Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 181 Season 3


__ADS_3

Di depan sebuah restoran, seorang gadis yang baru saja turun dari atas ojek online terlihat begitu tergesa-gesa masuk ke dalam restoran. Beberapa karyawan yang sudah berada di sana, membalas sapaan ramah dari gadis cantik dengan rambut terurai itu.


"Cepat ganti pakaian kamu Ra. Hari ini restoran akan sangat ramai karena di sewa oleh putri seorang pengusaha untuk merayakan ulang tahunnya." Perintah seseorang dengan seragam putih khas koki.


"Baik Kak." Jawab Aira sopan pada lelaki tampan itu. Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan ganti para karyawan restoran.


"Sebaiknya kamu harus berhenti kerja di tempat lain Ra, biar fokus aja di sini." Ucap seorang wanita yang juga ikut masuk ke dalam ruangan.


"Ngga bisa Kak, aku butuh banyak uang untuk kuliah. Aku pun harus punya tabungan untuk membeli tempat tinggal nanti." Jawab Aira. "Ngga enak Kak tinggal di kostan, setiap hari dengar suara aneh dan ga bisa tidur." Kekeh Aira lagi.


"Kerja yang seperti itu emang gampang, tapi senangnya hanya ketika masih berada di dunia aja." Jawab wanita itu.


Ara mengangguk. Ah sesusah apapun hidupnya, ia tidak pernah berpikir mengambil jalan pintas itu. Menjadi istri simpanan om-om tua, oh sungguh ia tidak mampu membayangkan hal itu terjadi pada dirinya. Biarlah ia harus kerja banting tulang untuk rupiah, yang penting rupiah itu ia dapat dengan cara yang benar.


Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja yang di sediakan oleh restoran tersebut, Aira mematut dirinya di depan cermin. Rambut panjangnya ia ikat rapi, juga satu buah jepitan berwarna hitam ia jepit kan di anakan rambut, agar nanti tidak mengganggu jika sedang mengantarkan pesanan kepada para pelanggan.


"Ayo." Ajak Aira pada wanita yang selalu memperlakukannya seperti keluarga.


Wanita yang sudah terlihat jauh lebih dewasa dari Aira itu mengangguk. Keduanya lantas keluar dari ruang ganti itu. Saat memasuki ruangan lain, mereka berpisah. Aira melangkah menuju depan, sedangkan wanita yang bertugas sebagai asisten koki itu kembali melangkah menuju dapur untuk mempersiapkan banyak makanan yang sudah di pesan oleh penyelenggara pesta malam ini.


Saat memasuki ruangan, Aira sudah di suguhkan oleh dekorasi mewah khas orang kaya. Tidak lagi asing, karena memang restoran mewah tempat ia bekerja selalu di sewa oleh anak-anak pengusaha atau pejabat yang ingin membuat pesta bersama teman-teman mereka.


Aira bergabung dengan beberapa pelayan restoran yang ada di sana. Mereka mulai sibuk mengisi meja-meja yang ada di sana dengan sebagian makanan yang sudah di pesan oleh pemilik pesta.


Setelah selesai, mereka kembali ke tempat masing-masing dan diam di sana, hingga anak-anak muda yang menjadi tamu undangan mulai berdatangan dan masuk ke dalam restoran itu.


"Kakak kenal sama mereka ?" Tanya salah satu pelayan laki-laki yang sedang berdiri di samping Aira.

__ADS_1


Aira menggeleng. Meskipun ada beberapa yang memasuki restoran itu adalah mahasiswa di kampusnya, ia memilih untuk menjawab tidak mengenal, karena memang begitulah adanya.


"Kamu pasti bohong." Ucap pemuda itu tidak percaya. Sejak dulu, jika ada mahasiswa yang menyewa restoran tempat ia bekerja, Aira selalu mengatakan bahwa dia tidak mengenal mahasiswa - mahasiswa itu, padahal nanti ujung-ujungnya akan ada yang datang menyapa.


Aira tidak menanggapi. Karena pasti ada salah satu dari pelanggan itu yang akan menyapanya di sini. Itu sudah menjadi hal yang biasa terjadi di sini. Si gadis miskin yang hanya bisa mengandalkan beasiswa untuk kuliah, tidak pantas mengaku mengenal orang-orang seperti mereka. Lagi pula ini tempat kerjanya, dan ia harus bersikap profesional terhadap siapapun yang mengunjungi tempat ini.


"Kenapa yaa, kita tidak hidup enak seperti mereka." Ucap pemuda itu lagi sambil menatap para tamu undangan yang terus berdatangan dengan raut wajah bahagia tanpa beban.


"Sebagian anak beruntung karena terlahir dari keluarga yang memiliki harta berlimpah. Dan sebagiannya lagi lebih beruntung, karena di beri tulang serta tubuh yang sehat untuk berjuang dan berusaha sendiri." Ujar Aira.


"Seperti kita ya Kak ?" Tanya pemuda itu.


"Yap kamu benar. Jadi jangan anggap kehidupan kita tidak beruntung." Ujar Aira.


Pemuda yang terlihat lebih muda beberapa tahun darinya itu tersenyum.


"Cih dasar mahasiswa terpintar di kampus."


Aira tersenyum, beberapa saat kemudian wajahnya tiba-tiba berubah datar saat melihat seorang gadis yang sedang melangkah anggun menuju dirinya.


"Oh jadi si mahasiswi beasiswa kerja di sini yaa." Ucap gadis dengan penampilan bak putri raja itu kala sudah berada tepat di hadapan Aira.


"Selamat datang di restoran kami." Ucap Aira sopan sambil menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat pada pelanggan.


"Kamu tuh pelayan aja belagu." Ucap Melisa sinis.


Aira tidak menanggapi.

__ADS_1


Di dekat pintu masuk, seorang laki-laki tampan yang barus saja masuk terdiam di tempatnya, saat melihat keberadaan Aira di sana.


Terlihat jelas jika lelaki itu sedang menatap ke arahnya, akan tetapi Aira tidak memperdulikan hal itu.


"Ngga usah kecentilan." Ujar Melisa melisa tepat di depan wajah Aira.


Aira hanya tersenyum menanggapi kalimat penuh kecemburuan dari bibir Melisa.


"Abi kamu sudah datang." Ucap Melisa dengan suara manja sambil melangkah meninggalkan tempat Aira berdiri.


"Selamat ulang tahun." Ucap Abizar sambil mengulurkan satu kotak kado ke arah Melisa.


Aira kembali menunduk hormat, ketika tatapan Abizar kembali tertuju padanya. Ia tetap terus saja bersikap sopan dan menjaga jarak, walaupun tidak hanya sekali ini laki-laki yang berperawakan rupawan itu ia dapati mencuri pandang ke arahnya.


"Ayo kita ke sana." Ajak Melisa sambil menarik lengan Abizar menuju salah satu meja yang di siapkan khusus untuknya.


"Enak banget ya mereka." Ucap lelaki itu. "Apa mereka berpacaran ?" Tanya anak muda itu lagi.


Aira tidak menjawab, ia hanya berdiri diam di tempatnya tanpa terpengaruh dengan beberapa pasang mata yang sedang tertuju ke arahnya karena ulah Melisa tadi.


Gadis itu melangkahkan kakinya saat salah satu pengunjung ingin memesan sesuatu.


"Biar aku aja Kak." Tahan pemuda itu.


"Terimakasih." Ucap Aira lalu membiarkan lelaki muda itu melangkah menuju meja di mana pelanggan yang sedang ingin memesan berada.


Aira mulai membersihkan beberapa meja yang sudah di tinggalkan oleh tamu, dan mengganti hidangan yang baru di meja tersebut. Gadis itu sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan kasihan bercampur hinaan dari para tamu undangan yang tidak lain adalah mahasiswa di kampus yang sama dengannya.

__ADS_1


__ADS_2