
Gerald menatap gedung yang ada di hadapannya sambil menggenggam erat tangan Adelia. Ia masih belum ingin keluar dari dalam mobil, padahal waktu sudah berlalu beberapa menit.
"Jangan ngamuk lagi. Aku masih belum ingin menjadi duda kembang." Ujarnya sambil menatap wajah Adelia.
Hari ini Gerald dan Adelia mendatangi kantor polisi tempat Nara di tahan, guna memberikan keterangan mengenai kejadian semalam di resepsi pernikahan mereka.
"Di jam seperti ini seharusnya kita masih bergelung di dalam selimut tanpa pakaian, ini malah di sini." Decak Gerald kesal.
"Buang pikiran mesum mu itu, dan lepaskan tanganku." Ujar Adelia. "Kalau ga mau masuk di sini aja, aku bis masuk sendiri." Sambungnya.
"Eh, nggak-nggak... Kamu ngga boleh sendirian, bisa-bisa bapak polisi yang ada di dalam jadi korban amukan kamu juga." Jawab Gerald.
"Ya udah ayo, dari tadi ngoceh mulu, bikin tambah kesal aja."
"Iya ini mau turun."
Gerald turun dari mobil, Adelia pun melakukan hal yang sama. Mereka kemudian melangkah masuk ke dalam gedung kantor kepolisian yang ada di hadapan mereka.
"Saya dan istri saya datang untuk memberikan keterangan mengenai kejadian dengan tersangka atas nama Nara." Ucap Gerald pada salah satu petugas yang menjaga di sana.
Setelah di persilahkan masuk, keduanya langsung di bawa ke dalam ruangan interogasi.
Gerald masih belum ingin menjauh dari istrinya, selama Adelia menjelaskan setiap detail kejadian, ia tetap duduk diam sambil ikut menyimak tanpa bersuara.
"Pak apa saya bisa bertemu dengan tersangka ?" Tanya Adelia setelah selesai memberikn keterangan yang di butuhkan untuk penyelidikan selanjutnya.
Gerald langsung menoleh tidak terima. Tentu saja, kemana si otak istrinnya ini.
"Bisa Bu, mari silahkan ikut saya." Petugas polisi tersebut.
"Bapak juga, ga usah di izinin lah Pak, kami belum sempat belah duren semalam." Ujar Gerald tidak terima. Tapi ia segera beranjak dari tempat duduknya saat Adelia sudah melangkah menuju ruangan lain tempat Nara di tahan.
Adelia berhenti sejenak, ia menatap wanita yang terlihat begitu mengenaskan di ujung sana.
__ADS_1
"Kenapa harus ketemu dia lagi sih." Gerald mulai frustasi dengan kelakuan istrinya. Oh ayolah, ia bahkan belum melepas keperjakaan nya dan hari ini istrinya mau melakukan hal ekstrem lagi.
"Aku belum puas mengatainya semalam." Jawab Adelia, lalu melangkah menuju wanita dengan tangan terborgol, juga kepala yang terlilit kain berwarna putih seperti tangannya.
"Gimana enak tinggal di sini ?" Tanya Adelia saat sudah duduk di depan Nara. Tangannya terlipat di atas dada, sambil menatap penuh hinaan pada wanita yang terlihat geram di hadapannya.
"Harusnya kamu tuh berterimakasih padaku, jika bukan karena aku kamu dan kakak tersayang mu itu sudah menjalin hubungan terlarang. Buktinya kamu begitu cemburu, saat aku bersama nya dulu." Jawab Nara.
"Manusia sebatang kara seperti dirimu, mana tahu arti dari sebuah keluarga. Ah, iya kamu kan emang ga punya keluarga. Bukan tidak punya, tapi tidak ada yang mau mengakui mu sebagai keluarga, bahkan saat kamu sudah bekerja keras pun, laki-laki yang sudah meniduri ibumu selama dua hari non stop masih tidak ingin mengakui mu sebagai putrinya." Ujar Adelia.
Nara meremas kuat tangan nya di atas paha.
"Tapi tetap saja, kamu tidak bisa membunuhku sampai hari ini." Ucapnya mengejek.
"Aku tidak lagi ingin membunuhmu, karena itu hanya akan mempermudah hidupmu saja. Sepertinya melihatmu tersiksa lalu mati perlahan jauh lebih memuaskan. Kamu tahu kan hukuman untuk pembunuhan berencana ? Ah iya sampai lupa aku. Teman yang membantumu masuk ke dalam acara pernikahan ku semalam, sudah lebih dulu datang memohon pada Papa ku, agar ia tidak ikut terlibat dan merusak reputasi nya di dunia hiburan, dan sepenuhnya membantu memuluskan jalan kamu menuju hutan prodeo dengan vonis seumur hidup." Ujar Adelia dengan nada mengejek.
"Sialan..... Lepaskan aku, aku akan membunuhnya. Seharusnya kamu yang ku bunuh lebih dulu, baru wanita murahan yang berani merebut Alfaraz dari ku." Teriak Nara saat petugas kepolisian sudah menarik tubuhnya menuju sel tahanan.
Gerald menatap tidak percaya pada istrinya yang terlihat begitu tenang, bahkan senyum mengerikan terlihat nyata di bibir seksi yang belum sempat ia cicipi itu.
"Ini benaran kamu ?" Tanya Gerald sambil menempelkan punggung tangannya di dahi sang istri.
"Apa sih !" Adelia menepis tangan suaminya, lalu berjalan keluar dari gedung kantor kepolisian, menuju parkiran.
***
"Apa harus ya kamu pancing emosi kuntilanak itu ?" Tanya Gerald.
"Aku emang berencana buat nambah luka di bagian tubuhku, biar makin lancar aja persidangan ini. Benar kata Papa aku, buah tidak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya. Obsesi Nara itu, sama seperti obsesi ibunya. Mereka tidak benar-benar cinta, hanya terobsesi ingin memiliki." Ujar Adelia.
"Emangnya siapa sih Nara itu." Tanya Gerald.
"Panjang ceritanya, kita ga usah bahas itu. Yang harus kita bahas sekarang, gimana caranya buat baby biar ga kalah sama Mbak Yana." Adelia mengedipkan matanya nakal.
__ADS_1
"Let's go, kita ke hotel sekarang." Ajak Gerald dengan penuh semangat.
****
"Kita itu pengantin lama, ga usah aneh-aneh. Pengantin baru aja ga ngelakuin ritual, eh malah kamu yang jadi gila gini." Omel Yana. "Lepas ga, atau aku bilangin Bunda kamu maksa nidurin aku semalam." Ancam Yana. Wanita itu kembali merapikan bathrobe yang membungkus tubuhnya, lalu melanjutkan acara mengeringkan rambut karena ulah suaminya semalam.
"Ih jahat banget sih sama suami sendiri." Alfaraz melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan wajah cemberut, karena ga dapat jatah ronde ke dua di pagi hari.
"Anaknya meronta minta berhenti, eh bapaknya malah keenakan. Dasar..." Omel Yana pada laki-laki yang baru saja menghilang di balik kamar mandi. Setelah mengeringkan rambutnya, Yana beranjak dari tempat duduk menuju sofa untuk mengganti pakaiannya. Baru saja mulai mengenakan pakaian, suara mengesalkan dari balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat kembali terdengar.
"Sayang handuknya mana ?" Teriak Alfaraz.
"Ada di situ, di tempat penyimpanan handuk. Lihat pakai mata, jangan pakai mulut." Jawabnya.
"Ga ada sayang.." Suara Alfaraz kembali terdengar.
Yana menghentakkan kakinya kesal, lalu melangkah menuju kamar mandi.
"Awas aja kalau modus, aku cincang kamu." Omelnya sambil melangkah menuju kamat mandi.
"Buka..
Pintu kamar mandi terbuka, wajah Yana merona melihat penampakan yang ada di hadapannya.
"Minggir, dasar mesum." Dorongnya pada tubuh polos Alfaraz.
Ia lantas melangkah menuju tempat penyimpanan handuk bersih yang sempat ia lihat tadi.
"Kok ga ada ? perasaan tadi ada beberapa di sini." Gumamnya..
"Al... Aku bilangin Bunda.. Jangan sayang, nanti baby nya ga nyaman." Bujuk Yana.
"Aku akan hati-hati seperti semalam." Jawab Alfaraz.
__ADS_1
Dan akhirnya, rambut panjang yang baru saja di keringkan harus kembali basah...
Authornya lagi mesum 🤣🤣🤣🤣