Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 193 Season 3


__ADS_3

"Suruh orang-orang kamu untuk mencari tahu lebih detail, dari keluarga mana gadis itu berasal." Pinta Danira sambil menyandarkan kepalanya di bahu Arion.


Lelaki itu mengecup kepala yang tertutup hijab  yang kini bersandar di bahunya, lalu mengetik sebuah pesan singkat di sertai gambar gadis yang baru saja di interogasi oleh istrinya, kemudian mengirimkan pesan itu kepada orang kepercayaannya.


"Kalian dari mana aja ?" Tanya Dira saat Danira dan Arion tiba di meja tempat mereka berada. "Jangan bilang kalian melakukan hal aneh di tempat umum." Tuduhnya kemudian.


Danira tertawa geli melihat wajah adik kembarnya yang terlihat kesal padanya.


"Aku mau coba semua tempat, biar cepat jadi kayak kamu. Sepertinya mobil bergoyang ala kalian berdua patut di tiru, tuh lihat langsung keliatan kan hasilnya." Jawab Danira dengan senyum jail menggoda Dira.


"Gila yaa ! Dasar orang gila." Kesal Dira. "Tutup telinga kamu Aira. Dia suka aneh kalau lagi ngomong." Sambungnya sambil menatap gadis manis yang hanya terus tersenyum karena pembahasan aneh mereka.


"Ga usah di tutup Ra, hitung-hitung kamu belajar biar setelah nikah nanti hasilnya cepat jadi, seperti dia." Tunjuk Nira ke arah adiknya yang sudah terlihat memerah menahan malu. "Enak kok, jangan takut." Bisiknya lagi dan langsung mendapat tabokan dari Abizar.


"Dasar adik durhaka kamu, aku kutuk jadi tampan nanti baru tahu." Ucap Danira.


"Mau makan ga ?" Tanya Abizar kesal karena kakak gilanya ini terus saja merasuki hal aneh ke otak gadis kesayangannya.


"Iya kita tinggal aja mereka di sini, biar aja sekalian tidur di toilet umum." Dira menimpali.


"Cieee yang udah ngerasain di dalam toilet. Ga, enak nggak kalau di dalam toilet ?" Tanya Danira antusias.


"Enak banget, apalagi di bawa kucuran air shower mantap deh." Jawab Arga tidak kalah antusias.


"Ayo pulang." Rajuk Dira kesal. Sedangkan di tempat duduk yang lain, Abizar menutup telinga Aira agar tidak terkontaminasi cerita mesum orang-orang yang ada di sana.


"Nanti sampe rumah kita coba ya sayang." Ucap Nira sambil menatap suaminya, dan langsung di angguki oleh laki-laki yang begitu setia menyimak pembicaraan gila mereka itu.


Dira hanya menggeleng-geleng kan kepalanya sambil mengusap lembut perutnya yang masih rata agar calon bayi yang ada di daam perutnya itu tidak mendengar pembahasan aneh orang-orang yang ada di sana.


Beberapa saat kemudian Abizar melepaskan tangannya dari telinga Aira. Tidak lupa pula ia merapikan rambut panjang gadis itu. Pembahasan mereka terhenti ketika dua orang pelayan datang menyajikan pesanan mereka.


"Aku ga tahu Arion sukanya apa. Aku pesan samaan dengan pesanan Arga." Ucap Dira.


"Arion suka semuanya, kecuali wanita. Dia sukanta makan aku aja, tidak dengan wanita lain. Iya kan sayang ?"


Arion kembali mengangguk patuh, karena memang seperti itu kenyataannya. Wanita cantik yang tidak pernah kehabisan kata ini, sudah menjadi candu nya setelah malam pertama mereka.


Aira menatap takjub wanita cantik yang terlihat begitu santai, padahal kalimat yang baru saja keluar dari bibirnya mampu membuat gadis lain yang ada di sana malu sekaligus kesal.

__ADS_1


"Jangan dengarin dia." Ucap Abizar.


"Tapi keren." Jawab Aira sambil menatap Danira dengan mata berbinar. 


Danira tertawa geli melihat gadis manis bin polos yang sedang menatapnya takjub.


"Makan." Perintah Abizar.


Aira mengangguk lalu mengalihkan tatapannya dari wajah Danira dan mulai memakan makan malamnya.


Keenam orang itu lantas memakan makanan mereka dengan diam.


****


"Biar aku yang bayar Kak." Cegah Aira saat Arion meminta pelayan untuk datang dan membawakan nota tagihan.


"Malam ini aku yang bayar, nanti setelah kalian nikah kamu yang traktir." Arion mengusap lembut kepala Aira. Hingga membuat gadis itu spontan menyentuh puncak kepala yang baru saja di usap oleh calon iparnya.


"Kamu terharu ya ? Aku cemburu ah, tadi aku juga mengusap puncak kepala kamu seperti itu loh, tapi kamu terlihat biasa-biasa saja." Protes Arga.


"Kak Arion lebih tampan soalnya." Jawab Aira.


Danira terbahak.


"Udah ya, besok-besok jangan ada lagi yang mengusap kepalanya." Tegas Abizar.


"Nggak janji, salah sendiri kamu menyukai gadis semanis ini." Jawab Arion.


"Ini yang terakhir kita ngumpul-ngumpul seperti ini." Ancam Abizar.


Dira dan Nira tertawa geli mendengar ancaman Abizar. 


"Itu hal yang ngga akan mungkin terjadi, karena kita akan tinggal di rumah yang sama nanti." Ujar Dira. "Ayo pulan, aku mau tidur ngantuk." Ajaknya.


"Antar aku dulu ya Kak." Pinta Aira pada Arga.


"Bilang tampan dulu." Ujar Arga.


"Apa-apaan, itu mobil aku yaa." Kesal Abizar lalu menarik tangan Aira agar cepat keluar dan meninggalkan orang-orang yang mulai berniat merebut Aira darinya.

__ADS_1


Aira tersenyum bahagia. Di restoran tempatnya bekerja dulu, ia pun sering di perlakukan dengan begitu baik layaknya keluarga. Tapi hari ini, ia begitu terharu, karena dua kakak perempuan dari laki-laki yang tiba-tiba ingin menikahinya ini, menerimanya tanpa bertanya dari mana dirinya berasal. 


"Kamu bahagia banget ya hari ini, senyum kamu bahkan tidak pernah pergi. Bikin kesal aja." Ujar Abizar sambil membukakan pintu mobil dan meminta Aira masuk ke dalam mobil itu.


"Terimakasih."  Ucap Aira sambil menahan tangan Abizar. "Kini aku merasakan betapa menyenangkannya memiliki keluarga." Sambungnya sambil menatap Abi dengan mata yang berkaca.


"Ini baru permulaan, akan ada banyak kejutan dalam keluarga ku Aira. Dan akan aku pastikan, kamu tidak akan pernah menyesal karena sudah memutuskan masuk ke dalam keluarga ku." Jawab Abi.


"Apaan kamu lama-lama di situ, minggir belum muhrim." Dira mendorong tubuh adiknya agar keluar dari sana.


"Aku mau duduk di sini, Kak Nira pangkuan aja sama Kak Arion di depan." Abizar memberi saran gila.


"Jangan aneh-aneh, pindah sana."  Dira menolak dengan tegas saran aneh dari Abizar


"Iya, iyaa. Dasar bumil." Ketus Abizar lalu melangkah menuju pintu depan.


Setelah semuanya sudah berada di dalam mobil, Arga kembali melajukan mobil itu dan meninggalkan pelataran restoran menuju rumah.


"Padahal aku mau lo duduk di pangkuan Arion." Ucap Danira.


"Jangan mulai Kak, mau aku turunin di sini." Ancam Dira.


"Iya ya Nir, dapat tontonan live sambil menyetir kayaknya bagus deh." Arga menimpali.


"Malam ini kamu tidur di sofa." Tegas Dira.


"Apaan, malam ini jadwal jengukin anakku, mana bisa begitu." Protes Arga.


"Ya Allah.." Lirih Dira frustasi.


Aira terkekeh geli.


"Kak ini bukan jalur ke kostan aku. Ujarnya memberitahu Arga.


"Kamu nginap di rumah malam ini, biar Abizar tidur di apartemen aku. Besok pagi ada yang mau Ayah dan Ibu bicarakan dengan kita." Ujar Nira. Bukan Ayah dan Ibu, tapi dia ingin membicarakan perihal gadis yang ia temui malam ini pada keluarganya. 


"Kak ini ga apa-apa ? Aku ga enak sama Om dan Tante." Ucap Dira.


"Aku sudah bilang Ayah dan Ibu, jangan khawatir."  Jawab Nira.

__ADS_1


Aira mengangguk patuh.


Waktu sudah semakin larut, dan karena hal itu jalanan Jakarta begitu lenggang. Aga terus memacu mobil adik iparnya menuju rumah kediaman Prasetyo.


__ADS_2