
Riak air kolam terus bergerak, mengikuti tubuh yang terus memacu di dalamnya. Aktivitas panas yang sudah kesekian kalinya kembali terulang. Kali ini bukan di atas sofa atau ranjang besar yang ada di dalam kamar mewah, tetapi di dalam kolam renang.
Aira tersandar di pinggiran kolam, sedangkan Abizar terus menghimpit tubuh mungil itu di sisi kolam yang dangkal sambil menahan tubuh Aira agar tidak terjatuh ke dasar kolam.
"Lelah ?" Tanya Abizar ketika menghentikan gerakan tubuhnya sebentar.
"Sedikit, tapi suka." Jawab Aira dengan wajah memerah juga nafas yang terengah-engah.
Abizar tersenyum, dan tanpa meminta izin ia mengangkat tubuh polos itu keluar dari dalam kolam renang menuju kamar.
"Kenapa pindah ?" Tanya Aira.
"Biar lebih enak." Jawab Abizar dengan senyum mesum yang entah mulai kapan terbentuk.
Aira hanya menanggapi kalimat itu dengan senyum, dan membuat laki-laki yang sedang membawa tubuhnya tidak tahan untuk tidak mencicipi bibir manis itu.
Kamar mewah dan luas itu kembali menjadi saksi aktivitas panas yang penuh semngat itu. Ini hari terakhir mereka akan berada di sini, dan kesempatan itu tidak akan di sia-siakan oleh Abizar.
Mengingat setelah ini ia tidak akan punya kesempatan dua puluh empat jam penuh bersama Aira, karena keduanya harus kembali menjalani aktivitas masing-masing.
Aira akan kembali ke kampus, sedangkan Abizar harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan istri kecilnya ini.
Ranjang dengan ukuran besar yang baru saja di rapikan Aira pagi ini, kembali acak-acakan karena perbuatan suaminya.
Suara rintihan dari bibir gadis mungil yang sedang berada di bawa kukungan suaminya terus terdengar di alam kamar mewah itu.
"Masih lama ?" Tanya Aira. Sejujurnya tubuhnya sudah terasa remuk, karena beberapa hari di sini tidak pernah sehari pun mereka lewatkan tanpa aktivitas panas ini.
"Sudah lelah ?" Tanya Abizar.
Aira mengangguk mengiyakan.
"Ya udah kita akhiri saja." Ujar Abizar merasa bersalah sambil menatap wajah letih istrinya.
"Ga apa-apa, selesaikan dulu." Tahan Aira di tubuh Abizar yang hendak beranjak dari atas tubuh mungilnya.
__ADS_1
"Yakin ga apa-apa ?" Tanya laki-laki itu tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Aira.
Aira kembali mengangguk.
"Baiklah, ini tidak akan lama." Ucap Abizar lalu kembali bergerak. Kali ini jauh ebih cepat dari sebelumnya.
Tidak lama kemudian suara Abizar terdengar, pertanda apa yang ingin ia capai siang ini sudah terpenuhi. Deru nafas memburu terdengar begitu jelas. Kecupan berulang kali di pipi Aira, membuat gadis itu tersenyum. Tangan kecilnya mengusap punggung polos tanpa helaian pakaian yang masih berada di atas tubuhnya dengan lembut. Kalimat ungkapan cinta yang sudah kesekian kalinya kembali terdengar dari mulut laki-laki yang terus mencium pipinya.
"Aku juga." Jawabnya.
"Apanya ? Mencintaiku ataukah merasa nikmat juga ?" Tanya Abizar masih belum mengakhiri penyatuan mereka.
"Dua-duanya." Jawab Aira. "Turun sana, hancur tubuhku." Sambungnya sambil mendorong tubuh Abizar agar turun dari atas tubuh kecilnya.
Abizar tertawa. Tangannya terulur dan mengusap lembut beberapa titik keringat yang menempel di dahi Aira. Rambut panjang yang berantakan di wajah istrinya, ia rapikan sembari mengusap-usap kepala Aira.
Tak lupa pula ia mengecup wajah cantik itu berulang kali, sambil mengucapkan terimakasih, kemudian segera turun daru atas tubuh mungil yang sudah menjadi candunya itu.
Setelah berbaring di samping Aira, Abizar menarik tubuh istrinya itu masuk ke dalam pelukan.
"Ra.." Panggil Abizar lagi.
"Hm..." Sahut Aira.
"Kak Nira hamil." Usap Abizar di perut rata istrinya.
"Semoga aku juga nyusul." Jawab Aira.
Abizar tersenyum, dan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh mungil itu. Bibirnya terus mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang, sambil mengaminkan kalimat yang baru saja keluar dari bibir istrinya di dalam hati.
Keduanya lalu terlelap dalam pelukan hangat tanpa sehelai benangpun. Hanya selimut putih yang menghalau udara dingin yang keluar dari pendingin ruangan.
Mimpi indah yang panjang. Begitulah yang di rasakan Aira saat ini. Sebulan suah berlalu ia berada dalam mimpi indahnya. Tidak, bukan hanya dirinya yang menganggap semuanya ini mimpi, tapi memang keadaanya saat ini adalah keadaan yang di impikan oleh banyak wanita.
Semoga ia tidak akan pernah terjaga dari mimpi panjang ini. Semoga, jika pun nanti Allah membangunkannya dari mimpi indah ini, dan membawanya pada kenyataan, ia tetap bisa menikmati bagaimana indahnya di sayangi oleh keluarga. Dan ada banyak semoga lagi yang selalu terucap di dalam hati terdalamnya.
__ADS_1
****
Jalanan Jakarta yang tidak pernah sepi dari lalu lalang kenderaan, mulai mereka lewati. Setelah keluar dari pintu tol, kini mereka harus bersabar dengan kemacetan yang cukup menguji kesabaran para pengemudi.
Bagi Abizar, kemacetan ini begitu menguntungkan. Dengan mobil yang melaju pelan, membuatnya lebih banyak waktu menikmati waktu berdua bersama Aira. Sesekali ia mencuri kecupan manis di bibir yang cemberut milik istrinya, karena sudah bosan berada di jalanan.
Tangan kokohnya terus saja menggenggam erat jemari Aira, seakan ingin membuktikan pada wanita cantik di sampingnya ini jika ia begitu takut kehilangan.
"Tetaplah di sini, jangan biarkan genggaman ini terlepas."
Kalimat manis yang kembali membuat bibir tipis Aira tersenyum, terdengar dari mulut Abizar.
Si lelaki pendiam tapi hangat, seakan tidak pernah lelah mengatakan betapa besar rasa yang ia miliki untuk wanita yang teru memasang binar bahagia di sampingnya ini.
"Love you Aira."
Tiga kata yang tidak lagi asing, namun, masih saja mampu membuat dada berdebar, menembus indra pendengaran Aira, membuat gadis yang sedang melihat jalanan itu berpaling dan menatap wajah tampan yang juga sedang menatapnya dengan begitu lekat.
"Kamu ga dengar klakson dari mobil yang ada di belakang terus saja berteriak ? Ayo jalan." Aira tertawa. Entah apa yang kini merasuki Abizar, hingga membuat suaminya ini menjadi aneh.
"Jawab dong sayang." Rengek Abizar.
"Apaan ?" Tanya Aira.
"Aku mencintaimu." Ulang Abizar.
Aira tertawa melihat wajah cemberut Abizar, karena ia tak kunjung mengucapkan apa yang di inginkan oleh suaminya ini.
"Terimakasih Abizar." Ucap Aira dengan wajah serius.
"Kok terimakasih sih ?" Abizar tidak terima.
"Ayo turun kita udah sampai." Ajak Aira semakin tertawa geli dengan wajah menggemaskan suaminya.
"Love you too suami." Bisik Aira sambil mengecup pipi Abizar, lalu bergegas turun dari dalam mobil.
__ADS_1
Di dalam mobil Abizar tersenyum, kemudian ikut turun dari kereta besi itu dan ikut melangkah cepat menuju pintu rumah di mana Aira berada. Tangan yang selama perjalanan terus berada dalam genggamannya, kembali ia raih lalu menggenggam tangan itu dengan eratnya.