Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 125 Season 2


__ADS_3

Pagi yang indah kembali menyapa, Alfaraz sudah terjaga dari mimpi indahnya. Ia menatap wajah cantik Yana yang masih terlelap di sampingnya dengan begitu lekat. Jemarinya menelusuri wajah cantik itu dengan hati-hati agar tidak membuat sang pemilik terjaga dari lelapnya.


"Love you." Ucap Alfaraz pelan, lalu mengecup pipi Zyana dengan lembut. Setelah puas menikmati wajah lelap istrinya itu, Alfaraz beranjak dari ranjang lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri masih dengan hati yang di selimuti bahagia.


Ia tidak menyangka jika Yana akan bersedia disentuh olehnya semalam. Ia mengerti, hubungan mereka di mulai seperti apa, meskipun setelah beberapa bulan berlalu ia mulai terbiasa dengan kehadiran wanita yang kini mengisi hatinya itu. Untuk itu ia berencana untuk memberi Yana waktu, namun, karena semalam Yana tidak lagi menolaknya, maka itu adalah sebuah keberuntungan baginya.


***


Sedangkan Yana, kebiasaan setelah menghabiskan malam yang panjang, ia pasti akan terlelap dengan begitu tenang. Bahkan saat Alfaraz menelusuri wajahnya dengan jemari, ia hanya menggeliat pelan lalu kembali tenang menikmati mimpi indahnya.


Bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi, barulah membuat wanita cantik yang ada di atas ranjang mulai terusik dari lelapnya. Yana memeluk selimut putih yang membungkus tubuh polosnya dengan begitu erat. Sapuan udara yang keluar dari pendingin ruangan, mulai mengganggu mimpi indahnya. Yana menggeliat pelan, lalu membuka matanya perlahan. Ia menghirup sisa-sisa oksigen yang beterbangan di dalam kamar.


Tangannya mengusap lembut ranjang kosong yang ada di sampingnya, lalu tersenyum. Apakah secepat ini ? Entahlah, pesona laki-laki yang kini menjadi suaminya begitu sulit ia di tolak. Sentuhan penuh kelembutan Alfaraz, membuatnya tidak mampu untuk menolak, terlebih rasa yang entah mulai kapan tumbuh, seakan menjadi pendukung untuk sentuhan Alfaraz semalam.


Bunyi pintu kamar yang terbuka menyadarkan Yana dari lamunan liarnya. Ia tersenyum saat mendapati pemandangan yang pertama kali ia lihat pagi ini. Tatapan hangat Alfaraz, langsung membuat jantungnya menggila. Tubuh yang hanya berbalut handuk berwarna putih itu, kini berdiri di ambang pintu kamar mandi sambil menatapnya dengan senyum hangat.


Yana merona, sikap jail yang berbalik mengerjainya semalaman kembali melintas di ingatan. Ia menarik selimut putih itu, lalu menutupi kepalanya agar terbebas dari pemandangan yang akan membuatnya terkena serangan jantung. Pesona Alfaraz yang tidak mampu ia tolak semalam, membuat Yana merona menahan malu. Pipinya memanas, ah padahal keadaan seperti ini bukanlah yang pertama kali baginya.


"Kamu masih akan tetap di ranjang itu ? Tidak lapar ?" Tanya Alfaraz. "Atau kita sarapan ronde kedua saja pagi ini." Sambungnya dengan nada jail seperti yang selama ini Yana lakukan padanya.


"Boleh tuh idenya." Jawab Yana. Ia membuka selimut yang menutupi wajahnya, lalu menatap jail ke arah suaminya. Namun, pipi yang memerah tidak bisa ia sembunyikan dari penglihatan suaminya, dan itu membuat lelaki yang kini berdiri di depan pintu kamar mandi tersenyum gemas.


"Benar yaa.." Alfaraz melangkah menuju ranjang tempat Yana berbaring.


"Gila yaa." Yana bergegas bangun dari ranjang, lalu melangkah cepat menuju kamar mandi bersama selimut tebal yang membungkus tubuhnya, sebelum ia akan benar-benar menjadi sarapan pagi suaminya.


Alfaraz hanya tersenyum melihat tingkah Yana yang mulai bisa ia kalahkan. Sikap jail istrinya menghilang entah kemana, berganti wajah imut dan menggemaskan.

__ADS_1


"Jangan lama-lama, kita mau antar Ibu pulang ke rumah." Ujarnya saat Yana sudah masuk ke dalam kamar mandi.


"Iya." Teriak Yana dari dalam kamar mandi.


Alfaraz kembali melangkah menuju koper, lalu mengambil pakaian ganti dan mengenakannya.


***


"Cantik banget sih." Alfaraz memeluk Yana yang sedang mengeringkan rambut panjangnya di depan meja rias.


Yana menatap laki yang berulang kali mengecup kepalanya dari cermin, lalu senyum manis kembali terlihat di bibirnya.


"Jangan manis-manis Al, bahaya sakitnya itu parah banget jika manisnya berubah pahit." Ujar Yana.


Bukan tidak percaya, tapi hatinya terlalu takut jika Alfaraz akan bersikap seperti ini, ia akan kembali melakukan hal yang sama seperti beberapa tahun lalu. Menggantungkan segalanya pada seseorang, namun akhirnya di patahkan begitu saja.


Ia memutar kursi yang di duduki Yana, lalu duduk bersimpuh di depan wanita yang baru sehari menjadi istrinya.


"Dengarkan aku. Aku tidak tahu kapan rasa ini tumbuh, tapi sungguh sebelum aku mengucapkan ijab kabul kemarin, rasa ini memang sudah hadir di hatiku. Mungkin ini masih terlalu awal di bilang cinta, tapi saat pertama kali melihatmu sedang sibuk dengan ponsel di depan ruangan Papa beberapa bulan yang lalu, aku mulai menyimpan rasa yang tidak seharusnya. Meski begitu, jangan gantungkan segalanya padaku. Aku hanya manusia biasa seperti yang lainnya. Jika waktunya tiba, saat Allah sudah mulai menghadirkan rasa di hatimu untukku, tetap cintai dirimu sendiri lebih dulu, jangan memberikan segalanya untukku, agar jika di kemudian hari aku tidak bisa membalasnya dengan baik, tidak akan terlalu membuatmu kecewa."


Yana masih terdiam dengan jantung yang berpacu di dalam sana. Genggaman hangat di jemarinya, terasa hingga ke relung hatinya. Ia masih menatap lekat manik yang sudah berhasil membuatnya lupa, jika dulu ia pernah mencintai seseorang dengan sepenuh hati. Mencari keraguan di manik yang sudah mampu membuatnya berdebar, namun, tidak ia temukan.


"Aku mencintaimu Zyana. Ayo kita mulia semua dari awal. Hanya ada kita berdua." Ujar Alfaraz lagi.


"Ih pintar banget sih gombalnya, kan aku jadi baper." Ucap Yana dengan wajah jenaka. Tapi sejujurnya, hatinya menghangat, dadanya berdebar tidak karuan.


"Aku serius, ayo kita punya anak yang banyak. Aku harap yang semalam langsung jadi." Ujar Alfaraz dengan mata nakalnya.

__ADS_1


Yana terkejut, ia terdiam mendengar kalimat yang baru saja ia dengar.


"Aku akan mengurung mu di kamarku, biar kita dapat banyak anak nanti." Sambung Alfaraz.


Yana masih bekum menanggapi, ia terkejut dengan apa yang di utarakan Alfaraz. Selama ini mereka tidak pernah membahas tentang anak.


"Aku lelah berlutut di sini, jawab dong. Mau kan jadi ibu dari anak-anakku nanti ?" Tanya Alfaraz.


"Al..." Suara Yana tercekat, dia bingung bagaimana caranya agar bisa menjelaskan semuanya.


"Kenapa kamu ngga suka ya ? Padahal ibu sangat mengharapkan loh Yan. Papa dan Bunda juga, mereka ingin kita jangan menunda apapun. Maaf aku tidak memberitahumu dan tidak menggunakan pengaman." Ujar Alfaraz merasa bersalah. "Kalau kamu masih ingin bekerja, nanti kita bicarakan lagi dengan mereka." Sambungnya. Ia bangkit, lalu membawa tubuh Yana dan mendekapnya, hingga wajah Yana terbenam di perutnya.


"Al...


Mendengar Yana kembali memanggil namanya, Alfaraz melepaskan dekapannya. Ia diam dan menunggu apa yang ingin di utarakan oleh istrinya.


"Al aku masih memasang kontrasepsi." Ujar Yana sambil memperlihatkan alat kontrasepsi yang terpasang di lengannya.


Alfaraz memundurkan langkahnya dan menatap Yana dengan kecewa.


****


*Note Author


Huhuhu maaf baru bisa nongol. Hari Senin, hari pertama di bulan Januari. Kerjaan di real life lumayan banyak, jadi baru bisa ngetik jam segini. Satu bab lagi malam nanti ya readers ku tersayang 🥰🥰🥰🥰


Terimakasih yang sudah menyumbangkan Vote hari ini, yang sudah meninggalkan jejak di malam pertama Alfaraz walau tidak se hot malam pertamaku dulu. 🤣🤣

__ADS_1


Pokkonya love sekebun buat kalian semuanya ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2