Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 260 Season 4


__ADS_3

"Mas, apa Mas Azam punya kekasih ?" Tanya Trias memastikan kekhawatirannya. Ia mengabaikan pertanyaan Azam beberapa saat yang lalu tentang usianya saat ini.


Sudut bibir Azam tertarik.


"Kenapa bertanya seperti itu ?" Tanya nya.


"Ya untuk antisipasi aja Mas, jangan sampai ada gadis kaya yang datang dan menarik rambut aku di tempat kerja karena menikahi kekasihnya." Jawab Trias panjang lebar. Kali ini ia sudah mulai mengurangi kecanggungan yang terus mengganggunya, dan berusaha menganggap Azam seperti Aidar.


Azam tertawa, dan itu membuat Trias terkejut. Sejak pertemuan mereka sian ini, ia belum pernah melihat senyum di wajah pria yang kini sudah menjadi suaminya.


"Usia kamu sekarang berapa ?" Azam kembali bertanya.


"Dua puluh tahun, lebih beberapa bulan." Jawab Trias pelan.


"Kamu masih mau melanjutkan kuliah mu ?" Tanya Azam lagi.


Trias memutuskan tatapan mereka, dan memilih menatap sepiring makanan yang ada di hadapannya.


"Boleh kah aku meminta izin untuk tetap melanjutkan kuliah ku ?" Cicit Trias.


"Tentu saja, tapi tida dengan bekerja. Aku mengambil alih tanggung jawab Bapak mulai hari ini, dan aku sependapat dengan beliau." Setelah mengatakan kalimat itu, Azam memulai makan malam nya. Makan tengah malam menjelang dini hari, begitulah yang terjadi. Beruntung masih ada penjual makanan yang berjualan sampai di jam seperti ini. "Makan." Perintah nya saat melirik Trias hanya terus menatap ke arahnya.


Trias tidak lagi bersuara, ia juga memulai makan malam nya sesuai perintah yang baru saja keluar dari mulut suaminya.


Sepasang pengantin baru yang masih nampak canggung itu, memulai makan malam mereka dengan diam. Tidak ada lagi yang berbicara atau membahas tentang kejadian hari ini.


Dua takdir Allah yang datang di waktu yang sama. Jodoh dan maut, dua takdir Allah yang tidak akan bisa di hindari oleh semua umat manusia.


"Minumnya Mas."


Trias sudah menyelesaikan makan malamnya, lalu mengulurkan segelas air putih ke arah Azam.


"Terimakasih." Ujar Azam.


Trias diam dan tetap duduk di kursinya untuk menunggu Azam menyelesaikan makan malam.


Setelah Azam menyelesaikan makan malam, keduanya kembali melangkah menuju kamar untuk beristirahat.


Ini hari yang begitu melelahkan untuk Azam. Ada banyak hal yang terjadi dalam hidupnya hari ini. Tapi seperti itulah hidup. Kata orang masalah tidak akan pernah benar-benar pergi selama kita masih bisa menghirup udara di dunia.

__ADS_1


"Maaf Mas kamarnya hanya seperti ini." Ucap Trias.


Azam melihat ranjang yang jauh lebih kecil dari miliknya di rumah.


"Ga apa-apa." Jawab Azam.


"Kalau Mas ngga nyaman, malam ini aku akan beristirahat di kamar Bapak." Ujar Trias lagi.


"Ga usah aneh-aneh, aku ga mau Bapak kamu datang dan memarahiku di dalam mimpi. Ayo istirahat, besok selesai tahlilan kamu harus pindah ke rumah ku."


Trias mengangguk patuh mendengar perintah suaminya. Spontan tangan Azam terangkat dan mengusap puncak kepala istrinya itu.


Trias menahan nafasnya, dan membiarkan Azam lebih dulu naik ke atas ranjang kecil yang sudah ia tempati sejak kecil itu.


Dengan jantung yang terus menggila, Trias ikut naik ke atas ranjang, dan berbaring di samping Azam. Tidak ada lagi suara yang terdengar di sana, hanya tarikan dan hembusan nafas Azam, juga detak jantungnya yang terdengar di dalam ruangan sempit itu.


Trias melirik laki-laki yang sudah menutup mata di sampingnya.


"Jangan menatap ku terus, ayo tidur." Tangan Azam mengusap puncak kepala gadis yang seketika terbelalak.


"Maaf Mas." Ucapnya pelan.


"Apa Mas belum tidur ?


"Aku menyuruhmu tidur, bukan ngomong." Azam menarik tubuh mungil Trias dan mendekapnya erat. Tidak ada lagi jarak yang memisahkan tubuh keduanya. Tangan Azam bergetar, namun, laki-laki itu tidak berniat melepaskan pelukannya di tubuh sang istri.


"Mas.."


"Diam Tri, hari ini aku benar-benar lelah.." Azam menenggelamkan wajahnya di kepala Trias. Menghirup wangi rambut panjang milik Trias yang di biarkan terurai di atas bantal.


Yang tidak Azam ketahui, jantung Trias juga semakin menggila seakan ingin melompat keluar dari tempatnya. Gadis itu hanya terdiam sembari mengepalkan tangannya. Jika saja ia tidak taku t menjadi istri durhaka, ia pasti sudah mendorong wajah yang menempel di kepalanya. Hembusan nafas hangat yang terasa di pori-pori kepalanya semakin memperparah degupan jantungnya.


Beberapa menit Trias terdiam bak patung dalam pelukan Azam, kini gadis itu sudah bisa bernafas lega karena berhasil terlepas dari pelukan hangat itu. Dengan hati-hati ia membalik tubuhnya, dan menata laki-laki yang begitu cepat terlelap.


"Apa hari ini terlalu melelahkan ? Maaf sudah menambah daftar lelah mu Mas." Gumam Trias.


Dengan perlahan ia bangkit dari atas ranjang yang di tempati Azam, lalu keluar dari dalam kamar itu dengan sangat hati-hati, agar tidak mengganggu lelap suaminya itu.


****

__ADS_1


"Mau kemana ?"


"Astagfiruallah, Mbak.." Kesal Trias terkejut saat mendapati Tiara sedang berdiri di ruang tamu sederhana rumah mereka.


Tiara tertawa..


"Kamu tuh kayak orang baru liat maling aja." Kekeh Tiara. Gadis yang sedang mengenakan mukenah itu melipat pakaian bekas sang Bapak.


"Memang lagi ada maling Mbak, tuh dia rebut tempat tidur aku." Jawab Trias cemberut, lalu duduk di samping sang kakak.


"Hati-hati, nanti hati kamu di curi juga loh." Ledek Tiara.


"Mbak..." Protes Trias.


Tiara hanya tertawa geli.


"Mbak." Panggil Trias ragu.


"Hm.." Tiara menghentikan tangannya yang sedang memasukkan barang-barang penting peninggalan mendiang Ayah mereka ke dalam bundelan.


"Kata Mas Azam kami harus tinggal di rumahnya." Ucap Trias pelan.


"Tentu saja Tri. Mas Azam pimpinan perusahaan, dan banyak orang yang menggantungkan nasib mereka di perusahaan itu. Jika ia tinggal di sini, nanti pekerjaannya bagaiman ? Kamu harus jadi orang pertama yang mendukung semua keputusannya, Tri." Ujar Tiara.


"Lalu bagaiman dengan Mbak ?" Tanya Trias.


"Kan ada rumah ini. Nanti kamu bisa datang kapan pun kamu mau, tapi harus minta izin Bang Azam." Jawab Tiara.


"Mbak akan sendirian di sini." Lirih Trias.


Tiara tersenyum. Beginilah adik kesayangannya ini.


"Ibu, Bapak dan Mas Tian ga akan biarkan kita sendirian. Jangan khawatir, yang paling penting kamu harus jadi istri yang baik buat Mas Azam. Menantu yang baik buat Tante Nira dan Om Arion. Mereka semua orang yang baik Tri. Kamu lihat kan, jika tidak ada mereka kemarin, entah apa yang terjadi dengan kita berdua." Jelasnya panjang lebar.


Trias mengangguk paham. Beberapa saat kemudian ia sudah masuk dalam pelukan Tiara. Dua gadis itu berpelukan erat di ruang tamu yang dulu selalu mereka gunakan untuk bermain.


"Apa Bapak bahagia ?" Tanya Trias masih berada dalam dekapan Tiara.


"Tentu saja. Ayah pasti bahagia karena sebelum pergi beliau sudah memastikan orang yang menjaga mu adalah orang yang sebaik Bang Azam." Jawab Tiara.

__ADS_1


Trias mengangguk mengerti.


__ADS_2