Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 156 Season 2 Bonus Chapter


__ADS_3

"Ada apa sih Dek." Tanya Nadira. Gadis yang sudah rapi dengan seragam putih abu-abunya itu kembali membalik tubuhnya menghadap bocah laki-laki yang kini sudah rapi dengan seragam putih dongker, sambil duduk di atas ranjangnya.


"Tolong liatin PR aku dong Kak." Pinta Abizar sambil mengulurkan satu buku yang ada di dalam genggamannya ke arah sang Kakak.


Nadira melangkah menuju ranjang, lalu duduk di samping Abizar. Gadis yang memiliki otak yang encer itu mulai memeriksa dengan seksama setiap angka yang tertulis di buku itu.


"Ini sudah benar kok, ga ada yang salah." Ujar Dira sambil mengulurkan kembali buku itu pada adiknya.


"Terimakasih Kak Dira." Abi beranjak dari atas ranjang sang Kakak lalu keluar dari kamar itu setelah mengecup pipi kakak kesayangannya itu.


Dira tersenyum dengan tingkah adik lelakinya itu, namun, senyum manis di bibir tipisnya kembali memudar saat melihat gadis yang begitu mirip dengannya sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.


Danira masuk ke dalam adik kembarnya, lalu duduk di atas ranjang yang baru saja di duduki oleh pemiliknya.


"Dir jangan terlalu dingin begitu kalau jadi cewek, nanti cowok pada takut." Ujar Danira bercanda.


Nadira tidak menghiraukan kalimat candaan yang keluar dari bibir kakak kembarnya, ia langsung melangkah keluar dari dalam kamarnya setelah semua barang pribadi miliknya sudah siap di dalam tas punggungnya.


Seperti pagi biasanya, Nadira memasuki ruang makan untuk sarapan bersama keluarga. Meskipun ia tidak terlalu berselera untuk sarapan di rumah, ia tetap harus memaksakan kakinya agar tidak lagi ribut dengan sang Ibu.


Saat memasuki ruang makan, gadis cantik yang sebentar lagi akan memasuki dunia kuliah itu, akan langsung membawa tubuhnya dan duduk dengan tenang di kursi makan.


Berbeda dengan Danira, gadis yang terkenal supel di sekolahan itu masih akan bermanja-manja dengan Ayah dan Ibu mereka sebelum akhirnya mendaratkan tubuhnya di samping adik kembarnya.


"Kak minggir, aku mau duduk di samping Kak Dira." Rengek Abizar pada Danira.


"Abi sama Ibu aja." Ajak Zyana sambil menepuk kursi kosong di sampingnya.


Bocah laki-laki yang mulai beranjak remaja itu menggeleng.


"Mau sama Kak Dira." Jawabnya.


"Kakak pindah aja di samping Ibu." Pinta Yana lagi pada putri sulungnya.


Danira menoleh, menatap adik tampannya dengan tatapan menggoda.

__ADS_1


"Cium dulu baru kakak pindah." Ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Nggak !" Tolak Abizar.


Alfaraz terus menikmati kebersamaan ini setiap pagi di rumahnya. Rengekan Abizar yang ingin selalu mengekori putri keduanya, selalu mampu membuat senyum di wajah tampannya mengembang. Tatapannya lalu berpindah pada gadis yang sama sekali tidak terpengaruh dengan keadaan di sekitarnya. Nadira sama sekali tidak memperdulikan perdebatan kakak dan adiknya, dan mulai memakan sarapannya seperti biasa dengan diam.


"Cium dulu. Ga adil ih, Kak Dira kamu cium tadi, masa kakak enggak. Aku juga kakak kamu loh Abi, walau nggak secantik Kak Dira." Rengek Danira pada adiknya.


Abizar akhirnya mengecup pipi Danira, lalu segera mendorong tubuh kakak sulungnya itu agar pindah dari kursi yang biasa ia pakai.


"Kak Dira nanti kita makan siang bareng lagi yaa..." Bisik Abizar di telinga Nadira.


Nadira tersenyum, lalu mengangguk.


"Cih manis banget sih kalau senyum gitu." Celetuk Danira.


"Apa sih, ganggu aja." Ujar Abizar kesal, karena senyum di bibir Nadira segera menghilang karena kalimat kakak sulungnya.


"Ngga boleh kayak gitu. Sama kakak harus sopan." Ucap Zyana menegur putra bungsunya.


"Dira tunggu di depan Yah." Pamit Nadira lalu mengusap kepala Abizar kemudian berlalu dari ruang makan tanpa menoleh lagi.


Danira menatap sendu punggung yang baru saja menghilang di balik pintu pembatas ruangan itu. Entah apa yang terjadi dengan adik kembarnya itu sehingga terus menatap semua orang di rumah ini dengan dingin, kecuali Abizar.


Gadis dengan wajah serupa itu, kembali menunduk dan memulai sarapannya. Berusaha menyembunyikan rasa tidak nyaman dari lubuk hatinya, agar tidak semakin menambah kesedihan ibunya.


****


Di ruangan lain, Gadis yang baru saja keluar dari ruang makan segera menghembuskan nafasnya yang terasa begitu berat, kemudian mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruangan tamu itu.


Di tempat sepi seperti ini jauh lebih baik baginya. Jika saja ritual sarapan pagi boleh ia lewatkan, ia akan memilih untuk sarapan di sudut kantin di sekolahnya.


Risih, entahlah. Yang pasti ia ingin sekali mengurung dirinya di tempat yang tidak terdapat orang-orang di dalamnya.


"Sebentar lagi." Gumamnya kemudian mengeluarkan satu buah buku dari dalam tasnya lalu mulai membuka lembaran-lembaran itu dengan perlahan.

__ADS_1


Selang beberapa saat, Nadira bangkit dari kursi saat melihat adik laki-lakinya segera berlari menuju ke arahnya untuk menghindari sifat jail kakak kembarnya.


Selalu saja seperti ini, jika sudah berhubungan dengan buku, dia pasti akan lupa waktu.


"Tunggu Abi, Kak Dira belum salaman sama Ibu." Ujar Yana saat putra bungsunya hendak menarik tangan Nadira.


Nadira menghentikan langkahnya, lalu melangkah menuju sang ibu untuk menyalami punggung tangan wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Hati-hati di sekolah." Ucap Zyana sambil mengusap lembut kepala putrinya.


Nadira mengangguk, namun wajahnya masih saja terlihat datar.


"Ayo Kak, nanti tempat duduk ku di ambil lagi sama Kak Nira. Aku ngga mau duduk sama Ayah." Rengek Abizar sambil menarik tangan Nadira.


Setelah mengecup pipi istrinya berulang kali, Alfaraz segera mengajak ketiga anaknya menuju mobil.


Formasi seperti biasa, Abizar seakan tidak pernah kehabisan bahan untuk di bahas dengan kakak pintarnya. Berbagai macam pertanyaan terus saja ia utarakan pada Nadira, dan dengan sabar terus saja menjawab benar semua pertanyaan dari adiknya.


"Dir, kamu mau kuliah di mana ?" Tanya Danira pada adik kembarnya.


"Kak Dira mau kuliah kedokteran di Berlin sama Kak Rayan. Iya kan Kak ?" Ujar Abizar menjawab pertanyaan Nira sambil menatap wajah Dira.


Nadira mengangguk membenarkan.


"Cih orang pintar mah kemana aja boleh, aku di sini aja sama Ayah dan Ibu." Ujar Nira.


Nadira tersenyum miris, lalu mengalihkan tatapannya pada lalu lalang mobil dari jendela mobil milik sang Ayah.


****


Mobil mewah milik Alfaraz memasuki pelataran sekolah. Sama seperti hari-hari biasanya, pimpinan Yayasan akan datang langsung menyambut kedatangan salah satu donatur tetap di Yayasannya ini dengan hormat.


"Aku ke kelas ya Kak, nanti aku jemput saat makan siang." Pamit Abizar pada Nadira usai menyalami punggung tangan sang Ayah.


Sekolah tempat Abizar dan kedua kakaknya bersekolah memang sejenis Yayasan, sehingga berada di satu lingkungan yang sama hanya gedungnya yang berbeda.

__ADS_1


Nadira dan Danira juga segera berlalu usai menyalami punggung tangan Ayah mereka bergantian.


__ADS_2