Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 198 Season 3


__ADS_3

Hari yang begitu mengerikan bagi Abizar. Lelaki tampan dengan kemeja putih itu masih belum beranjak dari tempat duduk yang ada di samping ranjang di mana gadis yang baru ia nikahi beberapa jam yang lalu tengah terbaring. Tangannya masih menggenggam tangan Aira dengan begitu erat.


Ruangan masih sama seperti saat mereka datang. Orang-orang yang ada di sana masih menunggu dan berharap gadis yang sedang terbaring di atas ranjang untuk membuka mata.


"Kamu pulan dan istirahatlah i rumah. Kasian keponakan aku jika kamu terus di sini sampai malam." Ucap Nira sambil menatap adik kembarnya yang sedang menyandarkan kepalanya di bahu Arga.


"Aku mau tunggu Aira bangun dulu." Jawab Dira.


Dan beberapa saat kemudian, terlihat Abizar beranjak dari atas tempat duduk kemudian membungkukkan badan agar lebih dekat dengan wajah Aira. Sontak semua orang yang sedang duduk di sofa yang ada di ruang perawatan itu, ikut beranjak lalu melangkah mendekati ranjang di mana Aira berada.


"Aku panggil dokter dulu." Ucap Arion dan langsung di angguki oleh istrinya.


Kini semua orang yang ada di ruangan itu berdiri mengelilingi ranjang tempat Aira berada.


"Apa yang sakit, bilang sama Ibu." Tanya Zyana saat melihat mata menantunya yang berkaca sambil menatap wajah mereka bergantian.


Aira menggeleng.


"Lalu kenapa menangis ? jangan buat aku takut."


Kali ini Abizar yang bertanya dengan suara yang bergetar.


"Aku ga apa-apa, aku hanya terharu." Jawab Aira lemah.


Semua orang yang ada di sana kompak menghembuskan nafas lega.


"Maafkan kami yang tidak bisa melindungi mu." Ucap Alfaraz penuh sesal.


"Tidak apa-apa Om, eh Ayah yaa....


Kalimat Aira terhenti karena langsung di sambut tawa oleh orang-oang yang ada di sana.


"Ah kasian sekali kalian berdua. Tidak hanya batal malam pengantin, kini sang menantu pun terdengar ragu memanggil Ayah mertua dengan sebutan Ayah." Ejek Nira, dan kembali membuat orang-orang yang ada di sana tertawa.


"Ngga apa-apa, aku tidak perduli dengan malam pengantin, yang terpenting Aira sudah baik-baik saja." Jawab Abizar tegas.

__ADS_1


"Bohongnya." Danira menarik telinga adiknya.


"Aku senang kamu sudah baik-baik saja." Ucap Dira.


"Terimakasih Kak Dira." Jawab Aira.


"Berhenti bicara, nanti luka kamu sakit." Sela Abizar cepat agar istrinya ini berhenti mengucapkan terimakasih pada keluarganya.


"Apaan, dia berbicara menggunakan mulut bukan luka." Protes Danira tidak mau kalah.


Bibir pucat Aira tidak bisa di tahan untuk memperlihatkan senyum terbaiknya saat mendengar perdebatan dari ketiga saudara yang begitu menyayanginya.


"Aku baik-baik saja, jangan khawatir." Ucap Aira sambil membalas genggaman Abizar di jemarinya.


Beberapa saat kemudian, Arion dan dokter yang tadi menangani Aira melangkah masuk ke dalam ruangan. Alfaraz mengajak seluruh keluarganya untuk kembali ke sofa yang mereka duduki tadi, dan memberikan ruang agar dokter bisa memeriksa Aira dengan baik. Sebelum melangkah menjauh dari ranjang, lelaki paruh baya itu lebih dulu mengusap pelan puncak kepala menantunya.


"Jangan khawatir, lengan bukanlah bagian tubuh yang fatal." Ucap Dokter tersebut ambil memeriksa luka serius di lengan Aira.


"Bagian bawah lengan juga nyeri Dok." Ucap Aira pelan.


Aira hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh Abizar. Lelaki ini semakin gila saja, begitulah yang ada di pikirannya saat ini.


"Itu memang terluka, tapi tidak parah. Tusukan hanya mengenai lengan kamu, sedangkan bagaian ini hanya terkena imbasnya aja." Jawab Dokter tersebut sambil menyentuh pelan luka kecil di bagian bawah ketiak Aira. "Untuk sementara jangan di basahi dulu, untuk pembersihan biarlah suster yang melakukannya. Ini di sarankan untuk menghindari infeksi." Imbuh dokter tersebut setelah selesai memeriksa Aira.


Setelah memastikan semua telah di periksa dengan seksama, Dokter tersebut meminta izin untuk keluar dari dalam ruangan itu. Tidak lupa, dokter wanita tersebut memberitahu jika nanti suster akan membawakan obat yang di minta oleh Abizar tadi.


"Kamu mau makan apa ? Biar aku pesan kan." Abizar menawarkan.


"Ngga usah, aku belum lapar. Kamu di sini aja." Jawab Aira.


"Ya udah, kalau begitu tidur lagi aja." Pinta Abizar ambil merapikan piyama rumah sakit yang sedikit terbuka Krena pemeriksaan yang di lakukan dokter tadi.


"Aku baru bangun loh, masa iya harus tidur lagi."


"Ngga usah tidur kalau gitu." Jawab Abizar. Lelaki muda itu menarik selimut hingga ke bagian dada lalu kembali duduk di kursinya. "Terimakasih untuk hari ini." Imbuhnya sambil mengusap lembut cincin emas yang sudah tersemat di jari manis Aira.

__ADS_1


"Kapan kamu memakaikan cincin ini ?" Tanya Aira ikut menatap jemarinya yang masih berada dalam genggaman suaminya.


"Beberapa jam yang lalu. Saat tiba di sini, hal yang paling utama dalam pikiran ku adalah memakai kan cincin pernikahan ini di jari mu." Jawab Abizar.


"Aku senang banget." Ucap Aira pelan.


"Aku jauh lebih senang lagi." Jawab Abizar tidak mau kalah.


"Hanya cincin ?" Tanya Aira.


Abizar mengerinyit tidak mengerti.


"Aku baca di novel-novel, setelah pengantin laki berhasil menyematkan cincin di jari manis pengantin wanita, lelaki tersebut akan mengecup kening istrinya." Ujar Aira menjelaskan.


"Seperti ini ?" Tanya Abizar setelah mencium kening Aira dengan sayang. "Apa seperti ini juga ?" Tanyanya lagi sambil mendaratkan sebuah kecupan manis di pipi pucat istrinya.


"Woi tahu tempat dong, kamu pikir aku obat nyamuk di sini ?" Pukul Danira di punggung adiknya.


"Ck, apa sih Kak, ganggu aja. Sana !" Usir Abizar.


"Tadi katanya malam pengantin ga penting, sekarang kerjanya nyosor mulu." Ledek Danira.


Abizar cemberut, ia lalu membiarkan kakak usilnya itu mendekat dan berbicara dengan Aira.


"Kami mau izin pamit pulang, ga apa-apa kan Ra ?" Tanya Danira pada adik iparnya.


"Ngga apa-apa Kak, aku sudah baik-baik saja kok. Kasian Ibu jika harus nginap di sini." Jawab Aira.


"Ih aku jadi gemas lihat kamu. Aku malah kasian sama nasib ngenes adik tampan ku ini karena tidak bisa mencicipi wajah cantik kamu sepuasnya."


Nizar semakin cemberut mendengar kalimat penuh ledekan yang terus tertuju padanya. Duh bisakah ia memukul kepala kakaknya ini agar berhenti mengingat kan hal yang sangat ingin dia lakukan setelah berhasil menikahi Aira.


"Aku sudah mencicipinya malam itu kok." Jawabnya bohong tidak mau kalah.


"Dasar !" Pukul Danira di kepala adiknya. "Aku sudah bilang jangan menyentuhnya." Sambungnya kesal.

__ADS_1


"Aku bohong, sakit banget Kak. Habisnya dari tadi Kakak ledekin aku mulu, bikin kesal aja." Ujar Abizar kesal sambil mengusap kepalanya yang terasa panas.


__ADS_2