
Seminggu berlalu begitu cepat. Perceraian mereka berajalan dengan lancar, karena Reno memilih untuk tidak menghadiri sidang. Dan tentu saja itu menguntungkan bagi pihak Yana. Satu kali lagi menghadiri sidang putusan, dan jika Reno masih belum juga menampakkan diri maka gugatan cerai yang di ajukan pihak Yana akan di kabulkan oleh Hakim.
Ternyata lelaki itu masih memiliki hati nurani untuk tidak memperumit keadaan yang sudah di hancurkan olehnya. Meskipun ini terlalu menyakitkan, akan tetapi sekuat apapun Yana berpikir, perpisahan lah menurutnya yang terbaik. Entah karena cintanya yang sudah ternoda, ataukah perjuangan merebut hati sang Mama mertua yang tak kunjung membuahkan hasil membuatnya memilih mundur.
Melihat ada wanita lain yang mampu membuat wanita paruh baya itu tersenyum bahagia, memembut Yana tidak lagi ingin berusaha memperbaiki keadaan.
Ternyata menunda hal yang paling ia inginkan, dan membiarkan suaminya menomorsatukan mama mertuanya, tidak mampu membuat wanita itu merasa bersyukur memiliki menantu seperti dirinya.
Angin berhembus menerbangkan dress selutut dan rambut panjang Yana. Wanita itu berdiri dengan tenang di balkon kamar di sebuah rumah yang terlihat begitu mewah. Tatapannya tertuju pada kolam renang dan taman yang ada di belakang rumah itu.
Yana terkekeh miris. Begitu besar cintanya terhadap lelaki itu sekian tahun lamanya. Bahkan ia membebaskan Reno menghabiskan uang untuk wanita yang sudah melahirkan suaminya itu, sementara dirinya berjuang sendiri menyiapkan rumah masa depan untuk mereka.
Yana berharap dengan sikapnya yang memberikan Reno kebebasan untuk menghamburkan uang untuk mama mertuanya itu, ia akan di terima dengan baik oleh wanita yang sudah melahirkan suaminya.
Namun, kenyataannya masih tidak ada yang berubah. Dengan segala kebaikan hatinya selama enam tahun ini, tak lantas membuat wanita itu membuka mata hati walau sedikit, dan justru menghadirkan madu yang menjadi racun dalam rumah tangganya.
Ia masih berdiri di balkon kamar utama yang ia siapkan untuk menjadi kamarnya dan Reno nanti. Ternyata bermimpi terlalu tinggi itu sangatlah tidak baik, karena kini semuanya justru semakin menyakitkan.
Rumah mewah yang ia siapkan untuk menjadi kenangan di tujuh tahun pernikahan mereka, akan segera berpindah tangan pada pemilik lain. Yah, ia memilih untuk menjualnya, menghapus segala kenangan tentang Reno perlu di lakukan. Biarlah, ia masih mampu membuat Rumah baru tanpa ada lagi nama laki-laki itu di dalamnya. Menata kehidupan baru sendirian mungkin akan sangat sulit, akan tetapi selama kita masih terus mengusahakan, tidak ada yang tuak mungkin.
"Rumah yang bagus saya akan mengambilnya."
Suara dari belakang membuat Yana tersadar dari lamunannya. Ia mengusap pelan embun di netra nya, lalu memutar tubuhnya menatap sembari tersenyum pada sosok wanita paruh baya di belakangnya.
"Alhamdulillah jika Ibu menyukainya." Jawab Yana.
"Nanti berikan nomor rekening mu pada asisten saya, dan dia yang akan mengurusnya nanti." Ujar wanita yang bernama Gina itu dengan senyum manis di bibirnya.
"Terimakasih Bu." Ucap Yana.
Wanita itu mengangguk, lalu memohon undur diri karena harus kembali ke perusahaannya.
Yana pun ikut melangkah keluar dari rumahnya, menuju halaman depan di mana jemputan untuk wanita yang akan membeli rumahnya berada.
"Terimakasih Bu." Ujar Yana lagi. Wanita mudah yang sebentar lagi akan berstatus janda itu membungkuk sebentar tanda hormat pada wanita yang lebih tua.
__ADS_1
"Ah manisnya kamu Nak. Jika belum nikah, mau saya jodohkan dengan anak saya. " Ujar wanita yang Yana tahu bernama Gina itu.
Yana tersenyum menanggapi candaan yang terlontar dari wanita paruh baya itu.
"Semanis apa sih ?" Lelaki mudah yang berada di balik kemudi mencondongkan kepalanya melihat wanita yang kata sang ibu manis.
"Bu Zyana ?" Ucap lelaki mudah itu terbelalak.
Yana ikut terkejut melihat rekan kerjanya di kantor sudah berada di hadapannya.
"Ini atasan Gerald di kantor Mam." Ujar lelaki itu.
"Maaf Bu Yana, Mama memang suka keterlaluan kalau bercanda." Ucap lelaki bernama Gerald itu, sungkan.
Yana tersenyum.
"Tidak masalah, hati-hati di jalan Bu." Ujarnya.
Wanita paruh baya itu mengangguk dan pamit pulang, usai meminta Yana untuk kapan-kapan mampir ke rumahnya bersama rekan kerja Gerald yang lain.
Setelah kepergian mobil yang membawa pembeli rumahnya, Yana kembali melangkah menuju rumah untuk menutup pintu kemudian masuk ke dalam mobilnya dan berlalu dari pekarangan rumah itu.
Kata orang ingin melupakan seseorang jangan setengah-setengah, lakukan dengan maksimal agar prosesnya tidak akan lama.
Mobil milik Yana terus melaju di jalanan menuju rumah sang Ibu. Wanita itu masih terus berkonsentrasi dengan kemudi, meskipun rasa tidak nyaman itu masih terasa, kala mengingat sebentar lagi ia akan menjalani kesendirian tanpa Reno. Ia terus menguatkan hati jika semua akan segera membaik.
Setelah waktu ini berlalu, maka hati dan pikirannya akan kembali baik-baik saja.
***
Di dalam ruangan mewah di sebuah perusahaan besar, Vivi terus gemetar. Gadis cantik dengan rambut sebahu itu menautkan jemarinya di atas rok selutut yang ia kenakan, sembari menjelaskan laporan yang baru saja ia dan rekan-rekannya buat tanpa Yana. Dan tentu saja itu sangat berbeda kesempurnaan nya seperti yang biasanya.
Alfaraz masih terus bertanya tentang ini dan itu, karena merasa tidak puas dengan hasil yang ia terima hari ini.
Sedangkan Vivi berulang kali merutuki atasannya yang memilih cuti di saat pergantian direktur yang baru.
__ADS_1
"Ini masih harus lebih teliti lagi." Ujar Alfaraz sambil mencoret beberapa angka yang ia rasa tidak pas.
"Iya Pak." Ah ia menyesali karena selama ini membuat atasannya bekerja sendirian, dan mereka hanya tinggal menerima flash disk yang sudah siap di print out.
"Apa selama ini kalian bekerja seperti ini ? Tanya Alfaraz. "Kata Pak Zidan bagian keuangan yang paling beliau andalkan, tapi mengapa kinerjanya seperti ini ?" Sambungnya lagi.
"Maafkan saya Pak. Ibu Yana yang biasanya mengerjakan ini sedang cuti." Ucap Vivi pelan.
"Bukannya Ibu Yana itu hanyalah penanggung jawab, dan yang seharusnya mengerjakan inikan adalah tugas bawahannya."
"Maafkan kami Pak." Ucap Vivi berulang kali.
"Keluarlah." Ujar Alfaraz. "Dan segera perbaiki ini." Ucapnya lagi sembari mengulurkan beberapa berkas ke arah gadis yang sudah tertunduk ketakutan.
Vivi berulang kali memohon maaf atas tidak memuaskannya pekerjaan merek hari ini, dan memohon undur diri keluar dari ruangan yang nyaris membuat nafasnya terhenti.
Alfaraz hanya mengangguk, lalu kembali fokus pada beberapa berkas yang masih harus ia pelajari.
***
"Si Gerald kemana ?" Tanya Vivi saat melihat empat orang rekan kerjanya sedang duduk di kursi tunggu di depan ruang Direktur.
"Jemput Mamanya." Jawab gadis yang bernama Nia.
"Gimana Vi ?" Tanya gadis itu.
Mereka sudah melangkah menuju lift untuk membawa mereka turun menuju divisi keuangan.
"Gila, tampan banget sumpah, tapi sedingin kulkas." Jawab Vivi.
"Sudah nikah belum ya ?" Tanya Nia penasaran.
"Walaupun jomblo, aku ogah dekat-dekat laki kayak begitu. Duduk diam saja sudah begitu mengintimidasi." Ujar Vivi.
"Biasanya laki-laki dingin diluar itu, hangat di dalam." Ujar Nia.
__ADS_1
"Jangan kebanyakan baca novel kamu."
Seorang karyawan laki-laki mendorong kepala Nia, membuat gadis berhijab itu memberengut kesal.