
Baru saja hendak melangkah masuk ke dalam Bandara, langkah kaki Yana terhenti. Ia tersenyum di sertai dengan hembusan nafas lega, kala mobil yang mirip dengan mobilnya masuk ke dalam area parkir tempat ia berada.
Yana masih berdiri di tempatnya, mobil yang ia tahu milik Reno itu sudah berhenti dengan jarak beberapa mobil dari tempat mobilnya terparkir. Terlihat beberapa orang keluar dari mobil itu. Yana mengerinyit, pasalnya di sana ada sang Mama mertua dan satu wanita hamil juga satu orang pria yang tidak Yana kenal.
Ia ingin melangkah namun kembali terhenti ketika wanita berhijab dengan perut membuncit itu berjalan bersama dan terlihat begitu akrab dengan Mama mertuanya. Tadinya ia berpikir wanita hamil itu adalah rekan kerja Reno yang ikut perjalanan bisnis hari ini, namun, melihat seberapa dekatnya dengan sang Mama mertua membuat pikiran Yana mulai menerka. Mungkinkah keluarga Reno ? Tapi mengapa suaminya ini tidak memberitahu jika ada sanak saudara yang berkunjung.
Yana masih terdiam di tempatnya, melihat perlakuan penuh kasih dari wanita kedua yang ia panggil dengan sebutan Mama, untuk orang lain yang tidak ia kenal, sedikit membuatnya iri. Selama ini, meskipun wanita itu sudah memberi restu untuk pernikahannya dengan Reno, namun, keduanya masih belum juga menepis jarak yang sudah lama tercipta karena penolakan wanita yang sudah melahirkan suaminya itu terhadap dirinya.
Lelaki yang tadinya keluar dari dalam mobil, kembali masuk dan membawa mobil itu pergi dari area Bandara.
"Apakah sopir sewaan ?" Gumam Yana bertanya entah pada siapa.
Tiga orang dewasa yang menjadi pusat perhatiannya, kembali melanjutkan langkah masuk ke dalam Bandara, dan mungkin tidak menyadari keberadaannya. Yana pun ikut melangkah masuk dan berniat menyapa Mama mertuanya.
"Mas..." Panggil Yana.
Reno menoleh, matanya terbelalak melihat istrinya sudah berada di Bandara. Begitupun dengan dua wanita yang sedang melangkah di belakang Reno.
"Na aku bisa jelasin." Ujar Reno cepat.
Lelaki itu melangkah mendekati Yana yang terdiam di tempatnya.
Yana mengerinyit heran. Jelasin ? jelasin apa ? begitulah yang ada di pikiran Yana saat ini. Pasalnya niatnya ke Bandara hari ini, hanya ingin mengantar ponsel milik suaminya, tidak lebih.
Yana beralih menatap wanita yang sedang tertunduk di belakang suaminya.
"Sayang.." Panggil Reno.
Yana masih diam, pikirannya mulai berkecamuk. Sepertinya ada yang tidak beres, melihat wajah cemas Reno dan Mama mertuanya, begitu mengganggu pikirannya.
"Aku cinta kamu Na, ku mohon maafkan aku." Mohon Reno.
__ADS_1
Yana masih tidak bersuara, karena sejujurnya ia pun bingung. Selama ini mereka tidak ada masalah, dan hidup dengan sangat bahagia. Lalu untuk apa suaminya ini meminta maaf ?
"Aku terpaksa melakukan ini, agar Mama tetap mengizinkan kita menikah." Ujar Reno lagi.
Hati Yana mulai tidak tenang, namun, ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak berniat untuk menyela. Biarlah, ia menunggu sampai sejauh mana Reno bercerita
"Aku terpaksa menikahinya agar kita tetap bersama." Ujar Reno lagi.
Tes...
Satu tetes air mata jatuh begitu saja dari pelupuk mata Yana.
"Na..
Yana mundur selangkah, ia tidak membiarkan tangan yang selalu ia rindu sentuhannya itu kembali menyentuh bagian tubuhnya.
"Sayang jangan seperti ini. " Ucap Reno memelas. Lelaki itu melangkah mendekat, namun, Yana kembali melangkah mundur menjauh dari suaminya.
"Ayo Ren, kita akan ketinggalan pesawat." Kalimat terkesan acuh di belakang suaminya, semakin menambah perih luka yang baru saja tercipta beberapa menit yang lalu.
Yana menatap Reno yang terkesan tidak perduli dengan kalimat Mama mertuanya, dan hanya menatapnya penuh permohonan, kemudian beralih pada dua wanita dengan ekspresi berbeda. Wanita yang mungkin lebih mudah darinya itu, terlihat ketakutan. Sedangkan wanita paruh baya yang begitu ia hormati, terkesan acuh dan tak perduli dengan keadaannya.
Tidak, suaminya tidak benar-benar mencintainya, begitulah yang ada di benak Yana saat ini. Ia berbalik, lalu melangkah cepat menuju mobilnya, meninggalkan orang-orang yang menatapnya dengan ekspresi berbeda.
Reno ikut melangkah, ia sama sekali tidak menghiraukan wanita yang sudah melahirkannya itu terus mengomel kesal.
"Na." Tahan Reno pada pintu mobil yang sudah terbuka, dan dengan cepat tangan laki-laki itu menutupnya kembali.
Yana berbalik, ia masih menutup mulutnya dan membiarkan air mata menetes begitu saja di pipi mulusnya, lalu melangkah meninggalkan mobil yang masih terparkir di Bandara.
"Sayang." Panggil Reno lagi. Ia berusaha meraih tangan istrinya, namun kembali di tepis dengan kasar oleh pemiliknya.
__ADS_1
Air mata Yana masih terus bercucuran tanpa bisa di cegah. Hatinya menjerit sakit, namun bibirnya tidak mampu lagi berkata. Semalam semua masih baik-baik saja, bahkan mereka membicarakan banyak hal usai pergulatan panjang di atas ranjang. Rencana untuk berkonsultasi untuk merencanakan kehamilan dan melepas kontrasepsi yang terpasang di tubuhnya pun sudah menjadi pembahasan mereka semalam.
Namun, kenyataan yang ia dapati hari ini, mematahkan segala asa yang ia gantungkan pada laki-laki yang begitu ia cintai. Harapan yang ia gantungkan terlalu tinggi pada laki-laki yang tidak pernah lelah mengatakan begitu mencintainya, di hempaskan begitu saja oleh keadaan.
Masih melangkah gontai, Yana melepaskan begitu saja dua buah ponsel juga kunci mobil dari genggamannya. Ia membiarkan benda-benda itu terjatuh begitu saja di jalanan yang ia lewati. Sedangkan Reno masih terus mengikuti istrinya dari belakang, memungut benda yang di lepaskan istrinya itu dari atas aspal. Hatinya ikut berdenyut sakit melihat keadaan Yana saat ini. Hal yang paling ia takuti beberapa bulan terakhir, akhirnya terjadi juga.
Yah, pada dasarnya tidak ada keburukan yang bisa di sembunyikan selamanya. Ia tahu akan hal itu, namun, terlalu takut untuk jujur pada istrinya.
Melihat Yana yang sudah menyetop taksi, Reno melangkah cepat menuju taksi itu dan ikut masuk ke dalam.
"Jalan Pak." Pinta Reno. Kali ini ia berhasil menggenggam lengan istrinya agar tidak bisa keluar lagi dari dalam taksi.
"Kemana Pak ?" Tanya Sopir taksi tersebut.
"Apartemen X." Jawab Reno.
Sopir taksi itu mengangguk, lalu mulai melajukan taksinya menuju tempat tujuan yang baru saja di sebutkan oleh penumpangnya.
***
Dua wanita yang di tinggalkan begitu saja, kembali melangkah keluar dari area Bandara.
"Ma, Rara pulang sendirian ga apa-apa." Ucap wanita berhijab itu dengan nada yang pelan.
"Kita ke tempat mereka Ra, ini kesempatan kamu agar bisa menikah secara resmi dengan Reno."
Rara menggelang, ia terlalu takut dengan keputusan Mama mertuanya. Melihat wajah madunya untuk pertama kali beberapa saat yang lalu sudah membuatnya menciut.
"Udah ga usah takut. lagi pula semuanya sudah terjadi, jadi tidak ada gunanya lagi bersembunyi."
"Ma.."
__ADS_1
Rara hanya bisa pasrah saat Mama mertuanya menariknya masuk ke dalam taksi dan berlalu dari sana.