Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 106 Season 2


__ADS_3

Alfaraz menggeram kesal saat mencoba menghubungi nomor Yana, dan suara operator masih saja terdengar di ujung ponselnya..


"Kenapa sih dia ini ? Bikin kesal aja." Gumamnya.


"Apa sesuatu sedang terjadi ?" Tanya Farah pada putranya yang terlihat begitu gelisah saat memasuki ruang keluarga.


"Ponsel Yana masih belum aktif Bun." Jawabnya sembari mencoba menghubungi kembali nomor Yana tanpa menolah pada wanita yang kini sedang menatapnya heran. Ia membawa tubuhnya duduk di atas sofa, lalu meletakkan satu buket mawar putih yang ia bawa dari toko bunga, ke atas meja.


"Yana siapa ?" Tanya Farah.


"Itu yang mengirimkan bunga untuk Bunda." tunjuk Alfaraz pada satu buket bunga yang baru saja ia letakkan di atas meja.


Farah kembali menatap Alfaraz yang belum juga beranjak dari sofa, padahal putranya ini bahkan belum mengganti pakaian kerjanya.


"Kamu serius sudah membuka hati pada wanita lain ?" Tanya Farah tidak percaya.


"Tentu saja." Jawab Alfaraz.


"Lalu bagaimana dengan Nara ?" Tanya Farah.


"Kami sudah selesai." Jawab Alfaraz.


Farah masih tidak percaya, putranya ini bahkan rela melepaskan keluarga demi gadis yang bernama Nara itu. Dan secepat ini menyukai gadis lain ? itu sangat tidak mungkin.


"Kamu ga lagi mainin anak orang kan Al ?"


"Memangnya boneka di mainin."


Bugh...


Tinju Farah mendarat di kepala putranya.


"Apaan sih Bun." Kesal Alfaraz sambil mengusap-usap kepalanya yang terasa panas. Tidak ada awan tidak ada gerimis wanita cantik yang tidak termakan usia ini tiba-tiba saja memukul kepalanya.


"Awas saja kalau kamu mempermainkan anak gadis orang hanya karena ingin lari dari masalah kamu." Ancam Fara. "Masuk sana, ganti pakaian kamu yang sudah bau itu" Perintahnya lagi.


Alfaraz masih belum beranjak, entah mengapa ia masih belum tenang sebelum memarahi wanita yang sudah membuatnya kesal malam ini. Ia masih terus menghubungi nomor ponsel Yana berulang kali. Bahkan tadi ia berpamitan untuk pulang, tanpa rasa bersalah sama sekali Yana hanya mengangguk acuh.


***


Di alam kamarnya, Yana baru saja mengganti bathrobe dengan piyama, lalu melangkah menuju nakas yang ada di samping tempat tidurnya untuk memeriksa ponselnya.


Rambut panjangnya yang basah ia usap perlahan menggunakan handuk kecil berwarna putih lalu duduk di atas ranjang sembari mengaktifkan kembali ponselnya yang baru selesai di cas.


Matanya melotot saat melihat panggilan video yang berasal dari laki-laki yang belum satu jam lalu berpamitan untuk pulang.


Yana mengusap layar ponsel itu, sesekali ia menghembuskan nafasnya untuk mengurangi degupan yang entah mulai kapan terus mengganggu kesehatan jantungnya.

__ADS_1


"Kamu kemana aja sih ?"


Yana menatap datar wajah Alfaraz yang terlihat kusam di layar ponselnya. Yah,, laki-laki yang baru saja berlalu dari toko bunga ibunya ini masih mengenakkan jas kerja yang sama.


"Tadi abis mandi, ponsel aku juga masih di cas, baterainya habis." Jawab Yana. "Ada apa ?" Tanyanya kemudian.


"Bikin kesal aja. Kamu kok ga bilang-bilang sih kalau mau keluar sama teman-teman kamu."


Yana tidak menjawab, wajahnya memerah malu saat melihat wanita berhijab yang kira-kira seumuran ibunya kini terlihat di layar ponsel.


"Apa sih Bunda, minggir." Dorong Alfaraz.


Yana masih memperhatikan wanita yang di panggil Bunda oleh Alfaraz itu dengan takut-takut. Cantik dan elegan, begitulah yang ada di pikirannya. Ah rasa rendah diri mulai menghantuinya.


"Hai Yana."


Yana terkejut saat mendengar suara wanita paruh baya namun cantik itu, kini menyapa dirinya lebih dulu.


"Hallo Tante." Jawabnya ragu-ragu.


"Cantik banget sih." .


Yana bersemu, tapi dadanya semakin berdebar. Senang karena di sapa ramah oleh Farah sekaligus takut karena kedekatannya dengan Alfaraz.


"Jadi kapan main ke rumah ?"


"Atau kapan kami akan berkunjung dan melamar mu ?"


Suara Yana semakin tercekat, ia tidak tahu harus menjawab apa.


Ia beralih menatap Alfaraz yang terlihat santai di samping wanita yang di sebut Bunda ini.


"Yana belum membicarakan dengan Pak Alfaraz, Tante." Jawabnya.


"Anka orang tuh di nikahi, bukan di pacari mulu."


Yana memperhatikan wanita cantik berhijab itu memukul kepala atsanya. Dadanya semakin berdebar ketika wajah Alfaraz sudah terpampang kembali di layar ponselnya.


Rumah yang sangat mewah, pikiran Yana semakin membuat kepercayaan dirinya semakin kerdil. Apa iya mereka akan cocok, ah dengan Reno yang notabenenya kehidupan mereka sama saja, wanita yang kini menyandang status sebagai mantan ibu mertuanya itu tidak menyetujui hubungan mereka, apalagi selevel orang tua Alfaraz.


"Ada apa ?"


Yana menggeleng tanpa mengatakan apapun. Ia hanya melihat Alfaraz yang tengah menaiki anak tangga entah menuju kemana.


"Lain kali kalau mau pergi bilang-bilang."


"Loh kenapa ?"

__ADS_1


Yana menatap Alfaraz dengan wajah bingung, laki-lakinitu terlihat berhenti melangkah dan menatapnya tajam.


"Kamu bikin orang lain khawatir tahu nggak. Tadi Ibu juga nungguin kamu."


"Biasanya Ibu santai-santai aja kalau aku pulang telat, karena beliau tahu kok aku banyak pekerjaan. Yang Ibu khawatirkan itu bukan aku, tapi kamu. Lagian kenapa juga sih kamu harus mampir ke toko Ibu dan ga pulang sampe berjam-jam ? Kan ibu jadi khawatir."


"Tetap saja bikin aku kesal."


Yana melihat Alfaraz memasuki ruangan yang di dominasi warna abu.


"Hei mau ngapain ?" Tanya Yana saat melihat Alfaraz melepaskan jas yang masih melekat di tubuhnya.


"Mandi."


"Yah udah matikan dulu kalau gitu." Ucap Yana.


"Ga usah....


Tut... Tut...


Wajah Alfaraz menghilang dari layar ponselnya. Yana masih menatap layar ponsel itu dengan jantung yang berdetak kencang.


"Gila, aku bisa gila." Ujarnya lalu meletakkan benda pipih itu ke atas nakas. Ia lantas beranjak dari ranjang lalu melangkah menuju meja rias.


"Laki-laki itu benar-benar sudah tidak waras." Gumam Yana lagi sembari mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


Ponselnya kembali berdering, tapi ia sama sekali tidak lagi memiliki niat untuk mengangkat panggilan dari orang gila itu.


"Ah mau gila rasanya." Ujarnya namun tangannya terasa gatal ingin tetap meraih ponsel yang ia tinggalkan di atas nakas itu.


Yana beranjak dari kursi meja rias, lalu melangkah menuju ranjangnya.


"Vivi." Gumamnya lalu segera mengusap ikon berwarna hijau di layar ponselnya.


"Ada apa Vi ?" Tanya Yana.


"Mantan suami Mbak Yana di pukuli orang di diskotik."


"Apa Vi ? ga jelas berisik banget. Kalian lagi pada di mana sih ?"


Panggilan terputus, Yana menatap ponselnya sejenak lalu meletakkan kembli benda pipih itu di atas nakas. Ia lantas merebahkan tubuhnya di atas ranjang, kemudian menarik selimut untuk menghalau tubuhnya dari sapuan pendingin ruangan.


Hari ini cukup sampai di sini, ia ingin beristirahat agar bisa kembali beraktivitas dengan baik esok hari.


Ting..


Satu pesan di aplikasi chat terdengar. Yana meraih ponselnya lalu membuka pesan dari asistennya itu.

__ADS_1


"Ya Allah, astagfirullah."


__ADS_2