Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 149 Season 2


__ADS_3

Reno berdiri di depan gedung yang menjadi saksi segala perjuangannya bersama Yana. Kehilangan ? Tentu saja, bahkan setelah hampir setahun berlalu, rasa kehilangan Yana masih begitu terasa.


Yana dan Rara, dua wanita yang ia sakiti dan kini sudah berbahagia dengan orang lain.


"Maafkan aku Mas. Kamu tidak pernah mencintai ku, seperti kamu mencintai Mbak Yana, untuk itu aku memilih Abi dan Umi. Maafkan aku."


Kalimat tegas Yana kembali melintas. Beberapa bulan berlalu setelah penolakan Abi Rara, Reno kembali mendatangi mantan mertuanya itu, namun, hasilnya masih sama. Tidak ada yang berubah. Niat yang ingin menebus segala kesalahannya di masa lalu terhadap Rara, di tolak mentah-mentah oleh Abi.


"Maaf, saya masih tetap pada keputusan saya. Nak Reno, cari dan bahagiakan wanita yang benar-benar kamu cintai. Sedalam apapun saya melihat, sama sekali tidak ada cinta di mata kamu untuk putri saya. Saya sangat mencintai putri saya, untuk itu saya ingin lelaki yang datang mengambil alih tanggung jawab saya, harus benar-benar mencintai Rara."


Benarkah tidak ada cinta di matanya untuk istri keduanya itu ? Entahlah, bahkan sampai detik ini pun, nama Yana yang paling membekas di dalam hatinya.


Reno melangkahkan kaki masuk ke dalam apartemen yang dulu menjadi tempat ia dan Yana bahagia. Ikhlas, yah dia sudah mengikhlaskan segalanya. Apa yang terjadi hari ini, memanglah buah dari semua perbuatannya. Untuk itu, ia hanya ingin mejalani ini. Hukuman dari Allah, sepertinya bukan. Allah tidak pernah menghukum hambanya, mungkin saja ini adalah sebuah pelajaran, agar di kemudian hari jika masih di berikan kesempatan untuk bertemu dengan sosok yang bisa menggetarkan hati sama seperti saat bertemu Yana duku, ia tidak akan kembali melakukan hal yang sama.


Kamar tempat ia dan Yana selalu menghabiskan berjam-jam waktu di atas ranjang, ia telusuri dengan pandangannya. Beberapa kardus yang sudah rapi ia tatap nanar. Akhirnya, setelah setahun ia baru bisa benar-benar melepaskan segala tentang Yana di apartemen ini.


"Maaf aku.." Lirihnya entah pada siapa.


Ia mempersilahkan orang yang bertugas dari panti sosial untuk membawa barang-barang milik Yana. Semua barang-barang Yana yang masih tersimpan rapi di apartemen akan ia sumbangkan, dan semua ini atas persetujuan mantan istrinya itu.


Apartemen penuh kenangan akan segera berpindah kepemilikan. Reno keluar dari dalam kamar menuju dapur. Tidak ada yang berubah di sana. Barang-barang kesukaan mantan istrinya masih tertata rapi di tempatnya.


Setelah puas mengenang segala tentang Yana di sana, Reno keluar dari gedung dan langsung menuju rumah ibunya. Dan akhirnya, hanya satu wanita itu yang ia miliki saat ini...


Wanita yang berulang kali membuat Yana terluka, akhirnya hanya akan memiliki dirinya seorang diri.


***


Di dalam kamar di sebuah rumah mewah milik Zidan, Alfaraz terus saja mengganggu istrinya yang sedang antusias menyiapkan perlengkapan untuk calon bayi kembarnya. Satu buah koper sudah terisi dengan pakaian-pakaian bayi serba merah muda. Juga satu buah koper lagi sudah berisi perlengkapan Yana sendiri.


"Sayang sudah dulu dong, aku mau bangun." Ucap Yana.

__ADS_1


Alfaraz masih belum beranjak dari atas karpet. Kepalanya berada di atas pangkuan Yana, sedangkan wajahnya terbenam di depan perut buncit istrinya itu. Gerakan aktif dari yang berasal dari dalam perut istrinya, sama sekali tidak ingin ia lewati begitu saja.


"Sebentar lagi. Nanti putri ku sedih kalau ga di temani main." Jawab Alfaraz sembari mengecup bagian perut yang menonjol.


"Aku harus bersiap, kita harus segera ke rumah sakit." Yana kembali merengek.


"Baiklah.." Ujar Alfaraz mengalah. Alfaraz membantu Yana berdiri dari atas karpet, lalu keduanya melangkah masuk ke dalam ruang ganti.


Yah, hari ini Yana sudah harus masuk rumah sakit. Dua hari lagi adalah jadwal operasi yang sudah ditetapkan dokter kandungan untuk mengeluarkan dua bayi yang ada di dalam perutnya.


Satu buah terusan panjang lengkap dengan hijab, sudah berada di tangan Alfaraz. Lelaki itu membantu istrinya berganti pakaian, sambil mendaratkan ciuman di mana saja yang ia inginkan.


Yana tidak lagi heran, kegiatan seperti ini sudah menjadi makanannya sehari-hari. Beruntung lelaki aneh dan mesum ini tidak lagi meminta lebih sejak seminggu yang lalu.


"Aku mau anak-anak kita akan mirip kamu." Ujar Alfaraz setelah berhasil membantu istrinya mengenakan hijab.


"Tentu saja, aku yang capek kamu mah enak nya aja." Jawab Yana.


"Kita makan siang dulu, Bunda dan Ayah pasti sudah menunggu." Ajak Alfaraz setelah melepaskan pelukannya di tubuh Yana.


Keduanya melangkah keluar dari dalam kamar, lalu turun menuju ruang keluarga.


"Kalian kapan datang ?" Tanya Yana saat melihat adik iparnya sedang duduk di ruang tamu bersama Bunda.


"Baru sampai Mbak." Jawab Adelia sambil tersenyum manis ke arah Yana.


"Kalian jam berapa ke Rumah Saki ?" Tanya Zidan putra dan menantunya.


"Nanti sore Pa." Jawab Alfaraz sambil membantu Yana untuk ikut duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Nggak ngerasain yang aneh-aneh kan Nak ?" Tanya Farah pada menantunya.

__ADS_1


Yana menggeleng.


"Alhamdulillah normal-normal aja Bund." Jawabnya.


"Syukurlah." Ucap Farah lega.


Setelah membicarakan banyak hal di dalam rungan sambil menunggu asisten rumah tangga untuk Menyiapkan makan siang, Zidan mengajak keluarganya untuk menuju ruang makan karena asisten yang sudah bekerja selama beberapa tahun bersama mereka, sudah selesai menyiapkan makan siang.


Namun, baru saja Alfaraz hendak membantu Yana berdiri, bunyi bel yang berasal dari pintu depan membuat mereka mengurungkan niat untuk ke ruang makan dan kembali duduk di sofa yang ada di ruang keluarga itu dan menunggu siapa yang tiba-tiba datang bertamu ke rumah mereka siang ini.


Farah melangkah menuju pintu depan, dan berniat membukakan pintu untuk orang yang bertamu di rumahnya siang ini.


"Assalamualaikum Tante, maaf jika kedatangan saya mengganggu." Ucap Reno sungkan.


"Ngga apa-apa Nak Reno. Mari silahkan masuk." Jawab Farah lalu membuka pintu rumahnya lebar dan mempersilahkan Reno masuk ke dalam rumah.


Reno melangkah masuk ke dalam rumah usai mengucapkan terimakasih pada Farah.


"Tante apa saya bisa ketemu Yana ?" Tanya Reno.


Farah mengentikan langkahnya.


"Sebentar, Tante tanyakan dulu padanya." Jawab Farah.


Reno mengangguk lalu kembali mengucapkan terimakasih pada Farah.


****


*Note Author


Maaf dua hari ini slow update

__ADS_1


__ADS_2