Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 250 Season 3


__ADS_3

Setelah beberapa saat berada di dalam ruangan Ayiman, Sam berpamitan untuk pulang. Sebelum keluar dari dalam ruangan itu, ia terlebih dahulu meminta izin pada Ayiman untuk mengembalikan ponsel Ayura yang masih tergeletak begitu saja di atas meja kerja Ayiman. Tentu saja bukan hanya untuk mengembalikan ponsel, tetapi memaksa gadis kepala batu itu untuk ikut degannya siang ini.


Ayiman un tidak keberatan. Laki-laki yang sebentar lagi akan menikah itu, justru mendukung aksi dari Samudra. Ayura memang tipe gadi yang susah di ajak bicara baik-baik, jadi harus di ajak berantem dulu.


"Ponsel kamu." Ujar Sam sambil meletakkan ponsel milik Ayura di atas meja kerja gadis itu.


"Terimakasih." Ucap Ayura. "Aku ga sua bercanda yaa." Kesalnya saat Sam menarik kembali ponselnya dari atas meja.


"Ayo, Papa dan Mama aku sudah menunggu." Ajak Sam. Laki-laki itu sama sekali tidak perduli tatapan Ayura yang ingin menelan tubuhnya hidup-hidup.


"Aku ga janji yaa." Tegas Ayura.


"Tapi Ayiman sudah janji, gimana dong ? Mana aku sudah terlanjur menandatangani persetujuan kontrak itu." Samudra menatap manik yang sedang menatapnya tajam. Ia ingin tertawa keras sekarang, saat melihat wajah yang tadinya garang kini mulai berubah menjadi singa. Benar kata Ayiman, gadis yang ada di hadapannya ini tidak akan mempan jika di bujuk.


"Kita tidak ada hubungannya dengan kerja sama perusahaan. Jadi kamu jangan merusak kontrak kerja dengan hal pribadi seperti ini." Ujar Ayura masih sambil menatap nyalang pada laki-laki yang terlihat acuh dengan ancamannya.


"Kalau ga mau ya udah, ga apa-apa. Tapi kalian harus bersiap membayar pinalti karena sudah mengingkari janji." Ucap Sam. Ia lalu meletakkan ponsel Ayura di atas meja, dan bersiap meninggalkan meja kerja anak pemilik perusahaan yang berstatus sebagai sekretaris itu.


"Oke, oke. Satu kali ini aja." Ayura meraih ponsel yang baru saja di letakkan Sam di atas meja dengan kasar, lalu menyimpan benda pipih itu ke dalam tas kecil miliknya.


"Mana ada seperti itu. Daam perjanjian yang di sepakati Ayiman, bukan hanya bertemu satu kali Ayura. Dia memberikan sekretarisnya padaku. Aku boleh meminta bertemu dengan mu kapan saja semau aku." Ujar Sam.


Ayura menatap laki-laki di hadapannya dengan tatapan membunuh. Lalu dengan cepat ia melangkah menuju pintu ruangan Ayiman untuk menghajar laki-laki itu karena sudah berani menjadikan dirinya sebagai transaksi bisnis.


"Buka !" Ayura menggedor pintu ruangan Ayiman dengan kasar. Sayangnya laki-laki yang berada di dalm ruangan itu sama sekali tidak berniat membukakan pintu untuknya.


"Bersiaplah jadi gembel Bang. Setelah ini, aku yang akan jadi pimpinan perusahaan." Kesal Ayura.


Masih dengan wajah garang menakutkan, Ayura melangkah kembali menuju meja kerjanya dan meraih tas tangan yang ada di atas meja itu.


"Kamu hanya akan berada di sana ?" Tanyanya kesal karena Sam masih belum ingin beranjak dari depan meja kerjanya.

__ADS_1


setelah mengatakan kalimat pertanyaan sinis itu, Ayura kembali melangkah menuju lift. Sudut bibir Samudra terangkat melihat kelakuan gadis manis yang sedang berjalan cepat di depannya. Sebelum berlalu dari lantai di mana ruang direktur berada, laki-laki tampan itu sempat melirik pintu ruangan Ayiman yang masih tertutup rapat. Rasa ngeri bercampur takut mulai menyelimuti hatinya. Seorang Ayiman saja takut dengan amukan Ayura, bagaimana dengannya nanti.


"Kamu hanya akan termenung di sana !" Kesal Ayura.


Samudra tidak menjawab, ia hanya semakin mempercepat langkahnya dan menyusul Ayura masuk ke dalam lift.


"Kok masuk ke lift ini ? Bukannya ini lift khusu direktur ya ?" Tanya Samudra.


"Besok aku akan jadi direktur perusahaan ini." Jawab Ayura tegas.


Samudra tertawa.


"Kamu cocoknya jadi istri dan ibu yang baik di rumah Ayura." Ujarnya, seketika mendapat tatapan horor dari gadis yang sedang berdiri di sampingnya. "Iya maafkan aku Ibu direktur." Samudra tertawa geli.


Bunyi dentingan lift terdengar. Keduanya lantas melangkah bersama keluar dari kotak besi itu menuju parkiran.


"Aku pakai mobilku sendiri." Ujar Ayura.


"Naik mobil aku, atau ga sama sekali. Mudah kok, kita hanya tinggal membatalkan kerja sama ini. Lagi pula, jika Om Abizar kecewa, ini bukanlah salahku. Kalian yang menjanjikan hal ini padaku." Tegas Sam. "Aku rasa kamu sudah sangat tahu, jika kerja sama antar perusahaan ii sudah terjalin sejak lama bahkan sebelum kita berdua ada di dunia." Ujarnya tegas.


Ayura memaki Ayiman di dalam hatinya. Entah apa yang di janjikan oleh abang gilanya itu hingga membuat laki-laki yang masih berdiri di hadapannya ini begitu berani mengancamnya.


Setelah beberapa saat berperang dengan dirinya sendiri, Ayura akhirnya menuruti perkataan Samudra dan melangkah masuk kedalam mobil laki-laki itu.


Hening menyelimuti, hanya suara mesin mobil yang terus melaju di jalanan, terdengar. Samudra hanya bisa menhan tawanya sekuat tenaga, saat sesekali melirik ekspresi penuh kekesalan di wajah Ayura.


Ayura yang sedang berkonsentrasi dengan ponselnya, tidak menyadari jika Samudra terus memperhatikan dirinya dari samping. Pesan chat maupun panggilan tidak ada satupun yang di jawab oleh Ayiman, dan itu membuatnya sangat kesal.


"Lihat saja nanti." Kesal Ayura. Ia lantas memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu menatap jalanan yang ada di hadapannya. "Kok lewat jalan ini ? Bukannya kita pulang ke rumah kamu ?" Tanyanya.


"Batal. Mama dan Papa aku memilih makan siang di rumah kamu. Sepertinya kalimat aku tadi bakal jadi kenyataan. Besok kamu ga akan jadi direktur, tapi jadi istri ku." Jawab Samudra.

__ADS_1


Ayura menatap takjub laki-laki pemberani yang ada di sampingnya ini.


Brak...


Tas tangan dengan harga fantastis mendarat dengan sempurna di bahu Samudra.


"Enak banget ya, kamu ngomong." Ujar Ayura kesal.


"Kita liat aja nanti." Samudra tertawa. "Kita taruhan, gimana ?" Tanyanya.


Ayura diam, ia sama sekali tidak ingin menanggapi permainan konyol dari Samudra.


"Takut kan ?" Tantang Samudra. Dia bisa membaca gadis seperti apa yang sedang ia hadapi saat ini. Gadis mandiri yang tidak mau kalah dari siapapun, itulah Ayura.


"Siapa yang takut, aku ? Mimpi kamu." Jawab Ayura sambil menunjuk dirinya sendiri.


Samudra tersenyum penuh kemenangan. Dengan cara ini, ia pasti akan mudah menaklukan gadis sekeras batu ini.


"Papa aku pasti akan melamar mu hari ini, dan Ayah kamu pasti akan dengan senang hati menerimanya." Ujarnya memancing.


"Jangan ngaco. Ayah aku mana mau menikahkan putrinya dengan laki-laki yang belum beliau kenal." Ujar Ayura.


"Kalau beliau menerimanya, kamu tidak boleh menolak." Tantang Samudra.


"Ngga usah menghayal ketinggian Pak Samudra yang terhormat." Ucap Ayura.


"Takut kan ?" Samudra kembali meledek.


"Siapa yang takut. Okeh kita lihat nanti. Aku tidak akan menolak plus jadi isti yang baik dan penurut nanti." Ujar Ayura tidak mau kalah.


Senyum penuh kemenangan langsung tercetak jelas di bibir Samudra.

__ADS_1


__ADS_2