Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 135 Season 2


__ADS_3

"Kamu yakin ini akan berhasil ?" Tanya Lina pada wanita yang sedang mengemudi mobil di sampingnya.


"Tenang saja Tante. Aku yakin ini akan berhasil. Mana ada orang tua yang mau menikahkan anak mereka dengan wanita mandul." Ujar Nara percaya diri. Wanita itu masih terus melajukan mobilnya menuju kediaman manatan mertuanya. Ah tidak, ia masih belum berpikir jika sepasang suami istri paruh baya yang tidak pernah merestui hubungannya dengan Alfaraz itu adalah mantan mertua.


"Pasti menantu Tante sebentar lagi akan di tendang dari keluarga Prasetyo, dan Tante bisa memilikinya kembali." Sambungnya masih dengan senyum licik yang menghiasi bibirnya.


"Kenapa tidak sekalian kita datang saat malam hari, biar Yana dan suaminya sedang berada di rumah."


"Mereka sudah pindah, Ayah mertuaku sudah membelikan mereka rumah mewah dengan penjagaan ketat." Jawab Nara.


Lina tidak lagi bertanya. Otaknya mulai berkelana, sekaya apa sih orang tua dari suami mantan menantunya itu. Ah dia sungguh sangat penasaran.


"Ayo turun Tante." Ajak Nara saat mobilnya sudah ia parkirkan di sisi jalan di depan rumah orang tua Alfaraz.


"Permisi Pak. Saya sudah ada janji dengan Pak Zidan untuk membicarakan perihal perceraian ku dengan Alfaraz." Ujar Nara.


Petugas kemanan yang berjaga, kembali menghubungi rumah untuk memastikan kebenaran dari apa yang baru saja di ucapkan oleh wanita di depannya.


"Silahkan masuk, Bapak sudah menunggu." Ujar petugas tersebut mempersilahkan, setelah mendapatkan perintah dari pemilik rumah.


Dua wanita itu melangkah menuju rumah mewah yang ada di hadapan mereka. Lina menatap kagum, tatapannya terus mengitari pekarangan rumah yang terlihat begitu indah dan terawat.


Ada banyak bunga yang tumbuh subur. Ah pasti mantan besannya yang menyediakan ini, agar Yana bisa di terima di keluarga kaya raya ini.


Zidan dan Farah sudah duduk tenang di ruang tamu. Keduanya sudah menanti kedatangan wanita yang sudah mengahncurkan keluarga mereka, dan membuat Alfaraz menjauh.


"Selamat pagi Papa, Bunda." Sapa Nara dengan wajah cerianya meskipun ia tahu sapaannya itu tidak akan mendapatkan sambutan hangat.


"Silahkan duduk." Ujar Zidan dingin.


"Oh iya Pa, kenalkan ini mantan mertua Yana, namanya Ibu Lina." Ucap Nara berusaha untuk tidak terpengaruh dengan sikap dingin sepasang suami istri di hadapannya.


Farah menautkan alisnya, menatap heran wanita yang kini sedang mengulurkan tangan ke arahnya.


"Saya Lina."


"Farah."


Zidan pun mengucapkan namanya, tapi tidak meraih tangan yang sedang terulur ke arahnya.


"Langsung saja, jadi apa yang kamu inginkan sebagai kompensasi ?" Tanya Zidan tanpa basa basi.


Nara tersenyum, namun hatinya kembali meronta ingin sekali meremas wajah laki-laki yang masih saja dingin terhadapnya.


"Tenang saja Papa, nanti akan Nara bilang kok. Tapi sebelumnya Nara ingin mengatakan sesuatu tentang Yana." Jawab Nara.


Zidan tersenyum sinis.


"Tidak ada pembahasan tentang menantu ku hari ini. Silahkan tuliskan saja di sini apa yang kamu inginkan, setelah itu pergilah dan jangan pernah mengganggu putraku." Ujar Zidan tegas sambil menunjuk beberapa lembar kertas yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Yana mandul." Ujar Nara.


Farah tersenyum.


"Lalu ?" Tanyanya.


"Biarkan Yana kembali dengan putra ku, karena dia tidak akan pernah bisa memberikan keturunan untuk keluarga kalian." Ujar Lina menimpali dan di angguki oleh Nara.


"Yana di nikahi, memang bukan untuk menjadi pabrik keturunan untuk keluargaku." Ujar Zidan. "Jika tidak ada yang perlu kalian bicarakan lagi, lebih baik keluar dari rumahku.." Sambungnya.


"Papa ngga kasian sama Al..


"Berhenti memanggilku Papa, sejak dulu aku memang tidak pernah merestui putra ku menikah dengan mu. Aku rasa kamu sudah tahu bagaimana Ibu mu dulu...


Farah mengusap lembut lengan suaminya, agar berhenti membahas kisah masa lalu mereka.


"Apapun yang akan kamu lakukan, Alfaraz tidak akan pernah kembali lagi padamu Nara. Jadi aku harap berhentilah sampai di sini. Jangan lagi mengganggu kebahagiaan putraku." Ujar Farah memperingati.


****


Di perusahaan, Alfaraz baru saja memasuki lobi sambil menggenggam erat tangan Yana.


Meskipun risih dengan tatapan karyawan yang ada di sana, Yana tetap membiarkan tangan hangat itu menggenggam nya erat hingga mereka masuk ke dalam lift khusus untuk Alfaraz gunakan.


"Bisa ngga sih ruangan kamu pindah aja, biar kita kerja di ruangan yang sama." Ucap Alfaraz saat mereka sudah memasuki lift menuju lantai di mana ruangan mereka berada.


"Jangan mulai Al. Kalau kita satu ruangan, bukannya ngurusin pekerjaan kantor, malah asik buat bayi." Jawab Yana kesal.


Deg,,


Yana melirik ponselnya, lalu perlahan mengusap layar ponsel itu untuk memeriksa kalender. Setelah melepaskan alat kontrasepsi, ia tidak lagi kedatangan tamu bulanan. Dan itu berarti ia sudah terlambat.


Ting...


"Aku pergi yaa. Selamat bekerja." Kecup Yana di pipi suaminya. "Sayang lepas dong, aku juga banyak pekerjaan." Sambungnya memohon saat tangan Alfaraz masih saja menggenggam tangannya.


"Entar malam ku kasih jatah double." Bujuk Yana.


"Okeh, deal." Jawab Alfaraz cepat.


"Ah dasar otak mesum." Ujar Yana lalu melangkah cepat keluar dari dalam lift.


Setelah pintu lift tertutup, Yana melanjutkan langkahnya menuju ruangan. Sapaan Vivi, asistennya ia balas dengan anggukan kepala. Ia melangkah cepat masuk ke dalam ruangan nya, dan meraih kalender yang ada di atas meja.


"Benarkah ? Tapi kenapa tidak ada tanda-tanda ya ?" Tanya pada diri sendiri.


"Apa hanya karena efek samping melepas alat kontrasepsi yaa ?" Gumamnya lagi mulai ragu. Karena tidak ingin menduga-duga, Yana kembali melangkah keluar dari ruangannya menuju lift.


****

__ADS_1


"Mau kemana Bu ?" Tanya petugas keamanan data melihat istri bos mereka memberhentikan taksi di depan kantor.


"Ada keperluan pekerjaan Pak." Jawab Yana singkat, lalu masuk ke dalam mobil taksi.


Taksi mulai melaju meninggalkan perusahaan. Dadanya berdebar, namun, ia tetap berusaha untuk tidak terlalu berharap apa yang kini bersarang di kepalnya.


"Kita ke apotek terdekat ya Pak." Pinta Yana.


Lelaki paruh baya itu mengangguk hormat.


Jalanan masih terlihat begitu padat, Yana berusaha untuk tetap tenang, meskipun dadanya berdebar.


Beberapa buah testpack berbeda merek, sudah berada di dalam tasnya. Yana kembali melangkah cepat menuju mobil taksi yang akan membawanya pulang ke rumah.


"Ini benar rumahnya Bu ?" Tanya Sopir taksi data sudah berhenti di depan rumah mewah milik Zidan.


"Iya, ini rumah mertua saya. Terimakasih ya Pak." Ujar Yana lalu mengulurkan uang untuk membayar ongkos taksi.


"Eh Non Yana ngga ke kantor ?" Sapa petugas keamanan sambil membuka pintu gerbang untuk istri majikannya.


"Ini dari kantor Pak, ada urusan sebentar sama Bunda." Jawab Yana. "Itu mobil siapa Pak, kok di parkir di depan gerbang ?" Tanya Yana.


"Tamunya Bapak."


Yana mengangguk, lalu melangkah menuju rumah usai mengucapkan terimakasih.


"Assalamualaikum." Sapa Yana.


Senyum manis yang selalu terlihat di bibirnya seketika menghilang saat tatapannya tertuju pada dua wanita yang kini duduk tepat di hadapan mertuanya.


"Waalaikumsalam. Sini Nak." Farah menepuk sofa kosong yang ada di samping nya. "Al kemana ?" Tanya Farah.


Yana tersenyum, lalu melangkah menuju sofa lalu duduk di samping ibu mertuanya.


"Al sudah kembali ke kantor Bun." Jawab Yana bohong. "Yana datang kemari membutuhkan bantuan Bunda." Sambungnya.


"Bantuan ?" Tanya Farah.


Yana mengangguk, lalu mengeluarkan beberapa buah testpack yang ia beli dari apotek tadi.


"Ya Allah ini benaran Nak ?" Tanya Farah antusias.


Yana mengangguk, meskipun ia belum memastikan kebenaran ini.


"Setelah melepas alat kontrasepsi, Yana tidak lagi datang bulan Bun." Jawab Yana sambil melirik wajah mantan ibu mertuanya. "Tapi ini masih rahasia ya Bun, Al belum tahu hal ini." Sambungnya dengan senyum jahat di sudut bibirnya. Terlebih melihat wajah terkejut dari dua wanita pengganggu yang ada di hadapannya.


"Ya udah ayo ke kamar, Bunda ngga sabar." Ajak Farah lalu berpamitan pada suaminya dan segera berlalu dari ruangan itu.


Yana tersenyum sinis ke arah Nara, Alfaraz sudah memberi tahu tentang pesan yang dikirimkan Nara di hari pernikahan mereka.

__ADS_1


"Oh iya Tante, Nara ini banyak uang loh. Sepertinya cocok buat Reno." Ujar Yana sebelum benar-benar berlalu dari ruangan itu.


__ADS_2