Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 73


__ADS_3

Lima hari sudah berlalu, Alfaraz semakin membaik. Hanya saja, lelaki kecil yang bisanya sering bertanya apa saja yang membuatnya penasaran, kini menutup mulutnya rapat-rapat.


Semua urusan administrasi sudah selesai, dan kini sepasang suami istri itu sedang mendampingi putra mereka menuju dokter yang sangat tidak ingin mereka temui. Namun, saran dari Zia untuk membawa Al, membuat keduanya mau tidak mau harus menemui dokter itu.


"Bagaiman keadaan putra saya ?" Tanya Zidan pada seorang dokter wanita paruh baya yang ada di hadapannya.


"Dia akan baik-baik saja, hanya sedikit shock membuatnya menjadi irit bicara. Nanti dua Minggu lagi bawalah lagi kemari. Jangan lupa ajak banyak berbicara anaknya ya Bu." Ucap dokter tersebut.


Farah mengangguk.


Lima hari ini ia selalu mengajak Alfaraz bercerita, walau hanya sebagian kecil yang di respon oleh putranya ini.


Zidan memeluk tubuh Alfaraz yang berada di atas pangkuannya dengan begitu erat. Rasa bersalah semakin menyeruak, saat melihat bibir yang biasanya selalu berceloteh riang, kini tertutup rapat.


Tidak banyak pemeriksaan yang di lakukan, Al masih belum banyak menjawab apa yang dokter psikologi itu tanyakan. Bocah laki-laki yang berusi tiga tahun lebih beberapa bulan itu, hanya terus bungkam.


Zidan segera membawa istri dan putranya keluar dari ruangan usai mengucapkan terimakasih, dua Minggu lagi mereka akan kembali membawa Alfaraz bertemu dokter ini.


Zidan menggendong tubuh putranya, sedangkan jemari Farah di genggamannya dengan begitu erat. Sopir yang di utus oleh sang ayah untuk datang menjemput sudah berada di pelataran rumah sakit.


Hari ini Zidan memutuskan untuk tidak akan kembali lagi di rumah yang hampir merenggut nyawa istri dan putranya. Ia memilih untuk pulang ke rumah Ayah dan Ibunya, agar lebih aman.


Salahnya karena tidak benar-benar menyiapkan segala sesuatu dengan baik sebelum pindah rumah. Bahkan petugas keamanan pun belum ia pekerjakan di rumah baru mereka itu, dan akhirnya mengundang kejahatan.


***


"Sayang lihat deh, bagus kan. Al mau main di sana ?" Tanya Farah memancing, saat mobil yang membawa mereka pulang ke rumah sedang melewati taman bermain.

__ADS_1


Kepala mungil itu menggeleng, lalu segera terbenam kembali di tubuh Zidan.


Farah menarik nafasnya yang terasa begitu berat. Bisanya Alfaraz akan begitu antusias jika di ajak membahas tentang taman bermain seperti tadi, namun, kini mulut mungil itu terus tertutup rapat.


"Aku takut Al kenapa-kenapa Mas." Lirih Farah. Ia menatap sendu wajah suaminya, yang tidak kalah kusut.


"Aku juga takut Ra, namun, kata dokter Al memang memerlukan waktu untuk melupakan kejadian itu." Ucap Zidan. "Kita tunggu sebentar lagi, beri dia waktu." Sambungnya berusaha menenangkan Farah.


Usai mencium kepala Alfaraz berulang kali, Farah kemudian menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Cobaan seakan masih belum ingin pergi dari hidupnya, membuat Farah benar-benar merasa sesak. Jika saja dirinya yang terluka, mungkin tidak terlalu berat terasa, namun, melihat putra kecilnya yang mengalami ini, membuat hatinya hancur.


"Sakit banget Mas lihat Al seperti ini." Ucapnya pelan.


"Semua akan baik-baik saja Ra. Kita akan melewati ini bersama. Jangan terlalu sedih, aku akan semakin khawatir terjadi apa-apa denganmu." Bujuk Zidan.


Farah tidak lagi berbicara yang akan semakin menambah kekahawatiran suaminya. Ia memilih untuk menutup matanya sebentar, dan terlelap di bahu yang masih saja menjadi sandaran ternyamannya.


***


"Ini sebagai rasa terimakasih kami." Ujar Dimas.


"Apa ini tidak berlebihan Pak ?" Tanya Dinda sopan. Ia merasa sungkan, karena keluarga dermawan ini sudah memberinya satu toko bunga, dan kini sebuah hunian.


"Ini tidak sebanding dengan nyawa cucu dan menantuku." Jawab Dimas.


"Sejujurnya, ini bukan hanya tentang menyelamatkan menantu Bapak, tapi juga ingin menyelamatkan hidup saya dari laki-laki bajingan itu, bahkan saya sudah siap masuk penjara karena membunuh laki-laki itu." Ucap Dinda, ia tertunduk dalam. Tak enak rasanya ia menerima hadiah sebagai ucapan terimakasih ini, karena membunuh laki-laki biadab itu memang sudah menjadi niatnya agar segera terbebas dari cengkraman.


Dimas tersenyum mendengar kalimat yang keluar dari bibir Dinda.

__ADS_1


"Apapun itu, kami sekeluarga mengucapkan banyak terimakasih padamu Dan sekarang kamu sudah selamat, namun, tetap harus waspada. Hiduplah dengan bahagia, rawatlah putrimu dengan baik." Ujar Dimas. "Dan satu lagi, kami tidak akan membiarkan putrimu hidup seorang diri." Ujarnya.


Dinda mengangguk, lalu mengucapkan banyak terimakasih. Tidak hanya satu buah hunian yang di berikan untuknya, namun juga satu toko bunga yang lumayan besar kini menjadi miliknya.


Tidak banyak yang mereka bicarakan, Dimas hanya meminta Dinda untuk tetap berhati-hati dan menjaga bayi perempuan itu dengan baik. Karena tidak ada yang bisa menebak hati manusia.


Setelah Dimas berpamitan untuk pulang, dan memastikan pintu rumah sudah tertutup rapat, Dinda membawa putrinya masuk ke dalam kamar.


Rumah ini tidak terlalu besar, hanya ada tiga kamar, ruang kelurga dan dapur. Namun, Dinda terus menerus mengucapkan kalimat penuh syukur untuk kebaikan Allah hari ini. Sekarang ia sudah bisa melanjutkan hidupnya dengan baik dan bahagia bersama putri kecilnya.


Seorang diri, bukalah masalah. Sejak dulu dia memang hanya hidup sebatang kara, sampai akhirnya bertemu dengan laki-laki yang ia harap bisa di andalkan namun, justru membawanya ke dalam jurang kehancuran.


Biarlah, yang sudah berlalu biarlah berlalu. Apapun keburukan yang sudah terlewati, akan berubah menjadi masa lalu seiring berjalanya waktu.


Kenangan buruk saat di paksa oleh suaminya sendiri untuk melayani nafsu bejat lelaki lain demi uang, biarlah menjadi rahasia dalam dirinya sendiri. Yang terpenting saat ini, ia harus memastikan hidup putrinya, tidak akan sama mengenaskan seperti kehidupannya.


"Hai Zyana. Berkat dari Syurga untuk Ibu. Terimakasih sudah hadir dan kembali memberi harapan baru." Ucap Dinda lalu mencium pipi kemerahan putri kecilnya.


Sebuah harapan baru, yah.. untuk dapat mencapai sebuah kehidupan baru, memanglah perlu berusaha sekuat tenaga untuk melewati hidup yang lama. Dan semua itu tidaklah mudah, ada banyak luka, air mata, putus asa dan lain sebagainya yang akan di alami. Namun, percayalah sekuat apapun badai, pasti akan berlalu. Sederas apapun hujan, pasti akan reda juga, dan se terik bagaimanapun mentari, pasti akan ada waktunya langit akan berubah mendung.


Semua sudah Allah ciptakan dengan saling melengkapi, dan mungkin Zyana adalah pelengkap hidupnya yang sekian tahun menderita. Menjual bunga di pinggiran jalan dengan perut buncit, belum lagi polusi udara di ibu kota yang begitu mengganggu pernafasan, tidak bisa membuat Dinda menyerah. Lebih baik bersusah payah mencari nafkah yang penting halal, dari pada menikmati uang yang di berikan oleh suaminya entah berasal dari mana.


"Kita akan memulai hidup ini dengan baik Nak, jadilah anak yang baik dalam segala hal. Ibu membuktikannya hari ini, jika berbuat baik pada orang lain, maka kebaikan itu akan Allah kembalikan melebihi yang sudah kita beri. Jangan menyerah hanya karena sesuatu yang baik itu datang terlambat, karena setiap waktu datang dan perginya setiap kebaikan sudah di atur rapi oleh pemilik alam ini."


Dinda mengusap lembut dahi putrinya, kini ia tidak perlu lagi bersusah paya menjual tangkai demi tangkai bunga di pinggiran jalan. Sebuah toko dan satu kebun bunga, sudah di berikan oleh keluarga dermawan itu secara percuma.


"Mari kita hidup dengan baik mulai hari ini. Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik dalam hidup."

__ADS_1


__ADS_2