
Setelah meletakkan cincin yang baru saja terlepas dari jari manisnya, Farah kembali menarik nafasnya dalam-dalam. Semuanya memang tidak semudah yang ia bayangkan. Rasanya sangat sulit meninggalkan orang-orang baik ini, tapi hatinya terlalu sakit untuk bertahan di sini.
Anisa dan Alard yang baru saja tiba dari lantai dua, kembali bergabung di ruang keluarga.
"Aku tidak bisa membawa Al." Ucap Farah lagi. Kali ini ia sudah menatap Zia dengan tatapan sedih. Lalu beralih pada wajah laki-laki yang masih saja bungkam sama seperti biasanya.
"Aku tahu bagaimana rasanya hidup tanpa seorang Ayah, untuk itu aku tidak ingin Al ikut merasakannya juga. Jika hanya seorang Ibu, aku rasa Kak Zia dan Ibu masih mampu memberikannya."
"Dan Mas, talak aku hari ini juga. Agar saat aku keluar dari sini, aku bukan lagi tanggung jawabmu." Ucap Farah. Ia memberanikan diri menatap wajah Zidan, sudut bibir laki-laki itu pecah, namun hari ini ia berusaha untuk tidak lagi terpengaruh dengan hati yang selalu saja tidak tega saat melihat Zidan yangbterlihat kacau seperti ini.
Tidak bisa di pungkiri, rasanya begitu sulit mengambil keputusan yang bersebrangan dengan hatinya, tapi jika terus seperti ini, ia akan terus hidup dalam kubangan luka.
"Sejak awal pernikahan kita memang sudah salah, aku memaksakan diri masuk ke dalam hidup seseorang yang tidak seharusnya aku masuki lagi." Sambungnya.
Zidan hanya terdiam, ia tidak pernah berniat menceraikan Farah. Entah itu dulu masih bersama Nadia, atau saat ini. Sungguh dia tidak berniat kembali melukai hati Farah, yang ia sesalkan hanyalah tidak memberitahu lebih dulu apa yang sedang terjadi dengan tubuhnya, dan langsung meniduri Farah saat itu juga.
"Tinggallah di rumah Ayah dan Ibu untuk semetara waktu." Tawar Zia mencoba mencegah Farah pergi.
Namun Farah segera menggeleng,
"Aku akan pergi setelah membicarakan hal ini pada kalian semua Kak." Jawabnya.
"Kamu mau ke mana ?" Tanya Zidan.
Farah tidak berniat menjawab pertanyaan yang memang tidak perlu ia jawab.
"Jika hanya ingin pergi menjauh dariku, tetaplah di rumah kita. Aku yang akan pergi dari rumah itu, yang penting saat ini kamu dan Al...
"Tidak. Maafkan aku, aku tidak bisa lagi tinggal di sana. Aku akan pergi dari Jakarta." Sela Farah cepat.
"Aku ingin hidup tanpa membenci orang lain. Aku bersyukur bisa hidup di keluarga ini." Ucapnya Farah lagi.
Karena tidak ad lagi yang menimpali pembicaraannya, Farah berpamitan untuk pergi.
Sejenak Zidan terpaku di tempat duduknya, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya ia dan Al setelah kepergian Farah.
__ADS_1
Zidan bergegas keluar dari rumah keluarga, suara suara sang Ayah yang menggema di ruangan itu tidak ia hiraukan. Gegas ia raih cincin yang tergeletak begitu saja di atas meja, lalu melangkah cepat menyusul Farah.
Baru saja Farah membuka pintu taksi yang ia pesan sebelum masuk ke dalam rumah tadi, Zidan segera menahan pintu mobil itu dan menutupnya kembali.
Farah diam, ia berusaha menunggu dengan tenang apa yang ingin di utarakan oleh laki-laki yang berulang kali melukainya ini.
"Bawa ini bersama mu." Ucap Zidan sembari memasukkan cincin yang di lepas Farah tadi, kembali ke tempatnya. "Aku tidak akan pernah menceraikan kamu." Sambungnya lagi.
"Pergilah kemanapun, dan gunakan waktumu sebanyak yang kamu inginkan. Jika sudah merasa lebih baik, kembalilah" Ucapnya lagi.
"Kau benar-benar tidak bisa melepas mu Ra." Lirih Zidan.
"Seseorang memasukkan sesuatu ke dalam makananku semalam, dan aku tidak bisa menahan diriku lagi setelah sebulan kita tidak....
"Aku harus pergi." Pamit Farah, lalu segera membuka pintu taksi.
"Baiklah, hati-hati. Aku menyayangimu. Anggap saja kamu sedang berlibur, jangan khawatirkan Al, aku akan menjaganya dengan baik." Ucap Zidan berusaha untuk tetap tenang. Namun, percayalah saat ini i sedang berusaha sekuat tenaga agar tidak lagi menambah kekacauan yang ia buat.
Farah membiarkan cincin yang ia lepas tadi kembali tersemat di jari manisnya, lalu masuk ke dalam taksi kemudian berlalu dari sana.
Mungkin saja dia hanya butuh liburan, terserahlah. Untuk saat ini ia ingin mengobati lukanya lebih dulu, entah masih akan kembali atau tidak itu urusan nanti. Anggap saja ia ibu yang jahat karena meninggalkan darah dagingnya hanya karena ia terluka, namun, jika terus memaksakan diri untuk tetap tinggal, tidak menutup kemungkinan, Al juga akan ikut tersakiti karena dirinya.
Farah kembali menatap cincin emas yang melingkar di jari manisnya, lalu menarik cincin itu keluar dari tempatnya.
Untuk saat ini, ia masih belum ingin memikirkan pernikahan penuh luka. Menikmati kesendirian, lalu mengobati luka dengan perlahan.
***
Lalu lalang manusia memadati Bandara Internasional di Jakarta. Tidak ada yang ia bawa dari rumah, hanya satu buah tas selempang kecil berisi kartu-karu penting yang bertengger di bahunya.
Suara pramugari yang memperingati agar semua penumpang segera memasang sabuk pengaman karena pesawat akan lepas landas, menyadarkan Farah.
Kini, bunyi roda pesawat dan mesin terdengar dengan begitu jelas. Farah menoleh, menatap keluar jendela pesawat yang mulai meninggalkan daratan. Bangunan-bangunan pencakar langit yang memenuhi kota metropolitan itu mulia terlihat mengecil, saat pesawat semakin naik di ketinggian.
"Pemandangannya terlalu indah." Ucap seseorang yang sedang duduk di samping Farah.
__ADS_1
"Rio." Ucap Farah terkejut, saat tiba-tiba orang yang berada di sampingnya seorang adalah Rio.
"Perasaan yang duduk di sini tadi cewek deh, kok bisa jadi kamu ?" Tanya Farah.
Laki-laki tampan dengan kemeja berwarna putih itu tertawa mendengar pertanyaan Farah.
"Kita tukaran, katanya dia ingin duduk di dekat jendela agar bisa melihat kota Jakarta dari ketinggian." Jawab Rio.
Farah mengangguk.
"Mau ke Jogja ?" Tanya Rio.
Farah kembali mengangguk.
"Rindu Mas Andra dan Ibu." Jawab Farah.
"Menitipkan do'a adalah satu-satunya cara agar bisa sedikit mengurangi rasa rindu pada orang yang telah tiada." Ucap Rio.
Farah kembali mengangguk, ia membenarkan. Yah satu-satunya cara untuk mengobati rindu pada orang yang telah lebih ke kehidupan kekal, adalah menitipkan do'a pada pemilik kehidupan tersebut.
"Kamu mau ngapain ke Jogja ?" Tanya Farah.
"Aku juga rindu Ibu." Jawab Rio.
Farah seketika tertawa melihat wajah sendu yang terlihat jelas di buat-buat itu.
"Aku yakin, setelah sampai nanti kamu akan mendapat hadiah spatula di kepalamu." Ucap Farah masih tertawa. Ia mengenal Ibu Mila, wanita paruh baya yang dulu ia selamatkan dari pernikahan buruk.
Rio meringis mendengar kalimat Farah, tentu saja ibunya akan memukulnya. Ah sial, jika bukan karena jabatan manager di perusahaan besar itu, ia tidak akan mau melakukan hal ini.
"Kamu tidak masuk kerja ?" Tanya Farah.
"Aku lagi izin cuti sebentar, alasan ibuku sakit." Jawab Rio.
"Ibu Mila sakit ?" Tanya Farah.
__ADS_1
"Ya enggaklah, aku berbohong biar bisa pulang." Jawab Rio.
"Aku yakin, ini sih bukan lagi spatula yang akan menghantam kepala mu, tapi sama wajannya juga." Ujar Farah lalu kembali tertawa.