Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 128 Season 2


__ADS_3

Bunyi ketukan pintu dari layanan hotel menghentikan aktifitas setengah jalan di atas sofa mewah yang ada di dalam kamar pengantin baru.


Alfaraz berdecak kesal. Sebelum beranjak dari sofa mewah itu, ia terlebih dulu merapikan dress Yana yang sudah berantakan karena ulahnya. Beberapa kancing yang sudah tidak terpasang, ia pasangkan kembali, sambil mencuri-curi kecupan di atas kulit yang terlihat menggoda itu.


"Nanti kita lanjutkan lagi." Kecupnya di pipi Yana yang sudah se merah tomat, lalu melangkah menuju pintu kamar.


Yana kembali duduk dengan benar di atas sofa, sambil merapikan rambut panjangnya yang sudah berantakan. Dadanya masih berdebar, pipinya masih memanas karena ulah Alfaraz.


Entah kemana perginya sikap pemalu suaminya yang beberapa bulan ini selalu membuatnya gemas. Belum dua hari menikah, lelaki itu sudah seperti maniak yang tidak pernah puas menggerayangi tubuhnya.


"Tidak masalah biar saya yang membawanya ke dalam kamar." Ujar Alfaraz pada pelayan hotel yang datang membawakan sarapan untuk Yana.


Setelah menutup pintu kamar, Alfaraz mendorong stand trolley menuju sofa di mana istrinya berada.


"Biar aku aja." Cegah Yana saat Alfaraz hendak menyiapkan makanan yang baru saja ia ambil dari pelayan hotel.


Alfaraz mengangguk, lalu duduk kembali di atas sofa setelah mengecup pipi istrinya yang masih saja memerah.


Beberapa menu sudah terhidang di meja sofa, Yana lantas ikut duduk di samping Alfaraz dan memulai sarapannya. Sejak tadi perutnya terus saja berdemo meminta untuk di isi. Alfaraz pun ikut menikmati sarapan mereka yang sudah tertunda itu dengan lahap.


"Sore nanti setelah pulang dari rumah sakit, aku akan ajak kamu ke suatu tempat." Ujar Alfaraz setelah mereka menyelesaikan sarapan.


"Rumah sakit ?" Tanya Yana. Ia mengehentikan pekerjaannya yang sedang memindahkan kembali piring bekas sarapan ke atas meja trolley.


"Kita ke rumah sakit Kak Kean. Teman dekatnya seorang dokter kandungan." Jawab Alfaraz.


Yana mengangguk patuh, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Setelah semua piring bekas yang ada di atas meja sofa sudah berpindah ke atas trolley, Yana mendorong stand trolley itu keluar dari dalam kamar


"Mau kemana ?" Tanya Alfaraz saat melihat Yana melangkah melewati sofa tempat ia duduk, setelah mengeluarkan trolley berisi piring bekas mereka dari dalam kamar.


"Ke kamar mandi, tangan aku kotor." Jawab Yana.


Alfaraz mengangguk, tatapannya masih mengikuti tubuh istrinya yang menghilang di balik pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat.


Beberapa menit telah berlalu, namun, wanita yang katanya ingin mencuci tangan itu masih belum juga menampakkan diri. Karena tidak sabar lagi menunggu, Alfaraz segera beranjak dari sofa tempat ia duduk, lalu melangkah menuju pintu kecil yang masih tertutup rapat.

__ADS_1


Ketukan pintu kamar mandi terdengar, Yana membuka pintu kamar mandi dengan busa sabun di tangannya.


"Kenapa ?" Tanya Yana heran.


"Cuci tangan kok lama banget sih." Alfaraz mendorong pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, lalu melangkah masuk ke dalam.


"Ah maaf, kamu mau pake kamar mandi juga ya." Yana melangkah cepat menuju wastafel untuk membilas busa sabun yang masih melekat di tangannya.


"Al..." Teriaknya saat tubuhnya sudah terduduk di atas tempat kosong di samping wastafel.


"Mau mau pakai orangnya bukan kamar mandinya." Ujar Alfaraz.


"Al tangan aku masih berbusa." Pipinya semakin memerah, di sertai irama jantung yang semakin menggila.


"Sudah bersih." Jawab Alfaraz.


"Okeh kita ke kamar aja." Ucap Yana mengalah.


"Sepertinya suasana baru lebih baik."


Dress selutut yang melekat di tubuhnya sudah teronggok begitu saja di atas lantai kamar mandi. Air shower masih terus mengucur membasahi keduanya. Kamar mandi mewah yang seharusnya di gunakan untuk membersihkan diri, kini sudah bertambah kegunaannya.


***


Yana sudah kembali terlelap di atas ranjang. Seakan tidak puas di dalam kamar mandi, suaminya kembali melanjutkan aktivitas panas itu di atas ranjang mewah hingga membuatnya kelelahan.


Ketukan di pintu kamar membuat Yana menggeliat, tapi tidak sampai terjaga. Alfaraz yang sudah sibuk dengan benda lipat di atas pangkuannya, kembali melangkah menuju ranjang lalu menarik selimut putih yang menutupi tubuh polos istrinnya, agar tidak terlihat seinci pun. Setelah memastikan tubuh Yana sudah tertutup rapat, ia lantas melangkah menuju pintu dan membukanya.


"Ini pesanan Bapak." Mia mengulurkan satu paper bag kecil ke arah atasannya.


"Terimakasih Mia, maaf merepotkan mu."


"Tidak masalah Pak, selamat beristirahat dan saya permisi." Ujar Mia saat tidak sengaja melihat bagian kepala Yana yang sedang berada di atas ranjang.


Alfaraz mengangguk, lalu menutup kembali pintu kamar itu setelah sekretaris nya melangkah pergi dari sana. Ia kembali melangkah menuju sofa, lalu mengeluarkan satu buah ponsel dari dalam paper bag yang di bawakan oleh sekretaris nya tadi.

__ADS_1


Beberapa nomor dan file penting di ponselnya yang lama, ia pindahkan ke dalam ponselnya yang baru. SMS dari nomor yang masih ia hafal, terus saja masuk ke dalam ponselnya yang lama. Lalu panggilan berturut-turut pun ikut muncul di layar ponsel, meskipun sudah berulang kali ia tolak.


"Aku bersama mantan ibu mertua istri baru kamu itu. Dia mandul Al. Dia tidak akan bisa memberimu keturunan."


Satu pesan dari aplikasi chat di baca Alfaraz, namun kembali ia abaikan. Panggilan demi panggilan dari wanita yang mulai mengusik hidupnya, terus saja ia tolak.


Setelah semua data penting di ponselnya yang lama sudah berhasil di pindahkan, Alfaraz melangkah menuju kamar mandi yang beberapa saat lalu ia gunakan untuk bersenang-senang bersama istrinya, lalu menenggelamkan ponsel dengan harga selangit itu ke dalam bak mandi.


Ponsel sialan ini yang membuat Nara masih saja bisa menemukan di mana keberadaan nya. Dan mulai hari ini, setelah ia dan Yana keluar dari hotel, tidak akan ada lagi masalah tidak penting seperti hari ini ia temui dalam hidupnya.


"Sudah benar-benar melupakannya ?" Suara sang bunda terdengar di ujung ponsel yang kini menempel di telinganya.


"Bunda ingin cucu berapa ?" Tanyanya.


Tawa bahagia terdengar begitu menenangkan di ujung ponselnya.


Ah seandainya sejak dulu ia melakukan hal ini, mungkin sudah sejak lama ia menikmati tawa bahagia dari wanita yang sangat berharga ini.


"Sedang apa ?" Tanya Yana di ambang pintu kamar mandi yang terbuka lebar. Ia lalu melangkah kemudian duduk di atas pangkuan Alfaraz yang sedang berbicara di ponsel entah dengan siapa.


Alfaraz tersenyum, satu dress lagi akan berakhir di atas lantai kamar mandi. Ini sungguh sangat menyenangkan. Begitulah otak mesumnya bekerja.


"Bersenang-senang lah, semangat untuk mencetak cucu buat Bunda. Buat yang banyak, biar ramai."


Yana bersemu ketika mendengar suara ibu mertuanya dari ponsel yang menempel di pipi Alfaraz. Ia segera melepaskan tangannya yang melingkar di leher sang suami, tapi tubuhnya sudah tidak bisa beranjak lagi dari atas pangkuan laki-laki yang kini menatap nya jail.


Tangan kokoh yang baru saja menjamah setiap inci tubuhnya, sudah melingkar dengan erat di pinggangnya. Dan yah, sesuatu yang ia mulai, sepertinya tidak akan berakhir dengan cepat siang ini.


***


*Note Author


Jika aku ga bisa up lagi, fix berarti ponselku di sita suami😅


Awas aja ga tinggalin jejak, aku kutuk ponsel kalian di sita suami juga. 😂

__ADS_1


__ADS_2