Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 29


__ADS_3

"Assalamualaikum Mbak." Ucap Farah sembari meletakkan satu buket mawar putih yang ada di tangannya, ke atas makan Nadia.


Zidan mengusap lembut nisan yang bertuliskan nama mendiang istri pertamanya.


"Maaf baru bisa ke sini hari ini Nad." Ucapnya. "Farah sakit, ia keguguran." Sambungnya. Zidan menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha mengurai penyesalan yang masih saja menghimpit dadanya.


Farah terdiam di samping Zidan, ia pun ikut menyesali ke egoisan nya beberapa hari ini, hingga berakibat fatal pada janin yang berada di dalam kandungannya.


"Jika saja kamu masih ada di sini, pasti kamu akan marahin aku karena terlalu lalai menjaganya." Ujar Zidan lagim


"Nad, aku datang ke mari mau minta maaf padamu. Mulai hari ini dan seterusnya, aku akan menyimpan nama kamu di tempat yang seharusnya, dan Farah akan menempati ruang utama di dalam hatiku." Ucap Zidan lagi. Ia kembali menarik nafasnya dalam-dalam, lalu meraih tangan Farah dan di genggamnya dengan sangat erat.


"Aku ingin mencintai Farah tanpa merasa bersalah padamu, tidak apa-apa kan ?" Tanya Zidan seakan ia sedang meminta izin pada istri pertamanya yang telah tiada.


Farah menoleh dengan hati yang menghangat, ia menatap lekat wajah tampan sang suami dari samping. Netra itu terlihat jelas sedang berembun, dan beberapa saat kemudian buliran bening kembali meluncur membasahi pipi hingga rahang tegas sang suami.


"Mbak, aku gak keras kepala lagi. Aku ada di sini seperti yang Mbak Nadia inginkan." Ucap Farah. "Jangan khawatir, aku akan mencintai Mas Zidan dan juga Al dengan sepenuh hatiku." Ucapnya lagi


Kini ia yang mulai bercerita banyak hal, meminta maaf atas sikap kekanakannya beberapa tahun ini. Nadia yang notabenenya sebagai istri pertama saja, begitu sabar menghadapi badai di dalam rumah tangga mereka.


Entah berapa lama waktu yang mereka habiskan di samping makam Nadia, kini keduanya bergegas untuk pulang. Hampir dua hari mereka tidak bertemu dengan Alfaraz, dan keduanya sudah sangat merindukan bocah menggemaskan itu.


****


"Fokus nyetir Mas, ngga lucu kalau kita di bawah ke rumah sakit lagi karena kecelakaan." Ujar Farah memperingati. Pasalnya sejak keluar dari komplek pemakaman tadi, Zidan terus saja menggenggam tangannya dengan begitu erat.


"Aku mau puas-puasin Ra." Jawab Zidan.

__ADS_1


Farah menggeleng, namun tetap membiarkan jemari mereka bertaut. Sesekali ia mengalihkan tatapannya pada tangan yang bertaut dibatas paha sang suami, dan tidak bisa di pungkiri, hatinya ikut menghangat melihat sikap Zidan hari ini.


"Ra." Panggil Zidan.


Farah menoleh, menunggu apa yang ingin di katakan oleh suaminya.


"Kenapa malam itu kamu menolak ku ? padahal Selma empat tahu pernikahan kita kamu tidak pernah melakukannya."


"Saat itu dokter menganjurkan aku untuk tidak melakukan hubungan badan dulu, karena janinnya lemah karena aku stress." Jawab Farah lalu mengalihkan tatapannya dari sang suami. Sedikit rasa bersalah menyeruak di dalam dada, ia sudah menjadi ibu yang sangat buruk.


"Sebagian besar yang terjadi kemarin, akulah yang patut di salahkan Mas. Aku sudah mengetahui janin yang berada di dalam rahimku lemah, tapi aku masih saja bertahan dengan egoku, dan lelah ke sana kemari mengurus perceraian kita. Ditambah lagi aku sering lembur di kantor, agar setelah aku resign nanti dan kembali ke Jogja, semuanya benar-benar selesai." Ujarnya lagi.


"Maafkan aku membuatmu melakukan semua itu. Jika saja aku bis menjadi suami yang lebih bijak, kamu tidak mungkin melakukan hal yang berakibat fatal pada calon anak kita." Ucap Zidan semakin mengeratkan genggaman tangannya.


Banyak hal yang mereka bicarakan di dalam perjalanan menuju rumah. Semua kata yang selalu tercekat di tenggorokan Zidan selama empat tahun ini, ia utarakan sepuasnya di depan sang istri.


"Kita bisa memperbaiki semuanya Mas." Ucap Farah akhirnya. Zidan mengangguk lalu mengecup tangan yang ada di dalam genggamannya. Tidak ada kata terlambat untuk sesuatu yang baik. Katakanlah Farah bodoh karena begitu mudahnya memberi maaf. Tapi, dengan tidak memberi maaf pun belum tentu bahagia akan datang menyapanya.


Allah yang memiliki kuasa atas segalanya saja, selalu memberi kesempatan kedua untuk umatnya, mengapa ia tidak bisa melakukannya ?


Mobil yang di kendarai Zidan masih melaju di jalanan padat Jakarta. Semua sudah berlalu, kini waktunya untuk menata kembali, dan jangan lupa untuk belajar dari kesalahan di masa lalu agar kedepannya tidak akan terulang kembali.


Zidan mengerinyit heran melihat satu buah mobil yang tidak ia kenali terparkir di samping mobil sang Ayah. Menerka-nerka apakah kakak kesayangannya sudah membeli mobil baru ? Tapi itu tidak mungkin, Zia adalah orang yang pemikirannya sederhana. Memiliki suami sekaya Alard, tidak membuat wanita itu terbawa arus dengan dunia yang di penuhi dengan embel-embel sosialita.


"Sepertinya ada tamu Mas." Ucap Farah.


Zidan tidak menanggapi, karena ia tidak perduli. Dengan cepat ia membawa tangan Farah kembali ke dalam genggamannya, lalu melangkah menuju rumah yang akan mereka jadikan tempat ternyaman untuk pulang selama masih di beri kesempatan untuk menghirup udara di dunia.

__ADS_1


Saat memasuki ruang tamu, Farah mengeratkan genggamannya di jemari Zidan. Tatapan tajam dari wanita paruh baya yang entah mulai kapan membencinya kini tertuju padanya.


Farah menarik nafasnya dalam-dalam, terlebih lagi melihat sosok cantik yang sedang mengajak putranya bermain.


Zidan mengerti apa yang kini di rasakan istrinya, ia pun Sam tidak nyamannya saat berhadapan dengan sahabat sang ibu itu. Kesalahan masa lalu sang Ayah dengan Ibu kandungnya, selalu saja di ungkit kepermukaan, padahal semu sudah terjadi puluhan thaun yang lalu. Bahkan sang ibu kandung pun tidak lagi berada di dunia ini.


"Undaa.." Teriak Al saat tersadar ibunya sudah berada di dalam ruangan itu


Bocah kecil itu melepaskan mainan baru yang ada di dalam genggaman tangan mungilnya, lalu berlari memeluk tubuh Farah.


"Peluk Unda." Ucapnya lagi dengan nada menggemaskan.


"Bunda sakit, peluk sama Papa aja ya." Pinta Zidan.


Meskipun cemberut, namun bocah laki-laki itu menurut, lalu masuk kedalam dekapan sang Papa.


Zidan dan Farah menyalami tiga orang paruh bay yabg ada di dalam ruangan itu. Anisa menanyakan keadaan Farah dengan penuh perhatian, lalu tersenyum saat mendapati jawaban yang melega kan dari mulut menantunya.


"Zi masih kenal Rita kan ? anaknya Tante Asmi yang di Bandung." Ucap Nina memperkenalkan anak kerabatnya yang juga berprofesi sebagai Dokter sama seperti keponakannya yang telah tiada.


Zidan hanya mengangguk, menanggapi kalimat Tante Nina. Ia tetap menggenggam erat jemari istrinya untuk memberikan sedikit ketenangan.


"Jadi gini Zi, Tante mau minta tolong sama kamu. Rita ini ada pekerjaan sedikit di Rumah Sakit di Jakarta selama satu Minggu."


Zidan masih diam menyimak, tanpa ingin menimpali.


"Kalau kamu dan Farah izinkan, Rita ingin menginap di rumah kalian selama satu Minggu ke depan." Sambung Tante Nina.

__ADS_1


Farah mulai merasa tidak nyaman dengan pembicaraan ini. Ia menoleh, menatap wajah sang suami yang terlihat biasa-biasa saja.


__ADS_2