi kesukaannya sudah terlihat di wajah istrinya.

__ADS_1


"Rumah impian kamu seperti apa ?" Tanya Alfaraz sambil kembali melajukan mobilnya mencari restoran terdekat.


Yana menggeleng.


"Aku tidak lagi menginginkan banyak hal. Tinggal di mana saja yang penting dengan orang yang aku inginkan sudah cukup bagiku." Jawab Yana.


"Terus rumah kalian siapa yang nempatin ?" Tanya Alfaraz.


"Aku menjualnya. Meskipun rumah itu adalah rumah impian kami sejak dulu, tapi aku membangun rumah itu dengan uangku sendiri." Jawab Yana. "Sudah ah jangan membahasnya lagi." Sambungnya.


"Maaf.." Ucap Alfaraz.


Cup...


"Jangan meminta maaf lagi." Ujar Yana setelah mendaratkan satu kecupan di sudut bibir Alfaraz.


"Nakal yaa." Ucap Alfaraz.


"Aku nakal banget loh."


"Ngomong aja yang nakal, tapi buktinya ketakutan di ranjang." Ledek Alfaraz.


Wajah Yana memerah, ingatannya kembali terisi aktivitas panas mereka semalam.


"Itu karena kamu aja yang buru-buru banget. Aku kan belum siap."


Alfaraz hanya tertawa menanggapi kalimat kesal istrinya.


"Entar malam sudah siap kan ?" Tanyanya.


"Sudah kok, sekarang pun aku siap. Ayo isi tenaga aku dulu." Jawab Yana.


"Dasar mesum."


Yana tertawa geli melihat wajah suaminya yang kesal karena tidak berhasil mengalahkan nya.


"Kok ke hotel, katanya mau ngajak aku makan."


"Makan di kamar aja, biar tenaganya masih full langsung di pake."


"Ayo siapa takut." Ucap Yana penuh semangat, lalu keluar dari dalam mobil dan melangkah masuk ke dalam hotel sambil menggenggam tangan Alfaraz.


Senyum hangat Alfaraz seketika memudar saat mereka sudah masuk ke dalam hotel. Ia menghentikan langkahnya, dan menarik Yana agar semakin dekat dengan tubuhnya, lalu menatap dingin wanita yang terlihat berantakan yang tidak jauh dari hadapannya.


Tidak jauh berbeda dengan Yana. Wanita itu pun terkejut melihat sosok wanita yang selalu terlihat anggun dan cantik, kini terlihat begitu mengenaskan tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Nara ?" Gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2