Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 274 Season 4


__ADS_3

Di dalam ruangan gedung dengan puluhan lantai, tidak hanya Ayura yang begitu tercengang setelah mendapati kenyataan siapa Tania sebenarnya, tetapi Ayiman juga.


Lelaki itu bahkan tidak bisa berkata-kata, jika Tania yang terlihat begitu mencintainya, hanya berpura-pura demi mendapatkan imbalan.


Mantan rekan bisnis yang terlihat jauh lebih mudah dari sang Ayah itu, berulang kali meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan pada keluarga Prasetyo. Ia tahu keluarga ini bukanlah keluarga yang bisa di anggap remeh apalagi di permainkan seperti apa yang sudah ia lakukan selama lima bulan ini.


"Berani sekali anda menampakan diri di hadapan saya setelah menipu seluruh keluarga saya !" Geram Ayiman.


Entah apa yang membuat darahnya mendidih hari ini. Apakah karena lelaki ini telah menipu seluruh keluarganya, ataukah mendapati kenyataan jika Tania tidak benar-benar mencintainya.


"Bang.." Ayura mengusap lengan sang Abang agar lebih tenang dalam menghadapi ini.


"Maaf kan kami, Pak Ayiman. Dalam lima bulan ini, perusahaan saya mulai goyah, dan saya takut perusahaan kalian akan menarik investasi, untuk itu saya meminta bantuan Tania untuk mengalihkan perhatian kalian dari perjanjian bisnis yang sudah kita sepakati hampir tujuh bulan yang lalu." Jelas lelaki itu.


Ayiman mengepalkan tangannya. Dadanya sesak saat membayangkan kisah percintaannya akan kembali berakhir tragis seperti ini.


"Kalau begitu, saya tetap akan mengambil alih rumah yang seharusnya menjadi milik Tania, sebagai kompensasi atas apa yang telah kalian lakukan pada saya dan keluarga." Tegas nya.


Lelaki yang terlihat lebih tua dari Ayiman itu segera membawa dirinya dan bersimpuh di atas lantai, memohon agar rumah yang telah ia berikan pada anak dari asisten orang tuanya itu tidak akan di ambil alih oleh keluarga Prasetyo.


"Saya mohon, jangan lakukan itu pak Ayiman. Saya tidak memiliki aset lagi untuk di berikan sebagai bayaran untuk Tania. Gadis itu tinggal sebatang kara di sini." Mohon lelaki itu.


"Bangkit dan duduk lah di atas sofa, Pak." Ujar Ayura prihatin. Ia mengerti apa yang terjadi saat ini. Tania atau pun laki-laki yang sekarang masih berlutut di depan kakak kembarnya ini, saling menguntungkan. Dan karena Tania sudah berhasil mengalihkan perhatian keluarga nya untuk memantau perusahaan yang tidak lagi produktif, maka laki-laki ini pun wajib membayar atas kerja keras yang di lakukan oleh Tania. "Dimana Tania berada sekarang ?" Ayura kembali bertanya.


Laki-laki yang sudah beranjak dari atas lantai ruangan dan kembali duduk di atas sofa itu, tidak menjawab. Hanya permohonan maaf yang terus saja keluar dari bibirnya atas apa yang sudah terjadi.


"Saya tidak membutuhkan permohonan maaf dari anda. Di mana Tania saat ini ?" Tanya Ayiman tegas.

__ADS_1


Lelaki itu akhirnya mulai menceritakan keberadaan Tania saat ini. Tidak lupa pula ia meminta pada Ayiman agar tidak menyakiti gadis yang tidak bersalah itu, hanya karena rencana yang di buat leh dirinya sendiri.


"Setelah kembali dari sini, saya akan menghubungi nya, dan memberitahu jika anda akan datang." Ucap laki-laki itu merasa bersalah. Ia sudah berjanji pada Tania tidak akan pernah melibatkan gadis itu lagi dalam masalah, namun, keluarga ini bukanlah keluarga yang bisa di perlakukan seenaknya setelah klien melakukan kesalahan.


"Biar aku yang ke sana, Bang." Tahan Ayura di lengan Ayiman saat kakak kembarnya itu segera beranjak dari sofa setelah mengetahui di mana Tania sekarang berada.


"Aku sendiri yang akan datang. Aku harus memastikan sesuatu darinya." Ujar Ayiman pelan.


Ayura akhirnya mengangguk. Ia tahu Ayiman tidak akan sampai hati menyakiti seorang wanita.


"Terimakasih untu informasinya hari ini." Ayiman menatap laki-laki yang terlihat kebingungan di dalam ruangannya. "Dan Ayu, segera urus penjualan rumah itu, tapi simpan uangnya di rekening yang baru." Perintahnya pada sang adik.


Ayura tersenyum, kemudian mengangguk antusias.


"Semangat, Bang. Usahakan pernikahan aku batal ya, biar Sam ga perlu bayar uang kompensasi pada mu." Teriaknya.


Ayura dan seorang laki-laki yang masih berada di ruangan Ayiman, ikut keluar dari dalam ruangan itu. Ada banyak hal yang harus di selesaikan Ayura, termasuk menghubungi wanita yang menjadi perantara Tania untuk menjual rumah itu.


Sedangkan laki-laki yang sedang bersama Ayura, pun pamit untuk kembali ke hotel temat ia menginap, karena tidak lama lagi ia harus kembali ke negara tempat nya tinggal saat ini.


****


Mobil mewah milik Ayiman mulai melaju di jalanan Jakarta. Menerobos jalanan yang tidak pernah sepi oleh pengguna.


Senyum terlihat di sudut bibirnya. Berbagai rencana sudah bersarang di otaknya untuk memaksa gadis yang berani melarikan diri itu.


Berbekal alamat yang di berikan oleh mantan rekan bisnisnya, Ayiman semakin memacu kencang mobilnya menuju daerah yang ia tahu tidak terlalu jauh dari ibu kota.

__ADS_1


Ah sepertinya ia harus menyelipkan rencana balas dendam untuk gadis nakal itu, karena sudah berani mempermainkan perasaannya selama beberapa bulan ini.


****


Di rumah sederhana yang ada di daerah yang tidak jauh dari ibu kota, seorang gadis nampak begitu gusar. Wajah cantiknya terlihat begitu serius mendengar penjelasan d ujung ponselnya.


"Kok bisa, Bu ?" Tanya Tania lemah. Kakinya melemas saat mendengar penjelasan dari wanita yang ia percayakan untuk membantu penjualan rumah mewah yang menjadi bayaran atas apa yang dia lakukan selama lima bulan ini.


"Benar Nak, rumah itu di sita oleh pihak perusahaan yang menjalin kerja sama dengan majikan ibu mu. Kata mereka, majikan kalian itu melanggar perjanjian kontrak, dan harus membayar pinalti." Jelas seseorang yang ada di ujung ponsel Tania.


"Lalu bagaimana dengan saya, Bu ?" Lirih Tania bertanya.


"Maaf Nak Tania, saya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Pengacara dari pihak perusahaan, bersama majikan kalian datang ke rumah Ibu dan mengambil surat-surat rumah."


"Ya udah, terimakasih ya untuk informasinya ya, Bu." Setelah mengucap salam, Tania segera mengakhiri panggilan itu, dan langsung menghubungi majikannya.


Mendengar penuturan yang sama dari majikannya, Tania terduduk lemas di kursi yang ada di dalam ruangan sederhana rumah peninggalan mendiang ibunya.


"Lalu bagaiman dengan saya, Tuan ?" Lirihnya bertanya pada seseorang yang ada di ujung ponselnya. Namun, hanya permohonan maaf yang terdengar dari benda pipih yang masih menempel di pipinya.


Beberapa saat kemudian panggilan itu berakhir. Tania merutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh mau di peralat untuk kelancaran bisnis yang belum tentu ia pun mendapat keuntungan dari sana.


Ingin memaki, tapi entah pada siapa. Sungguh, ia begitu kesal dengan kejadian menyedihkan ini. Ia berharap setelah mendapat bayaran dari penjualan rumah mewah itu, ia akan semakin memiliki alasan untuk melupakan perasaannya terhadap Ayiman. Tapi jika seperti ini, apa yang harus ia lakukan. Lebih tepatnya, hanya mencari luka untuk dirinya sendiri. Menambah daftar beban yang memang sudah sangat banyak.


Ah sudahlah, tidak ada gunanya menangisi sesuatu yang sudah terlanjur terjadi. Biarlah waktu yang akan menghapus semua rasa yang sudah terlanjur tumbuh di dalam hatinya.


Setelah kejadian mengesalkan hari ini, Tania kembali masuk ke dalam kamar sederhana miliknya. Berpikir, yah ia harus berpikir apa yang kan ia lakukan kedepannya. Mencari pekerjaan untuk menghidupi dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2